Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

4 Kecamatan Penghasil Kopi Terbaik di Banyuwangi

Fareh Hariyanto oleh Fareh Hariyanto
18 Maret 2022
A A
4 Kecamatan Penghasil Kopi Terbaik di Banyuwangi

4 Kecamatan Penghasil Kopi Terbaik di Banyuwangi (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Berbicara tentang kopi Banyuwangi tentu laksana membuka kotak pandora. Ragam dan macamnya yang melimpah serta kecintaan warganya akan biji-bijian satu ini cukup unik. Budaya ngopi di Banyuwangi tidak bisa dilepaskan dari sejarah Hindia Belanda di Indonesia. Ya, merekalah yang mengenalkan kopi kepada warga daerah ini.

Kebun-kebun kopi yang kini dinasionalisasi melalui payung BUMN dengan PTPN-nya membuat semesta baru dalam dunia perkopian di Bumi Blambangan. Tentu tanpa menafikan para petani lokal yang turut berkontribusi dalam upaya memberikan stimulus pengenalan biji kopi terbaiknya ke penjuru Indonesia. Bukan hanya penghasil kopi berkualitas ekspor. Banyuwangi menawarkan kenikmatan dan kekhasan kopinya dalam event yang ditunggu para penikmat kopi.

Kopi (Pixabay.com)

Banyuwangi mengenal kopi sejak abad ke-18. Pemerintah kolonial mengenalkan biji-bijian ini, dan sisanya adalah sejarah. Tapi, seperti peraturan tanam pemerintah kolonial lainnya, selalu ada paksaan. Itulah ironinya, kota ini terkenal akan kopinya, tapi sejarah yang mengawalinya amat pahit.

Perjalanan kopi di Banyuwangi pada masa kolonial sempat mengalami pasang surut. Pada 1818-1865, produksi tak menentu. Hingga pemerintah kolonial melakukan segala upaya agar hasilnya sesuai apa yang mereka harapkan, contohnya dengan membuka perkebunan baru, pager kopi, dan pager kampung.

Pada 1864, terjadi banyak sekali kecurangan, korupsi dan lain-lain di perkebunan kopi sehingga pemerintah merasa dirugikan. Sehingga per 1 Januari 1865 perkebunan kopi di Banyuwangi resmi ditutup oleh pemerintah kolonial. Meski sempat pasang surut dalam perkembangannya hingga saat ini masih terdapat kantung-kantung wilayah penghasil kopi di Banyuwangi.

Wilayah penghasil kopi inilah yang bikin kalian bisa menyesap nikmatnya kopi asal kota ini. Dan dalam artikel ini, saya mau membagikan beberapa daerah penghasil kopi terbaik di Banyuwangi.

#1 Kecamatan Kalibaru

Perkebunan kopi Malangsari Banyuwangi dikenal sebagai salah satu penghasil kopi Banyuwangi terbaik yang diminati pasar Eropa. Saat ini, Perkebunan kopi Malangsari dikembangkan menjadi wisata kreatif berbasis kopi atau edukasi kopi. Wisatawan diajak melihat kebun kopi, proses pengolahan kopi dari hulu ke hilir, hingga mencecap cita rasa kopi “lanang” robusta.

Terletak di Desa Kalibaru Kulon, Kecamatan Kalibaru, Kebun kopi Malangsari yang dikelola oleh PTPN XII terletak di wilayah pegunungan selatan Banyuwangi yang terkenal dengan produk ”kopi lanang”-nya. Berada di ketinggian di atas 400 mdpl, hawa sejuk pegunungan akan mengiringi perjalanan ke kebun kopi Malangsari.

Baca Juga:

Jember Gagal Total Jadi Kota Wisata: Pemimpinnya Sibuk Pencitraan, Pengelolaan Wisatanya Amburadul Nggak Karuan 

Banyuwangi Horor, Kebohongan yang Sempat Dipercaya Banyak Orang

Robusta (Pixabay.com)

Memasuki kawasan kebun seluas 2.600 hektar ini, para pengunjung akan melewati jalanan pedesaan yang dipenuhi dengan panorama hamparan sawah padi. Setelahnya, akan melintasi perkebunan karet dan kopi. Melansir laman Pemkab Banyuwangi, Perkebunan Malangsari mengirim 45 ton kopi robusta ke Italia yang merupakan tahap pertama dari rencana ekspor 1.300 ton pada akhir 2019.

#2 Kecamatan Songgon

Selain menawarkan segudang destinasi wisata, ternyata Kecamatan Songgon juga memiliki produk kopi Banyuwangi dengan kualitas serta cita rasa mewah. Upaya merawat tanaman kopi dengan cara organik dapat kita jumpai di Dusun Candi, Desa Songgon, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Para petani mampu mempertahankan kualitas di tengah gempuran modernisasi industri kopi.

Untuk memberikan hasil biji kopi yang maksimal, para petani sengaja menggunakan pupuk organik. Selain menjadi salah satu cara untuk lebih meningkatkan hasil panen kopi, dengan menggunakan pupuk organik juga membuat kandungan nutrisi dalam tanah menjadi lebih terawat. Kondisi kopi yang dihasilkan memiliki kualitas terbaik.

Untuk keunggulannya sendiri, kopi songgon Banyuwangi memiliki citarasa yang berbeda dengan aroma harum ketika diseduh dengan air panas. Sehingga menambah kesan berbeda bagi para penikmatnya. Kopi yang menjadi unggulan dari Kecamatan Songgon adalah jenis robusta dan liberika. Meski pangsa pasar yang disasar hingga kini masih pada konsumen lokal.

#3 Kecamatan Licin

Sudah turun-temurun sejumlah masyarakat di Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi, Jawa Timur, bertani kopi. Namun, mereka bertani kopi dengan kebiasaan lama yakni petik ceri kopi secara campur atau merah dan hijau. Selain itu pengolahan kebunnya yang belum maksimal membuat beragam kendala ditemui setiap prosesnya.

Hingga beberapa pemilik kebun kopi di Kecamatan Licin sempat mengganti tanaman mereka dengan pohon sengon. Sebab, kopi dianggap harga jualnya murah dan tidak jadi perhatian utama. Namun sejak medio 2017, pemuda di desa tersebut memulai gerakan untuk mengubah kebiasaan lama para petani di Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi.

Mereka tergabung dalam kelompok petani kopi Java Ijen Madusari, dan menginisiasi para petani menjadikan kopi sebagai tanaman utama dan merawat kebunnya untuk meningkatkan kualitas kopi setempat. Selain itu kelompok ini juga memberikan edukasi kepada petani untuk memetik ceri kopi yang sudah matang atau petik merah. Hasilnya, Kecamatan Licin menjadi salah satu penghasil kopi yang diperhitungkan di Banyuwangi Jawa Timur.

#4 Kecamatan Kalipuro

Jika Anda ingin ngopi sambil sekaligus berwisata Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi mungkin bisa menjadi pilihan. Kelurahan ini dikenal sebagai Kampung Kopi Gombengsari. Data Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya, pola tanam kopi di Gombengsari ini dibudidayakan secara organik.

Pertanian kopi organik mengedepankan hubungan yang harmonis dengan unsur yang ada di alam. Mayoritas kopi yang ditanam di kampung ini adalah jenis robusta yang tumbuh pada ketinggian 400-600 mdpl. Diolah melalui proses natural, berada di wilayah geografis alam dan angin yang sangat menguntungkan, perpaduan hembusan angin laut yang membawa unsur garam dan angin gunung yang mengandung unsur belerang menciptakan ciri dan karakter kopi yang khas.

Keunikan lainnya, di Kecamatan Kalipuro bisa didapatkan dalam sensasi kekuatan aroma dan flavour yang khas dari kopi robustanya. Selain itu para petani juga menawarkan wisata tour kebun kopi, mengenal jenis-jenis kopi, petik kopi (saat panen), belajar memproses kopi secara tradisional (sangrai), serta menumbuk dan menyeduh kopi.

Es kopi (Pixabay.com)

Itulah empat kecamatan penghasil kopi terbaik di Banyuwangi. Ya, meskipun beberapa daerah di Kabupaten Banyuwangi juga memiliki potensi kopi. Namun rupa-rupanya empat wilayah di ataslah yang menghasilkan kopi Banyuwangi kualitas terbaik.

Oh iya, hampir lupa, kalau mampir dan ingin mencicipi kopi, jangan lupa beli kopi petani Banyuwangi. Sebab, di tengah pandemi kopi menjadi salah satu nafas petani untuk tetap mendapat rezeki.

Penulis: Fareh Hariyanto
Editor: Rizky Prasetya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 25 November 2025 oleh

Tags: BanyuwangiKopiliberikapenghasilrobusta
Fareh Hariyanto

Fareh Hariyanto

Perantauan Tinggal di Banyuwangi

ArtikelTerkait

Dear Pengurus Perpusda Banyuwangi, Menyampul Buku dengan Staples Itu Keliru Mojok.co

Dear Pengurus Perpusda Banyuwangi, Menyampul Buku dengan Staples Itu Keliru

14 November 2023
8 Istilah Bahasa Jawa yang Orang Jawa Sendiri Salah Paham (Unsplash)

8 Istilah Bahasa Jawa yang Masih Bikin Sesama Orang Jawa Salah Paham

18 Januari 2026

Warkop Tidak Akan Kalah Bersaing dengan Kafe Kekinian

26 Juli 2020
Banyuwangi dan Jember Terlalu Sering Disepelekan Jawa Timur (Pexels)

Nasib Buruh Banyuwangi Tak Semanis Fafifuwasweswos Netizen, Ketidakadilan Nyata Terjadi di Bumi Blambangan

10 Oktober 2025
5 Menu Indomaret Point Coffee yang Rasanya Gagal, Cukup Dicoba Sekali Aja

5 Menu Indomaret Point Coffee yang Rasanya Gagal, Cukup Dicoba Sekali Aja

27 Januari 2025
Tak Melulu Santet, Banyuwangi Juga Gudang Musisi, SBY atau Wiranto

Tak Melulu Santet, Banyuwangi Juga Gudang Musisi

21 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pro Tips Bikin Sate Taichan Jadi Lebih Enak (Wikimedia Commons)

Pro Tips Bikin Sate Taichan Jadi Lebih Enak: Sebuah Usaha Menghapus Cap Makanan Nggak Jelas dari Jidat Sate Taichan

7 Februari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
5 Profesi yang Kelihatan Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu (Unsplash)

5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

4 Februari 2026
Piyungan Isinya CEO Pakai Sandal Jepit Bawa Karung Rongsokan (Unsplash)

Saya Belajar Tentang Kebahagiaan di Piyungan, Tempat Para CEO Pakai Sandal Jepit dan Pegang Karung Rongsokan

7 Februari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan
  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.