Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

4 Hal yang Lumrah di Bandung tapi Tampak Aneh di Mata Orang Semarang

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
30 April 2026
A A
Bandung Setelah Lebaran Jadi Surga Wisatawan, tapi Mimpi Buruk Warlok Mojok.co semarang

Bandung Setelah Lebaran Jadi Surga Wisatawan, tapi Mimpi Buruk Warlok (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai orang yang sudah terbiasa menghirup hawa panas Semarang, menginjakkan kaki di Bandung itu rasanya seperti pindah ke dimensi lain. Ada gegar budaya ketika kulit saya yang biasanya tersengat matahari, tiba-tiba dibelai halus sejuknya udara Bandung.

Nggak cuma itu, saya masih pula dikejutkan dengan sejumlah soal di Kota Kembang. Percayalah, meski jaraknya cuma terpaut satu provinsi, sederet hal yang lumrah di Bandung berikut sukses bikin dahi saya berkerut.

ADVERTISEMENT

#1 Bubur ayam tanpa kuah kuning, ujian kuliner bagi orang Semarang

Di Semarang, bubur ayam tanpa kuah kuning melimpah itu ibarat sayur tanpa garam. Hambar dan kehilangan jati diri. Namun di Bandung, bubur ayam justru hadir dengan kepercayaan diri tinggi meski kering kerontang tanpa siraman kuah rempah.

Awalnya, saya pikir saya cuma lagi apes dapat penjual yang lupa menyertakan kuah saat pesan lewat aplikasi online. Atau mungkin, penyajian bubur ayam semacam ini cuma berlaku di satu warung itu. Eh, ternyata saat sarapan di hotel pun, penampakannya serupa. Nihil kuah kuning.

Bubur ayam khas Bandung memang hanya mengandalkan gurihnya kaldu yang meresap ke bulir nasi, kecap asin, dan tumpukan topping yang meriah. Bagi saya yang terbiasa sarapan bubur dengan konsep berenang di kuah, situasi ini adalah sebuah uji nyali. Bukannya nggak enak, tapi tenggorokan saya rasanya butuh usaha ekstra alias agak seret saat mencoba menelan bubur beserta kerupuk dan kawan-kawannya.

BACA JUGA: Dulu Pengin Segera Kabur dari Semarang, Kota yang Nanggung dan Membosankan, kini Selalu Kangen Setelah Kerja di Jakarta

#2 Urusan gedung lawas, Bandung lebih geulis ketimbang Semarang yang miris

Sama-sama punya warisan kolonial, tapi nasib bangunan lawas di kedua kota ini beda rezeki. Di Bandung, gedung peninggalan Belanda tampak begitu terawat, kinclong, dan tetap terlihat denyut kehidupan. Ada yang bertransformasi jadi hotel, kafe, bahkan kantor pemerintahan.

Sementara di Semarang, meski punya Kota Lama yang sudah mulai cantik, masih banyak bangunan bersejarah yang tampak sedang berjuang melawan kelembaban udara pesisir dan ancaman rob. Sedihnya, di beberapa titik lain malah ada yang terbengkalai begitu saja, tanpa ada upaya penyelamatan. Melihat gedung tua di Bandung, saya merasa iri sekaligus malu. Andai saja Semarang lebih gigih membangkitkan kembali aura gedung bersejarahnya, pasti Kota Atlas akan jadi salah satu destinasi wisata utama di Indonesia.

Baca Juga:

Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

Pengalaman mencoba roti subuh yang lagi viral di Semarang: cukup sekali coba saja, nggak mau lagi-lagi

#3 Nama-nama jalan estetik di Bandung ternyata sebuah akronim penuh makna

Orang Bandung itu kreatifnya sudah mendarah daging. Saking kreatifnya, nama jalan pun harus disulap jadi singkatan biar terdengar lebih estetik. Tengok saja Jalan Otista. Faktanya, itu adalah cara ringkas warga lokal menyebut sang pahlawan, Otto Iskandardinata.

Atau Jalan ABC, yang bukan singkatan baterai atau kecap, melainkan pengingat harmoni etnis Arab, Bumiputera, dan Cina. Belum lagi Jalan Paskal yang terdengar sangat modern dan berciri kolonial. Padahal itu cuma cara asyik buat menyingkat Pasir Kaliki.

Sebaliknya, orang Semarang anti ribet. Nama jalan disebut apa adanya tanpa perlu kosmetik bahasa. Navigasinya pun sangat sederhana. Cukup pakai pembeda Semarang Atas dan Semarang Bawah, nggak pakai pakem mata angin yang rumit.

Memasuki Bandung berarti harus siap menghafal kamus akronim baru agar nggak tersesat di antara singkatan puitis yang kadang bikin alis menyatu. Jujur saja, saya sering kali gagal paham dan cuma bisa manggut-manggut pasrah saat sopir taksi menjelaskan destinasi pakai singkatan-singkatan ajaib tadi.

#4 Hutan di tengah Kota Bandung, jejeran pohon raksasa peneduh jalan yang bikin iri orang Semarang

Berjalan di Bandung itu bikin saya bertanya-tanya sedang ada di kota atau hutan belantara. Pasalnya, pohon-pohon tua raksasa dengan dahan menjalar menjadi peneduh alami di sepanjang jalan. Alhasil, suasana tetap adem meski matahari lagi semangat-semangatnya.

Usut punya usut, ternyata sebagian Bandung, seperti kawasan Dago, dulunya memang hutan rimba yang sepi dan gelap. Konon, sebelum jadi kawasan elit, daerah ini saking rawannya dan dipenuhi binatang buas, sampai muncul istilah dagoan alias menunggu dalam Bahasa Sunda. Orang-orang zaman dulu nggak ada yang berani lewat sendirian. Jadi mereka harus saling tunggu biar bisa melintas bareng-bareng.

Bandingkan dengan Semarang. Pohon peneduh sepertinya punya nasib kurang beruntung karena rajin sekali dipangkas dahannya. Alasannya memang masuk akal. Demi keselamatan saat musim hujan. Namun, perbedaan ini sukses bikin warga Semarang sadar betapa mahalnya harga sebuah keteduhan alami tanpa bantuan AC.

Jadi, bagi warga Semarang yang sedang di Bandung, nikmati saja selagi sempat. Soalnya, kalau sudah balik realitas ke Kota Lumpia, segala keunikan di Bandung bakal bikin kangen. Paling nggak, rindu buat menikmati siang hari tanpa diserang terik matahari.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jogja Memang Istimewa, tapi Mohon Maaf Bandung Lebih Nyaman untuk Ditinggali

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 30 April 2026 oleh

Tags: BandungDago Bandunggedung tua di bandunghutan di bandungSemarang
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

ArtikelTerkait

4 Wisata Semarang yang Tidak Semua Orang Bisa Menikmatinya Mojok.co

4 Wisata Semarang yang Tidak Semua Orang Bisa Menikmatinya

16 April 2025
Semarang Mungkin Kota yang Menyebalkan, tapi Meninggalkannya Tidak Pernah Mudah Mojok.co sambiroto

Semarang Mungkin Kota yang Menyebalkan, tapi Meninggalkannya Tidak Pernah Mudah 

24 November 2023
3 Tempat Wisata yang Wajib Dikunjungi di Tuntang, Kabupaten Semarang (Unsplash)

3 Tempat Wisata yang Wajib Dikunjungi di Tuntang, Kabupaten Semarang

21 Agustus 2022
pennywise

Jika Pennywise, Si Badut Film It, Nyasar ke Bandung

10 September 2019
Masjid di dekan kawasan simpang lima semarang underground city bekasi

4 Masjid Terdekat dari Simpang Lima Kota Semarang

7 April 2022
4 Hal yang Harus Disiapkan sebelum Berlibur Lebaran ke Cimory Semarang

4 Hal yang Harus Disiapkan sebelum Berlibur Lebaran ke Cimory Semarang

28 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bendungan Rowo Jombor Klaten Membahayakan Pengunjung (Unsplash)

Stigma orang yang nongkrong di Rowo Jombor adalah jamet itu konyol, tapi dampaknya luar biasa

6 Agustus 2026
Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

6 Agustus 2026
Pengalaman cabut gigi gratis dengan dokter koas: memang nggak keluar biaya, tapi dibayar dengan cuti dan jadwal yang tak tentu

Pengalaman cabut gigi gratis oleh dokter koas: memang nggak keluar biaya, tapi dibayar dengan cuti dan jadwal yang tak tentu

4 Agustus 2026
Nalar Cacat Kepala Sekolah yang Menganggap Enteng Bullying pada Siswa

Penyelesaian bullying di sekolah hanya dengan permintaan maaf adalah bukti bahwa hal ini nggak pernah dianggap serius

8 Agustus 2026
Mobil Suzuki Swift Lama, Mobil Tanpa Musuh dan Bebas Makian di Jalan suzuki sx4

Dari gaya hingga performa, inilah 6 alasan Suzuki Swift ST 2008 cocok jadi mobil pertama

6 Agustus 2026
Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

5 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.