Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Wikimo Tokoh

Kartini

Redaksi oleh Redaksi
18 April 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Raden Ajeng Kartini merupakan tokoh perempuan yang sangat gigih memperjuangkan emansipasi wanita. Beliau lahir tanggal 21 April 1879 di Jepara, di tengah keluarga bangsawan. Ayahnya, R.M Sosroningrat, menjabat sebagai Bupati Jepara ketika Kartini lahir, sedangkan ibunya, M.A. Ngasirah, hanya seorang rakyat biasa. Ketika itu, ada peraturan kolonial Belanda yang mengharuskan seorang bupati untuk menikah dengan bangsawan. Akhirnya, ayah Kartini menikah lagi dengan R.A. Woerjan, seorang bangsawan keturunan Raja Madura.

Sebagai seorang bangsawan, Kartini berhak mendapatkan akses pendidikan. Ayahnya menyekolahkan Kartini di ELS (Europese Lagere School). Namun, ia hanya bersekolah hingga berusia 12 tahun sebab, menurut budaya ketika itu, anak perempuan harus tinggal di rumah untuk dipingit.

Meskipun hanya berada di rumah, Kartini aktif berkirim surat dengan temannya yang berada di Belanda. Dari sinilah ia mulai tertarik dengan pola pikir perempuan Eropa yang ia baca dari surat kabar, majalah, hingga buku. Ketertarikannya membaca membuatnya memiliki pengetahuan luas, baik ilmu pengetahuan serta kebudayaan.

Dalam surat-suratnya, Kartini lebih sering menulis keluhannya tentang kondisi perempuan pribumi. Ia melihat, kebudayaan Jawa ketika itu banyak menghambat kemajuan perempuan pribumi. Karena kungkungan adat, perempuan Jawa menjadi tidak bebas dalam menuntut ilmu, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tidak dikenal, dan harus bersedia dimadu. Alhasil, ia ingin perempuan pribumi dapat memperoleh persamaan, kebebasan, otonomi, serta kesetaraan hukum.

Kartini pun sangat ingin melanjutkan sekolah ke Eropa. Sayangnya, keinginan tersebut harus ia padamkan walau ia telah mendapat beasiswa untuk belajar ke Belanda. Di usianya yang ke-24, ia dinikahkan dengan K.R.M. Adipati Ario, seorang Bupati Rembang yang telah memiliki tiga orang istri.

Meskipun begitu, suami Kartini memahami apa yang menjadi keinginannya. Kartini diberikan kebebasan untuk mendirikan sekolah wanita pertama. Berkat perjuangannya, di tahun 1912, Yayasan Kartini mendirikan Sekolah Wanita di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon serta daerah lainnya. Sekolah tersebut kemudian diberi nama ‘Sekolah Kartini’ untuk menghormati jasa-jasanya.

Kartini meninggal di usianya yang masih muda, yakni 25 tahun, setelah melahirkan putra pertamanya yang bernama Soesalit Djojoadhiningrat.

Terakhir diperbarui pada 16 Oktober 2018 oleh

Tags: pahlawan nasionalR.A KartiniTokoh emansipasi wanitatokoh perempuan
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Pemkot Semarang kuatkan usulan gelar pahlawan nasional ke KH. Sholeh Darat MOJOK.CO
Kilas

KH. Sholeh Darat Semarang Harusnya Semat Gelar “Pahlawan”: Penyusun Tafisr Al-Qur’an Jawa Pegon-Guru bagi RA. Kartini hingga KH. Hasyim Asy’ari

12 November 2025
Nasib buruh usai Marsinah jadi pahlawan nasional. MOJOK.CO
Ragam

Suara Hati Buruh: Semoga Gelar Pahlawan kepada Marsinah Bukan Simbol Semata, tapi Kemenangan bagi Kami agar Bebas Bersuara Tanpa Disiksa

12 November 2025
Kami Berdoa Setiap Hari agar Soeharto Jadi Pahlawan Nasional MOJOK.CO
Ragam

Kami Berdoa Setiap Hari agar Soeharto Jadi Pahlawan Nasional. Sejarawan: Pragmatis dan Keliru

11 November 2025
Suara Marsinah dari Dalam Kubur: 'Lucu! Aku Disandingkan dengan Pemimpin Rezim yang Membunuhku'.MOJOK.CO
Ragam

Suara Marsinah dari Dalam Kubur: ‘Lucu! Aku Disandingkan dengan Pemimpin Rezim yang Membunuhku’

10 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Orang Jawa desa pertama kali coba menu aneh (gulai tunjang) di warung makan nasi padang (naspad). Lidah menjerit dan langsung merasa goblok MOJOK.CO

Orang Jawa Desa Nyoba “Menu Aneh” Warung Nasi Padang, Lidah Menjerit dan Langsung Merasa Goblok Seketika

15 Maret 2026
Rela utang bank buat beli mobil keluarga Suzuki Ertiga demi puaskan mertua. Ujungnya ribet dan sia-sia karena ekspektasi. MOJOK.CO

Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia

21 Maret 2026
Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)

Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

16 Maret 2026
Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan Mojok.co

Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.