Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Terbiasa Naik Kereta di Stasiun Tugu Jogja Bikin Saya Kaget dengan Stasiun Lempuyangan yang Chaos

Noor Annisa Falachul Firdausi oleh Noor Annisa Falachul Firdausi
12 April 2026
A A
Terbiasa Naik Kereta di Stasiun Tugu Jogja Bikin Saya Kaget dengan Stasiun Lempuyangan yang Chaos Mojok.co

Terbiasa Naik Kereta di Stasiun Tugu Jogja Bikin Saya Kaget dengan Stasiun Lempuyangan yang Chaos (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Di mata penumpang yang kerap naik kereta di Stasiun Tugu, Stasiun Lempuyangan itu chaos luar biasa. 

Kalau ada yang bertanya kepada saya dan keluarga mengenai transportasi jarak jauh favorit, kami akan langsung jawab kereta api. Kereta api sudah sering kami gunakan, bahkan jauh sebelum revolusi KAI yang dilakukan oleh Pak Ignasius Jonan.

Memori masa kecil saya diisi dengan karcis warna pink berbentuk semi-segitiga yang dibeli langsung dari loket di stasiun, tempat duduk rebutan berprinsip siapa cepat dia dapat dan angkat pantat hilang tempat, hingga penjual pecel kelilingi di dalam gerbong yang bunga turinya selalu bikin saya kepengin bel.

Dulu saat masih kecil saya merasa jauh lebih familiar dengan Stasiun Lempuyangan. Tapi saya juga nggak ingat sejak tahun berapa, saya sekeluarga jadi lebih sering main ke Stasiun Yogyakarta, atau yang lebih dikenal oleh warga lokal dengan nama Stasiun Tugu. Beberapa alasannya karena lokasi Stasiun Lempuyangan lebih jauh dan akses jalan lebih ribet dari rumah kami dibandingkan tugu dan kereta yang kami gunakan pun nggak ada yang berhenti di Stasiun Lempuyangan.

Tapi, setelah sekian lama, akhirnya saya kembali menyambangi Stasiun Lempuyangan. Sepulang dari Jakarta, saya naik kereta api Jayakarta jurusan Pasar Senen-Surabaya Gubeng yang berhenti di Stasiun Lempuyangan. Gara-gara keseringan main ke Stasiun Tugu, saya lumayan kaget dengan Stasiun Lempuyangan yang chaos. Dan hal ini nggak saya sadari sewaktu kecil dulu.

#1Di Stasiun Lempuyangan  nggak ada trotoar untuk pejalan kaki, tidak seperti di Stasiun Tugu

Chaos-nya Stasiun Lempuyangan sudah dimulai sejak dari luar, alias dari jalan raya. Nggak ada fasilitas trotoar bagi pejalan kaki. Ini mengharuskan pejalan kaki jalan langsung di badan jalan, sebelahan sama kendaraan. Berbahaya kan?

Sudah gitu kondisi jalan juga tampak lebih semrawut. Banyak kendaraan tumpah ruah di jalan. Stasiun Lempuyangan juga punya area parkir milik sendiri seperti di Stasiun Tugu, tapi banyak juga parkir liar di luar. Bahkan di beberapa titik juga ada rambu yang memperbolehkan kendaraan parkir. Padahal lebar jalan di depan stasiun saja sudah kecil, lho.

Hal yang berbeda bisa kita lihat di Stasiun Tugu. Di depan stasiun ada trotoar untuk pejalan kaki. Bahkan di trotoar ini ada pembatas dengan jalan. Menurut saya ini lebih aman untuk pejalan kaki. Pejalan kaki bisa terhindar dari bahaya kendaraan yang lajunya ngawur dan kalau saja ada jambret, itu juga kemungkinannya menurun.

Baca Juga:

KA Sri Tanjung, Kereta Ekonomi Tempatnya Penumpang-penumpang “Aneh”

Bakpia Kukus Tidak Layak Menyandang Nama “Bakpia” karena Ia Bolu Kukus yang Mengaku sebagai Kuliner Asli Jogja

Selain itu, di depan Stasiun Tugu, banyak rambu yang melarang pengendara berhenti. Kalau berhenti saja nggak boleh, tentu parkir pun dilarang dong. Jadinya nggak ada penumpukan kendaraan saat penumpang baru pada tiba.

#2 Penumpang menumpuk tiap kereta tiba

Keterkejutan saya yang kedua adalah setiap kali ada kereta datang dan banyak penumpang yang turun di Stasiun Lempuyangan, area stasiun langsung mirip pintu keluar area konser gratisan. Padat, numpuk, dan semua orang berjubel pengin segera keluar.

Sepertinya ini disebabkan karena jarak antara area tempat turun dari kereta dengan pintu keluar itu dekat sekali. Dan begitu pintu keluar kita langsung disambut oleh tempat menunggu penjemput, sekaligus tempat parkir dan jalan raya. Semua penumpang yang turun tentunya langsung menumpuk di situ. Ada yang menunggu jemputan, ada pula yang pesan ojek online.

Berbeda dengan Stasiun Tugu yang pintu keluarnya masih berada di dalam kawasan stasiun, jadi setidaknya tumpukan penumpang yang baru turun itu terurai dulu. Ada penumpang yang ke parkiran, ada yang ke jalan utama, atau tetap berada di dalam stasiun untuk menunggu taksi.

#3 Fasilitas Stasiun Lempuyangan yang lebih ala kadarnya

Terbiasa ke Stasiun Tugu artinya terbiasa dengan fasilitasnya yang lengkap. Interior Stasiun Tugu juga selalu ciamik dan bikin penumpang jadi nyaman.

Ketika kembali ke Stasiun Lempuyangan, saya nggak lagi melihat ruang tunggu penumpang yang jumlahnya banyak dan bermacam-macam itu. Di Stasiun Tugu, ada ada lounge, tempat duduk sofa, atau tempat duduk yang dilengkapi meja dan stop kontak untuk penumpang yang mau menunggu sambil bekerja. Sementara itu, ruang tunggu di Stasiun Lempuyangan masih standard berupa kursi besi berwarna abu-abu.

Toilet di Stasiun Tugu juga lebih accessible untuk siapapun, ditambah dengan jumlahnya yang cukup. Tapi di Stasiun Lempuyangan, toilet hanya tersedia satu buah yang bahkan lokasinya berada di ujung stasiun dan jauh dari area keberangkatan. Kondisi ini tentunya menyulitkan penumpang lansia atau orang tua yang membawa anak-anak.

Dan mirisnya lagi, dulu sempat ada tumpukan sampah di area luar Stasiun Lempuyangan. Padahal sudah tertulis dengan jelas bahwa siapapun dilarang membuang sampah di situ. Semoga saja tumpukan sampah ini sudah nggak ada dan pelaku-pelaku buang sampah sembarangannya juga sudah lebih tertib.

Dari kekacauan yang ada di Stasiun Lempuyangan ini, saya memutuskan untuk mengakses kereta dari Stasiun Tugu saja. Stasiun Lempuyangan akan tetap saya jadikan pilihan nomor sekian, seandainya sudah nggak tersedia kereta dari atau ke Stasiun Tugu.

Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 4 Hal yang Dikangenin dari Bandara Adisutjipto Jogja yang Nggak Akan Ditemukan di YIA.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 April 2026 oleh

Tags: lempuyanganstasiun jogjastasiun lempuyanganStasiun TuguStasiun Tugu Jogjatugu
Noor Annisa Falachul Firdausi

Noor Annisa Falachul Firdausi

Alumnus UGM asal Yogyakarta yang lagi belajar S2 Sosiologi di Turki

ArtikelTerkait

Muncul Zombie, KRL Jogja Solo dan Stasiun Tugu Perlu Berbenah (Unsplash)

Fenomena “Zombie Apocalypse” di Stasiun Tugu Yogyakarta dan KRL Jogja Solo, Kapan Berbenah?

26 Desember 2024
5 Pasangan Stasiun Kereta Api Satu Wilayah yang Berbeda Fungsi (Pexels)

5 Pasangan Stasiun Kereta Api Satu Wilayah yang Berbeda Fungsi tapi Saling Melengkapi

26 Januari 2025
5 Aturan Tidak Tertulis di Stasiun Tugu Jogja, Patuhi agar Perjalanan Semakin Nyaman Mojok.co

5 Aturan Tidak Tertulis di Stasiun Tugu Jogja, Patuhi Supaya Perjalanan Lebih Nyaman

13 Februari 2025
Bakpia Kukus Tidak Layak Pakai Nama Bakpia Asli Jogja (Unsplash)

Bakpia Kukus Tidak Layak Menyandang Nama “Bakpia” karena Ia Bolu Kukus yang Mengaku sebagai Kuliner Asli Jogja

21 Februari 2026
4 Aturan Tidak Tertulis di Stasiun Lempuyangan Jogja Mojok.co

4 Aturan Tidak Tertulis di Stasiun Lempuyangan Jogja

7 Februari 2025
Wangi yang Menjebak, Rasa yang Sudah Tertebak: Sebuah Pengakuan Cinta untuk Roti O Stasiun Tugu Jogja, yang Kerap Menghipnotis Saya dan Ribuan Penumpang Kereta Lainnya

Wangi yang Menjebak, Rasa yang Sudah Tertebak: Sebuah Pengakuan Cinta untuk Roti O Stasiun Tugu Jogja, yang Kerap Menghipnotis Saya dan Ribuan Penumpang Kereta Lainnya

6 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga Lokal Bersyukur Salatiga Nggak Punya Stasiun, Biarlah Kota Ini Dinikmati oleh Orang-orang yang Mau Effort Mojok.co

Warga Lokal Bersyukur Salatiga Nggak Punya Stasiun, Biarlah Kota Ini Dinikmati oleh Orang-orang yang Mau Effort

6 Mei 2026
Cita-cita Adik Saya Mati di Tangan Tes Ishihara: Sebuah Vonis Konyol dalam Dunia Pendidikan Kita

Cita-cita Adik Saya Mati di Tangan Tes Ishihara: Sebuah Vonis Konyol dalam Dunia Pendidikan Kita

6 Mei 2026
Kritik untuk Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UNY dan UAD, Terlalu Ndakik-Ndakik hingga Berjarak dari Realitas Terminal

Kritik untuk Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UNY dan UAD, Terlalu Ndakik-Ndakik hingga Berjarak dari Realitas

8 Mei 2026
Derby UMR Rendah, Kemewahan yang Hanya Dimiliki oleh PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta

Derby UMR Rendah, Kemewahan yang Hanya Dimiliki oleh PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta

9 Mei 2026
Kampus-Kampus Bangkalan Madura Bakal Jadi "Pabrik" Pengangguran kalau Tidak Mau Berbenah Mojok.co

Kampus di Bangkalan Madura Bakal Jadi “Pabrik” Pengangguran kalau Tidak Serius Berbenah

6 Mei 2026
Bundaran Jombor, Salah Satu Titik Meresahkan di Jalan Magelang Mojok.co

Jalan Magelang: Surganya Depo Pasir dan Nerakanya Pengendara Cupu

8 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada
  • Lulus Sarjana Dapat Tawaran Beasiswa S2 dari Rektor, Elpanta Pilih Langsung Kerja sebagai Pegawai Tetap di Unesa
  • Meski Hanya Diikuti 4 Tim tapi Atmosfer Campus League Basketball Samarinda Tetap Kompetitif, Universitas Mulawarman Tak Terbendung
  • Efek Gym: Dari Dihina “Babi” karena Gendut dan Jelek bikin Lawan Jenis Gampang Mendekat, Tapi Tetap Sulit Nemu yang Tulus
  • Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga
  • Setelah Punya Anak Sadar “Nongkrong Basi-Basi” Itu Nggak Guna: Rela Dicap Suami Takut Istri, karena Urusan Keluarga Memang di Atas Segalanya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.