Satu Tingwe, Banyak Mbakonya

Ada banyak varian tembakau untuk memenuhi selera jamaah tingwe yang beragam. Mulai dari tembakau berdasarkan kemiripan rasanya dengan merek rokok jadi ternama, hingga macam-macam tembakau sesuai daerah penghasil.

Tak banyak yang menyangka bahwa dalam beberapa waktu terakhir ini, kebiasaan tingwe ternyata bakal “naik kelas” menjadi sebuah tren tersendiri. Ia, seakan tak mau kalah dengan vape dalam bursa persaingan rokok alternatif. 

Jika beberapa tahun lalu jumlah kios penjual tembakau tingwe di satu kota mungkin bisa dihitung dengan jari, sekarang jumlahnya sudah naik pesat selayaknya gerai wartel di jaman Pak Harto. Memang masih tetap bisa dihitung dengan jari sih, tapi jarinya orang sekompi. 

Dalam dunia kebal-kebul, tingwe alias nglinting dhewe alias melinting sendiri sebenarnya bukanlah barang baru. Ia sudah ada sejak lama. Bahkan kalau mau menarik benang merah yang panjang, sejarah penemuan rokok kretek pun sejatinya bermuara dari lelaku tingwe ini. 

Kendati demikian, rasanya tetap menarik menyimak jalan berliku tingwe yang kini perlahan mulai merangsek menjadi alternatif baru bagi perokok-perokok muda ketimbang membeli rokok jadi. 

Lalu, naiknya tarif cukai rokok yang berimbas pada kenaikan harga rokok jadi memang menjadi salah satu faktor utama kenapa banyak orang, utamanya yang melarat alias berkantong cekak, mulai beralih menjadi pelinting. Jamaah Al-Lintingiyah, begitu guyonan yang kerap dilontarkan oleh para pelinting untuk menyebut orang-orang yang beralih dari rokok jadi ke rokok tingwe. 

Banyak yang total beralih dari rokok jadi ke tingwe, pun tak sedikit yang menjadikan tingwe sekadar sebagai selingan rokok jadi. 

Tak hanya soal ekonomi, urusan tren juga ikut menaikkan pamor tingwe. Orang-orang pun tak terlalu peduli dengan proses yang agak merepotkan yang mutlak diperlukan oleh perokok tingwe. Boleh jadi, justru melalui proses yang merepotkan itulah orang malah menyukai tingwe. Ini tak ubahnya seperti orang-orang yang masih tetap suka memutar musik dari piringan hitam walau sebenarnya ia bisa dengan mudah memutar musik menggunakan aplikasi pemutar musik digital di ponsel pintar miliknya.

Sama seperti produk rokok jadi, tingwe pun punya banyak varian, utamanya dari jenis mbako atau tembakaunya.

Widodo (27), seorang anak petani tembakau yang kini aktif menjual tembakau lintingan secara online, menyebutkan bahwa tembakau lintingan punya varian yang sangat banyak. Klasifikasinya bermacam-macam, dari jenis campuran, daerah tanam, sampai varietas bibit.

“Tembakau itu beda daerah sudah beda (rasanya). Beda ketinggian tanah juga beda (hasilnya). Apalagi beda varietas. Bahkan satu pohon tembakau itu, daun bagian tengah dengan daun bagian bawah pun hasil kualitas tembakaunya bisa beda,” terang lelaki asli Rembang ini. 

Kata Widodo, secara campuran, tembakau bisa dibedakan menjadi dua jenis, yakni origin dan blend. Origin artinya tembakau murni, tidak dicampur. Sedangkan blend artinya tembakau sudah dicampur. Bisa dicampur dengan jenis tembakau lainnya, bisa juga dicampur dengan saos atau perasa. Tembakau jenis kedua inilah yang menurut Widodo jauh lebih laku di pasaran.

“Kalau aku sendiri memang fokus jual tembakau origin. Lakunya memang lebih susah. Tapi nggak papa. Idealisme,” ujarnya lantas terkekeh.

toko tembakau terdekat jogja macam-macam tembakau tingwe cara meracik tingwe liputan mojok.co 2

Suasana siang di Wiwoho, toko tembakau dan cerutu tertua di Yogyakarta. Semua foto oleh Eko Susanto untuk Mojok.co.

toko tembakau terdekat jogja macam-macam tembakau tingwe cara meracik tingwe liputan mojok.co 2

Suasana siang di Wiwoho, toko tembakau dan cerutu tertua di Yogyakarta. Semua foto oleh Eko Susanto untuk Mojok.co.

Oleh karena statusnya memang sebagai rokok alternatif (ketimbang nggak merokok), tak mengherankan banyak pelinting yang mencari jenis tembakau yang punya rasa yang sama dengan rokok yang biasanya ia isap. Dari situlah kemudian muncul istilah-istilah seperti mbako Djarum Super, mbako Surya, mbako Samsu, dan mbako-mbako berembel-embel merek rokok lainnya. Istilah tersebut untuk merujuk tembakau yang rasanya hampir menyerupai rokok-rokok bermerek. Untuk bisa memunculkan tembakau dengan rasa itulah diperlukan racikan khusus, kadang dengan mencampurkan berbagai jenis tembakau, kadang dengan menambahkan saos. 

Berdasarkan daerah, tentu saja ada banyak sekali jenis tembakau. Di Indonesia, setiap daerah yang punya lahan tembakau punya karakteristik tembakaunya tersendiri.

Sejauh ini, ada tiga daerah yang menurut Widodo punya tembakau terbaik di pasar tingwe. Ketiga daerah itu adalah Gayo (Aceh Tengah), Temanggung (Jawa Tengah), dan Lombok (Nusa Tenggara Barat). Tembakau dari tiga daerah tersebut dianggap punya kekhasan tersendiri. Kebetulan, tiga daerah inilah yang tembakaunya cukup banyak diserap pasar tingwe. 

Tembakau Gayo, utamanya tembakau Gayo hijau, saat ini dikenal sebagai salah satu tembakau dengan harga termahal. Harga per onsnya berada di kisaran 60 ribu rupiah. Menurut Widodo, tembakau Gayo hijau punya tingkat isapan sedang, namun tingkat kegurihan dan aromanya cukup tinggi. 

Sementara itu, tembakau Lombok terkenal karena jenis rasanya cocok dengan mereka yang menggemari rokok-rokok mild. Beberapa varietas tembakau Lombok yang cukup terkenal antara lain Ampenan, Kasturi, dan Escort.

Nah, untuk Temanggung, adalah sebuah kedurhakaan jika sampai daerah ini tak masuk dalam jajaran produsen tembakau terbaik. Maklum saja, tembakau dari Temanggung memang selalu menjadi pilihan baik di pasar rokok jadi maupun rokok tingwe. Tembakau Temanggung umumnya adalah tipikal tembakau isapan berat. Beberapa jenis tembakau yang terkenal dari Temanggung antara lain Beate, Mantili, dan Kemlaka.

Banyaknya jenis tembakau ini, menurut Widodo, cukup membuat banyak bingung para pelinting pemula. Ia menyarankan para pelinting pemula untuk memilih tembakau berdasarkan ringan dan beratnya isapan

Tembakau yang ringan dan cukup terkenal saat ini adalah jenis tembakau Mole. Tembakau dari daerah Darmawangi, Sumedang ini menurut Widodo sangat pas sebagai tembakau debut alias reyenan. Selain ringan, tembakau jenis ini juga cukup murah harganya. 

Sedangkan tembakau yang berat, kata Widodo, paling cocok adalah jenis Kemlaka Temanggung. Jenis tembakau ini sangat pas jika dinikmati dengan taburan cengkeh, sebab isapannya bisa menjadi lebih ringan. 

“Kalau Kemlaka nggak dikasih cengkeh, rentan mengguk (batuk),” terangnya.

Banyaknya jenis tembakau ini menurut Widodo membuat peran seorang penjaga kios tembakau menjadi sangat penting. Ia dituntut untuk paham jenis-jenis tembakau agar bisa memberikan rekomendasi yang tepat untuk para konsumennya. Ia harus paham tipikal isapan, kegurihan, kemanisan, dan aroma masing-masing jenis tembakau.

“Ini sebenarnya semacam kritik dari saya buat banyak penjaga kios mbako, saya itu sempat lho mampir ke kios mbako dan nanya-nanya ke Mas yang jaga. Pas saya coba tanya, ini tembakau apa? Dia cuma bisa jawab ‘tembakau Temanggung’ tanpa tahu jenis apa. Hal kayak gini ini banyak terjadi. Penjaga kios itu harus paham nglothok (luar-dalam) soal tembakau.”

“Kalau perlu kayak Mas Klinik Kopi itu ya? Yang sampai bisa jelasin proses dari hulu ke hilir proses dari penanaman kopi, panen kopi, sampai bisa jadi minuman. Semacam Mas Pepeng tapi versi tembakau,” tanya saya.

“Nah, itu. Persis.”

Seri liputan khusus “Tingwe”

1. Membaca Tren Tingwe dari Kemunculan Toko Tembakau

2. Satu Tingwe, Banyak Mbakonya

3. Melacak Kemunculan Tren Tingwe, Hobi yang Membuat Petani Tak Menderita-menderita Amat