Kami sudah lama tak bertemu. Mungkin empat tahunan. Malam itu saya tahu, kami akan bertemu. Lalu kami melipir keluar dari tengah reriungan banyak orang, pamit untuk makan malam.

Setelah menentukan rumah makan, memilih menu, kami ngobrol. Tidak canggung. Rileks saja. Saya tahu dia akan bercerita. Kisah akan disusun. Dan memang demikianlah yang terjadi….

Saya akan memakai istilah yang paling mudah dimengerti untuk hal ini. Orang-orang biasa menyebutnya dengan kata: hijrah. Saya tidak ingin berbaku bantah soal istilah. Ini hanya untuk mempermudah saja. Dia, kawan lama saya itu, telah memutuskan untuk “berhijrah”.

Saya bukan hakim; berusaha tidak menjadi tukang vonis. Tidak ada palu di tangan saya dan tidak ada meja pengadilan di depan saya. Tak ada yang perlu saya ketok dan putuskan.

Sebetulnya saya sudah mendengar soal hijrah yang ditempuhnya sejak lama. Tapi, saya bukan orang yang suka mengurusi urusan orang lain. Juga tidak suka desas-desus. Tidak ada untungnya buat orang lain, apalagi buat saya.

Wajah di depan saya memang tampak jauh lebih matang dari terakhir kami bertemu. Lebih tenang. Dan jujur saja, roman mukanya lebih teduh.

“Saya marah sekali waktu itu… tapi tidak tahu harus berbuat apa.” Dia mencopot kacamatanya. Tersenyum.

“Saya ini bandel. Tapi sebandel-bandelnya saya, entah kenapa saya tak makan babi.” Dia tertawa kecil. Saya ikut tertawa. Tiba-tiba saya teringat sahabat saya Bagor, tokoh yang saya tulis di buku Para Bajingan yang Menyenangkan.

“Jadi di perjalanan selama hampir dua minggu di negara itu, saya berusaha mencari makanan yang tidak mengandung babi. Sulitnya bukan main.”

Dia seorang penulis. Seorang pengelana. Seorang penulis laporan perjalanan. Sudah sangat berpengalaman ke mancanegara, tapi saya baru tahu kalau dia tidak makan babi.

“Padahal kamu tahu, saya peminum alkohol.” Lagi-lagi dia tertawa. Tidak menutupi masa lalunya. Toh percuma saja. Saya tahu masa lalunya. Terakhir kami bertemu, kami berdua minum alkohol sampai agak berat kepala.

“Tapi malam itu saya marah dengan teman bule seperjalanan saya ketika kami agak mabuk, dan saya tak mau makan babi. Dia menghina agama saya. Dia menghina nabi saya. Enggak tahu saya, kenapa saya marah.”

Saya diam. Saya tidak sedang bergulat dengan kata menghina, tapi tentang kata kawan. Kawan seperjalanan. Ah, kalian tentu tahu maksud saya….

“Ketika saya marah dan keberatan, dia bilang: ‘Aku sudah baca kitab sucimu, ayo kalau mau berdebat!’ Di situlah saya terenyak. Di situlah saya menyadari bahwa saya tak tahu apa-apa tentang agama saya, dan tentang kitab suci saya.”

Makanan datang. Kami menyantap dengan tenang. “Kamu ta’aruf?” tanya saya iseng sambil melahap kepala ikan mayong, ikan lezat yang belum pernah saya makan.

Dia mengangguk sambil tersenyum. Lalu dia bercerita agak panjang soal proses ta’arufnya. Sengaja bagian ini tidak saya ceritakan. Bukan apa-apa, saya menghormati para jomblo yang membaca kisah ini.

“Maaf, saya merokok ya…,” saya meminta izin karena tahu kalau dia sudah tidak merokok lagi. Dia lagi-lagi tertawa sambil mempersilakan. Makanan memang sudah tandas.

“Pulang dari bepergian itu, langsung saya datang ke sebuah kedai kopi. Saya kenal seorang ustad yang sering nongkrong di sana. Tanpa basa-basi, saya bilang: ‘Bang, ajari saya soal agama!’”

Saya meminta asbak kepada pelayan rumah makan itu. Dua batang langsung saya habiskan bersambung ketika mendengarkan kisah dia mulai mengaji.

“Ketika beberapa kawan tahu kalau aku sudah hijrah, mereka suka. Enggak ada masalah. Saya masih sering ngopi dengan mereka. Hanya pasti mereka bilang, ‘Ya hijrah sih hijrah, tapi kenapa harus hijrah ke HTI?’

“Ya saya jawab, karena satu-satunya ustad yang saya kenal kebetulan ustad HTI. Seandainya saya kenal ustad Salafi, Jama’ah Tabligh, NU, atau Muhammadiyah, ya mungkin saya akan datang kepada mereka.”

Saya mengangguk. Mengerti. Agus Mulyadi, salah seorang kru Mojok yang terkenal itu, juga pernah ikut Jama’ah Tabligh. Mungkin sampai sekarang, sekalipun tidak aktif benar seperti dulu. Saya pernah bertanya kepadanya, kenapa memilih organisasi Jama’ah Tabligh, jawaban dia simpel: “Lha saya mau belajar mengaji di musala dekat rumah saya. Guru yang mengajar orang Jama’ah Tabligh. Kalau guru yang mengajar orang Muhammadiyah atau NU, mungkin saya juga ikut NU atau Muhammadiyah.”

Rumah makan mau tutup. Kami bergeser ke sebuah kedai kopi. Obrokan kami lanjutkan.

“Menurut Mas, bagaimana ke depan HTI ini setelah dibubarkan?”

Pertanyaan itu bukan dari saya. Tapi dari dia, ditujukan kepada saya. Tentu saja saya terkejut. Tak siap dengan pertanyaan itu.

Saya berpikir sebentar. Saya hampir membalikkan pertanyaan, bukankah mestinya saya yang bertanya seperti itu kepadamu? Tapi saya urungkan. Rasanya tidak bijak. “Mmm… memang setelah dibubarkan, apakah kamu terus berubah keyakinan?”

Dia menggelengkan kepala. “Malah kami makin solid. Makin mantap. Silaturahmi makin terjaga. Makin giat mengaji. Makin memperdalam ilmu.”

“Ya kalau begitu, peraturan itu tidak akan mampu melakukan apa-apa,” jawab saya agak asal.

“Dalam guyonan kami, HTI kan dibubarkan oleh aturan pemerintah, bukan oleh Allah.”

Saya hampir berteriak, “Takbiiiiiir!” Tapi lagi-lagi saya tarik teriakan itu dari rongga mulut. Tidak baik bercanda yang berlebihan dalam situasi seperti ini.

“Dulu kan PRD juga pernah dilarang. PKI bukan hanya dilarang, malah banyak pengikutnya dibantai. Masyumi juga pernah dibubarkan.” Saya memberi komentar yang sebetulnya dia juga sudah tahu.

Dia menggangguk. “Tapi, Mas setuju enggak dengan pembubaran HTI?”

Lagi-lagi pertanyaan itu membuat posisi saya agak tidak bagus. Saya bisa saja tidak menjawabnya. Toh, dia tidak sedang menekan saya.

“Mmm… begini… Prinsip membubarkan itu, saya tidak setuju. Kalau ada anggota organisasi tertentu yang salah, hukum saja orangnya. Masalahnya, mungkin teman-temanmu juga keberatan kalau misalnya saya bilang: PKI tidak perlu dilarang. Semua organisasi boleh berdiri dan tidak boleh dibubarkan termasuk PKI.”

Dia terdiam. Tercenung.

“Dan kamu pasti tahu,” lanjut saya, “orang-orang yang menolak aturan pembubaran itu kebanyakan adalah orang-orang yang sering dicap oleh teman-temanmu sebagai orang liberal. Jadi sekarang, kalian dan orang-orang liberal: berteman. Setidaknya satu suaralah….”

Dia tersentak. Terdiam. Lalu tersenyum.

“Tapi, ngomong-ngomong, kamu terlihat makin tenang dibanding dulu ya?” tanya saya sembari berdiri. Saya memang harus balik ke penginapan.

“Ya, saya menemukan kebahagiaan di sini,” jawabnya sembari berjalan menuju parkiran.

“Itu yang mahal harganya. Nikmatilah….”

Saya kemudian diantar ke penginapan. Kami pun berpisah dengan bersalaman tangan erat.

Begitu masuk ke dalam kamar, sambil menggeletakkan badan, saya menyimak Twitland sambil sesekali membuat cuitan. Lalu ada sebuah akun yang mengkritik saya karena menyebut alhamdulillah hanya karena di bio saya tertera: Anak Kesayangan Tuhan.

Begini ini yang bikin saya agak kesal. Jancuk.

No more articles