Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kompleksitas Punya Istri Bersuara Nyaring dan Melengking

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
1 Juni 2020
A A
Membayangkan Dunia Tanpa Konser

Membayangkan Dunia Tanpa Konser

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kata banyak orang, suara yang melengking dan nyaring adalah hasil konstruksi dari perpaduan berbagai aspek, dari mulai lingkungan, sosial, sampai budaya.

Saya tak terlalu yakin dengan anggapan tersebut, walau memang pada kenyataannya, ada banyak pengakuan tentang hal itu.

Mamah Dedeh, dai perempuan yang wajah dan suaranya sudah pernah menemani jutaan ibu-ibu majlis ta’lim dari seluruh penjuru nusantara itu adalah salah satu sosok yang punya suara keras melengking. Suara yang kemudian membuat dirinya punya kesan galak dan judes.

Berdasarkan keterangan dari Abdel, tandemnya di acara Mama dan Aa’, suara Mamah Dedeh itu terbentuk karena sedari kecil Mamah Dedeh memang tinggal di dekat usaha penggilingan padi, sehingga sejak kecil ia terbiasa untuk ngomong kenceng agar tidak kalah dengan suara penggilingan padi.

Pada kasus yang lain, pemimpin legendaris Kamboja, Norodom Sihanouk itu juga dikenal sebagai sosok dengan suara yang nyaring lagi melengking. Tak sekedar itu, ia juga dikenal doyan nyerocos kalau sedang berbicara. Sempurna sudah. Nyaring dan nyerocos.

Dalam suatu kesempatan, istri Sihanouk, Norodom Monineath menjelaskan alasan kenapa suami tercintanya itu punya suara yang demikian. Penjelasannya sangat ilmiah namun juga jenaka.

“Kamboja itu lengang, penduduknya cuma enam juta. Karenanya Sihanouk mesti nyaring suaranya, sebab kalau tidak, negeri akan sunyi senyap.”

Apakah itu kemudian menjadi sebab sebenarnya kenapa Sihanouk punya suara yang nyaring? Tentu saja belum tentu. Namun alasan geografis yang meluncur itu boleh jadi memang punya benang merah.

Penduduk Korea atau Jepang, setidaknya melalui berbagai serial film, kita tahu punya suara yang keras dan di telinga kita terdengar sangat emosional.

Di berbagai drama Korea, kita menyaksikan betapa orang Korea kalau ngomong banyak yang suaranya kenceng.

Setali tiga uang, orang Jepang juga demikian. Film Crows Zero yang sangat populer itu bahkan dengan sukses mengamplifikasi fakta tentang suara yang keras dan nyaring itu.

Teriakan “Takiya Genjiiiiiiiieeehhh” atau “Serizawaaaaa!” itu entah kenapa menjadi sangat populer dan seolah mewakili tipikal suara orang Jepang. Suara yang seolah lahir dari orang dengan tenggorokan yang penuh dengan pasir.

Amplifikasi suara orang Jepang lewat film Crows Zero ini sampai memunculkan tebakan anekdotal tentang apa bahasa Jepangnya mengajak orang ngopi, tebakan yang jawabannya adalah “Ngopi Oraaaaaaaa?”

Untuk soal ini, contoh yang paling dekat dengan hidup saya saja tentu saja adalah istri saya sendiri. Kalis, istri saya punya suara yang sangat nyaring dan keras serupa penyanyi rock n roll Joan Jett.

Iklan

Bayangkan, saat ia sedang ngobrol dengan kawannya melalui sambungan telepon di ruang tengah, saya yang berada di luar rumah masih tetap bisa mendengarkan suaranya yang nyaring itu. Bahkan setelah pintu saya tutup, suaranya tetap terdengar sangat keras.

Bukan hanya saat menelpon, bahkan saat berbicara dengan saya pun, dalam keadaan setenang apa pun, suaranya terdengar sangat keras.

“Maaaas, sayurnya dihabisiiiiiin,” ujarnya saat menyuruh saya agar tidak menyisakan banyak nasi di piring.

Suaranya terdengar sangat intimidatif. Kalau saja saya tak tahu kalau suara itu keluar dari mulut istri saya, mungkin sudah jiper nyali saya.

Suara istri saya yang nyaring dan kencang membuat rumah yang saya tinggali lebih mirip lembaga pemasyarakatan alih-alih rumah, sebab suara Kalis memang lebih cocok sebagai suara yang meluncur dari sipir kepada tahanan alih-alih dari istri kepada suami.

Dulu, jauh sebelum kami menikah, saya pernah menanyainya tentang kenapa suaranya begitu nyaring. Jawabannya cukup membuat saya maklum. “Rumahku kan Blora, Mas. Blora itu hutan jati, jadi kalau ngomong harus kenceng,” jawabnya.

Jawaban yang kelak saya anggap sebagai omong-kosong belaka, sebab saat pertama kali saya mampir ke rumahnya, jelas sekali bahwa rumahnya berada di tengah perkampungan kota yang begitu padat, blas nggak ada hutan-hutannya.

“Suaraku nyaring dan keras saja kamu masih sering nggak nurut, apalagi kalau suaraku kalem,” kata Kalis defensif suatu kali.

Pernyataan tersebut membuat saya pasrah dan siap untuk menerima kenyataan, bahwa rumah kami masih akan terus menjadi lembaga pemasyarakatan. Entah sampai kapan.

Tapi tentu saja saya menikmatinya. Sebab saat ini, saya adalah “narapidana” yang mujur dan beruntung. Lha gimana, narapidana mana yang tiap hari dimasakin sambel pindang kemangi kualitet tinggi sama sipirnya?

Mungkin hanya di lembaga pemasyarakatan inilah, saya “dipenjara” seumur hidup, dan tak sudi mendapatkan remisi.

Terakhir diperbarui pada 7 Juni 2020 oleh

Tags: istrisuara
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Istri Super Jadi Budak Suami Pengangguran Kelas Premium MOJOK.CO
Esai

Derita Istri Jadi “Budak” Kasta Tertinggi Suami Pengangguran yang Lebih Mementingkan Burung Peliharaan ketimbang Anak dan Istri

28 Oktober 2025
Tupperware.MOJOK.CO
Ragam

Krisis Tupperware Membuat Emak-emak Khawatir, Stok Botol Baru Masih Banyak di Gudang

10 Januari 2024
Rindunya Laki-laki yang Ditinggal Pulang Sang Istri Terkasih MOJOK.CO
Kilas

Rindunya Laki-laki yang Ditinggal Pulang Sang Istri Terkasih

7 Januari 2024
Uneg-uneg dari Istri: Suamiku Tergila-gila dengan Game Online MOJOK.CO
Kilas

Uneg-uneg dari Istri: Suamiku Tergila-gila dengan Game Online

3 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Punya rumah besar di desa jadi simbol kaya tapi terasa hampa MOJOK.CO

Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

2 April 2026
Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang

8 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran” MOJOK.CO

Tiga Kali Gagal Seleksi CPNS, Pas Sudah Diterima Jadi ASN Malah Tersiksa karena Makan “Gaji Buta”

7 April 2026
Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

7 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.