Beberapa hari ini, saya serius mantengin akun Instagram @cabinetcouture_season2. Bagi yang belum tahu, akun Instagram tersebut spill harga outfit pejabat negara yang harganya bikin saya geleng-geleng kepala.
Bagaimana tidak, ada pejabat yang pakai jam tangan seharga Toyota Fortuner. Ada yang pakai tas seharga Honda Mobilio. Ada juga yang pakai sepatu seharga Yamaha Nmax.
Tidak sedikit pejabat yang pakai sunglasses yang harganya setara masuk Fakultas Kedokteran di kampus saya. Bagi orang yang penghasilannya seringkali nggak nyampe UMR Kota Bandung, tentu saja ini bikin saya bertanya-tanya, “Emang apa benefitnya pakai outfit mahal begitu?”
Beberapa barang memang mahal karena ada fungsinya
Sewaktu kuliah, saya aktif pada organisasi pencinta alam kampus. Kami sering naik gunung, memanjat tebing, arung jeram, menelusuri goa, hingga menyusuri pantai. Olahraga outdoor yang kami jalankan tentu harus aman dan nyaman.
Dari situ saya paham kenapa brand peralatan olahraga outdoor itu mahal. Mulai dari sepatu, pisau, tenda, tas (carrier), jam tangan, hingga sunglasses, semua diformulasikan agar aman digunakan untuk kegiatan outdoor. Tahan panas, tahan hujan, hingga beberapa tahan digunakan di pegunungan bersalju. Nggak cuma tahan pada medan ekstrim, peralatan tersebut pun nyaman dan juga stylish.
Saat ini, saya lebih aktif menekuni olahraga lari. Saya paham kenapa beberapa sepatu lari itu mahal, kenapa running belt itu mahal, kenapa jam tangan lari (smartwatch) itu mahal, dan kenapa sunglasses itu mahal.
Sepatu lari mahal karena diformulasikan biar para pelari bisa memaksimalkan potensi kecepatan berlarinya serta meminimalisir risiko cedera. Running belt juga mahal karena ia menggunakan teknologi mutakhir agar pelari bisa menyimpan smartphone, kunci, botol minum, maupun running gel.
Smartwatch lari pun mahal karena ia tak hanya digunakan sebagai alat penunjuk waktu, tapi digunakan untuk mengukur durasi dan jarak lari, hingga mengukur detak jantung.
Gagal paham dengan outfit mahal pejabat
Nah, ini fungsi jam tangan, sepatu, dan tas para pejabat yang harganya ratusan juta itu buat apa? Apa ia secanggih jam tangan yang diberikan Zordon pada Rangers pilihannya? Apakah sepatunya membuat ia berlari secepat Flash? Atau tasnya berisi perbekalan yang bisa digunakan untuk mendaki Gunung Everest?
Sewaktu masih aktif naik gunung, orang yang menggunakan peralatan outdoor mahal, tapi nyusahin di gunung bakal diketawain. Sama seperti orang yang pakai kaus band dari band tertentu, tapi nggak pernah dengerin musiknya sama sekali. Sama seperti orang yang pakai jersey Manchester United, tapi nggak tahu siapa itu Sir Bobby Charlton.
Pada olahraga lari pun gitu. Percuma pakai sepatu plate carbon harga jutaan kalau pace-nya keong. Baru lari 1 kilometer lari, eh sisanya jalan. Padahal banyak pelari yang cuma pakai sepatu lari Rp300 ribuan tapi bisa finish strong marathon.
Selera fesyen memang beda, tapi …
Tentu, setiap orang punya selera fasyen sendiri-sendiri ya. Kalau mau ber-husnudzon (berbaik sangka), bisa saja para pejabat yang pakai outfit serba mewah itu memang sudah kaya dari sononya atau punya bisnis besar sebelum jadi pejabat negara.
Akan tetapi, banyak dari LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara) mereka yang sebelumnya kelas menengah biasa-biasa saja, setelah menjabat jadi serba mewah dari ujung kaki sampai ujung kepala sehingga jadi pertanyaan besar, “Ini hasil korupsi apa gimana dah?” atau “Ini orang jadi pejabat publik emang tujuan awalnya buat memperkaya diri atau gimana sih?”
Yang jadi persoalan, outfit serba mewah itu nggak berbanding lurus dengan kinerja mereka. Itu mengapa, di mata warga, outfit mewah itu terlihat norak. Coba contoh pejabat negara di negara lain macam Jepang atau Singapura. Mereka juga sama-sama digaji tinggi, tapi penampilan pejabat negaranya lebih ngutamain fungsi alih-alih gengsi. Jam tangan dan mobil dinasnya biasa aja tapi tepat waktu kalau menghadiri sebuah acara. Gak kayak disini, mobil dinas dan jam tangan mewah tapi serba ngaret.
Ini ibarat Harry Maguire yang sok-sokan pakai sepatu yang harganya 10 kali lipat lebih mahal dari Kylian Mbappé, tapi prestasinya jauh di bawah Kylian Mbappé. Ini ibarat pelari yang pakai outfit lari serba mewah dari ujung kaki sampai ujung kepala, tapi finish marathon 10 jam, sedangkan Eliud Kipchoge yang outfitnya sederhana, bisa finish marathon 2 jam saja.
Pejabat negara seharusnya mengutamakan rakyat, bukan outfit
“Mas, siapa tahu itu bentuk investasi dia! Harga barang kayak itu kan naik tiap tahun. Lagian bisa aja ia sudah punya itu dari sebelum menjabat!”
Ya kalau mau gitu jangan jadi pejabat! Investasi terbaik pejabat negara mah kepuasan dan kesejahteraan masyarakat, bukan barang mewah! Kalau ingin bermewah-mewah ya jangan jadi pejabat, jadi pengusaha aja! Emang gak malu pakai tas mewah ratusan juta sedangkan daerah yang ia pimpin penghasilannya gak nyampe UMR?
Penulis: Raden Muhammad Wisnu
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













