Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

5 Alasan Warlok Malas Foto di Tugu Jogja

Noor Annisa Falachul Firdausi oleh Noor Annisa Falachul Firdausi
19 Oktober 2025
A A
5 Alasan Warlok Malas Foto di Tugu Jogja Mojok.co

5 Alasan Warlok Malas Foto di Tugu Jogja (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Warlok hampir tidak pernah foto di Tugu Jogja. Iya atau iya wahai para warga Jogja? 

Wisata Jogja nggak pernah diam. Ada saja hal baru yang bisa dikunjungi oleh wisatawan. Dan, seperti biasa, tempat-tempat baru ini langsung “diserbu”. 

ADVERTISEMENT

Walau setiap waktu selalu ada tempat wisata baru, ada satu tempat di Jogja yang sejak dahulu tidak pernah dilewatkan wisatawan. Rasanya berwisata ke Jogja kurang afdal kalau tidak mengunjungi tempat ini: Tugu Jogja. 

Itu mengapa, Tugu yang berada di perempatan Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Margo Utomo ini selalu dipenuhi wisatawan. Terlebih di akhir pekan dan libur panjang. Wisatawan menikmati tugu putih itu sambil bercengkrama di warung atau kafe terdekat atau sekadar melewatinya. Tidak lupa mengambil foto karena nggak afdal rasanya lewat titik ikonik tanpa mengabadikannya. Nanti dikira nggak pernah ke Jogja. 

Akan tetapi beda ceritanya untuk warga asli Jogja. Saya, dan mungkin banyak warlok Jogja, justru nggak punya satu pun foto di sana. Boro-boro foto, saya nggak pernah berhenti di Tugu selain karena kena lampu merah. Sekali pun mengantarkan saudara saja foto-foto di sana, saya lebih memilih menunggu di salah satu pojokan.  Alasan saya sih ada beberapa ya, di antaranya seperti ini:

#1 Nggak ada yang “istimewa” dari Tugu Jogja

Wait, jangan serang saya dulu sebelum membaca sampai akhir. Maksud saya dengan nggak ada yang “istimewa” dari Tugu adalah karena Tugu sudah menjadi bagian dari kehidupan saya sehari-hari. Benar-benar setiap hari saya melihat Tugu.

Saya tinggal di sebelah barat Tugu. Kebetulan SMP, SMA, dan kampus tempat saya menimba ilmu berada di sisi timur dan mewajibkan saya melintas melalui Tugu setiap hari. Bahkan, bukan hanya sekali, melainkan dua kali sehari. Jadi, buat apa foto di Tugu kalau saya bisa nyawang tiap hari?

#2 Jiwa introvert saya nggak mampu mengatasi keramaian di Tugu Jogja

Tugu sudah menjadi spot wajib bagi wisatawan luar daerah. Setiap malam, Tugu selalu penuh dengan pelancong yang rebutan spot. Padahal posisinya Tugu itu tepat di tengah perempatan, lho. Tapi banyak wisatawan yang rela pasang tripod bahkan duduk di jalan sambil pose.

Baca Juga:

3 hal langka di Madura, tapi umum di Jogja, sudah seharusnya Madura belajar pada Jogja!

Mengapa banyak pengangguran di Jogja enggan merantau?

Saya yang beberapa kali terpaksa untuk nyebrang karena ada urusan di Jalan Pangeran Diponegoro malah kehabisan energi sosial sendiri. Saya kalau dibayar untuk foto di antara kerumunan sebegitu banyaknya orang pun nggak sudi.

#3 Effort-nya harus lebih

Buat warlok, foto di Tugu justru membutuhkan effort yang lebih banyak. Soalnya kami tahu betul bagaimana kondisi Tugu dari pagi sampai pagi lagi.

Tugu itu dekat dengan zona kemacetan yang kerap terjadi penumpukan kendaraan di jam berangkat dan pulang kantor. Sudah gitu, Tugu bersebelahan dengan Pasar Kranggan yang ramenya pol. Parkir kendaraan di sekitar Tugu itu susah, ditambah dengan kendaraan yang lalu lalang karena seperti yang saya katakan, Tugu itu ada di tengah perempatan.

Kalau warlok mau foto, kita harus parkir kendaraan dulu. Saya sih males banget harus keluar Rp2 ribu untuk parkir. Belum lagi susah ngeluarin kendaraan dan melanjutkan perjalanannya. Kayaknya saya malah akan malu sendiri kalau se-effort itu demi foto di Tugu.

#4 Sense of belonging yang aneh

Jujur saja, saya merasa ada semacam sense of belonging yang aneh terkait Tugu ini. Tugu itu kan simbol, bahkan menjadi ikonnya Kota Jogja. Saya sejak lahir tinggal di Kota Jogja. KTP pun Kota Jogja. Tapi saya merasa Tugu seperti bukan “milik saya” karena ia sudah “dikuasai” wisatawan.

Saya merasa wisatawan dari luar daerah malah lebih dekat dengan Tugu dibandingkan saya. Benar sih, secara jarak saya dekat banget dengan Tugu. Tapi jauh di dalam hati, saya merasa wisatawan lebih dekat dengan Tugu secara emosional. Jadi bagi saya semacam ada pemikiran bahwa Tugu itu untuk turis, bukan untuk warga lokal.

#5 Banyak tempat lain yang lebih berarti secara emosional

Berkaitan dengan nomor empat, bagi saya mungkin Tugu nggak terlalu punya hubungan emosional dengan saya. Tapi di Jogja, ada banyak tempat yang lebih berarti bagi saya. Tempat-tempat ini yang membangkitkan nostalgia ketika saya sedang jauh dari kampung halaman.

Tempat-tempat ini bisa jadi berupa angkringan di pinggir sawah dekat rumah saya, masjid tempat saya belajar mengaji saat kecil, bahkan Jalan Parangtritis yang menjadi saksi jatuhnya air mata saya karena terharu pasca-wawancara dengan informan riset saya.

Bagi saya, simbol Jogja itu lebih personal dan nggak harus selalu monumental. Dan yang pasti, nggak harus semuanya difoto untuk menjadi memori. Saya nggak punya foto diri saya dengan Tugu. Tapi saya selalu memperkenalkan Tugu kepada teman-teman saya di Turki, di tempat saya tinggal sekarang ini. Dengan kata lain, saya tetap bangga dengan ikon Kota Jogja ini.

Penulis:  Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA 4 Fakta Kos LV Jogja yang Belum Banyak Orang Tahu.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya,

Terakhir diperbarui pada 18 Oktober 2025 oleh

Tags: ikon jogjaJogjapariwisata jogjatugutugu jogjawarlok Jogjawisata jogjawisatawan
Noor Annisa Falachul Firdausi

Noor Annisa Falachul Firdausi

Alumnus UGM asal Yogyakarta yang lagi belajar S2 Sosiologi di Turki

ArtikelTerkait

5 Hal Lumrah di Daerah Lain, tapi Orang Jogja Nggak Bisa Melakukannya Mojok.co

5 Hal Lumrah di Daerah Lain, tapi Orang Jogja Nggak Bisa Melakukannya

16 Agustus 2024
sumber suara drumband di jogja suara gamelan malam hari pendatang arti makna urban legend mitos klenik mojok.co

Suara Drumband di Jogja pada Malam Hari, Menurut 4 Teori

26 Maret 2021
Jogja Memang Istimewa, tapi Mohon Maaf Bandung Lebih Nyaman untuk Ditinggali

Jogja Memang Istimewa, tapi Mohon Maaf Bandung Lebih Nyaman untuk Ditinggali

26 Mei 2025
Malioboro Masih Bisa Dinikmati Warga Lokal Jogja (Unsplash)

Malioboro Masih Bisa Dinikmati Warga Lokal Jogja, Tentunya Bukan Sebagai Tempat Wisata

25 Desember 2024
Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali

1 Februari 2026
Efek Negatif Penertiban Street Coffee Kotabaru Jogja yang Pemerintah Mungkin Tidak Sadari

Jika Saya Jadi Wali Kota Jogja, Street Coffee Kotabaru Tidak Akan Digusur Begitu Saja

10 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Berhentilah Percaya Stigma Buruk Jalur Pantura Subang, Kawasan Ini Bukan Cuma soal Warung Remang-remang

Berhentilah percaya stigma buruk jalur pantura Subang, kawasan ini bukan cuma soal warung remang-remang

13 Juli 2026
Alasan buku fisik tidak akan lenyap hanya karena buku digital merajalela Mojok.co

Alasan buku fisik tidak akan lenyap hanya karena buku digital merajalela

15 Juli 2026
Stadion Gajayana Malang tempat potensial yang bernasib sial Mojok.co

Stadion Gajayana Malang tempat potensial yang bernasib sial

13 Juli 2026
Situbondo, Tempat Tinggal Terbaik dan Kota Sederhana yang Saking Sederhananya, Nggak Ada Apa-apa di Sini

Potensi Besar, Hasil Dipertanyakan: 3 Alasan Warga Situbondo Wajib Kecewa dengan Daerahnya yang Gitu-gitu Aja

13 Juli 2026
Pelajaran mahal bisnis rumahan di Surabaya biar cepet balik modal (Unsplash)

Pelajaran mahal buat kamu yang ingin buka usaha rumahan berupa warung makan di Surabaya supaya cepat balik modal

13 Juli 2026
3 Kebohongan tentang Lembang yang Perlu Diluruskan

Bukan cuma soal dingin, ini 4 kejanggalan di Lembang yang bikin wisatawan Semarang heran

15 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.