Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
19 Januari 2026
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dulu, kami tidak tahu kalau Jogja, bersama Jakarta, akan menyandang status sebagai kota yang paling rentan kesepian. Dan dulu, kami melawan kesepian dan segala siksaan kehidupan sebagai mahasiswa, salah satunya adalah kemiskinan, dengan semangkuk mie ayam. Sudah, makan semangkuk, hidup rasanya bahagia lagi.

Namanya Andri (38), teman SD dan kuliah saya dulu. Kami satu SD, satu kampus, tapi beda fakultas. Sebetulnya, kami ini punya banyak persamaan. Ada satu persamaan yang pada akhirnya pernah menjadi penyelamat semasa kuliah di Sanata Dharma, yaitu mie ayam.

Ada satu persamaan lain antara saya dan Andri, yaitu sama-sama miskin. Uang saku sangat terbatas. Kalau nggak dapat pekerjaan sambilan ketika kuliah, kami akan menderita sebuah penyakit yang kalau kata Melki Bajaj namanya “radang selaput dompet”. Jogja jadi semacam kota penderitaan bagi anak muda tanggung.

Dulu, kami sangat jarang main bersama. Maklum, circle kami berbeda. Lingkaran pertemanan saya cenderung barbar dan berbau alkohol. Nah, circle Andri agak lumayan. Sebuah lingkaran pertemanan di Jogja yang membuatnya bisa mendapat beasiswa bebas biaya kuliah setiap semester. Untuk keluarganya yang begitu pas-pasan, beasiswa itu bak oase di Gurun Gobi.

Nah, kalau untuk urusan pekerjaan sambilan, kami sering bersama. Mulai dari jaga warnet baik-baik sampai pengepul video porno, sampai membersihkan gerbong kereta api. Semua demi uang sambilan, menyambung hidup di hari-hari penuh omong kosong, dan menikmati semangkuk mie ayam di sisi timur kampus Sanata Dharma Mrican.

Baca juga 10 Warung Mie Ayam yang Perlu Dicoba untuk Tahu Varian Mie di Jogja

Mie ayam paling enak di Jogja

Saya sangat suka mie ayam. Andri Juga begitu. Namun, kami sama-sama buta dengan rasa atau warung mana yang paling enak. Bagi kami, pokoknya murah dan dekat, itu sudah cukup. 

Kalau pembaca adalah mahasiswa lama Sanata Dharma, saya angkatan 2005, pasti tahu yang namanya “mie ayam bolong”. Saya tidak tahu nama resminya. Bahkan sampai sekarang. Dan bagi saya dan Andri, mie ayam bolong ini yang paling enak karena kami bisa makan tanpa keluar kampus.

Jadi, si bapak ini jualan mepet tembok Sanata Dharma. Temboknya berupa kombinasi beton dan kawat. Nah, di bagian bawah tembok kawat, ada sebuah lubang. Si bapak penjual akan mengangsurkan semangkuk mie ayam lewat tembok itu. Mahasiswa yang beli akan menerima dan makan secara lesehan di mana saja.

Saya masih ingat rasanya, bahkan sampai sekarang. Gurih yang mendominasi. Manisnya sedikit saja. Makanya saya jadi suka sekali. Harganya, nah kalau ini saya agak lupa, sekitar Rp6 sampai Rp7 ribu saja. Murah, dekat, dan bisa utang dulu. Bagi saya dan Andri, inilah yang paling enak di Jogja.

Andri bahkan pernah makan mie ayam bolong sampai 3 kali dalam sehari. Siang, sore, malam. Semata demi ngirit. Sisa uang di dompet sudah menjadi jatah bensin motor Honda Astrea lungsuran tetangganya.

Bagi kami, mahasiswa dengan uang serba mepet, mie ayam bolong lebih dari sebatas kawan. Ia sudah menjadi keluarga, yang bisa memahami kalau cacing di dalam lambung perlu asupan sesuatu yang nikmat.

Kesepian yang merambat

Sudah saya singgung di atas kalau lingkaran pertemanan Andri di Jogja ini sifatnya lurus. Makanya, maklum kalau peserta circle terpelajar itu sangat sedikit. Andri sendiri juga tidak berani pacaran. Ingat, dia tidak berani, bukan karena tidak ingin. Dia tidak berani karena tidak ada pacaran tanpa modal.

Sementara itu, Andri punya banyak rencana di dalam kepalanya. Dia ingin lulus cepat, bekerja sebaik mungkin, dan dapat gaji dua digit. Sejak awal kuliah, di jurusan manajemen, dia sudah merencanakan semuanya. Oleh sebab itu, Andri yang sudah lelah dengan kemiskinan, tidak mau mengkhianati cita-citanya.

Iklan

Masalahnya, cita-cita mulia ini membuatnya kesepian. Temannya di kampus ya temannya juga dalam kehidupan dan jumlahnya tak sampai 10 jari. Bahkan semasa skripsi, dia menutup diri. Dia menghabiskan waktu untuk segala keperluan menyelesaikan skripsi.

Kemiskinan, pada titik tertentu, memang bisa menjadi dorongan kuat. Ia bisa membuat manusia melakukan segalanya, termasuk hal-hal negatif, demi perbaikan nasib. Nah, di tengah kesepian itu, saya dan Andri masih punya mie ayam bolong. Momen makan mie ayam di ujung sore jadi momen kami ngobrol lagi.

Mie ayam sebagai emotional anchor

Hari ini saya kadang heran. Kenapa saat itu mie ayam menjadi semacam perekat mental kami yang terimpit oleh kemiskinan dan kesepian. Nyatanya, ada penjelasan ilmiahnya.

Pernyataan bahwa “mie ayam adalah penanda hidup masih baik-baik saja” bukan hiperbola media sosial. Ini adalah fenomena psikologis dan sosiologis yang mendalam. Bagi banyak orang yang sedang stres atau depresi, semangkuk mie ayam berfungsi sebagai emotional anchor (jangkar emosional).

Yang mendominasi semangkuk mie ayam adalah karbohidrat kompleks dan lemak ayam. Secara biologis, asupan karbohidrat memiliki kaitan erat dengan pengaturan suasana hati.

Jadi, konsumsi karbohidrat memicu pelepasan insulin, yang membantu asam amino triptofan memasuki otak. Triptofan adalah bahan baku utama serotonin, neurotransmiter yang menciptakan rasa tenang dan bahagia.

Sementara itu, efek dopamin juga muncul. Rasa gurih (umami) dari bumbu kecap, kaldu, dan MSG pada mengaktifkan sistem penghargaan (reward system) di otak, melepaskan dopamin yang memberikan rasa puas instan.

Baca juga Mie Ayam Sabrang Kinanthi, Mie Ayam Paling Enak di Bantul

Sebagai penawar kesepian

Bagi banyak orang, mie ayam termasuk ke dalam comfort food dan nostalgia. Penelitian menunjukkan bahwa comfort food tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga “mengenyangkan” kebutuhan emosional.

Kaitannya secara sosial pun ada. Jadi, kita cenderung menginginkan makanan yang mengingatkan kita pada hubungan sosial yang kuat atau masa kecil yang aman. Andri sendiri sering mengasosiasikan mie ayam sebagai momen yang membuatnya aman. Ketika makan semangkuk mie ayam, dia aman dari kemiskinan dan kesepian.

Iya, kesepian. Studi dalam jurnal Psychological Science menyebutkan bahwa mengonsumsi comfort food dapat mengurangi perasaan kesepian dan penolakan sosial. Maklum, orang miskin rentan mendapat penolakan sosial. Mereka dianggap berbeda secara kasta.

Oleh sebab itu, mie ayam, yang membebaskan, memberi sebuah space berharga bagi orang-orang yang sedang menderita. Bagi saya dan Andri, yang bergelut dengan kemiskinan dan kesepian, mie ayam menjadi kawan hangat yang memastikan kami tidak sendirian menghadapi ketidakpastian.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua dan pengalaman yang bikin sesa lainnya di rubrik POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2026 oleh

Tags: depresiJogjajogja kesepiankemiskinanmie ayamMie Ayam Jogjamie ayam wonogirisanata dharma
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO
Ragam

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO
Kuliner

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO
Ragam

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)
Pojokan

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Keluar dari organisasi mahasiswa ekstra kampus (ormek) PMII, dicap pengkhianat tapi lebih sukses MOJOK.CO

Nekat Keluar PMII karena Tak Produktif: Dicap Pengkhianat-Nyaris Dihajar, Tapi Bersyukur Kini “Sukses” dan Tak Jadi Gelandangan Politik

13 Januari 2026
kekerasan kepada siswa.MOJOK.CO

Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 

15 Januari 2026
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Gotong royong atasi tumpukan sampah Kota Semarang MOJOK.CO

Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

16 Januari 2026
Sewakan kos bebas ke teman sesama mahasiswa Malang yang ingin enak-enak tapi tak punya modal MOJOK.CO

Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim

14 Januari 2026
Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi "Konsumsi Wajib" Saat Sidang Skripsi

Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi

17 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.