Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Mementahkan Stereotip Orang Ngapak Emosian dengan Tempe Mendoan

Ajeng Rizka oleh Ajeng Rizka
8 Maret 2020
A A
tempe mendoan bahasa jawa ngapak langka kencot lombo kawus artinya bahan tempe mendon warisan budaya tak benda barlingmas cakep kawasan orang ngapak ngapak emosian kasar mojok.co

tempe mendoan bahasa jawa ngapak langka kencot lombo kawus artinya bahan tempe mendon warisan budaya tak benda barlingmas cakep kawasan orang ngapak ngapak emosian kasar mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bukankah memberikan stigma emosian dan kasar pada setiap orang berdialek ngapak itu nggak pas? Soalnya hobi mereka adalah makan tempe mendoan yang lembek Coy!

Saya sering heran sama kawan-kawan saya yang ketawa mendengar orang sedang bercakap dengan dialek Jawa ngapak. Lucunya di mana sih? Hanya karena berbeda dengan dialek Jawa pada umumnya, ngapak nggak seharusnya jadi bahan cemoohan, toh orang Purwokerto juga banyak yang cakep dan kaya raya. Ciyeee~

Sebagai orang yang terlahir di salah satu kawasan dengan dialek ngapak begitu kental, telinga saya sudah terbiasa sejak kecil. Orang-orang di kawasan Mas Barling Cakeb (Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga, Cilacap, dan Kebumen) memang agak nyentrik dalam penggunaan bahasa Jawa.

Ada banyak kata-kata yang bagi orang dari kawasan ini akan sulit paham. Misalnya ketika mau goreng tempe mendoan dan minyaknya abis, mereka akan bilang,

“Jen, minyake langka koh!”

Langka itu artinya nggak ada. Jadi dalam kasus ini, seseorang sudah mencari minyak ke mana-mana tapi nggak menemukannya. Berbeda dengan pengertian “langka” dalam bahasa Indonesia yang artinya masih ada tapi jarang-jarang. Hewan langka itu hewan yang belum punah.

Belum lagi kata ikonik seperti kencot, lombo, dan kawus yang beda banget sama bahasa Jawa dialek bandek. Kalian yang sama sekali nggak ngerti bahasa Jawa dipastikan bakal roaming.

Dialek ngapak yang lebih sering diucapkan dengan suara lantang bahkan intonasi yang tinggi sering memicu kesalahpahaman. Nggak sedikit yang beranggapan kalau orang ngapak itu emosian, sukanya cekcok sambil ngomong kasar.

Bahkan buat ukuran saya yang sudah terbiasa, saya pernah salah paham sama kawan berdialek ngapak. Saya kira dia marah karena waktu saya ajak ngobrol dia bilang, “Brisik laaa!”

Alamak, kenapa jadi saya yang dimarahin sih.

Ternyata di Purwokerto, kadang ngatain orang itu kadang maksudnya bercanda. Teman saya yang menghardik tadi bahkan nggak punya muatan nilai sebal dalam melontarkan kata-kata. Ya udah biasa aja, katanya.

Selain dialek ngapak, hal yang paling bikin saya kangen dari Purwokerto adalah tempe mendoan. Walau tempenya setipis iman, tepungnya selembek bucin, tapi rasanya nggak ada yang ngalahin.

Apalagi kalau tempe mendoannya disandingkan dengan kecap pedas yang bumbunya khas itu. Subhanallah. Tuhan menciptakan medoan saat Dia sedang feeling good. Saya nggak heran kalau pemerintah Banyumas mengusulkan makanan ini sebagai warisan budaya tak benda.

Saya menulis ini sambil makan mendoan, FYI.

Iklan

Mendo dalam dialek ngapak biasa dipakai untuk mendeskripsikan perkara yang tanggung. Secara sederhana mendoan dalam bahasa artinya sesutu yang nanggung. Ini wajar karena tepung di tempe mendoan sengaja nggak digoreng dengan garing.

Sementara tempe kemul di Wonosobo harus digoreng sampai kriuk dan keras, mendoan dibiarkan jadi sebuah entitas lembek yang berminyak dan orng ngapak bangga akan hal ini.

Tempe mendoan adalah sajian irit dengan tempe super tipis dan cenderung pelit, tepung juga nggak lebar, cuma asal sudah tercelup, lalu goreng. Nggak perlu lama-lama menggoreng, cocok buat pengematan gas.

Saya rasa tekstur mendoan yang lembek bisa jadi senjata buat mematahkan anggapan kalau orang ngapak itu emosian bin keras-keras. Mana ada orang yang hobinya marah sukanya ngemilin tempe mendoan. Bakal terkesan cemen lah.

Orang yang karakternya emosian itu cocoknya menenggak kopi pahit, whisky, dan ngemilin alen-alen. Menandakan tekad yang kuat dan rahang yang tidak mudah disikat. Sementara orang berdialek ngapak, malah ngemilin tempe mendoan terus. Tentu saja ini membuktikan kalau aslinya mereka berhati lembut.

BACA JUGA Menguasai Dunia dengan Nasi Padang atau artikel menarik lainnya di POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 7 Maret 2020 oleh

Tags: dialek ngapaktempe mendoan
Ajeng Rizka

Ajeng Rizka

Penulis, penonton, dan buruh media.

Artikel Terkait

street food indonesia terbaik di dunia mojok.co
Hiburan

5 Makanan Indonesia yang Masuk dalam Daftar Street Food Terbaik di Dunia

7 Maret 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Dosa Indomaret yang Bikin Kecewa karena Terpaksa (Unsplash)

3 Dosa Indomaret yang Membuat Pembeli Kecewa tapi Bisa Memakluminya karena Keadaan lalu Memaafkan

21 Februari 2026
Toyota Avanza Perusak Gengsi, Gak Waras Gak Berani Beli MOJOK.CO

Toyota Avanza Bekas Perusak Gengsi, tapi Orang Waras Pasti Tidak Ragu untuk Membeli Mobil yang Ramah Ekonomi Keluarga Ini

24 Februari 2026
Makan bersama sia-sia: niat kumpul keluarga, tapi bikin ortu kesepian karena anak-anak sibuk main hp sampai tak nyahut saat diajak bicara MOJOK.CO

Kumpul Keluarga Justru bikin Ortu Makin Kesepian dan Terabaikan, Anak Sibuk sama HP dan Tak Saling Bicara

25 Februari 2026
5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
Peserta beasiswa LPDP bukan afirmasi tidak diafirmasi

Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang

21 Februari 2026
Gagal seleksi CPNS dan tidak tembus beasiswa LPDP untuk kuliah S2 di luar negeri pilih mancing, dicap tidak punya masa depan oleh keluarga MOJOK.CO

Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan

22 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.