Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Status

Aktor Utama Pelemahan KPK Adalah Aktivis Mahasiswa ‘98

Redaksi oleh Redaksi
11 September 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bola liar Hak Angket KPK di DPR telah tiba pada fase “bekukan” atau “bubarkan”. Dua hari lalu, anggota DPR dari PDIP, Henry Yosodiningrat, mengatakan bahwa sebaiknya KPK sebaiknya dibekukan dahulu karena pansus menemukan “banyak hal yang harus dibenahi di dalam KPK”. Jangan tanya pendapat Fahri Hamzah, usulnya bahkan agar Presiden mengeluarkan perppu untuk membubarkan KPK.

Mundur tiga hari, KPK sudah dibuat repot dengan dilaporkannya Ketua KPK Agus Rahardjo ke Kejaksaan Agung dengan tuduhan terlibat korupsi e-KTP. Pelapornya ialah Koordinator Presidium Nasional Jaringan Islam Nusantara (JIN) Razikin Juraid.

Melihat perkembangan yang menyertai skandal e-KTP, termasuk nilai kerugian negara sebesar Rp2,3 triliun hingga pembunuhan saksi kuncinya, Johannes Marliem, di Amerika Serikat, korupsi e-KTP menjadi kasus yang paling ditunggu pengungkapannya oleh publik. Apalagi nominal uang yang terlibat tidak main-main, terbesar kedua setelah kasus BLBI.

Dua status yang dikutip Mojok kali ini memberi fakta menyedihkan tentang sengkarut e-KTP yang berimbas pada KPK: pertama, dukungan politisi PDIP untuk melemahkan KPK di saat sejarah mengenang pendirian KPK sebagai salah satu keberhasilan Megawati Soekarnoputri mendemokratisasi Indonesia pasca-Orba; kedua, politisi-politis pendukung Hak Angket sebagiannya adalah aktivis ’98 yang dulu ikut berjuang menurunkan rezim Orba, tetapi kini justru menjadi sangat Orbais.

***

Zed Abidien: Kini Agus Rahardjo, Ketua KPK, dilaporkan kelompok tertentu ke Kejaksaan Agung. Kelihatannya perkaranya sengaja dicari-cari setelah Agus mangkir dari panggilan Pansus Hak Angket KPK bentukan DPR. Apalagi Agus menyatakan, KPK akan memeriksa siapa saja yang sengaja menghalang-halangi pengusutan kasus korupsi e-KTP.

Pansus angket KPK jelas dibentuk untuk menghalang-halangi pengusutan korupsi e-KTP yang diduga melibatkan anggota/pimpinan DPR. Pansus Hak Angket KPK diusung oleh PDIP, Golkar, Nasdem, PPP, Hanura, PAN, dan Gerindra.

Mengapa Agus dilaporkan ke Kejagung? Publik hanya menduga-duga, ini urusan politik, bukan soal hukum, dan sangat mungkin Kejagung akan segera memproses Agus Rahardjo. jika Kejagung memproses kasus Agus, Kejagung harus bertindak objektif. Ini penting, sebab publik akan terus mengawasi kinerja Kejagung karena jaksa agung dijabat oleh H. M. Prasetyo yang merupakan kader Partai Nasdem.

Mungkinkah geger Pansus Hak Angket KPK juga dimaksudkan untuk menggembosi pamor Jokowi? Meskipun Presiden Jokowi mengatakan Hak Angket adalah wewenang DPR, tapi publik akan menyalahkan Jokowi jika KPK benar-benar berhasil dilumpuhkan DPR. Sebab, lima dari tujuh partai pengusung Pansus Hak Angket KPK adalah pendukung Jokowi, yakni PDIP, PPP, Hanura, Nasdem, dan PAN.

Pansus KPK, diyakini sejumlah pihak dibentuk untuk menghambat pengusutan kasus dugaan korupsi e-KTP yang melibatkan anggota/pimpinan DPR. Publik belum tahu pansus ini akan berujung ke mana, tetapi ada kemungkinan pansus akan merekomendasikan agar UU KPK direvisi dengan menghilangkan sejumlah kewenangan strategis KPK, yaitu hak menyadap dan mengangkat penyidik independen.

Saya tahu mengapa koruptor ingin membubarkan KPK. Praktik korupsi kian menggila, tiap tahun jumlah koruptor yang dikerangkeng KPK semakin banyak. Tahun 2016 ada 99 kasus korupsi yang diproses KPK. Para koruptor itu paling banyak adalah orang swasta/pengusaha, pejabat di kementerian/badan, kepala daerah, disusul politisi.

Survei membuktikan, rakyat lebih percaya kepada KPK ketimbang kepada DPR. Jadi, semakin DPR bernafsu ingin menghancurkan KPK, rakyat akan semakin gigih melawan DPR.

Dari 23 anggota DPR yang bergabung dalam Pansus KPK, politisi yang paling bernafsu menghancurkan KPK adalah politisi dari PDIP, Golkar, Nasdem dan PPP. Mereka adalah

Masinton Pasaribu dan Junimart Girsang (PDIP), Bambang Soesatyo, Muhammad Misbakhun (Golkar), Akbar Faisal, Taufiqulhadi (Nasdem), dan Arsul Sani (PPP). Sedangkan anggota pansus dari PAN dan Hanura masih terlihat malu-malu kucing.

Iklan

Ngomong-ngomong, apa politisi PDIP lupa, UU KPK dulu diteken oleh Presiden Megawati?

Hairus Salim: Eksponen utama pelemahan KPK adalah mantan aktivis mahasiswa ‘98. Masinton Pasaribu, mantan aktivis FAMRED (Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi) dan FPPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia), juga Fahri Hamzah, mantan aktivis KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) dan BEM UI. Plus mantan-mantan aktivis lainnya.

Apakah jalan perubahan kita di masa depan masih butuh peran para aktivis mahasiswa? Istilah IQ 200 dan “sekolam” yang dilontarkan Rocky Gerung beberapa waktu lalu kini banyak dipakai orang-orang untuk mengejek lawan-lawannya. Jangan-jangan inilah sumbangan penting keterlibatan seorang intelektual dalam gelanggang dan perdebatan politik Indonesia terkini? Ejekan, bukan ide. Jokowi dituduh anak PKI dan Komunisme dibayangkan sedang bangkit. Tapi, di Tumpang Pitu petani yang mempertahankan tanah dan menolak pembangunan ditangkap dengan tuduhan komunis. Jadi?

Seperti cuaca akhir-akhir ini, politik Indonesia adalah mendung menggantung, gelap, kusam, yang melahirkan “rasa tidak kerasan” yang luar biasa.

Terakhir diperbarui pada 21 Mei 2018 oleh

Tags: agus rahardjoaktivis mahasiswaFahri Hamzahhak angket kpkmasinton pasaribupansus hak angket
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Aktual

Teror dan Kutukan Nomor Tak Dikenal pada Ketua BEM FISIP UNAIR di Balik Karangan Bunga Prabowo-Gibran

28 Oktober 2024
partai gelora mojok.co
Kotak Suara

Profil Partai Gelora: Arah Baru Pentolan Politisi PKS

20 Desember 2022
Sentilan Fahri Hamzah ke Nadiem Makarim Adalah Ancaman bagi Dunia Rasan-rasan Kita
Esai

Sentilan Fahri Hamzah ke Nadiem Makarim Adalah Ancaman bagi Dunia Rasan-rasan Kita

23 September 2020
Apa Harus Jadi Pejabat Kayak Fadli Zon Dulu, Biar Kritik ke Pemerintah Bisa Diakui?
Pojokan

Apa Harus Jadi Pejabat Kayak Fadli Zon Dulu, Biar Kritik ke Pemerintah Bisa Diakui?

14 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elit dan Realitas yang Sulit MOJOK.CO

Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

10 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Astrea Grand, Motor Honda yang Menjadi Mitos MOJOK.CO

Astrea Grand, Motor Honda Penuh Dusta yang Celakanya Pernah Menjadi Mitos dan Membuatnya Dikagumi karena Motor Ini Memang Meyakinkan

5 April 2026
Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan” MOJOK.CO

Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan”

10 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.