Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Lebaran Membosankan Nggak Ada Hubungannya Sama Menjadi Dewasa, Itu Artinya Kamu Lagi Mati Rasa Saja

Karina Londy oleh Karina Londy
16 Maret 2026
A A
Ironi Fresh Graduate Saat Lebaran: Gaji Masih di Bawah UMR, tapi Sudah Tidak Kebagian THR Mojok.co

Ironi Fresh Graduate Saat Lebaran: Gaji Masih di Bawah UMR, tapi Sudah Tidak Kebagian THR (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya sedang menikmati hari Minggu terakhir di bulan Ramadan ini, ketika saya menemukan tulisan di Terminal Mojok yang berjudul Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Lebih Pahit dari Obat Puyer. Awalnya, saya setuju saja dengan opini Bung Rizal, penulis artikel itu. Namun sayangnya, ia menutup tulisan tersebut dengan kesimpulan yang enggan saya amini.

“Fase pendewasaan menuntun kita untuk sadar bahwa banyak hal di dunia ini minim dengan makna.” Begitu tulisnya. Menurutnya, salah satu hal yang minim makna itu adalah Lebaran.

Disclaimer sedikit, cara pandang orang berbeda-beda itu wajar. Dan saya pun meyakini tidak ada cara pandang yang paling benar maupun paling salah. 

Namun saya mau menawarkan sudut pandang lain dalam melihat Lebaran ketika sudah beranjak dewasa. Agar kita tidak begitu saja mengecap bahwa Lebaran itu membosankan gara-gara kita sudah outgrew dari hal tersebut.

Ketiadaan makna Lebaran bukan efek dari menjadi dewasa

Terkadang kita lupa bahwa makna itu tidak muncul begitu saja. Makna itu harus kita ciptakan sendiri dan kita sematkan pada hal-hal yang awalnya tidak bermakna.

Bagi saya, semakin dewasa, semakin penting untuk punya awareness akan hal ini. Kalau dalam perjalanan beranjak dewasa kita mengabaikan kemampuan untuk memberikan makna, kita akan kehilangan kendali atas rasa dalam hidup kita. 

Terutama dalam konteks Lebaran yang kesannya repetitif dan hanya menggugurkan kewajiban tradisi. Tanpa kita secara aktif memberikan makna, wajar sekali lama-lama Lebaran jadi terasa membosankan.

Jadi, Lebaran membosankan itu bukan karena kita sudah dewasa. Tapi karena kita saja yang “malas” memperbarui makna Lebaran ketika makna yang sebelumnya sudah nggak relatable lagi.

Baca Juga:

Kapok Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Trauma dan Menderita

Bandung Setelah Lebaran Adalah Surga Wisatawan, tapi Mimpi Buruk bagi Warlok

BACA JUGA: Lebaran, Momen yang Ingin Saya “Skip” dari Kehidupan karena Hanya Berisi Trauma dan Kesedihan

Makna Lebaran jadi lebih variatif ketika kita dewasa

Ketika masih kecil, tanpa perlu berpikir panjang, hampir semua orang pasti sepakat Lebaran artinya seru-seruan. Entah seru-seruan main sama sepupu, atau seru karena dapet banyak THR dari om tante.

Ketika beranjak dewasa, memang hanya segelintir orang yang beruntung saja yang masih tetap akrab dengan sepupu. Jatah angpau THR pun berkurang drastis, malah sudah jadi giliran kita untuk memberikan THR.

Namun terlepas dari itu, kita bisa memaknai Lebaran dengan cara yang berbeda. Cara-cara yang lebih variatif lagi. Ketika kita sadar bahwa kita sebagai orang dewasa tuh punya free will, apa makna dari Lebaran itu bisa jadi luas sekali. Batasannya hanyalah pemikiran kita dan level ketidak-mageran kita untuk mewujudkannya.

Belakangan ini, makna Lebaran bagi saya adalah sibuk dalam keseruan marandang, alias membuat rendang. Selama tiga tahun terakhir, saya tidak lagi hanya menjadi penikmat rendang. Namun saya menjadi pembuatnya juga. Kenapa makna Lebaran berubah bagi saya baru dalam tiga tahun terakhir ini? 

Jawabannya adalah, tiga tahun lalu nenek saya telah dipanggil Yang Maha Kuasa. Dan membuat rendang sesuai resep beliau yang asli berdarah Minang adalah satu cara bagi saya untuk tetap terkoneksi dengan sosok yang saya rindukan.

Gapapa kalau Lebaran begitu-gitu saja, tapi jangan salahkan efek dari menjadi dewasa

Percayalah, saya bukannya nggak napak tanah. Saya tahu realitasnya memikirkan makna itu sulit ketika kita sudah begitu lelah sama tuntutan pekerjaan dan kewajiban pada keluarga. 

Apalagi dalam dunia yang begitu cepat dan terlalu banyak disrupsi. Dalam kondisi seperti ini, siapa sih yang masih punya waktu dan kapasitas pikiran untuk mempertanyakan makna? 

Namun kita harus selalu mengusahakan hari-hari yang bermakna itu. Terutama ketika Lebaran, hari yang pasti hadir paling tidak sekali setahun.

Soalnya tanpa makna, Lebaran dan hidup kita akan jadi hampa. Akan berlalu begitu saja dengan kita sebagai penonton, bukan pelaku.

Padahal, hidup itu harus lebih dari sekadarnya. Dan itu hanya bisa terjadi kalau kita mengambil peran sebagai pelaku. Kan katanya, kita “orang dewasa”. Artinya sudah harus bisa jadi pelaku dalam hidup sendiri dong.

Hidup itu cuma sekali. Lebaran pun hanya sekali-dua kali dalam setahun. Lebih baik diisi dengan gairah daripada menyerah dan mati rasa begitu saja, bukan?

Penulis: Karina Londy
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pamer Pencapaian Adalah Kegiatan Paling Sampah Saat Lebaran, Nggak Ada Fungsinya kecuali Bikin Orang Emosi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Maret 2026 oleh

Tags: hidup dewasaLebaranTHR
Karina Londy

Karina Londy

Lulusan komunikasi yang bekerja di industri penerbangan. Fotografer dan pegiat olahraga alam bebas. Pengelola taman baca swadaya di Jakarta Timur.

ArtikelTerkait

Jangan Cuma Mikir Hantaran, 5 Obat Ini Juga Harus Disiapkan Saat Lebaran  obat lebaran

Jangan Cuma Mikir Hantaran, 5 Obat Ini Juga Harus Disiapkan Saat Lebaran  

29 Maret 2025
6 Dosa Penjual Kue Kering yang Bisa Merusak Momen Lebaran dan Sulit Dimaafkan Pembeli  Mojok.co

6 Dosa Penjual Kue Kering yang Bisa Merusak Momen Lebaran dan Sulit Dimaafkan Pembeli 

28 Februari 2026
10 Rekomendasi Hampers Lebaran yang Bisa Kamu Temukan di Tokopedia Terminal Mojok

10 Rekomendasi Seller Hampers Lebaran di Tokopedia

12 April 2022
5 Inspirasi Makeup yang Patut Dicoba biar Lebaran Makin Glow Up terminal mojok

5 Inspirasi Makeup yang Patut Dicoba biar Lebaran Makin Glow Up

9 Mei 2021
4 Keistimewaan Royal Plaza Surabaya yang Bikin Pengunjungnya Membeludak Jelang Lebaran

4 Keistimewaan Royal Plaza Surabaya yang Bikin Pengunjung Membeludak Jelang Lebaran

20 April 2023
hujan di bulan juni

Bulan Juni Kali Ini Tidak Hanya Soal Hujan Ala Pak Sapardi

2 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang Mojok.co

Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang

29 April 2026
Gaji ke-13 PNS: Tradisi Musiman yang Dirayakan dengan Sepatu Baru dan Kecemasan Baru

4 Tempat Ngutang Favorit PNS untuk Kebutuhan Hidup dan Membuat Diri Mereka Terlihat Kaya

25 April 2026
Bandung Setelah Lebaran Jadi Surga Wisatawan, tapi Mimpi Buruk Warlok Mojok.co semarang

4 Hal yang Lumrah di Bandung tapi Tampak Aneh di Mata Orang Semarang

30 April 2026
3 Kebiasaan yang Harus Kamu Lakukan kalau Mau Selamat Kuliah di Jurusan Ilmu Politik

Penghapusan Jurusan Kuliah yang Tak Relevan dengan Industri Itu Konyol, kayak Nggak Ada Solusi Lain Aja

26 April 2026
LCGC Bukan Lagi Mobil Murah, Mending Beli Motor Baru (Unsplash)

Tidak Bisa Lagi Disebut Mobil Murah, Nggak Heran Jika Pasar LCGC Semakin Kecil dan Calon Pembeli Jadi Takut untuk Membeli

25 April 2026
Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah Mojok.co

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

28 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi
  • Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya
  • Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet
  • Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas
  • Basket Campus League 2026: Jadi Pembuktian Kesolidan Tim Timur dan Label Ubaya sebagai “Raja Basket Jawa Timur”
  • Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.