Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Status

Sekolah Muhammadiyah Lebih Bagus daripada Sekolah NU

Redaksi oleh Redaksi
1 Agustus 2017
A A
170801 STATUS PETANI BERAS NU

170801 STATUS PETANI BERAS NU

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Keponakan saya mondok di bilangan Jln. KH. Ahmad Dahlan, di pusat Kota Yogyakarta. Namanya Pondok Mualimat Yogya. Kecil memang “asrama”-nya (konon orang Muhammadiyah lebih suka pake kata asrama daripada pondok) tapi bersih dan tertata dengan baik. Satu-satunya “kekurangan”-nya ya cuma itu: pondok Muhammadiyah.

Bagi saya itu tidak masalah. Meski bagi beberapa orang itu mungkin bisa jadi masalah. Bagaimana kalau ketika gede nanti nggak bisa mimpin tahlilan? Baca doa qunut nggak bisa? Atau salat Tarawih cuma 8 rakaat?

Itu kekhawatiran yang lumrah saja. Namanya Nahdliyin, terbiasa dengan tradisi, tentu takut jika amalan-amalan yang baik secara turun-menurun putus di anak atau cucunya.

Itu yang terjadi dengan ibu saya atau ibu mertua saya.

“Di pondok mana?”

Istri saya sempat bingung harus menjawab apa. Sampai kemudian dengan enteng saya menjawab.

“Mualimat, Bu.”

Terang saja wajah ibu saya dan ibu mertua saya jadi nggak begitu enak. Maklum, mendengar cucunya mondok di pondok Muhammadiyah padahal di rumah sendiri ada pondok Nahdliyin itu rasanya menohok sekali. Ini macam ditanya ibu situ yang punya warung makan padang, “Sudah makan le?”

“Sudah.”

“Makan apa?”

“Anu, makan rendang di warung bebek Cak Koting.”

Malin Kundang juga bakalan kaget.

Tapi, bagi ibu saya harusnya tidak masalah. Lha piye? Hampir setengah dari anaknya yang jumlahnya 10 itu sekolah SD-nya di Muhammadiyah Sapen Yogya. Muhammadiyah banget itu. Bahkan kakak saya ada juga yang sekolah di SMA Muhi Yogya.

Meski begitu, nyatanya, di rumah saya nggak ada itu debat rukyat-hilal atau soal sunah muakkadahnya qunut. Semua berjalan baik-baik saja. Sampai kemudian ibu kandung saya dapat menantu Muhammadiyah, ibu mertua saya juga punya menantu Muhammadiyah.

Iklan

Yang ibu kandung saya sih nggak masalah. Ya karena kakah ipar saya ini MuhammadiNU. Organisasinya aja yang Muhammadiyah, ritus dan amalannya malah lebih Nahdliyin daripada saya.

Beda dengan ipar dari istri saya. Yang ini sangat Muhammadiyah banget. Dosen di kampus Muhammadiyah di Jember, posisinya mentereng, semua ritus dan amalannya juga Muhammadiyah. Bahkan saya curiga, Din Syamsuddin aja kalah Muhammadiyahnya.

Dan itulah yang membuat putrinya mondok di Pondok Mualimat Yogya.

Beberapa hari kemarin saya nengok. Ingin lihat juga Pondok Muhammadiyah di pusat sejarah berdirinya. Ini bukannya yang pertama kali bagi saya, dulu pernah juga main ke Pondok Assalaam Solo. Pondok segede itu, tapi bersih dan tertata rapi. Antrean apa pun tertib luar biasa. Awalnya senang dengan keteraturan itu. Dua jam kemudian, muntah saya. Pusing sama ketertiban yang luar biasa itu.

Ya maklum, saya besar dari tradisi yang tidak teratur. Ngaji sorogan, bandongan, kalau antre suka nyolong urutan adik angkatan. Wah, jahat dan berbahaya kalau dibiarkan.

Di sisi lain, saya sebenarnya lebih suka dengan sekolah-sekolah Muhammadiyah (dengan catatan saya nggak sekolah di situ). Lebih kayak sekolah beneran daripada “tempat saya” yang kalau punya begituan lebih kayak kelompok diskusi.

Kalau ada yang nyerang saya karena bilang saya nggak “setia”, coba situ lihat, ada berapa orang tua Nahdliyin yang menyekolahkan anaknya ke SDIT sekolah yang awal mulanya dekat Islam PKS. Dan apakah ada masalah? Ya tidak. La wong guru-gurunya juga banyak yang Nahdliyin, termasuk teman-teman saya.

Di kampus juga, coba bandingkan saja, ada berapa banyak warga Muhammadiyah yang memasukkan anaknya ke kampus Nahdliyin daripada sebaliknya?

Dan ke mana lembaga-lembaga sekolah Nahdliyin? Jangan salahkan saya kalau lebih menyukai lembaga sekolah ormas lain kalau yang punya sendiri saya tahu betul kualitasnya tidak dijaga betul-betul.

Baru kemarin ini, kakak kandung saya yang menjadi dosen di sebuah kampus Nahdliyin curhat. Setelah berdiskusi panjang karena kurang cocok dengan berbagai sistem dan kebijakan kampusnya, komentarnya sederhana.

“Lha piye, mosok universitas dikelola koyo pondok pesantren?”

Saya cuma manggut-manggut. Dan membalas tanya dalam hati ….

“Lha piye kui? Ngajine pakai sistem SKS? Khataman per semester? Atawa rektornya turun-menurun?”

Iku kampus atawa lembaga dakwah sebenarnya?

Sumber: Ahmad Khadafi

Terakhir diperbarui pada 1 Agustus 2017 oleh

Tags: MuhammadiyahNahdlatul UlamaPondok Pesantrensekolah
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers MOJOK.CO
Esai

Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

6 Februari 2026
AI Mengancam Orang Malas Berpikir, Tak Sesuai dengan Ajaran Muhammadiyah MOJOK.CO
Ragam

AI Mengancam Orang Malas Berpikir, Tak Sesuai dengan Ajaran Muhammadiyah

29 Januari 2026
Pesan Menohok dari Ibu: Saat Doa Menjadi Satu-satunya Permintaan dan Jangan Sampai Tiang Itu Roboh di Perantauan MOJOK.CO
Catatan

Pesan Menohok dari Ibu: Saat Doa Menjadi Satu-satunya Permintaan dan Jangan Sampai Tiang Itu Roboh di Perantauan

29 Januari 2026
Olin, wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) pada 2025. MOJOK.CO
Kampus

Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik

14 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

self reward.mojok.co

Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

6 Februari 2026
Hanya Orang “Tidak Waras” yang Mau Beli Suzuki APV MOJOK.CO

Misteri Adik Saya yang Berakal Sehat dan Mengerti Dunia Otomotif, tapi Rela Menebus Suzuki APV yang Isinya Begitu Mengenaskan

5 Februari 2026
Krian Sidoarjo dicap bobrok, padahal nyaman ditinggali karena banyak industri serap kerja dan biaya hidup yang masuk akal MOJOK.CO

Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

5 Februari 2026
Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen yang Nggak Perlu Ngomongin Toleransi MOJOK.CO

Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen Kok Nggak Ngomongin Toleransi

2 Februari 2026
gen z kerja merantau beban mental dan finansial.mojok.co

Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

6 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.