Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)

Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)

Sembari mengerjakan skripsi, saya pernah “merantau” ke Jakarta, tepatnya di Tanjung Priok. Untuk tinggal, saudara dari bapak menampung saya. Rumahnya ada di Tambun, Bekasi. Dan, setiap perjalanan terasa seperti siksaan. Saya memutuskan untuk pulang ke Jogja, meski tetap menderita juga.

Saya lulus tahun 2011. Satu tahun sebelumnya, sebetulnya, mata kuliah saya tinggal skripsi saja. Tema sudah dapat dan mendapat izin dari dosen untuk saya sambi bekerja. Jadi, metode bimbingan saya saat itu sudah online, khususnya via email. Jauh melebihi zaman, kan.

“Kamu jadi ke Jakarta? Ngajar di mana?” Tanya dosen pembimbing saya.

“Jakarta Utara, Pak,” jawab saya sambil menyebutkan nama sebuah SMA swasta di Tanjung Priok.

“Udah dapat kos di dekat sekolah itu?”

“Nggak, Pak. Saya tinggal di Tambun, Bekasi. Bareng keluarga.”

“Itu jauh, lho. Kamu sudah pertimbangkan?”

Saya menjawab “sudah” untuk pertanyaan dari dosen saya itu. Namun, sebetulnya, saya tahu sekali kalau tinggal di Bekasi dan mengajar di Jakarta bagian utara bisa menjadi petaka. Tapi saat itu, dorongan untuk hengkang dari Jogja sudah kadung kuat.

BACA JUGA: Stasiun Pasar Senen Saksi Perantau Jogja “Ampun-ampun” Dihajar dan Dirampas Jakarta, Tapi Terlalu Cemas Resign buat Balik Jogja

Tidak pernah meninggalkan Jogja, ajakan kerja di Jakarta jadi sangat menarik

Saya belum pernah tinggal di daerah lain sebelumnya. Istilah “merantau” buat saya kala itu hanya sebatas berangkat subuh ke Klaten dan Solo, lalu malamnya pulang ke Jogja sebagai freelancer. Maka, tawaran untuk mencoba peruntungan di Jakarta sangat menarik.

Maka, malam hari setelah ngobrol sembari pamitan dengan dosen pembimbing, saya berangkat naik kereta ekonomi. Delapan jam lebih di kereta ekonomi, saya tidak bisa memejamkan mata. Saya menghabiskan separuh perjalanan duduk di ruang antar-gerbong untuk merokok. Jujur, malam itu, saya takut.

Ada rasa enggan meninggalkan Jogja. Apalagi, sebetulnya, saya juga mendapat tawaran bekerja di sebuah penerbitan. Namun, tawaran mengajar di Jakarta terlalu sayang untuk saya lepas. Apalagi, keluarga di Bekasi juga sangat welcome ketika saya mengabarkan “rencana dadakan” ini. 

Jadi, pada intinya, saya akan menjalani sebuah micro teaching di sebuah SMA swasta di Jakarta bagian utara. Kalau lolos, saya akan menjadi guru Bahasa Indonesia dengan kontrak khusus. Ini mengingat saya belum menyandang gelar S1. Jadi, si sekolah memberi saya semacam kelonggaran. Dan, saat itu, masih bisa.

Bayangan akan menjadi guru ini juga menjadi salah satu alasan saya gelisah. Pasalnya, sejak sebelum masuk kuliah, saya sudah menyatakan kepada orang tua untuk tidak menjadi guru. Maklum, kakak saya lulusan Pendidikan Bahasa Inggris dan langsung menjadi guru selepas lulus.

Namun, pada akhirnya, gengsi dan ego saya runtuh. Entah kenapa, selama beberapa bulan, banyak teman menawari saya jadi guru di Jakarta. Semesta tampak seperti memberi jalan. Yah, minimal itu yang saya rasakan. Untuk kemudian saya begitu muak jika mengingat lagi perjalanan dari Bekasi menuju Jakarta, khususnya Tanjung Priok.

Baca halaman selanjutnya: Menderita di Jakarta, pulang ke Jogja ya tetap menderita.

Siksaan selama 2 jam di atas sepeda motor, dari Bekasi ke Jakarta

Saya sampai di rumah saudara di Bekasi menjelang diri hari. Setelah memejamkan barang sejenak, kakak sepupu membangunkan saya. Dia yang akan mengantarkan saya ke Jakarta untuk micro teaching. Saya kira sudah tidur cukup lama. Padahal, saat itu, subuh saja belum. Sialan, saya cuma tidur satu jam.

Setelah mandi dengan air dingin yang terasa hangat padahal itu dini hari, kami berangkat. Saya ingat, sata itu, kakak sepupu saya mengantar saya naik Supra X. Motor yang saya siksa selama perjalanan dari Tambun Bekasi menuju Tanjung Priok di Jakarta.

Jalanan Tambun aneh sekali, pikir saya. Beberapa lokasi tidak memakai aspal, tapi semacam cor-coran besar. Sudah begitu, jauh sebelum matahari muncul, jalanan sempit, becek, dan rusak itu sudah penuh oleh pemotor. “Sama kayak kamu, mereka mau ke Jakarta. Banyak orang Bekasi kerja di Jakarta,” kata kakak sepupu saya.

Perjalanan perdana itu berlangsung selama dua jam. Saya sudah cukup sering naik motor dengan durasi panjang. Jogja ke Solo itu juga bisa dua jam kalau bawa motornya santai. Tapi ini, dari Bekasi ke Jakarta, setiap jengkal aspal adalah wilayah yang harus kamu pertahankan. Motor oleng tak peduli, yang penting kamu maju barang lima meter.

Pengendara di sana juga kadang nggak peduli kalau motor saling senggol. Pokoknya klakson nyala dulu, baru kemudian adu mulut sambil terus melaju pelan. Tak ada perkelahian. Mungkin mereka sama-sama sadar betapa bodohnya berkelahi ketika potensi terlambat masuk kantor ada di depan mata. Itu lebih mengancam, sih.

Saya sampai di SMA swasta itu pukul 06:15 tepat. Kami berangkat dari Bekasi pukul 04:00. Jadi, dua jam di atas motor itu jadi salah satu pengalaman horor yang pernah saya rasakan.

Sah jadi guru di Jakarta

Saudara sepupu saya langsung tancap gas menuju tempatnya bekerja. Saya tahu dia akan terlambat.

Singkat kata, saya menjalani micro teaching pukul 08:30 sambil menahan kantuk yang teramat sangat. Ada guru Bahasa Indonesia dan kepala sekolah yang menemani sekaligus menilai. 

Saya menjelaskan konsep piramida terbalik dan pentingnya kalimat pendek di depan para siswa yang akan menjalani ujian. Semua siswa menyambut dengan antusias karena dua hal ini bisa jadi semacam trik mengatasi soal-soal uraian. Para pengawas senang dan siang harinya, saya lulus ujian jadi guru Bahasa Indonesia di Jakarta.

Saya, sih, senang. Jujur, lega juga. Namun, sore harinya, saya sadar harus segera mengejar bus karena saya akan pulang sendiri ke Bekasi dan Tambun yang ajaib itu. Sialan. Kakak sepupu saya tidak bisa menjemput karena jam kerja yang tidak memungkinkan.

Lagi-lagi, siksaan perjalanan

Secara teori, naik bus dari Tanjung Priok ke Bekasi itu sekitar dua jam. Kalau tidak salah ingat, itu saja sudah masuk tol. Tolong koreksi kalau saya salah.

Sekitar pukul 18:00, saya sudah di dalam bus kota super reyot. Setiap tikungan yang ia libas, menghadirkan suara decit janggal dari bagian bawah. Ketika sopir menginjak rem, rasa-rasanya suspensi bus reyot ini akan copot dan memberontak. Seperti manula yang terpaksa masih harus bekerja karena ditelantarkan anak-anaknya.

Pengamen naik silih-berganti. Wajah mereka terlihat sangat kusut, tatapannya menerawang ketika menyanyi, dan suaranya seperti mengkhianati pita suara. Orang-orang Jakarta ini lelah dengan segala kebusukan hidup dan manisnya mimpi. Tapi akhirnya jatuh juga karena mimpi itu cuma pemanis tidur dan angan, bukan realita.

Perjalanan yang seharusnya sekitar dua jam itu berlangsung tak sesuai perkiraan. Entah kenapa saya dapat bus siput. Dan, celakanya, hari-hari saya ke depan akan terwarnai oleh bus menyebalkan seperti ini. Saya sampai di Bekasi setelah pukul 21:00. Capeknya setengah mati.

Saya masih harus naik ojek dari tempat bus berhenti sampai ke rumah saudara di Tambun. Jujur, pengalaman selama satu hari ini sebetulnya sudah sukses menghajar mental saya. Namun, saudara saya di Bekasi mengingatkan bahwa kehidupan itu sejatinya keras kalau kita lembek ke diri sendiri.

BACA JUGA: Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

Tak kuat, memutuskan kembali ke Jogja

Selama tiga bulan saya menjalani rutinitas yang sama. Dan saya yakin pekerja di Jakarta dan Bekasi pasti akrab dengan rutinitas ini: berangkat sebelum subuh, pulang di atas pukul sembilan malam. Saya sendiri mencapai titik lelah ketika dosen di Jogja meminta saya pulang.

Capeknya minta ampun ketika melahap jalanan dari Bekasi ke Jakarta. Namun, saya akhirnya bisa beradaptasi. Performa saya sebagai guru amatiran juga tidak begitu menyedihkan. Saya bahkan sudah melihat beberapa kos di dekat SMA tempat saya bekerja. Gaji saya masih cukup untuk membiayai kos.

Namun, saya harus pulang ke Jogja. Ternyata, pihak kampus tidak berkenan saya menyelesaikan skripsi sambil bekerja. Pihak kampus menganggap kalau saya bekerja dengan kontrak permanen. Dosen pembimbing tidak tahu akan aturan itu dan memang bukan salah beliau. Pasalnya, korespondensi kami untuk setiap revisi via email berjalan dengan baik.

Tapi ya sudah, saya pulang ke Jogja ketimbang perkara ini jadi panjang. Saya sedikit lega karena akan meninggalkan segala derita bernama “perjalanan” di Jakarta dan Bekasi. Namun nyatanya, selepas pulang ke Jogja, derita lain sudah menunggu. Namanya:

UMR Jogja.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota dan pengalaman yang menantang lainnya di rubrik POJOKAN.

Exit mobile version