Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kuliah Sastra Indonesia Katanya Hanya untuk Pecundang, Isinya Orang Gagal, tapi Kalau Nggak Punya Mental Jadi Orang Gagal Beneran

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
26 Juni 2025
A A
Sastra Indonesia Hanya untuk Pecundang dan Orang Gagal (Unsplash)

Sastra Indonesia Hanya untuk Pecundang dan Orang Gagal (Unsplash)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sekitar 1 bulan sebelum resmi menjalani hari demi hari sebagai mahasiswa Sastra Indonesia, saya mendengar sebuah stigma yang mengganggu. Setidaknya untuk saat itu. Katanya, jurusan ini hanya untuk mahasiswa gagal. Khususnya mereka yang gagal atau tidak mampu secara kemampuan otak.

Khususnya lagi bagi mereka yang secara akademik tertinggal. Mereka ini gagal memperebutkan kursi di fakultas bergengsi. Misalnya, kedokteran, teknik, psikologi, hingga Bahasa Inggris. Makanya, Sastra Indonesia menjadi semacam pelarian. Minimal tetap menyandang status sebagai mahasiswa.

Posisi Sastra Indonesia di kampus saya

Stigma itu menempel sampai saya menjalani perkuliahan di Prodi Sastra Indonesia. Saya kuliah di Sanata Dharma, masuk Fakultas Sastra. Nah, di fakultas ini, Sastra Indonesia berbagai tempat bersama Sastra Indonesia dan Prodi Sejarah.

Bahkan di fakultas sendiri, Sastra Indonesia dianggap berada di bawah Sastra Inggris. Jurusan saya ini berada 1 level dengan Prodi Sejarah. Sama-sama berisi mahasiswa gagal. Sudah begitu, jumlahnya sedikit pula. Angkatan saya saja hanya berisi 21 orang dan di akhir masa kuliah hanya separuh yang berstatus sarjana S1.

Lantas, bagaimana dengan fakultas lain di Sanata Dharma? Sudah jelas kalah bergengsi. Untuk Kampus Mrican, fakultas favorit tentu saja Pendidikan Bahasa Inggris (PBI). Bahkan jauh sebelum saya kuliah, status PBI sebagai favorit sudah saya rasakan. Maklum, kayak saya alumni PBI dan betapa sering dia membanggakan status tersebut.

Oleh sebab itu, kalau sedang ada kumpulan keluarga, antara saya dan kakak seperti ada barrier. Dia alumni PBI, sementara saya “hanya” mahasiswa gagal yang terpaksa masuk Sastra Indonesia.

Nah, selain PBI, Sastra Indonesia juga jauh di bawah jurusan ekonomi atau akuntansi. Jumlah mahasiswa yang masuk bisa menjadi bukti nyata. Kelas saya sudah terasa ramai kalau semua 21 orang masuk, yang mana itu sebuah kelangkaan. Nah, di ekonomi, sekali kelas, bisa 40 sampai 50 orang. Jomplang banget.

Menghindar matematika dan angka-angka

Kenapa memilih Sastra Indonesia? Banyak dari teman saya punya jawaban seragam, yaitu menghindari angka, khususnya pelajaran Matematika. 

Dan, siswa yang secara sadar dan sengaja menghindari angka (atau Matematika) dianggap bodoh. Kasta itu sudah terbentuk sejak saya SMA, ketika yang masuk IPA dianggap lebih pandai ketimbang siswa IPS atau Bahasa. Dari sana, status “mahasiswa gagal” lalu lahir.

Kata “gagal” di sini merujuk kepada banyak hal. Pertama, gagal secara akademik sehingga tidak mungkin tembus kampus dan fakultas favorit. Kedua, gagal secara ekonomi. Kuliah di kedokteran jelas lebih mahal ketimbang Sastra Indonesia. Ketiga, gagal tembus beasiswa.

Mahasiswa seperti ini menjadikan Sastra Indonesia sebagai salah satu pilihan. Mereka berharap bisa kuliah dengan santai dengan bahasan mudah. Padahal, ketika sudah masuk, jurusan ini bisa menjadi jebakan.

Jebakan Sastra Indonesia 

Apakah kuliah di Sastra itu mudah? Kalau untuk saya pribadi, iya, mudah. Namun, di momen-momen tertentu, jurusan ini bisa menjadi jebakan.

Pertama, ternyata nggak semudah itu untuk dapat nilai bagus. Kamu harus tahu bahwa kuliah di Sastra Indonesia artinya kamu akan ketemu mata kuliah yang “rada menyebalkan”. Misal, ada Leksikografi atau mata kuliah bikin kamus. Iya, kamus! 

Lalu, waktu saya kuliah, ada mata kuliah Bahasa Arab! Yes, kamu nggak salah baca. Dan celakanya, saya sangat kesulitan mempelajari Bahasa Arab. Hasilnya tentu bencana. Saya lulus mata kuliah Bahasa Arab di detik-detik menjelang ujian skripsi. Dan nilai D itu berasal dari belas kasihan dosen pengampu. Sedih.

Iklan

Kedua, S1 Sastra Indonesia mau kerja apa? Mau jadi editor? Wartawan? Pertanyaan ini akan jadi tekanan di momen tertentu. Apalagi kalau kamu nggak segera lulus dan hanya menghabiskan uang orang tua. Banyak yang curiga kalau lulusan Sastra itu nggak punya masa depan.

Nggak percaya? Gaji editor dan wartawan itu jelas jauh di bawah gaji dokter spesialis, kan? Itu dia. Kalian akan dibanding-bandingkan, bahkan dianggap rendah dengan sebuah kalimat penutup “Oh, lulusan Sastra….” dengan nada merendahkan.

Kalau nggak kuat mental, dan ini yang terjadi kepada banyak teman saya, pasti beneran jadi mahasiswa gagal. Oleh sebab itu, meski dianggap mudah, sebetulnya bisa menjadi jebakan. Yang kalian anggap sebagai pelarian, malah jadi celaka baru. Begitulah kerumitan menjadi mahasiswa dan alumni Sastra Indonesia.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Derita Mahasiswa yang Masuk Jurusan Sastra Indonesia sebagai Pilihan Kedua, Selalu Dipandang Sebelah Mata dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 26 Juni 2025 oleh

Tags: alumni Sastra Indonesiakarier lulusan Sastra Indonesiakedokteranpendidikan bahasa inggrisS1 Sastra Indonesiasanata dharmaSastra Indonesia
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia dari PTN terbaik di Jawa Timur alami penolakan 150 lamaran kerja. Buat pekerjaan freelance aja tidak bisa hingga jadi beban keluarga MOJOK.CO
Edumojok

Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa

21 Februari 2026
Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)
Pojokan

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
Dari Pakistan, Menemukan Cinta di Universitas Sanata Dharma MOJOK.CO
Esai

Kisah Seorang Pengelana dari Pakistan yang Menemukan Indahnya Toleransi di Universitas Sanata Dharma

19 November 2025
perawat.mojok.co
Ragam

Perawat, “Pahlawan Kemanusiaan” yang Tak Dimanusiakan: Beban Kerja Selangit, Gaji Sulit

6 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Hasutan dan jebakan orang minta donasi di Stasiun Tugu Jogja, ternyata berkedok penipuan MOJOK.CO

Turun Stasiun Tugu Jogja Muak sama Orang Minta Donasi: Tidak Jujur Sejak Awal, Jual Kesedihan Endingnya Jebakan

5 April 2026
Pengunjung Candi Pramabanan di Jogja selama Lebaran 2026. (sumber: InJourney)

InJourney Sukses Dapat Untung selama Arus Mudik dan Lebaran 2026 dengan Tata Kelola yang Optimal

2 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Gen Z mana bisa slow living, harus side hustle

Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

8 April 2026
Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah.MOJOK.CO

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah

5 April 2026
perumahan, tinggal di desa, desa mojok.co

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.