Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Pengalaman Publikasi Artikel di Jurnal Ilmiah: Ternyata Ada Sisi Gelapnya!

Femas Anggit Wahyu Nugroho oleh Femas Anggit Wahyu Nugroho
22 Desember 2023
A A
Pengalaman Publikasi Artikel di Jurnal Ilmiah: Ternyata Ada Sisi Gelapnya!

Pengalaman Publikasi Artikel di Jurnal Ilmiah, Ternyata Ada Sisi Gelapnya! (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Memiliki artikel yang dipublikasikan di jurnal ilmiah tentu memberikan kesan yang wah, terutama sebagai seorang mahasiswa. Apalagi jika artikel kita dikutip banyak orang. Tentu semakin menambah rasa bangga.

Saya sendiri sebagai mahasiswa memiliki pengalaman perihal publikasi artikel di jurnal ilmiah ini sewaktu berada di semester 4. Waktu itu, seingat saya, ada 3 mata kuliah yang luarannya berupa membuat artikel untuk dipublikasikan di jurnal ilmiah.

Kriteria jurnalnya pun berbeda. Ada yang membolehkan jurnal yang belum terindeks SINTA, tapi ada juga yang mengharuskan minimal sudah terindeks SINTA 6. Bahkan ada mata kuliah yang tidak mengharuskan mahasiswa mempublikasikan artikel, yang penting sudah membuat artikelnya.

Singkat cerita, artikel saya berhasil dipublikasikan di jurnal ilmiah. Tak hanya satu, melainkan tiga. Tentu saja perasaan bangga memenuhi diri saya. Akan tetapi di sisi lain, saya mulai kepikiran sesuatu. Kok mempublikasikan artikel di jurnal ilmiah rasanya nggak seilmiah itu, ya? Saya nggak menghakimi semua jurnal ilmiah demikian, tapi perasaan ini tentu saya rasakan sesuai pengalaman saya.

Ada uang, publikasi lancar

Perlu diketahui, dalam sebuah jurnal terdapat fasilitas yang namanya fast track review. Fasilitas ini semacam layanan VIP bagi para penulis artikel yang ingin tulisannya lebih cepat terbit di jurnal tersebut. Namun, tidak semua jurnal ilmiah memiliki fasilitas ini. Jurnal yang tidak menyediakan fasilitas fast track review justru saya kira merupakan jurnal yang benar-benar ingin menjaga keilmiahan dan kualitas artikel yang terbit.

Jika melalui proses normal, pengiriman artikel sampai terbit butuh waktu sekitar 3 bulan bahkan lebih. Nah, melalui fast track review, artikel bisa diproses hanya dalam hitungan hari. Bahkan yang konyol menurut saya, ada jurnal yang bisa langsung menerima artikel untuk diterbitkan detik itu juga setelah biaya fast track review dibayar.

Biasanya, pengelola jurnal ilmiah akan langsung mengirimkan LoA (Letter of Acceptance) sebagai bukti bahwa artikel kita sudah diterima dan dijamin bakal dipublikasikan. Jadi, tidak ada proses review sama sekali. Tinggal kirim naskah, bayar, dan artikel dijamin akan terbit. Ibaratnya, ada uang, publikasi lancar.

Dari ketiga artikel saya yang berhasil terbit di jurnal ilmiah, semuanya bisa dikatakan melalui proses fast track review ini. Dua artikel hanya bayar lalu terbit, sementara satu artikel lainnya masih melalui proses review yang sebatas salah ketik dan penambahan sedikit saja. Tidak ada review mengenai proses pencarian data dan hasil analisis data yang justru merupakan jantung keilmiahan tulisan itu sendiri.

Baca Juga:

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

Bukan tanpa alasan saya menggunakan fast track review. Jika tidak melalui jalur tersebut, butuh waktu lama untuk bisa sampai pada proses penerbitan, sementara akhir semester saat itu sudah sangat dekat. Alhasil karena demi nilai, saya menggunakan layanan fast track review. Saya terbuka dan jujur di sini, dan hampir semua rekan saya begitu.

Bikin bertanya-tanya, apakah semua artikel yang dipublikasikan di jurnal ilmiah benar-benar berkualitas?

Satu hari lalu, saya iseng mencari data mengenai banyaknya publikasi negara kita. Hasilnya cukup membuat saya kaget. Rentang tahun 2008-2015, publikasi artikel ilmiah yang dicapai Indonesia tidak lebih dari 10.000 artikel. Rentang tahun 2019-2021 banyaknya publikasi mencapai 50.000 artikel. Edan! Melonjak 500 persen! Lonjakan publikasi ini pula menjadikan Indonesia sebagai negara teratas ASEAN dalam banyaknya publikasi.

Apakah kita harus bangga dengan banyaknya publikasi itu? Saya kira antara iya dan tidak. Kita mesti bangga dengan banyaknya publikasi itu. Paling tidak menggambarkan bahwa daya menulis kita juga tinggi.

Di sisi lain, kita juga mesti merenungkan kembali. Dengan banyaknya publikasi itu, apakah juga terjamin bahwa tulisan-tulisan yang dipublikasikan itu benar-benar ilmiah dan berkualitas? Hal ini mengingat bahwa mungkin banyak praktik penyalahgunaan layanan fast track review.

Selain pengalaman penggunaan layanan fast track, saya juga sempat menemukan beberapa artikel yang bagi saya ngaco banget tapi berhasil dipublikasikan di jurnal ilmiah yang bahkan sudah terindeks SINTA 3. Ngaconya itu artikel tersebut banyak typo-nya dan banyak kutipan yang tidak dicantumkan sumbernya di daftar pustaka. Hal ini menambah keraguan saya akan jaminan keilmiahan dan kualitas publikasi ilmiah di Indonesia.

Sebatas urusan keuntungan?

Adanya fast track review dan lonjakan publikasi dapat dicurigai bahwa urusan publikasi artikel di jurnal ilmiah di Indonesia tak lebih dari semacam praktik bisnis. Saya pun menjumpai ada grup di Telegram yang isinya perihal informasi publikasi ilmiah ini. Semua seperti sedang beriklan dan berusaha memasarkan dagangannya supaya laris manis.

Ada yang menjual dengan embel-embel “di jurnal kami proses cuma satu hari”, “dijamin langsung terbit”, “publish cepat, cocok buat tugas kuliah”, dll. Tak lupa di bagian bawah tertulis “biaya fast track atau APC (Article Processing Charge) sekian ratus ribu”. Edan!

Fenomena bisnis publikasi jurnal ilmiah ini juga menjadi semacam lingkaran setan. Bagaimana tidak, wong pasar dan sasarannya memang ada. Pasar dan sasarannya tak lain adalah dunia akademis kita sendiri yang menuntut adanya publikasi ilmiah. Tentu ini dimanfaatkan oleh oknum untuk meraup keuntungan.

Ruwet pokoknya. Publikasi memang jadi kebutuhan pokok di dunia akademis, terutama bagi mahasiswa dan dosen. Seorang dosen misalnya, perlu melakukan publikasi di jurnal ilmiah untuk mendapatkan angka kredit yang dapat menunjang penilaian kinerjanya. Sementara mahasiswa di beberapa program studi selain skripsi, juga diwajibkan untuk mempublikasikan hasil penelitian tugas akhirnya dalam bentuk artikel di jurnal ilmiah. Belum lagi yang dituntut untuk mempublikasikan artikel demi nilai mata kuliah seperti yang saya alami.

Alih-alih peduli dengan keilmiahan tulisan, pengelola jurnal justru mengutamakan cuan dan keuntungan. Jika sudah seperti ini, ya dapat dikatakan bahwa dunia akademis cuma mengutamakan citra agar terlihat wah oleh dunia luar karena publikasinya melonjak drastis. Urusan kualitas urusan belakangan, yang penting terlihat wah dulu.

Penulis: Femas Anggit Wahyu Nugroho
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 7 Kesalahan Mahasiswa Saat Menulis Artikel di Jurnal Ilmiah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 Desember 2023 oleh

Tags: artikel ilmiahDosenjurnal ilmiahKampusMahasiswamata kuliahtugas akhirTugas Kuliah
Femas Anggit Wahyu Nugroho

Femas Anggit Wahyu Nugroho

Terdaftar secara resmi sebagai penduduk bumi angkatan 2003. Mengidentifikasi diri sebagai Hamba Allah yang tidak memiliki permintaan muluk-muluk kepada dunia.

ArtikelTerkait

ikut demo

Kamu Ikut Demo Karena Kritis atau Latah?

25 September 2019
Mahasiswa Terjebak Judi Online, Bukti Orang yang Mengecap Pendidikan Tinggi Nggak Melulu Punya Nalar Mojok.co

Mahasiswa Terjebak Judi Online, Bukti Orang yang Mengecap Pendidikan Tinggi Nggak Melulu Punya Nalar

16 Juli 2024
Ironi Mahasiswa Jurusan Pendidikan: Buangan dan Tidak Ingin Menjadi Guru Mojok.co

Ironi Mahasiswa Jurusan Pendidikan: Buangan dan Tidak Ingin Menjadi Guru

1 November 2023
Keresahan yang Saya Rasakan Selama Jadi Mahasiswa S-2 Terminal Mojok

Keresahan yang Saya Rasakan Selama Jadi Mahasiswa S-2

31 Oktober 2022
Dosen yang Mengagungkan Jurnal Ilmiah Itu Motivasinya Apa sih?

Dosen yang Mengagungkan Jurnal Ilmiah Itu Motivasinya Apa sih?

21 Januari 2020
Sisi Gelap Mahasiswa Indonesia di Mesir yang Belum Banyak Diketahui Orang  Mojok.co

Sisi Gelap Mahasiswa Indonesia di Mesir yang Belum Banyak Diketahui Orang 

5 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan (Unsplash)

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan

4 Februari 2026
Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026
Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Pasar Minggu yang Asyik Nggak Kalah Asyik Dikulik Mojok.co

Pasar Minggu Harus Ikuti Langkah Pasar Santa dan Blok M Square kalau Tidak Mau Mati!

4 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
Kuliner Jepara Nggak Cuma Pindang Serani, Ada Juga Horok-Horok yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang Mojok.co

Kuliner Jepara Nggak Cuma Pindang Serani, Ada Juga Horok-Horok yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang

9 Februari 2026
Alun-Alun Jember Nusantara yang Rusak (Lagi) Nggak Melulu Salah Warga, Ada Persoalan Lebih Besar di Baliknya Mojok.co

Jember Gagal Total Jadi Kota Wisata: Pemimpinnya Sibuk Pencitraan, Pengelolaan Wisatanya Amburadul Nggak Karuan 

6 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi: Jadi Tempat Ngopi, Jeda selepas Lari, dan Ruang Berbincang Hangat
  • Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan & Vita Rilis Video Klip “Rayuanmu” yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!
  • Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata
  • Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 
  • Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba
  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.