Merantau, bagi kami orang Makassar, bukan hanya sekadar berpindah tempat. Ini sebuah ritual “siri’” tentang harga diri. Namun, apa jadinya ketika ego “Ewako” yang menyala-nyala itu mendarat di tanah yang menjunjung tinggi prinsip “Alon-alon waton kelakon” yaitu Jogja?
Hasilnya sebuah culture shock yang lebih dahsyat daripada sekadar kaget melihat harga nasi kucing yang lebih murah daripada parkir motor di Pantai Losari. Jogja, bagi seorang pendatang dari Sulawesi Selatan khususnya Makassar, adalah sebuah planet dengan gravitasi yang berbeda.
Jogja, di dalamnya, terasa lambat, lunak, dan sering membuat kami yang terbiasa dengan ritme cepat serta suara lantang menjadi merasa seperti raksasa yang masuk ke toko keramik. Salah gerak sedikit, pecah segalanya.
Logat dan volume yang menampar orang Makassar
Hal pertama yang akan menampar wajahmu saat tiba di Jogja adalah urusan volume suara. Di Makassar, volume suara kami adalah standar pabrik di angka delapan. Bicara dengan teman di seberang jalan dengan teriakan adalah hal lumrah.
Di Jogja, kebiasaan ini ibarat kata tiket cepat untuk dianggap sedang mengamuk. Saya sering mengalami ini di bulan-bulan pertama.
Suatu kali saya memesan kopi. Saya memakai nada yang menurut saya “normal” dan “ramah”. Eh, mas-mas baristanya malah melihat saya dengan tatapan seolah-olah saya baru saja mengancam akan membakar kafe dan merusak fasilitasnya.
Padahal, saya hanya mau nanya, apakah gulanya bisa dipisah. Di sinilah letak culture shock paling mendasar. Di Jogja, keramahan diukur dari seberapa rendah desibel suaramu. Sementara di Makassar, keakraban justru sering kami validasi dengan seberapa seru (baca: ribut) obrolan. Kami terbiasa dengan diksi tegas, apalagi bagi yang tinggal di sekitar pesisir pantai (Barombong).
Misalnya, kata “Ayo!” di Makassar bisa terdengar seperti perintah perang. Sementara di Jogja, warga membungkusnya dengan lapis-lapis kesantunan seperti “monggo” atau “bilih kersa”. Kalau kamu terjemahkan ke mindset orang Makassar yang praktis, butuh waktu loading sekitar lima detik baru bisa paham maksudnya.
Estetika kecepatan vs seni menikmati waktu di Jogja
Perbedaan ritme hidup ini juga menyerang urusan transportasi dan birokrasi kecil-kecilan. Di Makassar, kalau lampu hijau menyala dan kamu masih bengong, tidak langsung tancap gas dalam 0,5 detik, orkestra klakson di belakangmu akan berbunyi layaknya konser metal.
Kalau di Jogja, orang bisa sangat santai di lampu merah. Mereka seolah punya cadangan kesabaran yang tidak ada batasnya.
Awalnya, ini menyiksa. Makassar membesarkan saya dalam budaya yang menghargai efisiensi dan kecepatan. Melihat orang Jogja yang “selo” itu rasanya ingin saya beri asupan Coto Makassar supaya tensinya naik sedikit.
Namun lambat laun, saya menyadari bahwa ini adalah benturan filosofi. Orang Makassar itu “pelaut”. Kami mengejar ombak, mengejar waktu. Orang Jogja itu “agraris”. mereka menunggu musim dan percaya bahwa segala sesuatu akan tiba pada waktunya jika kita tekun menanti.
Lidah orang Makassar yang “tersiksa” gula
Jangan lupakan urusan perut. Ini adalah medan perang culture shock yang paling nyata. Bagi lidah Makassar yang tumbuh bersama garam, vetsin yang melimpah, asam mangga, dan pedasnya sambal “cobek-cobek”, masakan Jogja seperti sebuah anomali medis.
Minggu pertama di Jogja, saya merasa seperti sedang makan hidangan penutup (dessert) sepanjang hari. Gudeg yang legendaris itu, bagi saya, adalah nangka yang salah masuk ke kuali kolak. Manisnya bukan main!
Sementara itu, di Makassar, kami makan ikan bolu (bandeng) yang segar dengan perasan jeruk nipis yang bikin mata merem-melek. Di sini, sayur lodeh pun bisa terasa seperti teh manis dengan tambahan gula.
Krisis identitas kuliner ini biasanya berakhir dengan perburuan toko bahan makanan yang menjual sambal terasi. Atau setidaknya mencari warung burjo yang punya stok cabai rawit ekstra.
Tapi hikmahnya, setelah hampir setahun di sini, saya jadi belajar bahwa rasa manis itu menenangkan. Mungkin itulah kenapa orang Jogja jarang emosian. Kadar glukosa dalam darah mereka selalu terjaga di level “bahagia”.
“Siri’ na Pacce” di tengah kesantunan Jawa
Puncak dari segala culture shock ini adalah saat ketika mencoba mengaplikasikan nilai “siri’ na Pacce” (harga diri dan empati) dalam pergaulan sosial di Jogja. Di Makassar, kalau tidak suka, ya bilang tidak suka. Kalau ada masalah, kita selesaikan saat itu juga, kalau perlu dengan perdebatan sengit. Straight to the point.
Nah, di Jogja, ada seni menghindari konflik langsung. Mereka sangat jarang mengatakan “tidak” secara gamblang.
Mereka akan menggunakan kalimat bersayap seperti “Insyaallah,” atau “Nggih, mangke dipun pirsani riyen”. Bagi orang Makassar, ini bisa sangat membingungkan. Kami pikir urusannya sudah beres, padahal itu adalah cara halus mereka untuk bilang “Saya keberatan.”
Butuh kedewasaan ekstra untuk memahami bahwa diamnya orang Jogja bukan berarti setuju, dan rendah hati mereka bukan berarti lemah. Sebaliknya, mereka mungkin sedang menilai seberapa “liar” kami sebagai pendatang.
Saya belajar bahwa siri’ (harga diri) tidak selalu harus saya tegakkan dengan suara keras atau dada membusung. Kadang, siri’ justru bisa saya jaga dengan kemampuan kami beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
BACA JUGA: 5 Tempat Makan di Makassar yang Bisa Bikin Salah Paham, Dikira Biasa Ternyata Makanan Ekstrem
Menemukan titik temu bagi orang Makassar di Jogja
Lantas, apakah orang Makassar tidak cocok menetap di Jogja? Justru sebaliknya. Jogja merupakan sebuah laboratorium terbaik untuk melunakkan sudut-sudut tajam karakter kami orang Makassar tanpa menumpulkan prinsip-prinsip identitas diri.
Merantau ke Jogja mengajarkan bahwa keberanian (ewako) itu butuh wadah kesabaran. Kami membawa semangat membara dari pesisir Sulawesi, lalu Jogja menyiramnya dengan air ketenangan dari kaki Merapi.
Hasilnya, sebuah harmoni yang unik. Kami jadi orang Makassar yang tetap berani, tapi tahu kapan harus berbicara pelan. Kami tetap bangga dengan identitas, tapi mulai bisa menikmati sepiring gudeg tanpa harus mengeluh tentang rasa manisnya.
Pada akhirnya, culture shock ini bukan tentang siapa yang lebih benar atau siapa yang lebih sopan. Ini tentang bagaimana kita menyadari bahwa Indonesia itu luas sekali, dan Makassar hanyalah salah satu warnanya.
Jogja memberikan ruang bagi kita untuk melihat diri sendiri dari sudut pandang yang berbeda. Jadi, untuk kawan-kawan dari Makassar yang baru mendarat di Stasiun Lempuyangan atau Bandara YIA, tenangkan hatimu. Simpan dulu urat lehermu yang tegang itu. Nikmati saja prosesnya.
Karena nanti, saat pulang ke Makassar, kamu akan merindukan suara “Nggih, Mas” yang lembut itu. Yah, meskipun saat ini suara itu terdengar lebih misterius daripada rumus fisika kuantum. Selamat merantau. Tetap ewako, tapi jangan lupa unggah-ungguh.
Penulis: Andi Muhammad Alief
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













