Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Demi Hemat Ratusan Ribu, Rela Tinggal di Kos Murah yang Ternyata Bekas Aborsi

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
12 Januari 2026
A A
Niatnya Hemat Kos Murah, Malah Dapat Kamar Bekas Aborsi (Unsplash)

Niatnya Hemat Kos Murah, Malah Dapat Kamar Bekas Aborsi (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Bicara soal hidup nomaden, rasanya saya sudah cukup layak menyandang gelar profesor dalam urusan tinggal di kos-kosan. Sepanjang masa kuliah, saya sudah mencicipi berbagai macam jenis kosan di beberapa kota. Mulai dari kos murah, sampai yang mendingan. 

Memang, sih, saya belum pernah merasakan kemewahan kamar eksklusif yang parkirannya berjejer mobil. Namun, jam terbang dalam menjajal kos murah yang harganya di bawah standar logika hingga kos yang cukup lumayan dan nyaman, sudah lebih dari cukup untuk menjadi bahan riset.

Dari pengalaman itulah, saya sampai pada sebuah kesimpulan. Kalau ada orang yang bilang tinggal di kos murah itu bagian dari seni hidup prihatin, mungkin dia memang sedang punya niat untuk melatih kesabaran.

Baca juga: Cari Kos Murah di Jogja Makin Susah, 600 Ribu Cuma Dapat Fasilitas Seadanya. Ada sih yang Mewah, tapi di Pinggiran 

Kos pertama saya adalah sebuah simulasi siksa duniawi di sel isolasi

Kos pertama saya adalah perkenalan paling brutal dengan dunia perantauan di Kota Pelajar. Karena belum hafal rute jalanan Jogja dan belum punya kendaraan, saya memutuskan memilih kos yang jaraknya sejengkal dari kampus. Maksudnya biar bisa berangkat kuliah dengan jalan kaki. 

Tanpa banyak opsi, saya harus puas tinggal di sebuah bangunan tua peninggalan zaman Belanda. Yang punya mengubahnya menjadi kos murah.

Menuju kamar, saya harus melewati lorong gelap gulita tanpa penerangan. Yang punya memasang papan tripleks sebagai sekat di salah satu sisi untuk menjadi kamar sewaan tanpa jendela. Untungnya, kamar saya sedikit lebih layak karena terbuat dari dinding bata dan punya satu jendela. Namun, soal ukuran, luas kamarnya nggak lebih dari 1,5 meter x 2,5 meter.

Di dalam kamar kos murah ini sudah berdesakan dipan kayu, meja belajar tua dengan desain khas zaman dulu, dan lemari baju plastik tipis dengan resleting yang kalau ditarik suaranya merobek keheningan. 

Baca Juga:

Sawojajar Malang Mengingatkan akan Labirin Pogung Jogja, Sama-sama Membingungkan dan Bikin Tersesat 

Saya Mengaku Iri kepada Mereka yang Tinggal di Dekat Stadion Kridosono dan Stadion Mandala Krida Jogja

Kehadiran perabot tadi bikin kamar terasa makin sesak. Alhasil, ketimbang produktif belajar, saya malah lebih sering keluyuran sampai menjelang jam malam. Semata karena nggak betah di dalam penjara berkedok kamar kos murah tersebut.

Tidak ada jasa cleaning service

Penderitaan belum selesai. Karena ini kos murah, jangan harap ada jasa cleaning service. Kamar mandinya di luar dan penghuni memakainya berjemaah. Artinya, setiap penghuni punya jadwal piket menguras bak yang cukup besar dan mengosek lantai kamar mandi yang sudah berlumut. 

Menurut saya, kerjaan ini mestinya jadi tanggung jawab pemilik kos. Bukannya malah membebani mahasiswa yang sudah pusing dengan tugas kuliah serta bayar uang sewa.

Begitu ada penghuni lain yang lulus, saya langsung gerak cepat minta pindah ke kamarnya yang terletak di belakang rumah. Kamar itu terpisah dari bangunan utama dan jauh lebih luas serta punya jendela besar. Mulanya, saya pikir ini adalah keputusan tepat untuk memperbaiki kualitas hidup saya sebagai mahasiswa rantau.

Kos murah melahirkan paranoid

Namun, harapan tinggal di kamar anyar tersebut ternyata memicu paranoid jenis baru. Setiap malam, pemilik koe mengunci pintu yang menjadi satu-satunya akses ke bangunan utama. 

Bayangkan, saat itu gempa besar barusan melanda Jogja. Skenario buruk terus menghantui saya. Kalau gempa susulan datang saat saya terkunci di area belakang, entah bagaimana nasib saya.

Selain itu, lingkungan sekitar kos murah ini, kalau malam, sangat remang. Tersebar pula kabar burung bahwa mahasiswi yang lewat saat malam hari sering bertemu pengidap eksibisionisme. Saat isu itu merebak, saya bertekad bulat untuk segera berkemas dan cari tempat tinggal lain.

Baca juga: Pengalaman Saya 7 Tahun Menempati Kos Murah tapi Angker di Jogja

Tinggal di kamar kos murah bekas aborsi

Kos murah kedua saya ini bangunannya jauh lebih modern, bahkan terletak di area yang katanya cukup elit di Jogja. Herannya, harga sewanya sama persis dengan kos pertama saya tadi, yakni Rp250.000 per bulan. Saat itu tahun 2006. Padahal, fasilitas yang ditawarkan cukup wow.

Pertama, penghuni kos nggak terbebani jadwal piket kamar mandi. Istri penjaga kos sudah membersihkannya. Nggak ada pula jam malam karena bapak penjaga kos murah ini siap sedia menjaga keamanan 24 jam. 

Selain ada tiga kamar mandi per lantai, pemilik kos menyediakan pula mesin cuci top loading. Jadi, mahasiswa di kos nggak perlu mengucek cucian.

Sayangnya, meski semua terlihat too good to be true, saya nggak bertahan lama di kos murah ini. Pasalnya, suatu malam ada kejadian heboh lantaran semua anak kos mendengar tawa perempuan misterius tanpa wujud, kecuali saya. Wajar, saya selalu menyetel televisi yang menyiarkan FTV setiap malam untuk mengusir sepi.

Namun, berita itu tentu mampir juga ke telinga saya. Salah satu kakak angkatan yang juga tinggal di kos tersebut dan merekomendasikannya ke saya, akhirnya membuka fakta mencengangkan. Dia berkata bahwa di kos tersebut pernah ada kejadian mahasiswi aborsi. Lebih gilanya, titik tempat peristiwa pilu tersebut adalah kamar yang saya tempati saat ini. Detik itu juga, saya putuskan segera angkat kaki.

Deretan pengalaman pahit itu menyadarkan saya bahwa selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kewarasan. Menghemat seratus dua ratus ribu rupiah per bulan mungkin terasa seperti kemenangan. Tapi, kalau imbasnya adalah tidur sambil gemetaran, mending angkat tangan.

Penulis: Paula Gianita

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Hal-hal Absurd yang Hanya Terjadi di Kos Murah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 Januari 2026 oleh

Tags: bangunan belandaJogjakos eksklusifkos hororkos jogjakos murahkos murah jogjakos-kosankosan
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

Mahasiswa doktoral UNDIP jurusan Manajemen Pemasaran asal Semarang.

ArtikelTerkait

menggugat pagar alun-alun utara jogja mojok.co

Wawancara Eksklusif dengan Korban Kebakaran Alun-alun Utara Jogja

29 Mei 2021
3 Alasan Ayam Geprek Bu Rum Harus Buka Cabang di Jakarta ayam geprek jogja oleh-oleh jogja

Saya Lebih Merekomendasikan Wisatawan untuk Mencoba Ayam Geprek ketimbang Gudeg Saat Berkunjung ke Jogja

8 Februari 2025
Kepala Manyung Bu Fat, Kuliner Pedas Semarang yang Wajib Dicoba

Maaf-maaf Saja, bagi Saya, Semarang Lebih Superior ketimbang Jogja dan Bandung

24 Juni 2023
Membayangkan Tingkah Laku Upin Ipin dan Anak-anak Tadika Mesra kalau Punya Grup WhatsApp Mojok.co jogja kuliah di jogja

Membayangkan Tokoh Upin Ipin Kuliah di Jogja: Susanti Nongkrong di Bonbin, Ehsan Jadi Anak Amikom

21 Januari 2025
Kisah Kasihan Bantul: Legenda Skincare Jawa dan Trik Licik demi Kekuasaan

Kasihan Bantul, Saksi Bisu Tipu Daya Licik Panembahan Senopati untuk Menghabisi Ki Ageng Mangir

22 Februari 2024
Kuliah di Jogja Bikin Mahasiswa Asli Blora Menyesal (Unsplash)

Mahasiswa Asli Blora Memilih Kuliah di Jogja tapi Akhirnya Menyesal karena Sulit Pulang Kampung

7 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai Mojok.co

Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai

19 April 2026
10 Pantai yang Bikin Kebumen Nggak Pantas Menyandang Status Kabupaten Termiskin, Cocoknya Jadi Kabupaten Wisata Mojok.co

Kebumen: Banyak Pantainya, tapi Belum Jadi Primadona Wisata Layaknya Yogyakarta

21 April 2026
Nelangsanya Jadi Warga Jawa Timur, Belum Genap 6 Bulan, Sudah Banyak Pemimpinnya Tertangkap KPK

Nelangsanya Jadi Warga Jawa Timur, Belum Genap 6 Bulan, Sudah Banyak Pemimpinnya Tertangkap KPK

23 April 2026
Upin Ipin, Serial Misterius yang Bikin Orang Lupa Diri (Wikimedia Commons)

Semakin Dewasa, Saya Sadar Bahwa Makan Sambil Nonton Upin Ipin Itu adalah Terapi Paling Manjur karena Bikin Kita Lupa Diri Terhadap Berbagai Masalah Hidup

17 April 2026
5 Makanan Khas Semarang yang Nikmat tapi Tersembunyi (Wikimedia Commons)

5 Makanan Khas Semarang yang Nikmat tapi Tersembunyi, Wajib Kamu Coba Saat Berwisata Supaya Lebih Mengenal Sejarah Panjang Kuliner Nikmat Ini

21 April 2026
Resign demi Jadi Wirausaha Itu Memang Ceroboh, tapi Saya Nggak Menyesal sekalipun Bangkrut

Resign demi Wirausaha Itu Memang Ceroboh, tapi Saya Nggak Menyesal sekalipun Bangkrut

18 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI
  • Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki
  • “Solo Date” Menjelang Usia 25: Meski Tampak Menyedihkan, Nyatanya Lebih Bermanfaat daripada Nongkrong Bersama
  • Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli
  • Pakai Jasa Porter di Stasiun meski Bisa Bawa Barang Sendiri: Sadar 50 Ribu Itu Tak bikin Rugi, Tapi Justru Belum Seberapa
  • 4 Jenis Pengendara Motor di Pantura yang Harus Diwaspadai di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan!

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.