Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Pamer Pencapaian Adalah Kegiatan Paling Sampah Saat Lebaran, Nggak Ada Fungsinya kecuali Bikin Orang Emosi

Marselinus Eligius Kurniawan Dua oleh Marselinus Eligius Kurniawan Dua
12 Maret 2026
A A
Pamer Pencapaian Adalah Kegiatan Paling Sampah Saat Lebaran, Nggak Ada Fungsinya kecuali Bikin Orang Emosi

Pamer Pencapaian Adalah Kegiatan Paling Sampah Saat Lebaran, Nggak Ada Fungsinya kecuali Bikin Orang Emosi (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Lebaran seharusnya menjadi momen pulang, momen menyenangkan, momen mengharukan. Tapi, ada satu ritual yang hampir selalu muncul setiap tahun dan terasa makin menjengkelkan dari waktu ke waktu. Ritual itu bukan saling memaafkan, bukan pula berbagi cerita sederhana tentang kehidupan, tapi parade pamer pencapaian.

Obrolan yang seharusnya hangat berubah menjadi ajang presentasi kehidupan. Seseorang membuka percakapan dengan cerita kariernya yang semakin menanjak. Yang lain menimpali dengan cerita bisnis yang berkembang pesat. Lalu ada yang mulai memamerkan rumah baru, mobil baru, atau promosi jabatan yang baru saja didapat.

Semua terdengar seperti laporan tahunan sebuah perusahaan. Lebaran tiba-tiba berubah menjadi ruang kompetisi sosial yang tidak pernah diumumkan, tetapi selalu terjadi. Dan masalahnya, hal ini bikin trauma bagi orang-orang yang hidupnya tak selevel. Trauma kolektif ini bikin orang enggan dan malas pulang kampung karena hal ini.

Lebaran yang berubah menjadi arena kompetisi sosial

Jika diperhatikan dengan jujur, banyak percakapan saat lebaran tidak lagi mengalir secara alami. Ia seperti lomba siapa yang hidupnya terlihat paling berhasil, tapi dibalut dengan nada merendah. Kalimatnya biasanya terdengar seperti ini: “Ah biasa saja kok kerjaannya, cuma kebetulan dipercaya jadi kepala cabang”. Atau yang lebih klasik, “Usaha kecil-kecilan saja sih. Alhamdulillah sekarang sudah buka cabang di beberapa kota.”

Semua orang yang mendengarnya tahu maksud sebenarnya. Itu bukan sekadar cerita. Itu adalah cara halus untuk menunjukkan posisi sosial. Istilahhnya adalah humblebragging.

Masalahnya bukan pada keberhasilan. Tidak ada yang salah dengan kerja keras atau pencapaian hidup. Yang membuat obrolan ini terasa sampah adalah niat di baliknya. Percakapan tidak lagi tentang berbagi pengalaman hidup. Ia berubah menjadi alat untuk menaikkan status diri di hadapan keluarga besar, dan menghancurkan yang tak punya status yang sama di keluarga.

Selain pamer pencapaian, ada satu hal lain yang membuat obrolan lebaran sering terasa melelahkan, yaitu penghakiman sosial berkedok pertanyaan. Seperti, berapa gajimu, kapan nikah, kapan nambah anak, dan seterusnya, dan seterusnya.

Semua pertanyaan itu sering dilontarkan dengan nada santai. Cuma memang kita tahu bahwa sebenarnya hal itu tidak pernah benar-benar santai. Seakan-akan pembicaraan ini jadi tempat evaluasi kehidupan oleh orang yang bahkan tak pernah menyumbang sepeser uang pun pada kita.

Baca Juga:

Bagi Tenaga Honorer seperti Saya, Mampu Bertahan di Tengah Negara yang Absurd Adalah Sebuah Pencapaian 

6 Lagu Sheila On 7 yang Kurang “Nyeila”, Terdengar seperti Band Lain. Perlu Diputar Berkali-kali untuk Sadar Itu Lagu Mereka 

Hal yang ironis dari semua ini adalah obrolan sederhana waktu Lebaran justru semakin jarang muncul. Padahal obrolan seperti itu jauh lebih menyenangkan. Cerita tentang masa kecil, kenangan kampung, makanan favorit keluarga, kejadian lucu yang terjadi bertahun-tahun lalu seakan tidak menarik. Padahal justru itulah alasan pulang yang sebenarnya. Entah kenapa, demi validasi, hal-hal menyenangkan justru tak lagi bahan pembicaraan yang utama.

Orang yang diam justru sering paling waras

Di tengah keramaian obrolan semacam itu sewaktu Lebaran, biasanya selalu ada satu tipe orang yang memilih diam. Sesekali tersenyum. Sesekali menanggapi seperlunya. Orang seperti ini sering dianggap tidak punya cerita.

Padahal bisa jadi justru dia yang paling memahami betapa absurdnya percakapan yang sedang berlangsung. Dia sadar bahwa tidak semua hal perlu diumumkan dan tidak semua pencapaian harus dijadikan bahan obrolan. Tidak semua perjalanan hidup perlu dibandingkan dengan orang lain.

Bagi orang seperti ini, Lebaran bukan tentang memamerkan hidup. Lebaran adalah tentang kehadiran dan tanpa perlu membuktikan apa pun.

Lebaran yang kehilangan kesederhanaannya

Ketika pamer pencapaian menjadi tema utama percakapan, lebaran kehilangan sesuatu yang penting. Ia kehilangan kesederhanaannya. Lebaran yang seharusnya menjadi ruang untuk kembali menjadi manusia biasa berubah menjadi panggung identitas sosial. Semua orang secara tidak sadar berusaha terlihat berhasil.

Yang paling aneh dari fenomena ini adalah semua orang sebenarnya tahu bahwa obrolan pamer pencapaian sewaktu Lebaran ini bikin nggak nyaman. Banyak yang merasa jenuh. Banyak yang merasa lelah. Tapi, tahun depan gitu lagi, yang cerita itu-itu lagi, yang ketawa itu-itu lagi, yang nyengir ya itu-itu lagi.

Di situlah ironi terbesar dari lebaran modern. Ketika orang berkumpul untuk saling mendekatkan diri, yang muncul justru jarak yang semakin terasa jelas. Jujur, di sinilah makna lebaran dan silaturahmi memudar nyata.

Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Reuni Keluarga Jadi Ajang Saudara Pamer Pencapaian, Pura-pura Tolol sambil Menyimaknya Ternyata Menyenangkan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 Maret 2026 oleh

Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Guru yang baru terjun di dunia menulis. Gemar main game, jalan-jalan, dan kulineran. Suka membahas tentang daerah, sosial, ekonomi, pendidikan, otomotif, seni, budaya, kuliner, pariwisata, dan hiburan.

ArtikelTerkait

Panic Buying, Orang Miskin Cuma Bisa Nontonin

Orang Kaya Sibuk Panic Buying, Orang Miskin Cuma Bisa Nontonin

5 Maret 2020
Juvenile Justice dan Realitas Kenakalan Remaja di Korea Selatan

Juvenile Justice dan Realitas Kenakalan Remaja di Korea Selatan

26 Februari 2022
Romantisme Hollywood Memfasilitasi Kecintaan Kita pada Badboy dan Fakboi terminal mojok.co

Seandainya Saya Jadi Sinta dalam Kisah Ramayana

31 Maret 2020
Istilah Pertanian Bahasa Madura yang Sering Dipakai di Situbondo

Istilah Pertanian Bahasa Madura yang Sering Dipakai di Situbondo

7 November 2022
Mengapresiasi Obat Nyamuk, Sabun, dan Lem Tikus dalam Hidup Kita

Mengapresiasi Obat Nyamuk, Sabun, dan Lem Tikus dalam Hidup Kita

24 Maret 2020
Dear Ferdian Paleka, YouTuber yang Udah Ngerjain Transpuan terminal mojok.co

Nggak Ada yang Peduli Tahun Berapa dan Asalmu saat Nonton Video di YouTube

9 Juni 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

6 Lagu Sheila On 7 yang Kurang "Nyeila", Terdengar seperti Band Lain. Perlu Diputar Berkali-kali untuk Sadar Itu Memang Lagu Mereka Mojok.co

6 Lagu Sheila On 7 yang Kurang “Nyeila”, Terdengar seperti Band Lain. Perlu Diputar Berkali-kali untuk Sadar Itu Lagu Mereka 

6 Juni 2026
Karyawan Indomaret Pekerja Paling Underrated di Indonesia (Unsplash)

Karyawan Indomaret adalah Pekerja Paling Underrated di Indonesia

2 Juni 2026
Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan Mojok.co

Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan

4 Juni 2026
Kopi Klotok Tidak Lagi Menarik, Warga Jogja Pilih Menghindar (Wikimedia Commons)

Kopi Klotok: Kuliner Wajib bagi Wisatawan, tapi Semakin Banyak Warga Lokal Jogja yang Memilih Menjauh dan Mencari Tempat Lain

6 Juni 2026
5 Kuliner Semarang yang Namanya Nyeleneh dan Kerap Mengecoh Wisatawan Mojok.co

5 Kuliner Semarang yang Namanya Nyeleneh dan Kerap Mengecoh Wisatawan 

4 Juni 2026
Di Mana Kosan Dipijak, di Situ Ada Aturan yang Nggak Ngotak: Kompilasi Peraturan Kos yang Nggak Masuk Akal

Di Mana Kosan Dipijak, di Situ Ada Aturan yang Nggak Ngotak: Kompilasi Peraturan Kos yang Nggak Masuk Akal

4 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.