Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Bukan Malang, Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Banyuwangi. Tak Hanya Jalanan Berlubang, Truk Tambang pun Dilawan

Ferika Sandra oleh Ferika Sandra
15 Januari 2026
A A
Bukan Malang, Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Banyuwangi. Tak Hanya Jalanan Berlubang, Truk Tambang pun Dilawan

Bukan Malang, Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Banyuwangi. Tak Hanya Jalanan Berlubang, Truk Tambang pun Dilawan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sempat menetap di Malang bertahun-tahun tidak membuat refleks berkendara saya bertambah baik. Saya akui jika lubang jalan di Malang memang seperti yang disinggung Mas Farhan dalam artikelnya yang tayang di Terminal Mojok beberapa hari lalu. Namun percayalah, lubang itu belum seberapa jika dibandingkan dengan kondisi jalanan di Banyuwangi.

Jika di Malang tantangannya seputar jalan berlubang dan PJU yang padam, Banyuwangi seakan tak mau kalah. Kabupaten ini melengkapi tantangan di jalur rusak dengan truk tambang yang hilir mudik. Hasilnya, jalan yang sebelumnya ditambal sulam ya rusak lagi dan lagi. Polanya begitu terus seolah tak mau berganti.

ADVERTISEMENT

Truk tambang yang lalu-lalang ini pun beragam. Mulai dari truk tambang galian C hingga truk tonase besar pembawa material tambang di Pesanggaran.

Apabila di Malang pengguna jalan masih bisa menghafalkan jalan yang berlubang, di Banyuwangi tentu hal itu tidak berlaku. Alih-alih menghafalkan jalan berlubang, baru hitungan jam, akses jalan yang rusak sudah bertambah di jalur yang berdekatan. Sehingga jangan berharap pengendara yang melintas bisa menghafal lubang di jalan. Apalagi saat musim penghujan.

Baca juga: Situbondo, Bondowoso, dan Jember, Tetangga Banyuwangi yang Berisik Nggak Pantas Diberi Respek.

Refleks ditempa oleh keadaan jalan Banyuwangi

Refleks setara dengan pembalap MotoGP tidak akan lahir begitu saja tanpa tempaan lingkungan sekitar. Saya pun merasakan hal itu dulu saat masih tinggal di Banyuwangi. Wilayah Gambiran menuju Pesanggaran menjadi jalur yang sering saya lalui. Kondisinya jika bisa digambarkan mungkin mirip jalur Gaza. Lalu-lalang kendaraan dengan tonase berat seperti tiada hentinya.

Hasilnya tentu bisa ditebak, kecamatan yang menyumbang pendapatan tertinggi dari sektor tambang di Banyuwangi malah menjadi wilayah dengan tingkat risiko kecelakaan tinggi. Penyebabnya tentu satu hal: jalan berlubang yang mengancam nyawa pengguna jalan. Bahkan saking mengancamnya, sejak 3 tahun lalu perusahaan tambang di jalur Gambiran-Pesanggaran menyediakan bus karyawan demi meminimalisir risiko kecelakaan. Tetapi warga yang tidak kerja di sana ya tetap harus adaptif ditempa oleh keadaan.

Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga

Dalam artikelnya, Mas Farhan menyebut jika perbaikan jalan jadi solusi sementara untuk jalan berlubang. Tetapi saya berpikiran berbeda. Sebab sepandai-pandainya kita berkendara, jika jalan rusak tidak direspons dengan perbaikan jalan yang semestinya dampaknya akan sama saja. Ibarat sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat pasti akan jatuh juga. Nah, jalan rusak di Banyuwangi pun begitu, perlu peran nyata pemerintah agar permasalahan ini dicarikan solusi yang pasti.

Baca Juga:

Harga Makanan di Surabaya Lebih Murah dari Banyuwangi: Untung bagi Pembeli, tapi Derita bagi Penjualnya

Pengalaman Kuliner di Pantai Blimbingsari Banyuwangi: Tenang dan Nyaman, tapi Bikin Kapok buat Jajan

Pemda sebenarnya bisa melakukan perbaikan. Jika melihat perkembangan saat ini, langkah yang dilakukan Pemda justru kontraproduktif. Mereka mementingkan perbaikan jalan yang menguntungkan wisatawan yang datang ketimbang jalur yang digunakan warga lokal. Lihat saja di Srono dan Songgon, kawasan padat yang warganya dipaksa akrab dengan jalan rusak.

Baca juga: Banyuwangi di Mata Orang Malang: Bebas Parkir Liar, Nggak Seseram yang Dibilang Orang.

Jalanannya nggak manusiawi

Adagium “alon-alon waton kelakon” tidak akan berlaku di Banyuwangi. Ancaman di jalan raya cukup beragam membuat masyarakat seperti berada di rimba jalanan. Belum lagi kalau hujan deras, jalanan yang berlubang jadi semakin tak kelihatan. Selain itu, ulah pengemudi yang ugal-ugalan cenderung mengancam pengguna jalan lainnya.

Sepanjang jalur dari wilayah Gumitir di Kalibaru hingga Wongsorejo di utara Banyuwangi memiliki karakteristik jalur yang bikin pengendara ngeri. Ingat, Banyuwangi adalah surganya truk cabai yang tiap melintas tidak tahu batas antara hidup dan mati. Belum lagi ancaman pickup yang balapan seolah dikejar setoran demi pengiriman barang tanpa memikirkan aspek keselamatan. Lengkap sudah semuanya.

Jadi, tanpa tinggal di Banyuwangi, saya nggak mungkin punya refleks berkendara yang baik. Nggak percaya? Silakan coba tinggal di sini.

Penulis: Ferika Sandra
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Banyuwangi Jawa Timur dan Banyuwangi Magelang: Nama Boleh Sama, tapi Soal Nasib Berbeda Jauh.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Januari 2026 oleh

Tags: Banyuwangijalan berlubangjalan rusakkabupaten banyuwangipengendara
Ferika Sandra

Ferika Sandra

Seorang pustakawan dari Kota Malang yang mencoba menulis untuk menertibkan pikiran. Gemar dengan isu-isu literasi dan kebudayaan.

ArtikelTerkait

Sudah Saatnya Banyuwangi Punya Transportasi yang Mumpuni seperti Kota-kota Besar Lain Mojok.co

Banyuwangi Kota yang Tak Pernah Ramah bagi Pekerja, Gajinya Rata dengan Tanah!

25 September 2025
Pengalaman 12 Jam Naik Kereta Sri Tanjung Solo-Banyuwangi: Naik Sendiri, Turun Punya Keluarga Baru Mojok.co

Pengalaman 12 Jam Naik Kereta Sri Tanjung Solo-Banyuwangi: Naik Sendiri, Turun Punya Keluarga Baru 

7 Juni 2025
3 Kebiasaan Pengendara Motor di Solo yang Dibenci Banyak Orang

3 Kebiasaan Pengendara Motor di Solo yang Dibenci Banyak Orang

16 Desember 2025
Mempertanyakan Pembangunan Terminal Sritanjung Banyuwangi: Terminal kok Jauh dari Pusat Kota dan Ekonomi, buat Apa?

Mempertanyakan Pembangunan Terminal Sritanjung Banyuwangi: Terminal kok Jauh dari Pusat Kota dan Ekonomi, buat Apa?

9 Juni 2023
Jalan Bulu-Tawangsari Sukoharjo, Jalan yang Kualitasnya Nggak Konsisten, Ada yang Mulus, Sebagian Remuk, Lainnya Remuk Banget

Jalan Bulu-Tawangsari Sukoharjo, Jalan yang Kualitasnya Nggak Konsisten, Ada yang Mulus, Sebagian Remuk, Lainnya Remuk Banget

22 Februari 2025
6 Kebiasaan Buruk Pengendara di Lampu Merah Terminal Mojok

6 Kebiasaan Buruk Pengendara di Lampu Merah

2 Februari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Alternatif Jogjakarta-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

Jalan alternatif Jogja-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

2 Agustus 2026
Wuling Aira EV, mobil yang bikin pabrikan merinding karena saking murahnya, LCGC kudu waspada dan wajib ketar-ketir

Wuling Aira EV, mobil yang bikin pabrikan merinding karena saking murahnya, LCGC kudu waspada dan wajib ketar-ketir

1 Agustus 2026
Cipatat, kecamatan di Bandung Barat yang kontribusinya sering luput dari perhatian orang-orang Mojok.co

Kasihan Kecamatan Cipatat lebih sering diingat buruknya, padahal punya banyak kontribusi lain bagi Bandung Barat

31 Juli 2026
Punya tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah ujian hidup paling berat

Punya tetangga yang suka nyetel musik keras-keras itu adalah ujian hidup paling berat

4 Agustus 2026
Penebang pohon keliling, profesi yang kerap dianggap sepele, dibayar murah, padahal taruhannya nyawa

Penebang pohon keliling, profesi yang kerap dianggap sepele, dibayar murah, padahal taruhannya nyawa

2 Agustus 2026
Kota Mandiri Maja cuma menang branding, buat hidup sehari-hari mending pilih Rangkasbitung Mojok.co

Kota Mandiri Maja cuma menang branding, buat hidup sehari-hari mending pilih Rangkasbitung

3 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.