Antara tahun 2016 hingga 2018 adalah masa-masa paling mengesankan bagi saya. Saat itu, saya masih duduk di bangku SMP di Pacitan. Untuk berangkat dan pulang sekolah, saya dan teman-teman harus menantang maut bersama bus langganan.
Bus itu bukan sekedar angkutan umum biasa. Ia sudah menjadi saksi perjalanan belajar dan perjuangan anak-anak di sekolah saya dulu.
BACA JUGA: Kesedihan yang Saya Rasakan di Atas Bus Surabaya Semarang
Bus Pink Pak Mun: Andalan yang selalu kami nanti
Saya tinggal di Pacitan, tepatnya di kabupaten kecil di ujung barat Jawa Timur. Makanya, kami sudah terbiasa dengan medan-medan ekstrem pegunungan. Jalanan yang harus kami lewati itu berkelok-kelok dan menanjak di tepi jurang. Kadang ada drama tanah longsor yang mewarnai di setiap musim hujan.
Jadi tidak heran apabila akses transportasi tergolong susah. Anak-anak di daerah “atas” terpaksa harus bisa mengendarai kendaraan bermotor walaupun belum masuk usia legal. Mau bagaimana lagi. Kami melakukan itu semua supaya tidak harus selalu mengandalkan orang tua untuk berangkat maupun pulang sekolah.
Lantas, bagaimana dengan sekolah-sekolah yang melarang siswanya mengendarai motor ke sekolah? Kondisi inilah yang saya alami selama menempuh SMP di Pacitan.
Bertempat tinggal di Kecamatan Tulakan, saya harus menempuh kira-kira 17 kilometer untuk sampai di sekolah yang berada di kecamatan sebelah. Perjalanan dengan waktu tempuh sekitar 30 menit itu kami lewati dengan satu-satunya jenis angkutan umum yang ada di jalur itu, yaitu mikrobus.
Sejak tahun pertama SMP saya di Pacitan, bus Pak Mun, begitu anak-anak menyebutnya, adalah langganan anak-anak Kecamatan Tulakan. Kalau tidak ada bus Pak Mun, mungkin kami akan sangat kesulitan untuk menimba ilmu di kecamatan sebelah.
Bus yang ikonik di Pacitan
Jangan membayangkan bus pariwisata yang besar dan ber-AC. Bus Pak Mun adalah bus kecil berwarna pink kusam dengan kapasitas normal sekitar 25 penumpang. Tapi, karena ini bus Pak Mun, tentu saja tidak ada yang “normal” dari bus yang sangat berjasa bagi anak-anak pegunungan di Pacitan.
Pak Mun sendiri kayaknya sengaja mencopot separuh lebih tempat duduk. Dia hanya menyisakan dua baris paling belakang. Barisan ini paling mentok bisa diduduki oleh delapan anak SMP bertubuh cungkring. Lalu, ke mana sisa penumpangnya? Ya berdiri berhimpitan di tengah, di atas bus, bahkan di bagasi belakang.
Kalian nggak salah dengar. Iya, atap bus dan bagasi belakang yang seharusnya sebagai tempat damen padi, rambanan, dan barang dagangan pasar, terpaksa diisi oleh anak-anak laki-laki yang nggak kebagian ruang di dalam bus.
Anak-anak perempuan yang beruntung bisa duduk di baris belakang atau depan. Salah satunya adalah saya, yang setiap pagi selalu mendapat kemewahan duduk di belakang sebab rute penjemputan saya yang paling awal.
Walaupun bisa menikmati fasilitas terkantuk-kantuk sepanjang pagi, kami yang duduk punya tugas khusus yang tak pernah absen diteriakkan oleh Pak Mun. “Ayo, ayo, tase dipangku ning mburi, ditoto sing apik!” Rutinitas itu wajib dilakukan agar semua anak bisa dihimpit-himpitkan masuk ke dalam.
Satu-satunya yang bisa diandalkan di pegunungan Pacitan
Tapi privilege itu hanya bisa saya nikmati saat pagi. Di jam pulang, tak ada yang bisa menjamin siapa yang akan duduk atau berdiri. Saat bus pink itu sudah terlihat putar di dekat sekolah, gerombolan kami akan menyerbu Pak Mun dengan brutal.
Berlomba-lomba, saling dorong, demi mendapat 20% kesempatan duduk dengan “nyaman”, atau setidaknya mendapat posisi berdiri di dekat jendela dan kursi, agar tak terbanting saat bus ngebut di tikungan tajam.
Bukan karena apa. Tapi memang bus ini adalah satu-satunya yang berangkat dengan waktu yang pasti di pegunungan Pacitan ini. Kalau sampai ketinggalan, matilah kami harus menunggu bus lain yang nggak jelas jadwalnya sampai sore.
Yang punya pacar, sih, bisa jalan bareng sambil bermesraan di jalan. Atau, jika orang tua sedang tak bekerja, bisa minta jemputan kapan saja.
“Dhea wes mlebu rung, Dhea? Ra ndue pacar ngono, ngko ketinggalan ra enek sing ngeterne,” adalah salah satu guyonan Pak Mun yang paling saya ingat. Guyonan bukan sekedar guyonan, tapi beliau bener-benar meneriakkan tiap-tiap nama yang belum nampak di jepitan barisan belakang.
Diiringi playlist musik NDX AKA dan prengus keringat yang ditiup angin sepoi jendela, kami selalu bisa mencuri waktu untuk terlelap di tengah kerumunan. Lelah seharian di sekolah, ditambah ditimang-timang oleh laju bus yang tersendat karena lubang aspal di Pacitan, mustahil bocah-bocah itu terbangun walau kepalanya tertimpa tumpukan tas dari bangku belakang.
Terjebak longsor, ulang tahun ala-ala, hingga gratisan Kamis Wage
Selama tiga tahun bersama bus itu, saya menyadari satu hal. Di dalam kendaraan sempit yang bergoyang di jalan desa, semua anak sama saja. Yang terkenal bandel di Pacitan, pendiam, kutu buku, kakak kelas, adik kelas, bahkan anak-anak konglomerat, semuanya luluh menjadi satu, tanpa jarak.
Di dalam bus itu, pertemanan tumbuh dengan cara yang tak pernah kami sadari. Momen-momen unik mewarnai hari-hari saya di pegunungan Pacitan.
Mulai dari tertinggal bus, berlarian naik dengan sepatu dan jilbab masih dicangking di tangan, menunggu sopir buang air di kali, hingga mengangkut gedebog pohon pisang tiap bus sudah lengang. Semua menjadi sumber tawa yang sederhana.
Sebagai kelompok penumpang di rute pemberhentian terakhir, kadang momen-momen hangat dan akrab juga terjadi begitu saja. Sesederhana seseorang mentraktir secangkir kopikap dingin dari warung di pasar, atau perayaan ulang tahun dadakan dengan tepung yang dihambur-hamburkan di lantai besi yang karatan.
Pak Mun juga tidak mau kalah isengnya, kadang sengaja menekan gas dengan kuat sampai kami terbanting-banting di tiap tikungan. Atau sengaja menurunkan kami lebih jauh dari tempat seharusnya. Meskipun begitu, momen gratisan Kamis Wage selalu menyenangkan bagi kami siswa penantang maut di Pacitan. Karena di hari lahir sang sopir, kami bisa menghemat dua ribu rupiah sebagai sedekah dari beliau.
BACA JUGA: Pacitan (Hampir) Bisa Mengalahkan Banyuwangi dan Malang, tapi Kalah Gara-gara Satu Hal Ini
Bus penantang maut
Di musim hujan, bau di dalam bus bertambah semakin kecut karena anak laki-laki harus ikut disesalkan di dalam. Beberapa kali kami terjebak longsor hingga harus menunggu di dalam bus sampai tanah selesai dikeruk. Berpindah bus karena bocor, hingga berjalan kaki beramai-ramai sudah pernah kami lalui.
Saya juga tidak akan lupa ketika salah satu media lokal Pacitan pernah mengabadikan potret bus pink itu dalam berita bertajuk “Naik di Atas Angkutan Umum, Puluhan Pelajar Pacitan ini Tiap Hari Menantang Maut.”
Berita yang menjadi bahan tertawaan dan bahasan kami berhari-hari ke depan. Walaupun benar foto dalam berita itu tampak membahayakan, tapi yang terkenang di benak saya hanyalah suka duka selama menjalaninya.
Setahu saya, hingga saat ini, bus itu masih beroperasi membantu siswa menantang maut di Pacitan. Entah masih sebanyak apa penumpangnya. Wajahnya sudah pasti berubah, tapi saya akan selalu mengenangnya.
Penulis: Dhea Arini Putri
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Pacitan: Daerah yang Tak Terjamah Pemerintah, padahal Punya Banyak Cerita Sejarah
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
