Jika dibandingkan dengan kota-kota besar di Jawa Timur, Ngawi memang sama sekali tidak menarik untuk dibahas. Palingan kalau tersebut nama kota ini, hal yang pertama kali terlintas di pikiran ya Denny Caknan, sudah.
Sejak pertengahan tahun 2025 hingga kini, saya cukup rutin pergi ke Ngawi. Hampir tiap dua minggu sekali menyambangi dan melewati Tugu Kartonyono untuk menengok istri saya yang bekerja di sana.
Kalau boleh jujur, tidak ada yang spesial dari Ngawi. Udaranya panas, tidak tersedia tempat hiburan ala kota besar seperti mall dan bioskop, pun destinasi wisatanya juga masih belum terawat. Kalau ada yang menarik, tidak bukan dan tidak lain ya makanannya yang masih murah.
Tapi jangan salah. Di balik semua kekurangan yang dimiliki, Ngawi masih sangat berpotensi untuk menjadi kota besar. Setidaknya itu menurut saya wqwqwq.
Lahan di Ngawi masih sangat luas
Ngawi memiliki luas daerah sekitar 1.298 km², dari total luasan tersebut 40% nya masih berupa sawah. Tentu ini menjadi modal yang sangat istimewa untuk melakukan berbagai pembangunan terutama industri. Tentu saja dengan tetap memperhatikan kehidupan petani.
Selain itu, di pusat kotanya masih banyak space kosong yang bisa dikelola untuk meramaikan suasana kota. Saya saat pertama kali ke Ngawi cukup kaget karena masih banyak rumah warga di sekitar alun-alun.
Soalnya kalau di tempat saya di Malang ataupun Batu, daerah sekitaran alun-alun sudah disapu bersih dan dijadikan banyak tempat-tempat komersial. Sederhananya gini, kalau ada investor yang berminat tanam modal di Ngawi itu nggak pusing cari tempat.
BACA JUGA: Cerita Pahit 25 Tahun Hidup di Kabupaten Ngawi yang Aneh
Infrastruktur jalan sudah mumpuni
Saat saya pertama kali ke Ngawi, saya merasakan pengalaman yang tidak seperti biasanya. Ruas jalan di pusat kota sangat luas. Maklum, di Malang terbiasa dengan jalanan sempit, udah gitu macet pula.
Tidak hanya di pusat kota, jalan-jalan di daerah yang mulai ndlusup pun juga masih luas. Tapi perlu digarisbawahi, saya mengatakan luas lho ya, bukan bagus. Soalnya ada beberapa jalan yang kondisinya cukup mengenaskan, apalagi yang jauh dari pusat kota.
Setidaknya ruas jalan yang luas ini bisa mendukung mobilitas warga kalau nanti Ngawi sudah menjadi kota yang besar.
Ngawi begitu strategis
Secara letak geografis, menurut saya Ngawi juga cukup strategis. Bahkan untuk akses riwa-riwi dari Jawa Tengah ke Jawa Timur paling enak dan cepat ya lewat Ngawi.
Ngawi memang menjadi titik sentral penghubung dua provinsi tersebut. Ya meskipun saat ini hanya menjadi daerah untuk bersinggah saja, tapi ini bisa menjadi modal berharga buat pengelola daerah untuk mencuri perhatian pelancong agar setidaknya mampir dan membelanjakan uang di Ngawi.
Wisata hidden gem
Seiring saya cukup rutin berkunjung ke Ngawi, ada banyak wisata hidden gems yang menurut saya bisa dipoles untuk dijadikan magnet pariwisata.
Sebut saja ada Museum Trinil yang menyimpan cerita panjang tentang kehidupan panjang prasejarah. Lalu ada Benteng Pendem yang juga merupakan bangunan bersejarah.
Kemudian untuk wisata alamnya ada kebun teh Jamus yang kesegaran udaranya sudah 11-12 dengan Tawangmangu. Dan ada juga Waduk Pondok yang mengingatkan saya dengan bendungan Karangkates dan Selorejo yang ada di Malang. Di Malang, bendungan bisa dijadikan tempat wisata yang menarik harusnya di Ngawi juga bisa.
Tergantung pemerintahnya saja
Dari beberapa alasan saya di atas, bisa dibilang Ngawi itu masih sangat mentah. Dan itu pekerjaan rumah yang sangat panjang bagi pemerintah daerah setempat.
Sebagai panduan, saya kira Ngawi bisa meniru Mojokerto dalam menentukan arah pembangunan. Mojokerto kini menjelma menjadi daerah yang memiliki daerah industri yang terpadu, tapi tetap memiliki kawasan wisata. Baik itu situs budaya dan wisata alam yang terkelola dengan baik.
Besar harapan saya agar kota ini terus menjadi daerah yang berkembang ke arah menjanjikan. Ada banyak modal berharga di daerah ini, sayang sekali kalau daerah sepotensial ini satu-satunya hal yang besar hanya nama Denny Caknan.
Penulis: Arif Mashudi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Panduan Mengenalkan Kabupaten Ngawi pada Masyarakat Awam yang Buta Jawa Timur
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















