Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Luar Negeri

Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

Aniesa Norma Dantie oleh Aniesa Norma Dantie
19 Mei 2026
A A
Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

Share on FacebookShare on Twitter

Datangnya musim semi tahun ini menandakan setahun sudah saya pindah dari Indonesia dan tinggal di Jepang. Waktu kepindahan tahun lalu, banyak teman yang terharu, sedih, dan ikut bahagia karena saya terlepas dari stresnya jadi warga +62. Saya belum pernah benar-benar menjelaskan alasan kami pindah karena, ya.., buat apa juga urusan keluarga diumbar? Tapi untuk menjadi kenang-kenangan, akan saya sempatkan cerita dalam tulisan ini.

Yang pertama dan utama, untuk pendidikan anak.

Kebetulan, anak saya masih berkewarganegaraan ganda karena ayahnya Warga Negara Jepang. Di Indonesia, sekolah dengan pengantar bahasa Jepang, hanya tersedia di beberapa kota besar. Itu pun hanya dari jenjang TK hingga SMP saja. SMA tidak ada. Kenapa? Karena wajib belajar Jepang hanya sampai usia SMP. Jadi mereka hanya menjalankan kewajiban Undang-Undang Jepang untuk menyediakan pendidikan wajib bagi warga negaranya yang menjadi diaspora hingga SMP. Selebihnya, tidak wajib.

Padahal menurut saya dan suami, peralihan SMP ke SMA ini cukup krusial karena jadi kunci masuk ke Universitas bagus di Jepang (atau luar negri). Maka inilah alasan utama kami memutuskan pindah ke Jepang. Terlebih lagi, Sekolah Jepang di Indonesia itu mahal. Hampir seratus juta per tahun. Sebenarnya, dibandingkan dengan sekolah swasta lain di Jakarta, harga ini lebih murah. Tapi masalahnya, Sekolah Jepang negeri di Jepang itu GRATIS. Kami sebagai kaum mendang-mending be like: kalau bisa gratis, kenapa harus bayar.

BACA JUGA: Kalau Kamu Pengin Tinggal di Jepang, Jangan Kaget dengan 6 Hal Ini

Yang mahal sebenarnya Jepang atau Indonesia?

Alasan kedua, karena pekerjaan suami yang berkantor di Jepang. Kalau boleh jujur, sebenarnya pekerjaan suami tidak jauh berbeda dengan ketika bekerja di Jakarta. Tapi (jujur janggal), pengeluaran saya dan suami di Jepang hampir sama seperti dengan biaya hidup di Jakarta area. Harga sayur, protein (ayam, telur, daging, ikan), kok rasa-rasanya sama aja seperti belanja di supermarket Indonesia.

Khusus beras memang luar biasa mahal sih (kualitas bagus bisa 300 ribuan per 5 kg). Tapi selebihnya, ngafe, jajan, biayanya 11-12 dengan jajan di Indonesia. Jadi, yang mahal itu Indonesia atau Jepang?

Alasan ketiga, karena saya berniat studi lanjut ke doktoral. Alhamdulillah yang ini juga sudah dimulai. Walaupun tidak masuk ke universitas elite seperti Todai dan Kyodai, saya masuk ke universitas premiumnya, Universitas Nagoya. Ranking dunianya juga jauh lebih baik daripada top 3 universitas di Indonesia. Not bad and better lah. Biayanya pun sama dengan biaya S3 di Indonesia.

Baca Juga:

Bahasa Sunda yang Kaya Punya Banyak Istilah untuk Menyebut Hujan

Orang Jakarta Baperan: ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Panggilan dalam Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Sebenarnya hanya 3 alasan utama itu kenapa kami memutuskan pindah ke Jepang. Tapi semakin lama, banyak hal-hal yang berkaitan dengan kualitas hidup yang saya syukuri. Yang pertama misalnya sesimpel udara bersih.

Sebelumnya, di Bekasi dan BSD, jarang sekali saya bisa menikmati langit biru dengan udara yang segar. Bahkan, sudah terkenal kalau di BSD itu langitnya abu-abu dan udaranya sangat berpolusi. Anak saya langganan sakit batuk pilek tiap bulan, bahkan teman-temannya anak saya juga banyak yang sampai ISPA. Sedih banget deh lihat anak-anak sakit.

Selama tinggal di Jepang, anak saya hanya pilek ketika pergantian musim (karena pergantian suhu), saya pikir, daya tahan tubuhnya jadi semakin baik seiring udara yang bersih. Bonusnya juga, kata teman-teman, saya lebih cantik hahaha. Mungkin ini juga karena efek udara bersih.

Memanusiakan manusia

Hal kedua yang saya syukuri adalah aksesibilitas. Transportasi umum yang menjangkau sampai gunung-gunung dan luar kota dengan biaya yang terjangkau. Untuk ke kampus, saya sekarang harus commute selama 2,5 jam naik kereta Japan Railway (JR). Kereta yang sama seperti KRL yang dinaiki commuter Jabodetabek (memang satu pabrik dari Jepang).

Perjalanan 2,5 jam ini sangat nyaman, sangat dignified, tidak menjadi pepes seperti di KRL Jabodetabek di rush hour. Begitu juga dengan kereta dalam kota. Semua terjadwal rapi, bersih dan tidak over capacity. Benar-benar memanusiakan manusia.

Begitulah kehidupan saya di Jepang. Hidup di Indonesia memang nyaman, ada soto, ayam geprek, ada bakso dan mie ayam. Hidup di Jepang tidak menjanjikan kenyamanan yang sama. Namun tiap pergantian musimnya, membuat saya optimis. Setiap bunga akan mekar pada musimnya. Harapan saya, begitupun Indonesia. Dari sini pun saya akan terus memantau berita di Indonesia dan mendoakan keruntuhan ketidakadilan yang membelenggu negara tercinta.

Penulis: Aniesa Norma Dantie
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pengalaman Tinggal di Jepang yang Bakal Bikin Kamu Merasa Aneh

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 Mei 2026 oleh

Tags: hidup di jepangIndonesiajepangsekolah jepang di Indonesia
Aniesa Norma Dantie

Aniesa Norma Dantie

Perempuan pegiat Pengurangan Risiko Bencana sejak tahun 2008. Co-founder Forum Pelajar Peduli Lingkungan Jogja dan komunitas perempuan berdaya bernama Sisterhood. Bermukim di Jepang dan sedang melanjutkan studi.

ArtikelTerkait

Di Jepang, Belanja Baju di Uniqlo dan GU Itu Biasa Aja Terminal Mojok.co

Di Jepang, Belanja Baju di Uniqlo dan GU Itu Biasa Aja

18 April 2022
Penyambutan Tokoh Ormas Boleh, Konser Musik Harusnya Juga Boleh, dong? terminal mojok.co

Dangdut Koplo di Kalangan Pemuda: Sempat Dianggap Norak, Sekarang Malah Semarak

15 Agustus 2019
5 Hal yang Harus Disiapkan sebelum Kuliah di Turki Mojok.co

5 Hal yang Harus Disiapkan sebelum Kuliah di Turki

5 November 2024
Marugame Udon Sulit Laku di Tegal Berkat UMR Cuma 2 Juta (Pexels)

Marugame Udon Segera Hadir di Tegal. Mampukah Bersaing di Tengah UMR 2 Juta?

24 Januari 2025
Sungguh Malang Nasib Orang yang Nggak Doyan Makan Durian terminal mojok.co

Sulitnya Menjadi Penyuka Durian Di Antara Mereka yang Tidak Menyukai Durian

16 September 2019
mukena adalah budaya indonesia bukan islam mojok

Mukena Adalah Budaya Indonesia, Bukan Syariat Islam

11 Januari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

19 Mei 2026
Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal Mojok.co

Masalah Utama Tulungagung Bukan Wisata, tapi Tradisi Korupsi di Kursi Bupati

19 Mei 2026
6 Alasan Jatinangor Selalu Berhasil Bikin Kangen walau Punya Banyak Kekurangan Mojok.co

3 Alasan Kuliah di Jatinangor Adalah Training Ground sebelum Masuk Dunia Kerja

18 Mei 2026
Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung” yang Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman Mojok.co

Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung”: Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman

12 Mei 2026
Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan Terminal

Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan

15 Mei 2026
Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

15 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.