Bagi saya, dan mungkin sebagian besar warga Jogja, menyadari bahwa ada bahaya besar di balik kata “romantisasi”. Entah pembaca, khususnya dari daerah istimewa ini mau mengakuinya atau tidak, istilah tersebut membawa lebih banyak masalah ketimbang manfaat. Dan kini, istilah berbahaya itu mulai merambat ke daerah lain.
Menjadi redaktur di Mojok mengizinkan saya membaca ratusan artikel yang masuk. Salah satu tema yang selalu seksi untuk menjadi tema tulisan adalah kedaerahan. Kami, di Mojok, menyebutnya tema “Nusantara”.
Kalau membicarakan Jogja, tentu banyak cabang bahasan yang menarik. Nah, kalau soal romantisasi, sudut pandang yang selalu memancing perdebatan adalah perbandingan. Untuk memperbandingkan Jogja sebagai kota yang cocok untuk menerapkan konsep slow living dan frugal living, muncul nama Purwokerto. Selain Purwokerto, muncul kemudian nama Salatiga.
Setelah mendalami “nuansa” yang Salatiga tawarkan, saya maklum kalau banyak status kemudian melekat. Pertama, soal slow living dan frugal living, di mana Salatiga memang cocok. Kedua, kota ini sudah menyandang status “kota pensiun” seperti Purwokerto. Bahkan, kota ini masuk dalam nominasi UNESCO Creative Cities Network (UCCN). DAMN!
Sekarang, mari kita mendalami fenomena ini satu per satu. Setelahnya kita akan menyenggol betapa istilah “romantisasi” itu membawa bahaya.
Salatiga yang seksi untuk slow living dan frugal living
Sebuah pengakuan yang positif, akan menciptakan citra positif juga. Itu kalau hanya “sebuah”. Ketika lebih banyak orang memberikan pengakuan positif, yang terbangun adalah status. Dan status ini akan menancap sangat dalam ke hati siapa saja yang, pada akhirnya, mengunjungi atau tahu soal Salatiga.
Nggak main-main, nama-nama besar memuji Salatiga. Membuat kota ini semakin cocok untuk menerapkan gaya hidup slow living dan frugal living. Mari kita menyelami banyaknya pujian ini.
Pertama, Sandiaga Uno, menyebut Salatiga sebagai Kota Kreatif Gastronomi terbaik di Indonesia. Menurut Sandi, sustainable tourism di sini sangat kuat. Jadi, nggak hanya nyaman sebagai tempat tinggal, tapi kota ini juga produktif.
Kedua, Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Indonesia membuat sebuah survei dengan konteks Most Livable City Index (MLCI). Secara berkala, IAP mengukur tingkat kenyamanan kota berdasarkan persepsi warganya.
Menengok rilis indeks kota layak huni, Salatiga konsisten mencatatkan skor di atas rata-rata nasional (terakhir tercatat skor 71,4 dari 100). Selain itu, para ahli dari IAP menyebutkan bahwa fasilitas publik, ketersediaan ruang terbuka hijau, dan kemudahan akses transportasi menjadi faktor utama yang membuat warga Salatiga merasa sangat puas tinggal di sana.
Ketiga, Ismail Hasani, S.H., M.H., Direktur Eksekutif SETARA Institute dan pakar Hukum Tata Negara menyebut Salatiga hampir selalu menduduki peringkat 1 atau 3 besar sebagai kota paling toleran di Indonesia (termasuk pada laporan tahun 2024 dan 2025).
Ismail Hasani menyatakan bahwa “Budaya Toleransi” di sini bukan sekadar slogan, melainkan sudah menjadi gaya hidup. Keamanan dari konflik sosial inilah yang menjadi fondasi utama kota ini dinilai paling nyaman di Jawa.
Nggak heran kalau istilah slow living dan frugal living sering menempel di nama Salatiga. Lumrah.
Baca halaman selanjutnya: Romantisasi yang berpotensi menjadi sisi gelap.
Menengok ke ranah digital
Tidak sedikit influencers, atau minimal akun dengan banyak followers, memuji Salatiga. Salah satunya akun (@)widino di Twitter. Konten Dino yang naik pada 22 April 2025 ini mendapatkan engagement yang biasa besar. Dia menulis begini:
“Buat gw, Salatiga tuh kota healing yg sebenarnya healing. Kota tp kehidupannya selow bgt, ga perlu cari tempat wisata atau kuliner, cukup jalan kaki santai keliling kota dari sore sampe malem. Vibesnya syahdu, sejuk, kek tentram bgt suasananya. Warganya pun ramah2 bgt 🥹”
Konten yang harmless ini mendapatkan respons yang sangat positif. Rata-rata setuju dengan konten Dino, dan banyak lagi yang menambahkan pengalamannya yang positif selama berkunjung ke Salatiga. Maka, tidak heran kalau di sini, kamu bisa menerapkan konsep slow living dan frugal living ketimbang Jogja.
Jogja, tentu masih sangat kuat sebagai magnet wisatawan. Di akhir tahun 2025 saja, ada lebih dari 7 juta wisatawan yang masuk ke Jogja. Namun, mereka ini hanya “sementara”. Jogja menawarkan hal-hal sementara, sementara Salatiga masih bisa menawarkan sesuatu yang langgeng (dan nyaman).
Dunia digital berperan sangat besar dalam membentuk pola pikir bahwa Salatiga saat ini paling cocok untuk slow living dan frugal living. Lupakan Jogja, apalagi Purwokerto, yang sudah “panen romantisasi”, yang nyatanya nggak secara rata mengangkat kualitas hidup warganya.
Bahaya dari status Salatiga yang “menggantikan Jogja”
Saya mengakui, bahkan iri, dengan status Salatiga sebagai kota terindah di Jawa. Sudah begitu, ia mendapatkan julukan City of Harmony pula. Siapa yang nggak pengin tinggal di daerah seperti itu. Mau slow living atau frugal living, yang pasti kamu mendapatkan kesempatan untuk living di sana.
Namun, romantisasi yang terasa over and over again kepada Salatiga ini justru sangat berbahaya. Tentu, bahaya untuk Salatiga itu sendiri. Dan dengan saya menyebut nama kota ini, artinya bahaya yang muncul akan mengarah kepada masyarakat sendiri.
Jangan sampai, Salatiga menjadi korban romantisasi yang bergaung di penjuru Jogja selama 10 tahun lebih. Nama Jogja akan terdengar indah dan menjanjikan. Namun, untuk living saja susah, apalagi mau slow living dan frugal living. Sudah begitu, banyak masalah lahir dan terasa abadi.
Celaka romantisasi Jogja, bisa menular ke Salatiga
Pertama, soal gentrifikasi dan marginalisasi warga lokal. Pembangunan hotel, apartemen, dan kafe kekinian yang masif itu untuk siapa? Warga lokal? Jangan konyol.
Hasrat memenuhi memenuhi ekspektasi wisatawan telah memicu lonjakan harga tanah. Warga lokal, terutama generasi muda, semakin sulit memiliki hunian di tanah kelahiran sendiri dan terdorong ke pinggiran kota. Salatiga kota kecil. Kalau warga terpinggirkan, mau minggir ke mana?
Kedua, paradoks upah rendah dan biaya hidup. Romantisasi Jogja sebagai “kota murah” mengabaikan fakta bahwa kenyamanan tersebut disubsidi oleh Upah Minimum Regional (UMR) yang sangat rendah.
Bagi wisatawan, Jogja itu murah. Namun, bagi buruh lokal, harga-harga sudah mencapai standar kota besar namun dengan daya beli terbatas. Bagaimana dengan UMP/UMR Salatiga? Sudah bikin warganya rata sejahtera?
“Narasi Jogja Murah sebenarnya bersifat eksploitatif. Jogja menjadi murah karena tenaga kerjanya dihargai murah. Ada ketimpangan yang lebar antara citra romantis dengan kesejahteraan riil masyarakatnya.” Kata Dr. Hempri Suyatna, Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM).
Ketiga, masking (penyamaran) masalah sosial. Romantisasi yang berlebihan membuat masalah serius seperti kekerasan jalanan (klitih), konflik agraria, dan krisis air bersih akibat pembangunan hotel menjadi terpinggirkan dari diskusi publik. Ada yang memandang isu ini “merusak citra pariwisata” Jogja.
“Romantisasi Jogja berfungsi layaknya anestesi sosial. Ia membuat orang abai terhadap konflik agraria dan kekerasan di ruang publik karena yang dipasarkan hanyalah keramah-tamahan yang semu,” jelas Virdika Rizky Utama, peneliti dan penulis masalah sosial.
Keempat, degradasi lingkungan dan overtourism. Eksploitasi ruang demi konten estetik menyebabkan kemacetan kronis, tumpukan sampah, dan penyusutan air tanah. Identitas Jogja yang dulunya tenang dan bersahaja berubah menjadi kota yang sesak dan berorientasi pada komodifikasi budaya.
Sebuah peringatan
Saya perlu menegaskan satu hal. Saya tidak pernah meniatkan tulisan ini menjadi hantu yang meneror alam kesadaran masyarakat Salatiga. Tulisan ini berasal dari kekhawatiran saja.
Apalagi, dan sekali lagi, saya iri bisa tinggal di sebuah kota yang menyandang status “kota toleransi”. Bagi minoritas seperti saya, status kota seperti ini terdengar seperti surga dunia.
Selain itu, saya juga tidak ingin melawan hegemoni industri pariwisata. Mau gimana juga, di sana ada masyarakat yang menjadikannya sumur pendapatan.
Ini semata peringatan. Mungkin, ini sudah saatnya pemerintah Salatiga menginjak rem. Ada contoh nyata bernama Jogja, dan mungkin Purwokerto, bisa juga Solo. Bahwa yang berlebihan itu tidak baik. Dan jika romantisasi itu sudah berlebihan, ia berubah dari antibiotik menjadi racun sebenarnya.
Sebelum semuanya terlambat. Injak rem. Dan cegah yang berlebihan itu tumbuh semakin subur. Atur semuanya secara ideal, supaya semua yang terlibat di sana tetap nyaman dan akur.
Jangan sampai Salatiga, menjadi “rindu, pulang, angkringan” selanjutnya. Puisi yang indah ini justru dimanfaatkan untuk bikin demam Jogja sendiri. Sedih, kan.
Penulis: Yamadipati Seno
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Salatiga di Antara Semarang dan Solo: Kota Persinggahan yang Paling Indah di Jawa Tengah dan tulisan seru lainnya di rubrik POJOKAN.
