Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Saya Girang dan Antusias Menyaksikan Kader-Kader Partai Demokrat Saling Bertikai, dan Saya Yakin Anda Juga Demikian.

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
8 Maret 2021
A A
partai demokrat
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Semakin panjang drama pertikaian Partai Demokrat, makin bahagia saya menyimaknya.  

Hari ini, AHY bersama bersama 34 Ketua DPD Partai Demokrat dan ratusan kader lainnya menggeruduk kantor Kemenkumham. Tak ada tujuan lain selain menyampaikan sikap terkait Kongres Luar Biasa (KLB) Demokrat yang dianggap ilegal. Dengan potongan seragam ketat kayak bantara baru dilantik itu, AHY dengan gagah memimpin kader-kadernya yang masih setia untuk berorasi.

Langkah tersebut menjadi langkah awal dalam babak perseteruan terang-terangan antara Partai Demokrat versi Kongres Biasa dan Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa.

Jujur, tiap kali ada polemik perpecahan di dalam partai politik, entah kenapa, saya itu rasanya selalu seneng. Mongkok. Girang. Ati rasanya gidro-gidro.

Bukannya saya tidak cinta damai, namun memang selama ini, saya berkali-kali menyaksikan banyak elemen masyarakat yang berkelahi hanya karena beda pilihan politik, yang mana kita tahu bahwa partai politik ikut bertanggung jawab atas hal itu. Nah, itulah kenapa, kalau ada partai kok kadernya gelut sendiri-sendiri, saya jadi merasa ada keadilan dalam perkelahian itu.

Biar gantian. Masak yang berkelahi masyarakat melulu, sekali-kali kader partainya dong yang berkelahi.

Saya yakin, ada banyak dari Anda yang juga merasakan perasaan yang serupa dengan saya. Hayo, ngaku saja.

Tahun lalu, waktu PAN bikin kongres di Kendari dan para kadernya saling lempar kursi di dalam arena kongres, saya begitu menikmati foto-foto para kader PAN yang dengan tampang pendekar heroik itu melemparkan kursi dan apa saja yang bisa mereka lempar kepada kawan sesama partainya.

Mereka saling kepruk selayaknya dua kubu preman yang saling menyimpan dendam.

Adegan saling lempar kursi di dalam arena kongres PAN itu benar-benar seperti adegan pembuka film Crows Zero. Bedanya, dua kubu yang bertikai dalam kongres tersebut (pendukung Zulkifli Hasan dan pendukung Mulfachri Harahap) saling melempar kursi tanpa berteriak ala teriakan anak-anak Suzuran itu.

Kalau saja mereka melempar kursi sambil berteriak ala anak Suzuran, pasti bakal lebih meriah dan sangar.

“Zulkiflieeeeeeehhhh!”

“Mulfachrieeeeeeehhhh!”

Ealah, kini, setahun berselang setelah adegan saling lempar kursi di dalam arena kongres PAN, kok ya giliran Partai Demokrat yang geger geden.

Iklan

Sekali lagi, saya menikmati perseteruan tersebut. Saya antusias menyimak gelutnya bapak-bapak dan ibu-ibu kader itu.

Terpilihnya Moeldoko menjadi Ketua Umum Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa (KLB) memang membuat Partai Partai Demokrat praktis terpecah menjadi dua, yakni kubu AHY dan kubu Moeldoko.

Ini bukan perseteruan sepele. Saking dahsyatnya kisruh tersebut, pengurus DPP Partai Demokrat kubu AHY Andi Arief bahkan sampai menyebut bahwa SBY akan berdemonstrasi di Istana Kepresidenan jika Presiden Jokowi membiarkan dan mengesahkan putusan KLB yang dianggap ilegal tersebut.

Betapa girang saya menyaksikan para petinggi partai ini ribut sendiri-sendiri. Saking girangnya, seandainya saya punya daya dan kekuatan, niscaya saya tak akan sudi mendamaikan keduanya.

Seandainya saya berada di antara SBY dan Moeldoko, maka yang akan saya katakan pertama kali kepada SBY maupun Moeldoko bukanlah kalimat-kalimat bijak, melainkan kalimat yang sebisa mungkin justru membuat mereka lebih muntab dan bernafsu untuk saling menyerang.

Kepada SBY, mungkin saya akan mengatakan, “Pak, sampeyan ki luwih senior lho mbangane Moeldoko, mosok ra wani gelut, nek aku dadi sampeyan, kuwi Moeldoko wis tak kiwo. Kuwi nek aku, lho.”

Sedangkan kepada Moeldoko, saya bakal mengatakan, “Jal, nek wani SBY dimek irunge.”

Terakhir diperbarui pada 9 Maret 2021 oleh

Tags: ahyMoeldokopartai demokatsby
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Soal Alasan Demokrat ke Prabowo, Pengamat: SBY Belum Berdamai dengan Megawati MOJOK.CO
Kilas

Soal Alasan Demokrat ke Prabowo, Pengamat: SBY Belum Berdamai dengan Megawati

19 September 2023
ahy calon cawapres mojok.co
Kotak Suara

Pakar Politik UGM: Peluang AHY Jadi Cawapres Masih Ada

7 September 2023
Demi Cak Imin, Anies Baswedan Berkhianat kepada AHY dan Demokrat
Video

Demi Cak Imin, Anies Baswedan Berkhianat kepada AHY dan Demokrat

6 September 2023
AHY saat berpidato mojok.co
Kotak Suara

5 Poin Pidato AHY, Ajak Kadernya untuk Move On

4 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kisah Bu Ngatimah, pekerja serabutan yang iuran BPJS Ketenagakerjaan miliknya ditanggung ASN Kota Semarang MOJOK.CO

Kisah Bu Ngatimah: Pekerja Serabutan di Semarang dapat Fasilitas BPJS Ketenagakerjaan, Iurannya Ditanggung ASN

7 Januari 2026
Santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid meresahkan warga desa MOJOK.CO

Santri Penjual Kalender dan Peminta Sumbangan Masjid Jadi Pengganggu Desa: Datang Suka-suka, Ada yang Berbohong Atas Nama Agama

8 Januari 2026
Kuliah Scam Itu Omongan Bermulut (Kelewat) Besar yang Nggak Perlu Didengarkan

Kuliah Scam Itu Omongan Orang Bermulut (Kelewat) Besar yang Nggak Perlu Didengarkan

8 Januari 2026
Ngerinya jalan raya Pantura Rembang di musim hujan MOJOK.CO

Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi

12 Januari 2026
Hidup di Desa.MOJOK.CO

Jadi Anak Terakhir di Desa Itu Serba Salah: Dituntut Merawat Ortu, tapi Selalu Dinyinyiri Tetangga karena Tak Merantau

7 Januari 2026
Dari keterangan Polresta Yogyakarta: Kantor scammer berbasis love scam di Gito Gati, Sleman, raup omzet puluhan miliar perbulan MOJOK.CO

Kantor Scammer Gito Gati Sleman: Punya 200 Karyawan, Korbannya Lintas Negara, dan Raup Rp30 Miliar Lebih Perbulan dari Konten Porno

7 Januari 2026

Video Terbaru

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.