Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Selamat Ulang Tahun Jogja, Selamat Ulang Tahun Cinta Pertama

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
8 Oktober 2022
A A
Selamat Ulang Tahun Jogja, Selamat Ulang Tahun Cinta Pertama

Selamat Ulang Tahun Jogja, Selamat Ulang Tahun Cinta Pertama (Achdiat Setyawan via Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Jogja, lagi-lagi saya menulis tentang negeri ini. Seperti tak ada rasa bosan untuk berkisah tentang daerah yang (katanya) istimewa ini. Tapi jujur saja, tidak pernah terbesit rasa untuk hengkang dari daerah semrawut ini. Bagi saya, Jogja adalah cinta pertama. Cinta yang murni, tulus, tapi toxic. Dan harus saya akui bahwa saya gagal move on darinya.

Saya tidak sedang bermajas hiperbola. Bagaimana saya tidak jatuh cinta pada tanah kelahiran yang masyhur ini. Sebuah kebanggaan ketika menjawab “saya asli Jogja” ketika ada orang asing kepo (baca : memaki) di DM. Ketika banyak influencer berebut ingin tinggal di Jogja, takdir memilih saya untuk lahir di sini. Ketika orang memamerkan foto di Jogja, saya malah bisa ngokop papan jalan Malioboro setiap hari.

Maka di hari ulang tahun Jogja yang ke-266, saya ingin merayakan hubungan ini. Siapa tahu saya bisa rekonsiliasi dan balikan dengan cinta pertama ini. Tapi, saya tidak memilih menikmati pawai atau pementasan. Tidak pula datang ke pasar malam yang katanya Sekaten itu. Saya memilih merayakan dengan cara khas putra daerah Jogja: muter-muter nggak jelas bermodal bensin eceran.

Perayaan ini saya mulai dari Madukismo, pabrik gula dan spiritus warisan Belanda. Mungkin hanya Madukismo yang paling dekat bagi orang Jogja untuk merasakan nuansa Cikarang. Nuansa industrinya ya, bukan UMR-nya. Corong-corong raksasa dan arus truk pengangkut tebu memang sangat industrial.

Sayang sekali, suasana industri ini harus tercemar oleh bau sisa pengolahan tebu. Bau manis molases kadang kelewat manis, sampai saya takut diabetes hanya karena lewat samping Madukismo. Belum lagi aroma busuk lain yang entah dari mana. Ingin mengumpat, tapi saya ingat bahwa hari ini saya mau merayakan sebuah cinta.

Melaju saya menuju area Pojok Beteng Barat. Bangunan raksasa berwarna putih ini pernah mempertahankan orang yang hidup di dalamnya. Meskipun pernah sekali kebobolan saat Geger Sepoy, tapi Benteng Baluwerti tetap kokoh berdiri melindungi kawula Jogja.

Sampai saya ingat bahwa benteng ini akan ingkar janji. Sisi timur laut benteng ini telah mengkhianati janjinya: menjaga orang yang hidup di dalamnya. Demi alasan mengembalikan situs bersejarah, puluhan orang sudah tergusur. Dan nantinya, seluruh pemukiman di area Benteng Baluwerti harus minggat dari pusat kemakmuran Jogja. Semua demi kembalinya tembok dingin nan tebal yang kini entah untuk melindungi apa.

Sudah, saya tidak mau menyakiti hati ini. Jogja masih punya banyak cinta untuk saya. Akhirnya saya melaju ke Jalan Ahmad Dahlan. Ke sebuah trotoar yang kini teduh oleh rindang pohon. Trotoar itu adalah tempat saya terkapar usai dikeroyok pelaku klitih tahun 2010 silam. Benar, saya adalah penyintas klitih yang kondang itu.

Baca Juga:

Setahun Hidup di Jogja Bikin Saya Rindu Jalan Berlubang di Bekasi

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

Bekas luka di belakang kepala saya kembali ngilu. Sudah 12 tahun berlalu, tapi klitih masih saja menghantui warga Jogja. Bahkan malah lebih parah, karena siapa saja bisa kena. Mengapa Jogja enggan mencabut benalu berdarah ini dari tubuhnya? Kenapa Jogja enggan menyenangkan hati saya, yang cinta mati padanya, dengan memastikan dirinya bebas klitih?

Mungkin Jogja sedang berusaha, atau mungkin lupa. Saya coba berbaik sangka sambil meneruskan perjalanan. Saya kembali berhenti di depan Alun-alun Utara (Altar). Lapangan luas dengan pohon beringin kembar di dalamnya ini punya ruang spesial di hati saya. Waktu SMP, saya dekat dengan Altar, saya sering olahraga di sana. Memori saya kembali di masa penuh suka cita itu. Mungkin itu masa di mana saya mulai jatuh cinta pada Jogja.

Tapi, pandangan saya tertuju pada pagar besi hijau yang mengurung Altar. Pagar bengis ini memisahkan saya dan banyak orang dari ruang publik di depan rumah Sultan ini. Banyak kisah di balik pagar itu yang kini tidak dapat kita kunjungi. Pagar tanpa perasaan ini seolah mengurung seluruh kenangan indah Jogja jauh dari rakyatnya.

Akhirnya saya menyerah untuk merayakan cinta saya dengan Jogja. Bahkan di hari ulang tahunnya, tidak ada sedikit effort dari Jogja untuk rekonsiliasi dengan saya. Tidak ada tawaran untuk kembali bermesraan dan menghapus luka lama saya. Jogja cuek terhadap saya dan mungkin ratusan atau ribuan orang yang jatuh cinta padanya.

Sudahlah, saya mending pulang ke rumah tempat saya lahir. Mungkin saya akan kembali merasakan cinta membara pada Jogja. Toh rumah milik eyang ini ada di Tamansari, pusat romantisme Jogja. Rumah yang berdiri di atas bangunan raksasa yang disebut Pulo Kenanga. Jadi, rumah kami berdiri di atas rumah lain.

Kalau kata teman-teman sih, rumah eyang ini mirip Mary Geoise di One Piece. Anda tidak tahu apa itu One Piece? Lalu kenapa Anda masih berusaha untuk hidup?

Di depan teras rumah itu, saya melempar jauh tatapan ke matahari terbenam. Tapi mendung menutupi semburat oranye-kuning- ungu yang cantik itu. Saya merasakan kembali betapa Jogja sangat cinta pada saya.

Saya lahir di Jogja. Berteman dengan berbagai jenis orang di Jogja. Saya belajar menggambar di Jogja. Saya kuliah di Jogja. Saya menjadi sarjana di Jogja. Bahkan saya mendapat penghargaan dari Mojok di Jogja. Semua kisah bahagia saya terjadi di Jogja. Tanpa kurang apa pun. Mungkin inilah cinta Jogja kepada saya. Dan sudah berapa kali saya menyaksikan ulang tahun Jogja, sebagai warganya, dengan penuh rasa yang berkecamuk.

Jogja terus menjadi rumah bagi saya yang sedang meniti masa depan. Banyak hal yang saya capai karena saya tinggal di Jogja. Apabila seorang Prabu Yudianto lahir di Swiss, mungkin saya tidak akan menulis di Terminal Mojok. Mungkin saya sekarang jadi broker atau bankir. Nahas sekali bukan?

Lalu saya berbalik menengok rumah milik eyang. Sejak 2009 rumah ini sudah mendapat peringatan penggusuran. Sampai hari ini, kami sekeluarga masih ketir-ketir takut digusur. Bahkan gelar raden yang kami sandang tidak mengurungkan rencana besar yang harus menggusur rumah kami. Toh pada akhirnya, kami hanyalah penumpang di tanah magersari ini. Ketika raja kami bertitah, minggat adalah kepastian.

“Asu, kamu cinta sama aku nggak sih?” Umpat saya kepada Jogja. Entah saya harus mengumpat ke arah mana. Dan mungkin entah saya harus mengumpat pada siapa. Toh Jogja tidak ikut menjaga hubungan kami ini. Dan saya masih memilih untuk cinta tapi benci pada Jogja. Terus menerus menahan sakit hati atas cinta yang toxic ini.

Selamat ulang tahun Jogja. Meskipun kamu tidak butuh ucapan saya. Semoga di usia yang tinggi ini, kamu lebih bisa mengayomi kami semua. Semoga kamu bisa mulai mencintaiku, yang tak pernah mampu meninggalkanmu. Jangan lupa, ada jutaan orang yang rindu kemesraanmu yang elok itu. Peluk cium untukmu sayang, meskipun kamu terus berpaling dariku.

Penuh cinta dan kebencian.

Pemujamu

Prabu Yudianto

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Surat Terbuka untuk Gubernur Baru Jogja: Semoga Lebih Baik ya, Pak!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 8 Oktober 2022 oleh

Tags: alun-alun utaraJogjaklitihpenggusuranUlang Tahun
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Kuliah Merantau di Jogja, eh Dikira Klitih karena Pakai Scoopy (Unsplash)

Pengalaman Pahit Menjadi Mahasiswa Rantau di Jogja ketika Motor Scoopy Saya Disangka Motornya Pelaku Klitih

3 November 2025
Salah Kaprah Anggapan Jogja Serbamurah. Tabok Saja kalau Ada yang Protes! terminal mojok.co

Upah Kerja Rendah di Yogyakarta, Siapa yang Paling Menderita?

22 November 2020
Menjaga Kualitas Shockbreaker dengan Meminimalisir Penggunaan Standar Samping terminal mojok.co

Jenis Pengendara Kendaraan Bermotor di Jalanan Jogja

3 Agustus 2019
Alun-alun Kidul Jogja Penuh Pengemis dan Pengamen yang Kadang Agresif, Masalah yang Menggerogoti Pariwisata Jogja

Alun-alun Kidul Jogja Penuh Pengemis dan Pengamen yang Kadang Agresif, Masalah yang Menggerogoti Pariwisata Jogja

18 Agustus 2024
Kisah Kasihan Bantul: Legenda Skincare Jawa dan Trik Licik demi Kekuasaan

Kasihan Bantul, Saksi Bisu Tipu Daya Licik Panembahan Senopati untuk Menghabisi Ki Ageng Mangir

22 Februari 2024
Batas Usia Kerja Bunuh Masa Depan Pencari Kerja Usia 30 Tahun! (Unsplash)

Batas Usia Kerja Nyata Menyiksa Pencari Kerja dengan Usia di Atas 30 Tahun Seperti yang Saya Rasakan

19 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental

2 Februari 2026
Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

2 Februari 2026
Alun-Alun Jember Nusantara yang Rusak (Lagi) Nggak Melulu Salah Warga, Ada Persoalan Lebih Besar di Baliknya Mojok.co

Jember Gagal Total Jadi Kota Wisata: Pemimpinnya Sibuk Pencitraan, Pengelolaan Wisatanya Amburadul Nggak Karuan 

6 Februari 2026
Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan Mojok.co jurusan pgpaud

Jurusan PGPAUD, Jurusan yang Sering Dikira Tidak Punya Masa Depan

5 Februari 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.