Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pengalaman Saya 3 Tahun “Menantang Maut” di Pacitan Hanya demi Bisa Berangkat Sekolah

Dhea Arini Putri oleh Dhea Arini Putri
19 April 2026
A A
3 Tahun “Menantang Maut” di Pacitan demi Bisa Sekolah (Unsplash)

3 Tahun “Menantang Maut” di Pacitan demi Bisa Sekolah (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Antara tahun 2016 hingga 2018 adalah masa-masa paling mengesankan bagi saya. Saat itu, saya masih duduk di bangku SMP di Pacitan. Untuk berangkat dan pulang sekolah, saya dan teman-teman harus menantang maut bersama bus langganan.

Bus itu bukan sekedar angkutan umum biasa. Ia sudah menjadi saksi perjalanan belajar dan perjuangan anak-anak di sekolah saya dulu.

BACA JUGA: Kesedihan yang Saya Rasakan di Atas Bus Surabaya Semarang

Bus Pink Pak Mun: Andalan yang selalu kami nanti

Saya tinggal di Pacitan, tepatnya di kabupaten kecil di ujung barat Jawa Timur. Makanya, kami sudah terbiasa dengan medan-medan ekstrem pegunungan. Jalanan yang harus kami lewati itu berkelok-kelok dan menanjak di tepi jurang. Kadang ada drama tanah longsor yang mewarnai di setiap musim hujan.

Jadi tidak heran apabila akses transportasi tergolong susah. Anak-anak di daerah “atas” terpaksa harus bisa mengendarai kendaraan bermotor walaupun belum masuk usia legal. Mau bagaimana lagi. Kami melakukan itu semua supaya tidak harus selalu mengandalkan orang tua untuk berangkat maupun pulang sekolah.

Lantas, bagaimana dengan sekolah-sekolah yang melarang siswanya mengendarai motor ke sekolah? Kondisi inilah yang saya alami selama menempuh SMP di Pacitan.

Bertempat tinggal di Kecamatan Tulakan, saya harus menempuh kira-kira 17 kilometer untuk sampai di sekolah yang berada di kecamatan sebelah. Perjalanan dengan waktu tempuh sekitar 30 menit itu kami lewati dengan satu-satunya jenis angkutan umum yang ada di jalur itu, yaitu mikrobus.

Sejak tahun pertama SMP saya di Pacitan, bus Pak Mun, begitu anak-anak menyebutnya, adalah langganan anak-anak Kecamatan Tulakan. Kalau tidak ada bus Pak Mun, mungkin kami akan sangat kesulitan untuk menimba ilmu di kecamatan sebelah.

Baca Juga:

Ngawi Sangat Berpotensi Menjadi Kota Besar, Tinggal Pilih Jalan yang Tepat Saja

Di Balik Wajah Kota yang Modern: Kehidupan Kelam di Labirin Gang Sempit dan Hilangnya Estetika Kota Malang

Bus yang ikonik di Pacitan

Jangan membayangkan bus pariwisata yang besar dan ber-AC. Bus Pak Mun adalah bus kecil berwarna pink kusam dengan kapasitas normal sekitar 25 penumpang. Tapi, karena ini bus Pak Mun, tentu saja tidak ada yang “normal” dari bus yang sangat berjasa bagi anak-anak pegunungan di Pacitan. 

Pak Mun sendiri kayaknya sengaja mencopot separuh lebih tempat duduk. Dia hanya menyisakan dua baris paling belakang. Barisan ini paling mentok bisa diduduki oleh delapan anak SMP bertubuh cungkring. Lalu, ke mana sisa penumpangnya? Ya berdiri berhimpitan di tengah, di atas bus, bahkan di bagasi belakang.

Kalian nggak salah dengar. Iya, atap bus dan bagasi belakang yang seharusnya sebagai tempat damen padi, rambanan, dan barang dagangan pasar, terpaksa diisi oleh anak-anak laki-laki yang nggak kebagian ruang di dalam bus.

Anak-anak perempuan yang beruntung bisa duduk di baris belakang atau depan. Salah satunya adalah saya, yang setiap pagi selalu mendapat kemewahan duduk di belakang sebab rute penjemputan saya yang paling awal.

Walaupun bisa menikmati fasilitas terkantuk-kantuk sepanjang pagi, kami yang duduk punya tugas khusus yang tak pernah absen diteriakkan oleh Pak Mun. “Ayo, ayo, tase dipangku ning mburi, ditoto sing apik!” Rutinitas itu wajib dilakukan agar semua anak bisa dihimpit-himpitkan masuk ke dalam.

Satu-satunya yang bisa diandalkan di pegunungan Pacitan

Tapi privilege itu hanya bisa saya nikmati saat pagi. Di jam pulang, tak ada yang bisa menjamin siapa yang akan duduk atau berdiri. Saat bus pink itu sudah terlihat putar di dekat sekolah, gerombolan kami akan menyerbu Pak Mun dengan brutal. 

Berlomba-lomba, saling dorong, demi mendapat 20% kesempatan duduk dengan “nyaman”, atau setidaknya mendapat posisi berdiri di dekat jendela dan kursi, agar tak terbanting saat bus ngebut di tikungan tajam.

Bukan karena apa. Tapi memang bus ini adalah satu-satunya yang berangkat dengan waktu yang pasti di pegunungan Pacitan ini. Kalau sampai ketinggalan, matilah kami harus menunggu bus lain yang nggak jelas jadwalnya sampai sore. 

Yang punya pacar, sih, bisa jalan bareng sambil bermesraan di jalan. Atau, jika orang tua sedang tak bekerja, bisa minta jemputan kapan saja.

“Dhea wes mlebu rung, Dhea? Ra ndue pacar ngono, ngko ketinggalan ra enek sing ngeterne,” adalah salah satu guyonan Pak Mun yang paling saya ingat. Guyonan bukan sekedar guyonan, tapi beliau bener-benar meneriakkan tiap-tiap nama yang belum nampak di jepitan barisan belakang.

Diiringi playlist musik NDX AKA dan prengus keringat yang ditiup angin sepoi jendela, kami selalu bisa mencuri waktu untuk terlelap di tengah kerumunan. Lelah seharian di sekolah, ditambah ditimang-timang oleh laju bus yang tersendat karena lubang aspal di Pacitan, mustahil bocah-bocah itu terbangun walau kepalanya tertimpa tumpukan tas dari bangku belakang.

Terjebak longsor, ulang tahun ala-ala, hingga gratisan Kamis Wage

Selama tiga tahun bersama bus itu, saya menyadari satu hal. Di dalam kendaraan sempit yang bergoyang di jalan desa, semua anak sama saja. Yang terkenal bandel di Pacitan, pendiam, kutu buku, kakak kelas, adik kelas, bahkan anak-anak konglomerat, semuanya luluh menjadi satu, tanpa jarak.

Di dalam bus itu, pertemanan tumbuh dengan cara yang tak pernah kami sadari. Momen-momen unik mewarnai hari-hari saya di pegunungan Pacitan. 

Mulai dari tertinggal bus, berlarian naik dengan sepatu dan jilbab masih dicangking di tangan, menunggu sopir buang air di kali, hingga mengangkut gedebog pohon pisang tiap bus sudah lengang. Semua menjadi sumber tawa yang sederhana.

Sebagai kelompok penumpang di rute pemberhentian terakhir, kadang momen-momen hangat dan akrab juga terjadi begitu saja. Sesederhana seseorang mentraktir secangkir kopikap dingin dari warung di pasar, atau perayaan ulang tahun dadakan dengan tepung yang dihambur-hamburkan di lantai besi yang karatan.

Pak Mun juga tidak mau kalah isengnya, kadang sengaja menekan gas dengan kuat sampai kami terbanting-banting di tiap tikungan. Atau sengaja menurunkan kami lebih jauh dari tempat seharusnya. Meskipun begitu, momen gratisan Kamis Wage selalu menyenangkan bagi kami siswa penantang maut di Pacitan. Karena di hari lahir sang sopir, kami bisa menghemat dua ribu rupiah sebagai sedekah dari beliau.

BACA JUGA: Pacitan (Hampir) Bisa Mengalahkan Banyuwangi dan Malang, tapi Kalah Gara-gara Satu Hal Ini

Bus penantang maut

Di musim hujan, bau di dalam bus bertambah semakin kecut karena anak laki-laki harus ikut disesalkan di dalam. Beberapa kali kami terjebak longsor hingga harus menunggu di dalam bus sampai tanah selesai dikeruk. Berpindah bus karena bocor, hingga berjalan kaki beramai-ramai sudah pernah kami lalui.

Saya juga tidak akan lupa ketika salah satu media lokal Pacitan pernah mengabadikan potret bus pink itu dalam berita bertajuk “Naik di Atas Angkutan Umum, Puluhan Pelajar Pacitan ini Tiap Hari Menantang Maut.”

Berita yang menjadi bahan tertawaan dan bahasan kami berhari-hari ke depan. Walaupun benar foto dalam berita itu tampak membahayakan, tapi yang terkenang di benak saya hanyalah suka duka selama menjalaninya.

Setahu saya, hingga saat ini, bus itu masih beroperasi membantu siswa menantang maut di Pacitan. Entah masih sebanyak apa penumpangnya. Wajahnya sudah pasti berubah, tapi saya akan selalu mengenangnya.

Penulis: Dhea Arini Putri

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Pacitan: Daerah yang Tak Terjamah Pemerintah, padahal Punya Banyak Cerita Sejarah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 April 2026 oleh

Tags: angkutan umumbus pink pacitanbus sekolahjawa timurpacitansmp di pacitan
Dhea Arini Putri

Dhea Arini Putri

Kadang pengen jadi penulis, kadang pengen jadi florist.

ArtikelTerkait

Kabupaten Jember Harusnya Belajar dari Surabaya Soal Transportasi Umum, Bisa Jadi Solusi Kemacetan dan Promosi Pariwisata

Kabupaten Jember Harusnya Belajar dari Surabaya Soal Transportasi Umum, Bisa Jadi Solusi Kemacetan dan Promosi Pariwisata

17 Desember 2023
KA Sri Tanjung, Penyelamat Mahasiswa Jogja Asal Banyuwangi (Wikimedia)

KA Sri Tanjung, Penyelamat Mahasiswa Jogja asal Tapal Kuda yang Namanya Terinspirasi dari Legenda Banyuwangi

20 September 2025
5 Rekomendasi Oleh-Oleh Khas Pacitan yang Cocok Dibawa Pulang Wisatawan

5 Rekomendasi Oleh-Oleh Khas Pacitan yang Cocok Dibawa Pulang Wisatawan

18 Juli 2025
Sidoarjo Menyimpan Peluang Bisnis yang Menggiurkan (Unsplash)

Sidoarjo Menyimpan Peluang Bisnis yang Menggiurkan

12 Maret 2023
Jember Paling Jago Menjaga Jalan Rusak Tetap Rusak (Wikimedia)

Jember Layak Mendapatkan Penghargaan Sebagai Daerah Terbaik yang Paling Berhasil Menjaga Jalan Rusak Tetap Terpelihara

21 September 2025
Terminal Arya Wiraraja Sumenep: Bertahan di Tengah Kerapuhan

Terminal Arya Wiraraja Sumenep, Bertahan di Tengah Kerapuhan

23 Mei 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Dosa Warung Bakso yang Bikin Hilang Nafsu Makan (Unsplash)

5 Dosa Warung Bakso yang Bikin Hilang Nafsu Makan, Bahkan Sebelum Sendok Pertama

13 April 2026
Cisarua Bogor dan Cisarua Bandung Barat: Dua Daerah yang Beda, tapi Nasibnya Sama-Sama Terlupakan  Mojok.co

Cisarua Bogor dan Cisarua Bandung Barat: Dua Daerah yang Beda, tapi Nasibnya Sama-sama Terlupakan 

17 April 2026
Dear UNY, Tambah Fakultas Baru Sah-sah Aja, tapi Jangan Lupa Pikirkan Lahan Parkirnya  MOjok.co kampus

Surat Terbuka untuk Kampus yang Menambah Mahasiswa dan Gedung, tapi Lahan Parkirnya Tetap Sempit, Logikanya di Mana?

14 April 2026
Shopee dan Kebijakan Absurd-nya: Niatnya Membantu, tapi Malah Bikin Penjual Menggerutu shopee vip

Shopee VIP Memberi Ilusi Hemat Belanja, tapi Bisa Membuat Boros Tak Terkira

12 April 2026
3 Tahun “Menantang Maut” di Pacitan demi Bisa Sekolah (Unsplash)

Pengalaman Saya 3 Tahun “Menantang Maut” di Pacitan Hanya demi Bisa Berangkat Sekolah

19 April 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Dear Wisatawan, Pakai Bahasa Jawa di Jogja Tak Lantas Bikin Harga Barang yang Kamu Beli Jadi Lebih Murah

13 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Kata Siapa Pemakai Pertamax Turbo Nggak Ngamuk Melihat Kenaikan Harga? Saya Juga Stres karena Curiga Pertamax dan Pertalite Akan Jadi Barang Langka
  • Purwokerto Tempat Pensiun Terbaik, tapi Bukan untuk Semua Orang: Kamu Butuh 4 Skill Ini Buat “Survive”
  • Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika
  • iPhone XR, Bikin Menderita Orang Kota tapi Jadi Standard “Keren” Pemuda di Desa: Rela Gadaikan Barang demi Penuhi Gengsi
  • PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk
  • Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.