Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Dosa Jogja kepada Tukang Becak Tradisional: Becaknya Dianggap Warisan Budaya, tapi Pengemudinya Dibiarkan Menua, Lalu Mati dalam Kemiskinan

Faiz Al Ghiffary oleh Faiz Al Ghiffary
21 Mei 2026
A A
Jogja Aneh, Membiarkan Tukang Becak Mati dalam Kemiskinan (Unsplash)

Jogja Aneh, Membiarkan Tukang Becak Mati dalam Kemiskinan (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Becak, sudah mendapat pengakuan secara resmi sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb). Ia bukan sekadar alat transportasi, tapi sudah menjadi identitas sejarah. Termasuk di dalamnya becak tradisional di Jogja dan becak Siantar di Sumatera Utara. Catat baik-baik kalimat di atas.

Nah, Jogja sendiri, mungkin satu-satunya kota di Indonesia, yang bisa membuat orang rela capek demi suasana. Kami rela untuk macet, kepanasan, dompet jadi tipis. Semua itu kami lakukan demi bisa bilang: “Jogja tuh selalu ngangenin.”

ADVERTISEMENT

Jogja, bagi sebagian orang, mungkin memang gampang bikin sentimentil. Sedikit gerimis di Malioboro, lampu jalan kuning, suara pengamen menyanyikan lagu Dewa 19, terus ada becak lewat pelan sambil bunyi bel kecil itu. 

Semua itu bikin orang merasa sentimentil. Mendadak, semua orang merasa hidupnya seperti film indie murah tapi emosional.

Padahal, kita akui saja, Jogja membangun romantisme itu di atas derita orang-orang yang hidupnya jauh dari romantis. Termasuk tukang becak tradisional.

Hidup tukang becak tradisional di Jogja yang menyedihkan

Banyak orang Jogja itu lucu. Mereka memuji becak sebagai identitas budaya. Simbol keistimewaan. Ikon wisata. Bahkan sekarang konsepnya makin keren: heritage mobility, cultural tourism, dan istilah-istilah lain yang terdengar seperti seminar pariwisata dengan snack risol dingin.

Pokoknya becak itu penting. Tapi, hidup pengemudinya sendiri ya terbilang mengenaskan.

Padahal, yang membuat Jogja terasa “Jogja” bukan cuma Tugu atau Malioboro. Bapak-bapak tua yang masih mengayuh becak pelan di tengah kota yang makin sibuk pura-pura modern itu juga turut membangun identitas kota ini. Dan mereka makin tua beneran.

Baca Juga:

Jogja Memang dan Akan Selalu Jadi Kota Tujuan Kuliah, Kota Pendidikan yang Sebenarnya

Tips Plesir Kala Malam di Jogja Naik GoRide Menikmati Kota Warisan Budaya Tanpa Menjadi Tua di Jalanan

Banyak pengemudi becak tradisional Jogja usianya di atas 50 tahun. Sudah puluhan tahun mereka mengayuh. Lutut mungkin sudah bunyi tiap bangun tidur, pinggang sudah protes, tapi tetap jalan, karena hidup nggak bisa cuti.

Namun, hidup mereka tak pernah sejahtera. Miskin. Tapi tetap, bagian dari sebuah kata estetik palsu yang mewarnai kota ini.

Masalahnya, Jogja masih sangat bergantung pada citra tradisional itu. Menurut data pariwisata DIY Tahun 2025, ada 4,6 juta wisatawan domestik berkunjung ke Malioboro. Belum wisatawan mancanegara yang masuk ke Keraton, Tamansari, sampai Kotagede. 

Orang datang ke Jogja mau cari apa?

Ya suasana itu.

Becak.

Andong.

Angkringan.

Orang-orang yang hidupnya terjepit kemiskinan dan “dipaksa pelan” karena karena orang kota sekarang capek hidup terlalu cepat. 

Tidak mendapat tempat utama

Makanya lucu, ketika wisatawan datang mencari “kehangatan budaya”, tapi transportasi pilihan mereka adalah ojek online. Kita suka romantisme becak. Tapi tetap cari promo GoRide. Dan itu termasuk saya.

Saya pernah naik becak malam hari habis nongkrong dekat Malioboro. Awalnya cuma karena pengin merasakan “Jogja banget”. Kalimat andalan anak kota buat membenarkan keputusan impulsif.

Di tengah jalan bapaknya ngobrol. Cerita kalau sekarang makin sepi. Wisatawan lebih memilih transportasi online karena lebih murah dan praktis.

Saya cuma manggut-manggut mendengarkan. Padahal, di kepala sendiri waktu itu malah kepikiran besok berangkat kerja beli bensin berapa biar tetap bisa makan siang.

Dan makin ke sini, becak memang seperti makhluk yang salah lahir di zaman yang semuanya harus cepat. Cepat, murah, praktis, ada aplikasi, ada promo, ada cashback. Kalau bisa sekalian dapat poin reward.

Mana mungkin tukang becak umur 60 tahun bisa menang lawan algoritma? Itu bukan persaingan, tapi gladiator lawan startup.

Makanya sekarang Jogja mulai mencari jalan tengah yang agak membingungkan: becak listrik. Nah ini menarik sekaligus membingungkan.

Karena Jogja sebenarnya sedang mengalami krisis identitas kecil-kecilan. Kota ini ingin modern, tapi takut kehilangan kesan tradisionalnya sendiri.

Akhirnya di Jogja, semua jadi nanggung

Becaknya listrik, tapi harus tetap terlihat tradisional. Digitalisasi jalan, tapi nuansa yang lahir harus tetap vintage. QRIS masuk, tapi estetikanya jangan hilang.

Modernitas cosplay budaya. Dan Jogja serta Indonesia memang jago soal beginian.

Kita ingin semuanya maju tanpa kehilangan nostalgia. Hasilnya sering seperti bapak-bapak baru kenal startup. Mereka semangat modernisasinya besar, tapi masih bingung cara kerja sistemnya.

Makanya, regulasi transportasi tradisional di Jogja sekarang juga kadang terasa absurd. Ada larangan untuk skuter listrik karena mengganggu kawasan wisata. Namun, kita malah mendorong becak listrik masuk sebagai bagian modernisasi transportasi budaya. Saya baca itu sambil ketawa kecil.

Negeri ini memang sering mengambil keputusan berdasarkan estetika. Kalau kelihatannya tradisional dan cocok jadi background foto wisatawan, langsung mendapat status “budaya”.

Hanya validasi, bukan kesejahteraan

Yang lebih lucu lagi, wisatawan sekarang juga maunya serba tanggung. Pengin becak yang nyaman, modern, tarif jelas, bisa digital, ada reservasi online, tapi tetap terasa lokal dan “autentik”.

Manusia modern memang unik. Kita ingin pengalaman autentik tanpa mengalami repotnya kenyataan autentik itu sendiri. Naik becak sekarang bukan lagi soal transportasi tapi pengalaman, konten, dan validasi sosial.

Kita tidak mencari perjalanan yang bikin sejahtera para “pelaku budaya” ini, tapi cuma suasana. Padahal, tukang becak sendiri mungkin lagi pusing mikirin besok makan apa.

Kadang saya merasa kota wisata memang kejam dengan cara yang halus. Ia menjual kehangatan, tapi banyak orang di dalamnya hidup sambil menggigil.

Tukang becak, kusir andong, penjual angkringan, hingga tukang parkir adalah orang-orang yang membuat Jogja tetap terasa punya jiwa. Khususnya di tengah gempuran coffee shop industrial dan turis yang hobinya bilang “hidden gem” ke tempat yang jelas-jelas sudah penuh.

Tapi justru mereka juga yang paling gampang kalah oleh perkembangan kota. Trotoar makin estetik. Spot foto makin banyak. Cafe makin artsy. 

Tapi, pengemudi becak di Jogja semakin menua dalam kemiskinan. Dan kita tetap merasa sudah cukup mencintai budaya hanya karena pernah mengunggahnya ke Instagram Story.

Penulis: Faiz Al Ghiffary

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Jogja (Nggak) Istimewa karena Ada Banyak Lansia yang Makan, Tidur, dan Mati di dalam Becaknya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 Mei 2026 oleh

Tags: becakbecak listrikbecak motorbecak tradisionalJogjaMalioboro
Faiz Al Ghiffary

Faiz Al Ghiffary

Juru tulis perusahaan swasta. Hobi ngopi dan baca apa saja

ArtikelTerkait

Memahami Sultan Ground: Keistimewaan Jogja yang Ruwet dan Penuh Intrik tamansari

Memahami Sultan Ground: Keistimewaan Jogja yang Ruwet dan Penuh Intrik

15 Oktober 2022
Pentingnya Kerja Cerdas dan Work-Life Harmony agar Ngarso Dalem Nggak Kerja 24/7 terminal mojok.co

Pentingnya Kerja Cerdas dan Work-Life Harmony agar Ngarso Dalem Nggak Kerja 24/7

5 Juli 2021
9 Masjid di Jogja yang Sediakan Menu Takjil Gratis Terminal Mojok.co

9 Masjid di Jogja yang Sediakan Menu Takjil Gratis

5 April 2022
4 Perbedaan Mencolok Angkringan di Pekalongan, Jogja, dan Solo

4 Perbedaan Mencolok Angkringan di Pekalongan, Jogja, dan Solo

26 Agustus 2022
Boleh Membanggakan SCBD Jogja, tapi Jangan Lupakan Gamping dan Mlati Sleman yang Akan Menjadi The Next SCBD Jogja Barat

Boleh Membanggakan SCBD Jogja, tapi Jangan Lupakan Gamping dan Mlati Sleman yang Akan Menjadi The Next SCBD Jogja Barat

19 Desember 2025
Jalan Bimo Kurdo Jogja Sering Macet karena Sekolah Elit SD Muhammadiyah Sapen Mojok.co

Jalan Bimo Kurdo Jogja Sering Macet karena Sekolah Elit SD Muhammadiyah Sapen

4 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jika Berani Berbenah, Malang Bakal Sejahtera (Unsplash)

Jika Berani Berbenah, Malang Bakal Sejahtera karena Potensi Wisata Kota Ini Begitu Besar tapi Terbentur Tembok Birokrasi

5 Juli 2026
Gagal Paham dengan Outfit Mewah Pejabat, Harga Jutaan Tetap Terlihat Norak karena Nggak Bisa Kerja Mojok.co

Gagal Paham dengan Outfit Mewah Pejabat, Harga Jutaan Tetap Terlihat Norak karena Nggak Bisa Kerja

6 Juli 2026
Penumpang yang Beli 2 Kursi Kereta Ekonomi PSO demi Bisa Selonjoran Adalah Orang yang Maruk dan Egois Mojok.co

Penumpang yang Beli 2 Kursi Kereta Ekonomi PSO demi Bisa Selonjoran Adalah Orang yang Maruk dan Egois

4 Juli 2026
Ketika Americano Dianggap Maskulin Lebih dari Es Kopi Susu (Unsplash)

Ketika Americano Dianggap Lebih Maskulin ketimbang Es Kopi Susu

6 Juli 2026
Saya Lulusan Ilmu Perpustakaan, tapi Saya Nggak Mau Jadi Pustakawan Sekolah, Isinya Cuma Makan Hati! perpusnas

Larangan Bawa Tumbler di Perpustakaan Daerah Itu Aneh, Minum Saja Dipersulit, Gimana Orang Mau ke Perpustakaan?

4 Juli 2026
Nasib Ironis Pulau Buton, Penghasil Aspal tapi Kualitas Jalannya Begitu Buruk

Nasib Ironis Pulau Buton, Penghasil Aspal tapi Kualitas Jalannya Begitu Buruk

6 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.