Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kemarahan Sri Mulyani dan Kasus Baiq Nuril Bukti Perempuan Akan Selalu Direndahkan

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
16 Desember 2018
A A
Sri Mulyani dan Baiq Nuril MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kemarahan Sri Mulyani dan kasus Baiq Nuril akan selalu ditelan oleh kisruh politik, agama, dan olahraga. Perempuan dianggap “sekunder” belaka.

Kemarahan Sri Mulyani dan kasus Baiq Nuril adalah bukti perempuan akan selalu direndahkan. Bahkan sejak dalam pikiran, perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah. Bukan hanya secara fisik, melainkan secara pola pikir juga. Perempuan dianggap lemah dalam hal mempertahankan komitmen, misalnya.

Kalau sudah begitu, ditambah soal relasi kuasa, perempuan bakal selalu direndahkan. Nggak perlu sampai ngomongin kesetaraan dengan kaum adam, lha wong mendapatkan keadilan saja masih jauh. Ketika perempuan terlalu mudah ditempatkan sebagai “lapisan kedua” dalam sistem kehidupan, berbagai teriakan dan kampanye soal kesetaraan itu seperti kentut. Baunya menyengat, namun hanya sesaat.

Baru-baru ini, Sri Mulyani dibuat jengkel oleh pernyataan dari Anang Latif, Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kemenkominfo dalam acara peluncuran digitalisasi pembiayaan Ultra Mikro (UMi) di Dhanapala, Jakarta.

Latif, anak buah Rudiantara nampaknya berusaha menyelipkan candaan. Ia mengatakan bahwa bapak-bapak jangan sering ke luar kota karena dikhawatirkan istri akan menikah lagi. Berpidato di depan banyak orang memang bikin grogi. Oleh sebab itu, dibutuhkan ice breaking supaya tidak kaku dan lebih rileks ketika membawakan materi.

Namun, inilah yang justru berbahaya. Bahkan ketika bercanda saja, bapak-bapak dan kaum adam begitu mudahnya menempatkan seorang perempuan sebagai objek yang patut dicurigai. Lho kan cuma bercanda? Ini justru berbahaya. Ujaran seksis, yang bagi saya sudah masuk ke dalam ranah kekerasan terhadap perempuan, sudah tertanam di dalam lubuk hati paling dalam. Muncul secara “tidak sengaja” untuk memicu tawa banyak orang.

Setelah Latif berpidato, giliran Sri Mulyani. Selain berbicara soal tema yang dibicarakan, Sri Mulyani sekalian menegur Latif. Beliau berkata:

“Jokes-nya Latif, soal “Saya sering sampaikan supaya bapak-bapak jangan sering ke luar kota nanti istrinya nikah lagi”. Saya rasa itu jokes yang sangat seksis. Saya sampaikan ini sebagai bentuk keberpihakan kepada perempuan menjaga martabat mereka tidak hanya sebagai objek.”

“Ahh…cuma begitu saja marah, kamu bilang?”

Berikut bukti bahwa sesuatu yang busuk, yang sudah masuk ke dalam alam bawah sadar, menggerakkan manusia untuk meniadakan peran perempuan lebih lanjut:

Di acara peluncuran itu, ada sebuah video soal UMi yang diputar. Video tersebut hanya memuat laki-laki, padahal selama ini UMi paling banyak melibatkan perempuan. Tak ayal, Sri Mulyani juga menegur Direktur Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Marwoto Harjowiryono.

“Hanya yang saya sayangkan Pak Marwoto, video pertama dilihatkan bagaimana kredit ultra mikro itu semua laki-laki. Salah total itu. Salah sekali karena saya tahu, para pelakunya itu perempuan. Jadi tolong yang buat video pertama dikoreksi mindset-nya,” kata Sri Mulyani.

FYI, program UMi melibatkan 90 persen perempuan. Dan perempuan, ikut program UMi untuk membantu keuangan keluarga. Sudah berniat mulia, masih dinafikan perannya. Mindset, pola pikir manusia, mungkin sudah sejak zaman purba, akan selalu meniadakan keberadaan perempuan. Sampai sekarang, ketika korban dibuat menjadi pesakitan.

Kemarahan Sri Mulyani adalah sebuah penegasan dari kasus Baiq Nuril. Seorang guru honorer, ibu satu anak balita, korban kekerasan seksual, justru dijadikan pesakitan.

Iklan

Dan terjadi anti-klimaks, ketika Mahkamah Agung (MA) memvonis Baiq Nuril bersalah di tingkat kasasi. Padahal, sebelumnya, PN Mataram sudah membebaskan Baiq Nuril dalam kasus rekaman telepon antara Baiq Nuril dengan Muslim, atasannya. Dalam fakta persidangan terbukti Muslim sudah melecehkan Baiq Nuril.

Di mata MA, Baiq Nuril dianggap sudah mempermalukan Muslim dan keluarganya dengan membuka kasus pelecehan, yang dilakukan oleh Muslim sendiri. Mau dipikir pakai logika macam apa saja, putusan MA sungguh tiada masuk akal. Bagaimana mungkin, yang dilecehkan, justru dijadikan pesakitan atas dasar mempermalukan.

Seharusnya keluarga Muslim malu karena perbuatan anggota keluarganya sendiri. Melecehkan seorang perempuan jelas sudah salah. Ini masih “dilindungi” oleh logika cacat persidangan. Jangan salahkan jika kepercayaan masyarakat kepada sistem hukum di Indonesia semakin merosot karena cacat logika ini.

Sebelum marah kepada cacat logika di hukum Indonesia, marahlah kepada bagaimana Muslim dengan lincah “menggoda” Baiq Nuril lewat telepon. Ketika Muslim merasa yang ia lakukan tidak akan berdampak hukum (sosial), di situlah bukti bahwa keberadaan perempuan adalah sekunder, direndahkan, dan dikecilkan posisinya.

Ketika melecehkan perempuan sudah ada di alam bawah sadar, kampanye membela perempuan seperti kentut belaka. Baunya menyengat, namun hanya sesaat.

Netizen akan selalu jatuh hati dengan konten politik, agama, atau olahraga yang “ringan” saja, ketimbang terus-menerus menyuarakan kesetaraan gender.

Terakhir diperbarui pada 16 Desember 2018 oleh

Tags: Baiq Nurilkesetaraan genderseksissri mulyani
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Purbaya Hendak Selamatkan Petani, tapi Malah Dijegal (Rokok Indonesia:Ekosaint)
Pojokan

Niat Mulia Purbaya Mencegah Kematian Industri Tembakau Malah Dihalangi, Sementara Aksi Premanisme Sri Mulyani Memeras Keringat Petani Dibela

1 Oktober 2025
Sebaiknya Kita Berhenti Menganggap Guru Itu Profesi Mulia, agar Mereka Bisa Digaji Jauh Lebih Layak
Pojokan

Sebaiknya Kita Berhenti Menganggap Guru Itu Profesi Mulia, agar Mereka Bisa Digaji Jauh Lebih Layak

4 September 2025
sri mulyani, guru beban negara.MOJOK.CO
Ragam

Video Sri Mulyani soal “Guru Beban Negara” Memang Hoaks, tapi Isinya adalah Fakta

21 Agustus 2025
Indonesia krisis fatherless. MOJOK.CO
Ragam

Apresiasi untuk Ayah yang Antar Anak ke Sekolah Hanyalah Perayaan Simbolis, Pemerintah Belum Selesaikan Masalah Utama

15 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo, Tak Cuan Bisnis Melayang MOJOK.CO

Dua Kisah Bisnis Cuan, Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo yang Membuat Penjualnya Menderita dan Tips Memulai Sebuah Bisnis

15 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Olin, wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) pada 2025. MOJOK.CO

Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik

14 Januari 2026
Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.