Melacak Kemunculan Tren Tingwe, Hobi yang Membuat Petani Tak Menderita-menderita Amat

Tingwe jadi exit plan para perokok yang tak sanggup dengan naiknya cukai. Ekonomi petani ikut terbantu karena stok yang tak terserap pabrik masuk ke pengecer tembakau lintingan.

Di kalangan pedagang eceran, rokok adalah komoditas yang lumayan menyenangkan untuk dijual. Bukan cuma mudah dijual, penyimpanannya pun tidak merepotkan karena tak makan tempat. Tapi yang terutama, untungnya lumayan dibanding berdagang sembako partai kecil.

Cuma, yang namanya hidup, pasti tidak melulu enak, termasuk berdagang rokok. Rokok kemasan produksi pabrik adalah komoditas yang sensitif harga. Beda dengan beras dan gula, misalnya. Selama belum muncul tren merebus batu, mau naik berapa pun tentu dua bahan pangan ini tetap banyak yang membeli. Lain cerita dengan rokok kemasan yang orang pasti pikir-pikir jika harganya melonjak tinggi.

Itulah yang terjadi sepanjang 2020, tahun rekor kenaikan cukai hasil tembakau (CHT). Kenaikan 23 persen CHT tahun lalu adalah yang tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Padahal biasanya persentase kenaikan tahunan di angka 10 persen saja, bahkan tak naik sama sekali ketika masuk tahun politik.

Bisa jadi ketika menetapkan persentase tersebut, pemerintah dibayang-bayangi potensi 2020 akan jadi tahun dengan pencapaian ekonomi gemilang. Nyatanya, di bulan Maret pandemi menghantam. Daya beli menurun. Pertumbuhan ekonomi minus pada kuartal II dan III 2020. Industri rokok tak luput dari dampaknya. Tercatat, sepanjang Januari-September 2020 penjualan rokok turun 9 persen.

Penurunan yang memang besar walau tak terlalu teramat ekstrem. Setidaknya tidak menyamai persentase kenaikan cukai 2020. Bisa dibilang, para perokok masih cukup tabah menghadapi kenaikan cukai. Sebuah pencapaian yang boleh-boleh saja diapresiasi pengusaha rokok dengan membuat spanduk bertuliskan, “Terima kasih sudah bertahan selama ini.”

***

Tapi tak semua perokok bisa bertahan.

Di Yogyakarta, pandemi membuat toko tembakau linting tumbuh subur. Sebagian besar berukuran kecil ala kedai kopi dengan desain bangunan dan interior yang fancy. Toko-toko ini menjadi tengara kemunculan gelombang ahli isap yang mulai ogah menebus rokok bungkusan produksi pabrik, beralih membeli tembakau rajang untuk dilinting secara berdikari.

Linting dewe atau tingwe, istilah Jawa untuk melinting tembakau sendiri, kini marak karena membuat ongkos merokok jauh lebih murah. Menurut Jibal (42), seorang veteran tingwe, ia habis 70 ribu saja per bulan untuk merokok tingwe. Bandingkan dengan merokok biasa yang jika sehari habis sebungkus harga Rp16 ribu, akan butuh anggaran 480 ribu sebulan alias tujuh kali lipatnya.

Dari sisi petani dan pedagang tembakau, tingwe juga jadi tren yang disyukuri. Tatag Dhian Prastowo (30), pemasok tembakau linting dari Temanggung untuk area Yogyakarta, ikut merasakan terbantu oleh tren tingwe. Menurut Tatag, tingwe membantu mengurangi penderitaan bertubi-tubi yang dirasakan petani dan penjual tembakau selama 2020.

Penderitaan pertama berupa turunnya daya beli. Mudah dinalar: penjualan pabrik turun, permintaan suplai dari petani juga anjlok. Apalagi pabrik masih punya banyak stok sehingga tak semua panenan petani terserap.

“Tahun 2020 akibat pandemi Covid-19, kabar tak enak didapat petani. Permintaan tembakau untuk setor pabrik menurun 20 persen dari tahun-tahun biasanya. Para petani lalu berinisiatif memberdayakan tembakau yang biasanya dihargai rendah di pabrik dialihfungsikan jadi tembakau lintingan tingwe,” ujar Tatag kepada Mojok.

Penurunan harga tembakau tahun lalu mencapai separuh harga normal. “Pabrik pembelian menurun… bahkan sampai separuh harga. Dulu 150 ribu per kilo (range harga normal), sekarang 70-80 ribu per kilo (range harga murah),” petani tembakau Temanggung bernama Zulian Setiadi (32) menuturkan kepada Mojok akhir November lalu.

Ketika penjualan rokok pabrikan turun, permintaan tembakau rajang untuk tingwe naik. Petani dan distributor bersyukur karena merasakan efek ini. Setidaknya penjualan mereka jadi tak merosot-merosot banget.

“Tren ini (tingwe) naik untuk supplier kayak saya. Soalnya corona kemarin itu transaksinya (jual-beli tembakau ke pabrik) sedikit sekali. Sekarang gara-gara tren tingwe ini penjualan jadi stabil lagi. Jadi kalau (penjualan) dibilang naik, ya nggak juga. Tren ini lebih ke bikin situasi jualan tembakau tingwe jadi stabil kayak dulu di situasi normal lagi,” tambah Tatag.

Tren tingwe membuat bisnis tembakau lintingan jadi perhatian petani. Kata Tatag, kini mayoritas petani mencoba menyediakan jenis tembakau ini. Alasannya praktis saja, ujar Sofyan Hadi (32), petani tembakau di Temanggung, “Karena petani itu butuh dana cepat (buat modal tanam lagi), makanya mending ambil dua-duanya (jual tembakau tingwe dan tembakau untuk pabrik). Tingwe itu untungnya lebih gede, tapi pelan, nah kalau pabrik itu kan cepat. Barang cepat terserap. Paling lama lima hari lah. Tapi ya sebenarnya lebih menguntungkan tingwe meski putaran duitnya pelan.”

Zulian membenarkan keterangan ini. Ia menyebut, mulanya banyak petani menyimpan tembakau mereka untuk dikonsumsi sendiri. Gara-gara tembakau tingwe terbukti diserap pasar, sekarang petani langsung menanam tembakau khusus untuk dijual lintingan. Apalagi harganya lumayan, dibanderol 150-200 ribu per kilo, nyata lebih mahal daripada tembakau untuk pabrik yang seharga 70 ribu per kilo. Itu pun masih harga termurah.

Yah, seperti dibilang tadi, yang namanya hidup tentu tak berisi yang baik-baik saja. Akibat sekarang semua petani memproduksi tembakau lintingan, kata Tatag kualitas tembakau jadi dipertaruhkan. Tembakau lintingan yang mestinya diolah dengan telaten, tak lagi diperlakukan seperti biasanya demi mengejar kuantitas produksi.

“Tembakau lintingan untuk dikonsumsi alangkah baiknya setelah disimpan minimal 6 bulan agar kadar getahnya kering dan langunya hilang alias pulen,” kata Tatag. Selain itu, daunnya juga harus pilihan. Dalam kasus Temanggung, tembakau terbaik untuk lintingan khusus ditanam di dataran tinggi.

“Tembakau terbaik itu lahir dari lereng gunung Sumbing karena proses tumbuhnya lambat (4-7 bulan), tidak seperti tembakau biasa yang bisa panen 2-3 bulan. Proses pertumbuhan lambat dikarenakan tanah dengan kadar air yang sangat sedikit, maka tumbuhnya jadi sempurna,” ujar Tatag lagi.

Melihat sekilas tren tingwe ini, tampaknya tembakau mulai menyerupai gejala yang sudah dialami produk pertanian lain seperti kopi dan teh. Di satu sisi, orang menjajal tingwe karena perbedaan harganya dengan rokok pabrikan. Di sisi lain, mulai tumbuh pula kepedulian mencicipi produk konsumsi yang lebih berkualitas dan rasanya tidak template. Saya jadi terbayang, jika mengisap tembakau yang unik dianggap keren lalu menjadi tren, bukan tidak mungkin kelak alat rajang daun tembakau menjadi peralatan hobi berharga mahal, melinting menjadi kultur hipster, dan di bioskop-bioskop kita mulai terpajang poster film berjudul Filosofi Tembakau.

Reporter: Ahmad Khadafi

Seri liputan khusus “Tingwe”

1. Membaca Tren Tingwe dari Kemunculan Toko Tembakau

2. Satu Tingwe, Banyak Mbakonya

3. Melacak Kemunculan Tren Tingwe, Hobi yang Membuat Petani Tak Menderita-menderita Amat