MOJOK.COPLTS yang dari tenaga matahari itu sebenarnya PLTT alias Pembangkit Listrik Tenaga Tuhan. Tak seharusnya ia meresahkan karena Tuhan tak pernah kehabisan pulsa.

Manise manise, su talalu manise…

ramas santan dengan gula, sutalalu manise..

Sibu-sibu angin utara, katong balayar ke Saparua…

Kalau hidup orang saudara, sagu salempeng bagi berdua…” 

Sopi vs Pandemi

Mama: Agustinus anak ini kaluar-kaluar teros. Dong tara mau dengar kemarin malam bapa raja ada sosialisasi tentang social distancing, karna ada Covid-19 mau datang. Tuhang Allah, ini anak Agustinus jangan-jangan ada minum-minum sopi di luar. 

Agustinus: Mama, minum sopi sudah. Corona pasti takut. 

Mama: Tuhang Allah, ose tara liat ose pu opa? Sebelum corona datang, opa ada minum-minum sopi, mabuk-mabuk setiap malam sambil duduk-duduk di jambatan. Setiap orang lewat lirik opa, opa langsung main pukul. Tuhang Allah! Sekarang katong balong tahu corona habis kapan? Lalu ose suru-suru orang minum sopi. Yang ada, corona balong datang, katong su musnah karena baku bunuh satu kampung. 

***

Sahabat saya, sebut saja Jefry. Saya yakin dia orang yang tidak percaya bahwa sopi bisa menangkal orang dari serangan corona karena kandungan alkoholnya. Tapi Jefry laki-laki peminum sopi yang tekun. Sebetulnya hampir semua minuman berkadar alkohol dia tekuni. 

Entah karena sudah minum sopi sebelum pergi ke gereja atau tidak, dalam Perjamuan Kudus di Hari Raya Paskah, setelah mencicipi anggur yang dibagikan, Jefry melepas jasnya, dan berputar ikut antri lagi untuk mendapatkan anggur kedua. Ketika ia tiba di muka Pendeta, dia tetap mendapatkan anggur kedua, tapi bapa Pendeta berbisik: nyong, ale su dua kali berputar untuk dapat anggur. Awas kalau sampai mengantri lagi yang ketiga. Awas! 

Jefry bingung, karena dia merasa sudah menyamar dengan membuka jasnya. Bagaimana bapa Pendeta dapat tahu, pikirnya?

Tapi sopi buat Jefry, punya efek lain yang tak terduga. Bapa Raja Nusa Laut saksinya. Malam itu Jefry dan satu teman lain di Nusa Laut mendapat jamuan sopi terbaik, beberapa botol. Sopi Nusa Laut memang terkenal halus, dan naiknya perlahan menanjak dengan lembut tapi kuat. Lalu terjadilah dialog ini:

Bapa Raja: Jadi ale menikah tahun berapa? 

Jefry: (sambil duduk dengan mengangguk-anggukkan kepala) 1946!

Bapa Raja: (Terkejut). Tuhang Alah, jadi ale menikah hanya satu tahun setelah kemerdekaan? Ale su menikah sebelum dilahirkan? (Jefry lahir pada 1960). 

Jefry masih mengangguk-anggukkan kepala sambil mengangkat jempol tangannya. Tapi tiba-tiba ia seperti sadar dan berteriak: “Woi… bukan 1946! Maksud beta, beta menikah di usia 46, bukan tahun 1946. Bapa Raja pu sopi ini bikin kacau pikiran, sa. 

Bapa Raja: Puji Tuhan, sukurlah. Kalau tidak BPUPKI pasti pusing kapala. (Bapa Raja lalu meminta teman satunya tadi untuk membuka satu botol sopi lagi. “Sorong ka muka lai. Biar antua cepat tidur. Karena kalau tidak, bisa rusak ini sejarah Indonesia,” kata bapa Raja. 

Kisah Udin

Udin dan Rasyid adalah dua teman kami di kepulauan Aru. Mereka Muslim. Satu kali, seperti diriwayatkan oleh Jefry, Udin memasang beberapa perangkap di hutan-hutan pulau Wokam, bagian dari pulau-pulau Aru. 

Rejeki Udin luar biasa. Dua ekor Rusa dan beberapa Celeng masuk perangkap. Teman-teman yang kebetulan sedang ada di Wokam, termasuk Jefry, bersepakat untuk berpesta. Binatang-binatang hasil tangkapan itu diolah. Lalu timbul masalah kecil. Bagaimana menghidangkan semua makanan itu, dengan tetap menghormati Udin dan Rasyid?

Tuan rumah yang juga tetua adat di Wokam bilang: tidak baik kalau katorang kasi pisah ruang makan. Makanannya sa yang dipisah, tapi semua diletakkan di atas meja yang sama. 

Begitulah. Perjamuan dimulai. Semua menikmati hidangan sesuai keyakinan agama masing-masing. Usai makan, beberapa gelas kosong dikeluarkan, plus beberapa botol sopi. Makan daging tanpa sopi, itu emejing anehnya. 

Udin memang tidak menyantap daging celeng, tapi urusan sopi, laki-laki ada di posisi garda depan, frontliner. Gelas bergilir dari mulut ke mulut, karena memang cuma ada tiga gelas kaca. Satu gelas sopi ditenggak beberapa orang. Sampai akhirnya seorang teman menyadari.

“Udin, ale tra bole minum dari gelas-gelas torang.” 

“Heh? Kenapa, kaka?” 

“Itu bibir gelas su kena bibir katong yang makan babi. Ada bekas-bekas minyak babi di pinggir gelas akang, to?”

“Ah, kaka. Sopi di dalam gelas bisa kasih bersih bekas minyak babi di muka, to…? Ada kandungan alkohol di sopi tu, kaka. Kasi bersih bekas-bekas minyak, tu.” Glek, Udin kasi masuk lagi sopi ka mulut.

Dari radio bapa tetua adat Wokam terdengar lagu Maluku Tanah Pusaka: “Dari ujung Halmahera, sampai tenggara jauh, katong samua basudara…”

Pembangkit Listrik Tenaga Tuhan. 

Di desa Erersin, Aru Tengah Utara terdapat Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Total 57 rumah tangga yang ada di desa itu, masing-masing mendapat layanan PLTS gratis. Semua instalasi, plus meteran pulsa diberikan, juga gratis. Sama rata sama rasa semua rumah tangga hanya dapat pulsa 50 per-hari.

Setiap jam 6 sore semua meteran secara otomatis akan mendapat tambahan pulsa 50 baru. Kalau pemakaian seharian menghabiskan pulsa 50 sebelum jam 6 sore, listrik rumah bersangkutan akan mati. Lalu tunggu jam 6 sore untuk terima pulsa baru. Begitu setiap hari, mulai jam 6 sore, kehidupan listrik dimulai dengan pulsa 50. 

Dalam sebuah obrolan santai, kepada seorang eks kepala desa saya bilang: “Tete (Opa, Kakek) itu bukan PLTS: Pembangkit Listrik Tenaga Surya, tapi PLTT: Pembangkit Listrik Tenaga Tuhan. Matahari, kan ciptaan Tuhan.”

Eks kepala desa berperiode melewati diktator Suharto ini tiba-tiba tertawa dengan pundak taguncang-guncang. Saya yang tak bermaksud melucu, bingung melihat antua tertawa sepenuh hati. 

Saya: Tete, bole bagi sadiki lucunya, ka..?

Tete: Seng bapa. Beta ada tertawa bayangkan anak-anak dong pi beli pulsa, kalo dong pu hape su habis pulsa to. Nanti beta datang par anak-anak dong bilang: “kamong pung pulsa habis harus beli akang. Torang di rumah habis pulsa tinggal tunggu jam 6 sore, nanti Tuhan ada kirim. Seng perlu beli lai.” Dorang anak-anak pasti bingung, to? Ha ha ha.. Sapa berani lawan Tuangalah? 

Saya: Tapi pulsa di rumah ada batasnya, to..? 

Tete: Itu juga beta ada pikirkan, bapa. Berani betul dorang petugas membatasi tenaga Tuhan? Dong mau kena durhaka, kapa?

Tiba-tiba gemelutuk suara hujan di atap rumah. Permukaan air laut di teluk kecil di muka desa tampak dipenuhi titik-titik hujan.

Tuhan dan Kota Roma

Saya: Jadi anak bapa semua di luar Aru? 

Lukas: Iyo pa. Ada yang di Jakarta, Surabaya, Malang, Makassar, Ambon. Semua sekolah dan ada yang su bekerja. 

Saya: Hebat sekali! Pasti tak mudah urus anak sebanyak itu di banyak kota di luar sana. 

Lukas: Ah, seperti firman Tuhan di kitab suci, to…: “Banyak jalan menuju Roma.”

Mateos: Mana ada firman Tuhan di kitab suci seperti itu? Ko kaco! 

Lukas: Heh!!?? Ketahuan ini orang mangkali jarang baca kitab suci. Baca lagi kitab sucimu! Pemalas!

Karena terlalu sering makan ikan Samandar kuah kuning dan oseng-oseng daging Rusa, saya jadi ragu apa itu firman Tuhan atau lirik lagu Oma Irama. Tapi saya tidak tertarik mencari tahu. Sama sekali tidak tertarik. 

BACA JUGA Mengamuk di Samsat Cuma karena Balik Nama atau artikel menghibur lainnya di MOP.

Baca juga:  Membawa Anak Nonton Bioskop, Salahnya di Mana?