Dulu, kami tidak tahu kalau Jogja, bersama Jakarta, akan menyandang status sebagai kota yang paling rentan kesepian. Dan dulu, kami melawan kesepian dan segala siksaan kehidupan sebagai mahasiswa, salah satunya adalah kemiskinan, dengan semangkuk mie ayam. Sudah, makan semangkuk, hidup rasanya bahagia lagi.
Namanya Andri (38), teman SD dan kuliah saya dulu. Kami satu SD, satu kampus, tapi beda fakultas. Sebetulnya, kami ini punya banyak persamaan. Ada satu persamaan yang pada akhirnya pernah menjadi penyelamat semasa kuliah di Sanata Dharma, yaitu mie ayam.
Ada satu persamaan lain antara saya dan Andri, yaitu sama-sama miskin. Uang saku sangat terbatas. Kalau nggak dapat pekerjaan sambilan ketika kuliah, kami akan menderita sebuah penyakit yang kalau kata Melki Bajaj namanya “radang selaput dompet”. Jogja jadi semacam kota penderitaan bagi anak muda tanggung.
Dulu, kami sangat jarang main bersama. Maklum, circle kami berbeda. Lingkaran pertemanan saya cenderung barbar dan berbau alkohol. Nah, circle Andri agak lumayan. Sebuah lingkaran pertemanan di Jogja yang membuatnya bisa mendapat beasiswa bebas biaya kuliah setiap semester. Untuk keluarganya yang begitu pas-pasan, beasiswa itu bak oase di Gurun Gobi.
Nah, kalau untuk urusan pekerjaan sambilan, kami sering bersama. Mulai dari jaga warnet baik-baik sampai pengepul video porno, sampai membersihkan gerbong kereta api. Semua demi uang sambilan, menyambung hidup di hari-hari penuh omong kosong, dan menikmati semangkuk mie ayam di sisi timur kampus Sanata Dharma Mrican.
Baca juga 10 Warung Mie Ayam yang Perlu Dicoba untuk Tahu Varian Mie di Jogja
Mie ayam paling enak di Jogja
Saya sangat suka mie ayam. Andri Juga begitu. Namun, kami sama-sama buta dengan rasa atau warung mana yang paling enak. Bagi kami, pokoknya murah dan dekat, itu sudah cukup.
Kalau pembaca adalah mahasiswa lama Sanata Dharma, saya angkatan 2005, pasti tahu yang namanya “mie ayam bolong”. Saya tidak tahu nama resminya. Bahkan sampai sekarang. Dan bagi saya dan Andri, mie ayam bolong ini yang paling enak karena kami bisa makan tanpa keluar kampus.
Jadi, si bapak ini jualan mepet tembok Sanata Dharma. Temboknya berupa kombinasi beton dan kawat. Nah, di bagian bawah tembok kawat, ada sebuah lubang. Si bapak penjual akan mengangsurkan semangkuk mie ayam lewat tembok itu. Mahasiswa yang beli akan menerima dan makan secara lesehan di mana saja.
Saya masih ingat rasanya, bahkan sampai sekarang. Gurih yang mendominasi. Manisnya sedikit saja. Makanya saya jadi suka sekali. Harganya, nah kalau ini saya agak lupa, sekitar Rp6 sampai Rp7 ribu saja. Murah, dekat, dan bisa utang dulu. Bagi saya dan Andri, inilah yang paling enak di Jogja.
Andri bahkan pernah makan mie ayam bolong sampai 3 kali dalam sehari. Siang, sore, malam. Semata demi ngirit. Sisa uang di dompet sudah menjadi jatah bensin motor Honda Astrea lungsuran tetangganya.
Bagi kami, mahasiswa dengan uang serba mepet, mie ayam bolong lebih dari sebatas kawan. Ia sudah menjadi keluarga, yang bisa memahami kalau cacing di dalam lambung perlu asupan sesuatu yang nikmat.
Baca halaman selanjutnya: Makanan penjaga kesehatan mental.














