Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Alasan Imlek Identik dengan Kue Keranjang, Warna Merah, sampai Ucapan ‘Gong Xi Fa Cai’

Santi Kurniasari Hanjoyo oleh Santi Kurniasari Hanjoyo
12 Februari 2021
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Imlek identik dengan kue keranjang, warna merah, dan semua orang mengucapkan ‘Gong xi fa cai’. Kenapa ya?

Tahun baru Imlek adalah perayaan bersama keluarga. Pada era Orde Baru, masyarakat Tionghoa di Indonesia merayakan Imlek secara kecil-kecilan dan sembunyi-sembunyi di rumah saja.

Sejak era pemerintahan Gus Dur hingga kini, barulah Imlek dirayakan secara terang-terangan dan besar-besaran. Seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali bisa menikmati kemeriahan Imlek di pusat-pusat perbelanjaan dan tempat-tempat umum lainnya.

Sebelum merayakan festival musim semi atau tahun baru Imlek, setiap tanggal 23 atau 24 bulan ke-12 penanggalan bulan, masyarakat Tionghoa merayakan xiao nian 小年 terlebih dahulu. Arti harfiahnya adalah “tahun baru kecil”. Tahun ini, xiao nian jatuh pada tanggal 4 Februari 2021.

Makanan khas yang selalu muncul dalam perayaan ini adalah nian gao 年糕. Di Indonesia, makanan manis yang terbuat dari tepung ketan dan gula ini disebut kue keranjang, berdasarkan cetakannya yang berbentuk keranjang.

Asal-usul tradisi makan kue keranjang berkaitan erat dengan kepercayaan tradisional masyarakat Tionghoa. Makanan pokok masyarakat Tionghoa biasanya berupa nasi atau bakmi yang tidak tahan lama dan mudah basi sehingga mereka harus memasak setiap hari.

Karena itulah, tungku dan api merupakan faktor yang amat penting dalam setiap rumah tangga. Saking pentingnya, diyakini bahwa Yu Huang Da Di 玉皇大地 atau Kaisar Giok mengirimkan Zao Jun 灶君 alias Dewa Dapur ke setiap rumah, khusus untuk melindungi setiap keluarga beserta dapur dan tungku perapiannya.

Selain sebagai dewa pelindung, Dewa Dapur juga bertugas mencatat perbuatan baik maupun perbuatan buruk manusia. Menurut mitologi Tiongkok, setiap tanggal 23 (atau 24) bulan 12 penanggalan bulan, Dewa Dapur akan menghadap Kaisar Giok, dan menyampaikan laporan tentang perbuatan baik dan buruk setiap anggota keluarga.

Berdasarkan laporan tersebut, barulah Kaisar Giok akan menetapkan rezeki untuk tahun mendatang. Jika suatu keluarga banyak melakukan perbuatan baik, tentu Kaisar Giok akan memberikan rezeki yang berlimpah.

Di sinilah peran penting kue keranjang. Dengan mempersembahkan kue keranjang yang manis untuk Dewa Dapur, diharapkan sang Dewa akan melaporkan yang baik-baik saja.

Ada juga kepercayaan yang menyatakan bahwa tekstur kue keranjang yang lengket mengakibatkan Dewa Dapur kesulitan membuka mulutnya sehingga ia tidak dapat mengadukan hal-hal buruk di hadapan Kaisar Giok.

Gao 糕 yang berarti “kue” memiliki persamaan bunyi dengan gao 高 yang berarti “tinggi”. Karena itu, kue keranjang juga mengandung harapan masyarakat Tionghoa agar di tahun mendatang mereka mengalami peningkatan rezeki.

Sedikit berbeda, masyarakat Tiongkok Utara merayakan xiao nian dengan membuat dan memakan jiaozi 饺子 atau pangsit. Namun, tradisi makan pangsit kala merayakan xiao nian ini kurang dikenal di Indonesia, lantaran masyarakat keturunan Tionghoa di negeri ini mayoritas berasal dari Tiongkok Selatan.

***

Iklan

Tahun ini Imlek jatuh pada 12 Februari 2021. Sehari sebelum tahun baru Imlek, biasanya masyarakat Tionghoa melakukan sembahyang untuk menghormati arwah leluhur. Aneka sajian berupa teh, arak, air putih, nasi, daging, sayur, buah-buahan, kue, serta aneka permen dan manisan, diatur rapi di atas meja.

Setelah semuanya tersaji rapi, setiap anggota keluarga mendoakan arwah leluhur yang telah meninggal dunia, biasanya sambil membakar hio atau dupa. Selain untuk menghormati arwah leluhur, ritual sembahyang juga merupakan cerminan rasa syukur atas kehidupan yang dijalani saat ini, yang tidak akan terwujud tanpa adanya leluhur.

Pada malam Imlek, semua anggota keluarga berkumpul untuk tuan nian fan 团年饭 atau reuni makan malam keluarga. Bisa dibilang, ini adalah acara yang paling dinanti-nanti sepanjang tahun. Serupa dengan mudik Lebaran di Indonesia dan perayaan Thanksgiving di Amerika Serikat.

Masyarakat Tionghoa rela menempuh perjalanan jauh untuk mudik ke kampung halaman, demi mengikuti reuni makan malam keluarga. Usai makan malam, biasanya mereka akan begadang hingga tengah malam untuk menyambut pergantian tahun, memeriahkan suasana dengan membakar petasan dan kembang api.

***

Menurut mitologi Tiongkok, pada zaman dahulu kala terdapat raksasa ganas bernama Nian Shou 年兽 atau Monster Nian, yang tinggal jauh di dasar laut atau di gunung. Nian 年 juga berarti “tahun”, sedangkan shou 兽 artinya “binatang buas”.

Setahun sekali, pada hari pertama tahun baru Imlek, monster raksasa Nian akan keluar dari tempat tinggalnya, dan memangsa manusia serta hewan ternak.

Monster menyeramkan ini ternyata memiliki kelemahan, yaitu takut pada warna merah, bunyi bising, serta api. Setelah mengetahui kelemahannya, relatif mudah bagi masyarakat Tionghoa untuk mengusir dan menakut-nakuti Monster Nian.

Caranya dengan mengenakan baju berwarna merah, memasang aneka hiasan berwarna merah, menyalakan lilin, menabuh genderang, membakar petasan dan kembang api, serta menggelar tari singa atau barongsai.

Tidak heran jika hingga kini perayaan Imlek identik dengan pakaian berwarna merah, pertunjukan barongsai, serta tradisi menyalakan petasan dan kembang api. Dalam bahasa Mandarin, merayakan tahun baru Imlek disebut guo nian 过年 yang arti harfiahnya adalah “melewati Nian”.

Perayaan tahun baru Imlek diakhiri dengan yuan xiao jie 元宵节 atau festival lampion pada tanggal 15 bulan 1 penanggalan bulan. Tahun ini festival lampion jatuh pada tanggal 26 Februari 2021.

***

Di Indonesia, hari terakhir perayaan Imlek juga dikenal dengan Cap Go Meh, terutama di kalangan masyarakat Tionghoa suku Hokkian. Cap Go Meh dalam bahasa Hokkian, atau shi wu ming 十五暝 dalam bahasa Mandarin, artinya adalah “malam kelima belas”.

Istilah Cap Go Meh cukup populer di Indonesia dan juga Asia Tenggara karena mayoritas masyarakat Tionghoa di Asia Tenggara adalah orang Min Selatan atau min nan 闽南 dari Provinsi Fujian 福建 yang berdialek Hokkian.

Jika tahun-tahun lalu Imlek biasa dirayakan secara meriah di mal dengan sajian hiburan dari artis-artis, tahun ini pandemi Covid-19 membuat segalanya berbeda.

Imbauan pemerintah untuk menaati protokol kesehatan, antara lain dengan menghindari kerumunan, secara tidak langsung mengembalikan perayaan keluarga ini ke rumah-rumah, seperti zaman dulu.

Apa pun itu, semoga tahun kerbau ini mendatangkan kesehatan, kebahagiaan, keberuntungan, semangat baru, dan ketajiran yang melimpah bagi kita semua.

Yap, “semoga semakin tajir” itu yang biasanya diucapkan dengan kalimat… Gong xi fa cai 恭喜发财 di mana-mana. Sebuah ucapan yang banyak orang pikir adalah kalimat “selamat hari raya imlek”, padahal itu kalimat biar kita semua semakin tambah kaya raya.

BACA JUGA Menyaksikan Imlek dari dalam Keluarga Tionghoa.

Terakhir diperbarui pada 12 Februari 2021 oleh

Tags: festival lampionGong Xi Fa Caiimlek
Santi Kurniasari Hanjoyo

Santi Kurniasari Hanjoyo

Marathoner, ibu rumah tangga yang suka berlari, menulis, dan menyanyi.

Artikel Terkait

Barongsai di bandara saat imlek. MOJOK.CO
Hiburan

Semangat Tahun Kuda Api bikin Trafik Penumpang Milik InJourney Melambung 10 Persen Saat Imlek 2026

19 Februari 2026
Tanpa Cina dan Pecel Lele, Mental Orang Jawa Pasti Ambruk (Wikimedia Commons)
Pojokan

Persahabatan Aneh dengan Anak Cina Membawa Saya ke Pecel Lele di Bawah Jembatan Janti yang Menjadi “Pelarian” bagi Orang Jawa

16 Februari 2026
Imlek 2026 di Candi Prambanan dan Candi Borobudur. MOJOK.CO
Kilas

Tahun Kuda Api Imlek 2026: Mencari Hoki Lewat Kartu Tarot di Antara Kemegahan Prambanan dan Borobudur

15 Februari 2026
Rawa Belong: Surganya Orang Betawi MOJOK.CO
Esai

Segitiga Emas Rawa Belong: Kisah Kepahlawanan Si Pitung yang Menyelimuti Surga Orang Betawi

20 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

orang tua.MOJOK.CO

35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga

24 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
kerja di jepang, merantau.MOJOK.CO

Ironi Kerja di Jepang: Banting Tulang Hingga 5 Kali Lebaran Tak Pulang, tapi Setelah Sukses Hasilnya Tak Bisa Dinikmati

23 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
7 buah legendaris dalam game Blox Fruits yang jadi incaran MOJOK.CO

7  Koleksi Buah Legendaris di Game Blox Fruits yang Jadi Incaran: Tak Cuma Memperkuat, Tapi Juga Jadi Aset Berharga

24 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.