MOJOK.CO Perdebatan Toyota Fortuner sama Mitsubishi Pajero ini emang udah kayak debat pilpres. Nggak ada habisnya!

Ndilalah sebulan kemarin, di daerah Tuban, sempat viral sekelompok warga yang ramai-ramai beli mobil karena ada proyek pembebasan lahan. Kebetulan, kakak paling tua saya juga ikut. Kakak saya sama-sama dapat duit dari penjualan tanah meski beda proyekan.

Sebagai adik yang tidak durhaka, saya jelas ikut ketika dia ngajak untuk “ngambil” mobilnya di daerah Jember. Dari rumah kami di Situbondo, jarak yang ditempuh kira-kira 70 kilometer. Ya maklum, daerah Situbondo kan nggak ada itu yang namanya dealer mobil.

Jadilah kami berangkat bakda subuh agar sampai di dealer tepat saat jam buka operasional. Sepanjang perjalanan menuju Jember itu, kakak saya senyum-senyum sendiri.

“Akhirnya, mobil baru,” katanya bungah.

“Bukannya dulu punya?”

“Sedan Accord tua itu? Itu bukan mobil, Dek, itu gerobak.”

“Tetep aja mobil toh, Mas?”

“Ya tetep aja beli bekas. Sekarang kan beneran baru. Mobil yang fakturnya atas nama sendiri.”

“Jangan lupa, 70 persen dari itu ada doaku lho, Mas,” kata saya.

Sungguh dialog pagi yang sangat menyenangkan. Sampai kemudian, di pertengahan jalan Situbondo menuju Jember, kami tiba-tiba berdebat hebat. Debat yang melebihi debat pilpres kemarin.

Perdebatan ini berawal ketika saya baru tahu kalau mobil yang akan dibeli kakak saya adalah SUV New Pajero Sport Dakkar 2021. Mobil yang nggak pernah sekalipun nyelonong di khayalan saya karena saya benar-benar nggak pernah mau punya mobil begituan.

Baca juga:  Alphard Memang Sangat Nyaman Dikemudikan, Asal yang Mengemudi Nggak Bertampang Kayak Sopir Pribadi

“Yaelah, ya mending Fortuner lah, Mas! Jauh itu. Interior lebih bagus, elegan, dashboard kulit, head unit enak dilihat. Belum kursinya electric seat, nggak cuma driver seat doang lagi, tapi seat penumpangnya juga. Di atap bagian tengah juga ada rear entertaiment.”

“Emang Fortuner punya sunroof?”

Saya kaget dengar kakak saya menyebut sunroof.

“Lah? Buat apa sunroof? Emang mau kampanye?” bantah saya.

“Ya nggak sih, tapi Pajero itu mesinnya lebih bertenaga! Mesinnya emang sama-sama 2400 cc kayak Fortuner, tapi 8 speed lho. Nggak yang 6 speed kayak andalanmu itu. Dari 0 sampai 100 km/jamnya aja cuma butuh waktu 9,9 detik. Belum top speed-nya, bisa sampai 180 km/jam. Kalau soal mesin, mending Pajero lah di mana-mana, Dek.”

“Lah? Lah? Kok, Mas, hafal?”

Saya bingung, ini kenapa kakak saya tiba-tiba jadi kayak sales Mitsubishi yak?

“Lah ini aku pegang brosurnya, goblok!” katanya sambil ngelempar selembar brosur dealer Mitsubishi ke muka saya.

Waysuuu.

“Oke, oke. Anggap aku setuju Pajero lebih bertenaga, tapi kan mesin kayak gitu boros bahan bakar, boros oli. Apa-apaan itu? Per lima ribu kilometer aja bisa kurang itu oli-nya.”

“Ya wajar, namanya juga mobil yang bisa ke segala medan. Pajero itu bisa masuk-masuk ke jalanan off road! Ground clerance-nya aja lebih tinggi ketimbang Fortuner.”

Wah, saya nemu celah.

“Makanya itu pas di tol suka limbung kan? Empuk sih, tapi kayak naik perahu pas kena ombak? Mabuk, mabuk sana, dah!”

Baca juga:  Mau Bus Mustika Atau Mila Sejahtera, 7 Situasi Menyebalkan Ini Bisa Terjadi

“Tapi kan fitur keselamatannya oke, Dek. Tujuh airbag. Bayangin! Kurang banyak apa? Ada fitur keselamatan FCM, UMS, adaptive cruise control, BSW, LCA, RCTA, offroad mode, HDC dan yang paling penting ada parking break-nya sudah elektrical plus auto hold lagi. Pajero mah udah sampai pada tahap ‘Fortuner-killer’ namanya, Dek!”

Saya kayak kena hantam pembelaan kakak saya yang bangga-banggain mobil pilihannya. Meski begitu, saya agak kurang yakin kakak saya itu sebenarnya ngerti tentang istilah “auto-hold” itu.

Lah piye? Dulu waktu sewa Avanza ke saya aja kakak saya nanya gimana cara buka jok tengahnya. Lah kok ini soksokan milih airbag tujuh dan karena ada auto hold. Pffft.

Diam-diam saya lalu buka hape. Anu, googling dulu sebentar, nyari-nyari apa keunggulan Fortuner yang nggak dimiliki Pajero.

“Nah, ini, Mas. Pajero ternyata nggak punya fitur tire turning angle, jadi lewat fitur ini pengemudi bisa ngelihat berapa derajat posisi ban waktu belok!” kata saya setelah nemu amunisi dari Google.

“Heh? Siapa juga yang bener-bener butuh informasi kayak gitu? Kayak baru belajar nyetir aja.”

Eh, iya juga sih. Kalau dipikir-pikir lagi, lah buat apa fitur itu kalau dibandingkan dengan fitur headlamp washer yang sangat berguna ketika harus bersihin lampu yang kotor karena lumpur?

Sebentar, sebentar. Lho kok saya jadi belain Pajero sih?

“Tapi, Mas, Fortuner bagasinya sudah power tailgate with kick sensor jadi tinggal tendang bagian bawah bisa buka sendiri. Bahkan kalau Mas mendekat sambil bawa kunci, pintu bagasi belakang bisa buka sendiri setelah 5 detik.”

Baca juga:  Nasib Nahas Toyota Corolla Altis di Tangan Saya

“Pajero juga ada kok kicksensor-nya,” kata kakak saya.

Mas saya terkekeh. Merasa menang.

“Ya intinya, soal desain interior sama eksterior Fortuner itu lebih fungsional, Mas. Lebih berani lekukannya dan nggak over-chrome. Apalagi lampu belakangnya. Lebih macho, nggak kayak tetelan kecambah Pajero. Udah gitu lebih irit BBM lagi.”

Kakak saya kayak udah hilang kesabarannya.

“Halah, kuat beli mobil kok ya masih mikir bayarin BBM-nya. Emang yang nanti bakal beliin BBM-nya siapa? Aku sendiri kan? Kalau aku nggak masalah sedikit boros kan ya nggak apa-apa to? Lagian sekarang yang mau beli mobil itu siapa sih?”

Saya langsung kicep. Lalu teringat betapa sia-sianya perdebatan ini (selain bisa untuk jadi bahan nulis di Mojok sih). Dari sana kemudian sadar.  Ealah, ternyata persoalan mending mana antara Fortuner sama Pajero itu cuma selesai dengan satu cara: bisa beli nggak?

Udah. Titik.

Yang udah beli Fortuner nggak perlu dengerin yang beli Pajero, yang udah beli Pajero nggak usah dengerin yang beli Fortuner. Buat apa? Udah bisa beli ini. Ketimbang pusing mikiran itu, hambok mikirin saya ini lho, yang nggak bisa beli dua-duanya, meski nyetirnya sering.

Lah sopir jeh saya ini.

BACA JUGA Apa Sih Maunya Toyota Bikin SUV Kayak Fortuner? dan tulisan Rusli Hariyanto lainnya.