Saya menyelesaikan kredit motor Honda Vario 160 dalam waktu tiga tahun. Awalnya mau beli tunai. Namun, sales menjawab kalau tunai, harus antre sekitar dua bulan, apalagi saya mau yang warna putih. Tapi, kalau kredit, barangnya langsung ada. Yah, pembaca pasti sudah paham dengan strategi modelan begini.
Tapi, saya tidak sedang ingin membahas skema kredit Vario 160. Saya hanya sedang ingin bersyukur karena tiga tahun yang lalu, memilih motor matik yang bongsornya nanggung. Saat itu, di benak saya sedang terjadi dilema antara memilih Vario 160 atau PCX. Saya sendiri, sebetulnya, pengin beli PCX. Namun, istri mencegah.
Menjelang hari-hari saya mengontak dealer, istri saya memberi saran. Yah, you know, kalau istri memberi “saran”, itu artinya “bukan saran”. Jadi, jangan pernah bilang:
“Iya, nanti aku pertimbangkan, ya.”
Udah, jawab aja:
“Iya, Buk. Nanti aku beli yang itu aja.”
Semua demi kesejahteraan dan kesehatan. Saya pilih yang “itu”, yaitu Honda Vario 160.
Setelah menjawab, “Iya, Bu,” saya amati itu tampilan Vario 160, khususnya dari depan. Entah kenapa. Di dalam kepala saya, muncul imajinasi tampilan depan motor CBR150 tapi tampilan belakang adalah sepeda onthel. Ia adalah salah satu motor buruk rupa yang pernah saya amati. Celakanya, saya akan segera meminangnya.
BACA JUGA: Sengaja Beli Honda Vario 160 untuk Pamer Berakhir Penyesalan karena Jadi Repot Sendiri
Honda Vario 160 yang tidak pernah bermasalah
Selama tiga tahun menggunakan Vario 160, sejak dari cicilan 1 hingga 35, saya tidak ketemu masalah. Ada 2 teman saya di komunitas yang juga beli Honda Vario 160. Yang satu bermasalah di jok, yang kedua ilang-ilangan tenaga. Motor saya juga terhindar dari petaka rangka ESAF yang dulu ramai.
Itulah bukti bahwa perintah, eh saran, dari istri penuh dengan doa-doa baik. Selama tiga tahun, Vario 160 saya nggak pernah bermasalah. Paling cuma baret saja karena saya pernah jatuh karena kepleset rel kereta.
Bayangkan kalau saya melawan istri dengan tetap beli Honda PCX. Bukan tidak mungkin, selama tiga tahun memilikinya, hanya masalah yang datang.
Sudah kena silent treatment dari istri karena nggak manutan, kena masalah kelistrikan Honda PCX lagi. Benar kata orang bijak dulu. Suara istri adalah suara Tuhan. ITTTUUU!!!
Motor Honda yang menyalahi kodrat
Keluarga dan keluarga istri adalah keluarga Honda. Saya pernah punya dan memakai 11 motor keluaran Jepang itu. Dan, ada dua kelebihan yang bagi kami menyenangkan. Pertama, adalah motor Honda selalu enak kalau kamu bawa jalan pelan. Mulai dari C70, Astrea Grand, Supra, sampai Vario 125.
Kedua, apalagi kalau bukan soal konsumsi bahan bakar yang irit. Saya pernah memakai C70, Astrea Grand, hingga Supra X. Kadang saya berpikir kalau tiga motor ini nggak perlu bensin buat jalan. Tinggal kamu bisikin aja kata-kata penyemangat, saya yakin mereka siap kamu ajak jalan.
Nah, mari kita fokus ke kelebihan nomor satu, yaitu enak dibawa jalan santai. Karena awalnya saya yakin kalau semua motor Honda bakal kalak gitu. Nyatanya kok nggak juga. Karena Vario 160, adalah motor Honda yang paling nggak nyantai. Motor ini nggak enak kalau kamu bawa pelan.
Iya, ini semua karena saya yang kampungan saja. Motor dengan CC besar, konon katanya, memang buat “agak ngebut”. Teman sekantor saya, Rizky Prasetya, bilang kalau jangan bawa Vario 160 di bawah 30 km/jam. Kalau mau enak, dan ketika menempuh perjalanan panjang, bawa di atas 65 km/jam.
Lantaran kebetulan jarak antara rumah dan kantor adalah 44 kilometer, jadi saran dari Rizky ini tepat guna. Vario 160 ini memang menyalahi kodrat motor Honda. Saya bawa rata-rata di 60 km/jam dan rasanya memang enak betul. Motor ini seperti meluncur dengan mudah tanpa kehilangan tenaga.
Ada masalah apa sih Vario 160 dan kodrat?
Si buruk rupa ini juga menyalahi kodrat motor matik (dan Honda) yang kedua. Seharusnya kita bisa sepakat kalau naik motor paling enak itu kalau sendirian. Mau jalan santai atau “agak ngebut”, kalau sendirian, lebih terasa enak. Baik dari sisi ketenangan maupun kenyamanan berkendara.
Nah, si Vario 160 ini punya rencana berbeda untuk mengakali kodratnya sebagai motor Honda. Jadi, motor matik satu ini, bakal lebih enak kalau saya membonceng orang. Lha ya masak bonceng kambing.
Berat badan saya selama tiga tahun ini konsisten di 110 kilogram. Sementara itu, istri saya, setelah melahirkan dua anak, ada di 70-an kilogram. Nah, kombinasi saya dan istri itu saja sudah 180 kilogram. Harusnya, motor mana saja akan merasa tersiksa. Namun, tidak untuk motor aneh bernama Vario 160.
Ketika berboncengan dengan 70-an kilogram-nya istri, saya justru merasa lebih enak ketika bawa Vario 160. Suspensinya jadi terasa lebih empuk. Saya kadang bingung, entah karena motor ini memang seaneh-anehnya motor Honda, atau, memang karena ini yang namanya cinta istri. ASSOOYYY!!!
Tahan siksaan
Saya punya kenangan buruk ketika memakai Beat versi lama yang joknya sesempit Selat Hormuz. Ketika saya bawa, motor itu selalu minta mampir tempat tambal ban. Selalu saja bocor.
Lalu, ketika pakai Supra X 125, saya nggak pernah berdamai dengan batoknya yang hobi goyang getar kayak Denada. Rantai motor Supra X 125 juga sering kendor. Pokoknya ada saja masalah yang datang, khususnya kalau saya pakai jalan jauh.
Namun, Vario 160 ini memang aneh. Selama tiga tahun, bisa-bisanya saya nggak pernah kena masalah. Tapi, sifat tahan banting ini juga bikin saya khawatir. Gimana kalau motor buruk rupa ini cuma nahan diri aja. Entar habis tiga tahun, tiba-tiba ngasih masalah besar. Harus ganti laher komstir misalnya.
Yah, terlepas dari itu semua, Vario 160 adalah motor Honda paling tahan siksaan. Meski buruk rupa, ia menemani saya sampai kilometer 36 ribu. Tinggal nambah 4 ribu kilometer, saya sudah seakan-akan mengelilingi bumi bersama Vario 160. DAMNN!!!
Penulis: Yamadipati Seno
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Honda Vario Adalah Motor yang Menyalahi Kodrat dan Nggak Waras, tapi Tetap Sakti dan Menjadi Pionir Matik Honda Selanjutnya dan kisah seru lainnya di rubrik POJOKAN.














