Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Sugeng Tindak, Prie GS, Penulis Kesayanganku, Penulis Favoritku

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
12 Februari 2021
A A
prie gs
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Imlek dan Jumat. Dua entitas yang sepantasnya menjadi perpaduan hari yang indah dan menyenangkan, setidaknya, ada nuansa berkah dan kemeriahan kendati kali ini, tak ada pertunjukkan barongsai yang lincah dan gemar betul memamerkan mata lentiknya itu.

Namun kabar yang sentimentil itu justru datang tepat di hari di mana seharusnya keberkahan dan kemeriahan itu berbaur: Prie GS meninggal dunia. Kabar itu datang serupa palu godam yang menghantam tanpa aba-aba, tanpa ampun, dan tanpa belas kasih.

Istri saya yang mengabari itu pagi tadi. Pikiran saya mendadak terperosok ke ruang yang saya amat sulit menggambarkannya. Jantung serasa berhenti sejenak.

Saya amat berharap, semoga bukan Prie yang itu yang meninggal, bukan Prie yang tulisannya selalu saya baca itu. Pokoknya bukan Prie yang itu. Sungguh, ini menjadi semacam kejahatan batin yang amat kuat, di mana saya berharap agar seseorang masih tetap hidup dan berharap agar orang lain yang mati.

“Iya, Mas. Pakdhe Prie GS. Meninggal,” kata istri saya.

Ya Tuhan. Seketika, berbagai perasaan langsung membaur. Sedih, sesal, marah, bercampur menjadi satu.

Bagi saya, Prie GS adalah sosok yang penting. Ia ikut membentuk karakter tulisan-tulisan saya.

Sebagai seorang penulis, sudah barang tentu saya punya penulis lain yang saya jadikan sebagai panutan, rujukan, benchmark, atau apalah itu namanya. Dari sekian banyak penulis yang saya jadikan rujukan itu, Prie GS menjadi nama yang hampir selalu saya sebut pertama, sesekali kedua setelah Mahbub Junaidi (utamanya kalau lawan bicara saya adalah para mahasiswa), kadang ketiga setelah Umar Kayam (kalau lawan bicara saya adalah orang-orang penggemar karya sastra).

Dalam berbagai kesempatan, Prie GS tidak pernah tidak saya sebutkan jika saya harus menjawab pertanyaan “Siapa penulis favorit Mas Agus?”

Saya selalu menyukai bagaimana cara Prie GS bertutur. Ia seakan menjadikan pembaca bukan lagi pembaca, melainkan kawan ngobrolnya. Saya suka bagaimana ia merangkai metafora, menjadikan sesuatu yang sebetulnya remeh menjadi hal yang tidak layak untuk diremehkan. Saya suka bagaimana ia menuliskan permenungan-permenungan atas apa saja yang ia temui. Saya suka dengan cara dia mengolok-olok diri sendiri, bagaimana ia sering menyebut bahwa fisiknya sangat tidak impresif sehingga hanya keberuntungan dan kepercayaan diri yang kelewat tinggilah yang membuat dia mampu menikahi istrinya saat ini.

Ia selalu tampil tanpa perlu menjadi bijak seperti banyak penulis lain. Ia tak pernah harus selalu mengantongi suri tauladan dan mutiara-mutiara hikmah yang harus ia sebarkan dan ia lemparkan kepada orang-orang yang mendengarkan ceramahnya atau membaca tulisanya.

Prie GS menulis dengan sudut pandang menusia yang manusia. Ia menarasikan bagaimana saat dirinya sombong, saat dirinya dikuasai dengki, saat dirinya marah, saat dirinya putus asa, saat dirinya kecewa, saat dirinya bodoh. Ia tak menjadi penulis yang senantiasa butuh memberikan hal-hal bijak. Ia selalu mampu tampil menjadi seorang motivator sekaligus demotivator.

Ia selalu mampu melihat apa banyak hal dari sudut pandang yang menarik.

Bayangkan, suatu ketika, Anda berjalan ke ranjang untuk segera tidur dan mancal kemul karena sudah sangat ngantuk setelah mengerjakan tugas kantor atau lembur menonton drakor semalaman. Hanya tinggal sak leran untuk bisa sampai ke alam tidur. Namun ternyata, kemih Anda tidak bisa diajak kerja sama. Anda ternyata menyimpan bibit-bibit kebelet pipis yang ternyata semakin lama semakin membesar kalau Anda tidak segera menunaikannya. Anda bimbang, Anda ingin melanjutkan perjalanan menuju tidur Anda yang sudah kadung pewe itu, namun Anda juga merasa harus ke kamar mandi untuk segera kencing. Anda takut mengorbankan suasana “nyaman” Anda dengan berjalan ke kamar mandi yang dingin, namun Anda juga takut melanjutkan kenyamanan Anda karena perasaan ingin kencing tadi.

Iklan

Atau bayangkan, Anda merasa iba dengan seorang penjual keliling, bisa keset, sapu, tangga bambu, atau apalah itu. Karena merasa iba, Anda kemudian nekat membelinya walau Anda sebenarnya tak menginginkannya. Namun, ternyata, ketika mau membeli, Anda melihat sendiri kalau si penjual ternyata tak semelarat yang kita pikir, mungkin karena ia tampak menenteng ponsel yang tidak murah, atau mungkin karena ia tampak merokok dengan rokok harganya cukup membuat orang dengan keuangan yang sehat pun bakal berpikir dua kali untuk membelinya. Anda kemudian bingung, tetap melanjutkan niat untuk melarisi dagangannya atau tidak.

Kebimbangan jenis itu tentu saja pernah dirasakan oleh hampir semua orang, namun rasanya, hanya Prie GS yang terpikir untuk menuliskan kembimbangan tersebut dengan cara yang indah dan tampak tidak remeh.

Ada banyak hal-hal menarik yang mampu dituliskan oleh Prie GS dengan sangat elegan dan kreatif, pun ada banyak kontemplasi yang bisa diceramahkan dengan sangat artikulatif oleh Prie GS.

Kini, hari ini, saya harus menerima kenyataan bahwa penulis liat dan lentur itu telah tiada. Saya, dan mungkin banyak pembaca tulisannya tak akan bisa lagi membaca tulisan-tulisan terbarunya tentang permenungan hidup, tulisan tentang bagaimana menertawakan hidup, tulisan tentang bagaimana menjalani keselarasan hidup.

Getir itu akhirnya datang. Prie GS, sekali lagi, adalah penulis favorit saya. Dan karena itu pula, saya punya pengharapan yang sederhana: bisa mampir ke rumahnya untuk kemudian ngobrol tentang apa saja.

Saya pikir, itu adalah pengharapan yang kelewat sederhana. Dan sialnya, lagi-lagi saya harus menerima kenyataan, bahwa hal tersebut, sekarang, tak lagi sederhana, sebab saya tak lagi punya kesempatan untuk mewujudkannya.

Sugeng tindak, Mas Prie. Penulis kesayanganku. Sugeng tindak.

Terakhir diperbarui pada 12 Februari 2021 oleh

Tags: prie gs
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Jihad Warga Kecamatan Selo Boyolali Mempertahankan Tanah MOJOK.CO
Esai

Warga Kecamatan Selo Boyolali “Jihad” Mempertahankan Tanah, Enggan Menjualnya ke Investor Luar, Menolak Membuka Destinasi Wisata Secara Ugal-ugalan karena Bertani Adalah Prioritas

1 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers MOJOK.CO

Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

6 Februari 2026
TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO

Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi

6 Februari 2026
gen z kerja merantau beban mental dan finansial.mojok.co

Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

6 Februari 2026
Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik MOJOK.CO

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik

4 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026
Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT MOJOK.CO

Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT

2 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.