Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Islam, Yahudi, dan Kristen Bersatu di Dalam Rompi United Hatzalah

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
8 November 2018
A A
Islam, Yahudi, Kristen, dan United Hatzalah MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Di tengah Israel yang banyak dari kamu benci, justru Islam, Yahudi ortodok, dan Kristen duduk bersama dalam balutan rompi oranye United Hatzalah.

Kamu sudah kenal dengan yang namanya United Hatzalah? Saya berani bertaruh kalau nama itu masih sangat asing di telinga kalian. Mungkin pengecualian bagi mereka yang mengikuti Nas Daily di Facebook.

Kamis (07/11) ketika Indonesia sedang gadung oleh pemberitaan Maria Ozawa dan kasus pemerkosaan mahasiswa salah satu universitas negeri di Yogyakarta, Nas Daily mengunggah sebuah video yang begitu “luhur”. Nas mengangkat sebuah masalah pelik di Israel, dan menurut saya, sangat dekat dengan masalah di Indonesia.

Masalah yang diangkat adalah susahnya mobil ambulans menembus kemacetan ketika merespons panggilan darurat. Jelas, jika terlambat, yang terjadi kemudian adalah telatnya melakukan pertolongan pertama. Ini bisa sangat fatal, apalagi jika panggilan darurat tersebut dikarenakan ada seseorang yang kena serangan jantung atau kecelakaan.

Nas Daily menggunakan sebuah gambaran yang sungguh tepat sasaran. Digambarkan ada sebuah keluarga yang sedang hiking di sebuah daerah terpencil. Salah satu anggota keluarga itu berusaha memanggil ambulans. Untuk mencapai keluarga yang tengah panik itu, ambulans harus bisa menerobos jalanan yang sempit, lagi macet. Ketika ambulans sampai di tempat, semuanya sudah terlambat.

Inilah masalah yang coba dicari solusinya. Di beberapa negara dengan banyaknya jalanan sempit dan kemacetan yang gila, misalnya di Jakarta, ambulans sangat sulit bermanuver. Ambulans tidak bisa bergerak secepat mungkin untuk menyelamatkan nyawa.

Prihatin dengan situasi tersebut, Eli Beer, membuat sebuah terobosan. Ia membangun sebuah usaha bernama United Hatzalah.

Alih-alih menambah jumlah mobil ambulans, Eli menggunakan motor untuk menerobos kemacetan. Motor, jelas lebih fleksibel ketika bermanuver di jalanan yang sempit. Apalagi ketika ada yang sein kiri, tapi malah belok kanan. Mobil sulit mengantisipasi kelakuan manusia dunia ketiga seperti ini. Motor lebih sat set.

Eli menyebutnya sebagai “ambucycle”. Motor ini dipersenjatai dengan suplai alat-alat kesehatan. Orang yang mengendarai juga dibekali dengan pelatihan dasar-dasar penanganan keadaan darurat selama berbulan-bulan sampai lumayan jago. Tujuan ambucycle adalah melakukan pertolongan pertama, mencegah kejadian fatal, dan menunggu ambulans mobil datang.

United Hatzalah tidak punya “pekerja kantoran” resmi. Semua yang terlibat adalah sukarelawan. Mereka adalah orang-orang biasa, seperti aku dan kamu. Mereka adalah guru, insinyur, dan mahasiswa.

Panggilan darurat yang masuk langsung diteruskan ke sukarelawan terdekat. Jadi, orang-orang biasa ini langsung menjelma menjadi penyelamat nyawa. Eli menyebutnya mirip Uber, namun semuanya gratis. Saat ini, sudah ada 4.000 sukarelawan di beberapa negara.

Nah, di sini menariknya. Sukarelawan United Hatzalah berasal dari beragam latar belakang, terutama agama. Maklum, ini penting untuk ditegaskan karena perbedaan soal agama tengah menjadi perdebatan yang panas yang cenderung tidak sehat. Di kantor United Hatzalah, Islam, bisa duduk berdampingan dengan Yahudi ortodok dan Kristen.

Israel, selama ini, dianggap sebagai musuh banyak pihak, terutama dengan latar belakang sentimen agama dan ras. Kalau menyebut nama “Israel”, yang terbayang adalah “Palestina” dan kekerasan selama bertahun-tahun. Namun, tentunya kamu tahu kalau tidak semua orang di Israel itu suka dengan kekerasan. Bahkan banyak di sana yang mengutuk kebijakan negaranya yang “suka menindas” itu.

Orang-orang inilah, mereka yang Islam, Yahudi ortodok, dan Kristen, bisa mengesampingkan perbedaan dan duduk bersebelahan. Mereka bersatu dalam sebuah bingkai yang sama, yaitu menyelamatkan nyawa manusia.

Iklan

Saya jadi teringat kata mendiang Gus Dur bahwa, “Tidak penting apa agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.”

Saya rasa, jika kalimat sakti ini diendapkan dan dipegang sebagai sebuah amalan, dunia ini sudah selesai dengan “peperangan”. Indonesia sedang “sakit” karena politik yang menyeret agama dan kepercayaan di dalamnya. Mereka yang tidak segolongan atau satu agama, dipandang sebagai orang yang perlu “dihijrahkan”. Kalau tidak mau, langsung mendapat status musuh.

Di tengah sebuah negara yang dibenci, mereka, pemeluk Islam, Yahudi ortodok, dan Kristen bisa bersatu. Akal sehat, berkah istimewa dari Tuhan, dimanfaatkan secara paripurna. Yang didahulukan bukan “Apa agamamu?”, tetapi “Ada yang bisa aku bantu, kawan?”

United Hatzalah, di tengah Israel yang banyak dari kamu benci, justru mengajarkan cara bersikap, cara menjadi manusia seutuhnya. Islam, Yahudi ortodok, dan Kristen duduk bersama, saling membantu untuk menyelamatkan nyawa. Nikmat Tuhan mana lagi yang mau kamu dustakan?

Terakhir diperbarui pada 24 September 2025 oleh

Tags: Gus DurIslamKristenUnited Hatzalah
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO
Esai

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen yang Nggak Perlu Ngomongin Toleransi MOJOK.CO
Esai

Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen Kok Nggak Ngomongin Toleransi

2 Februari 2026
Cerita Kebiasaan Orang Jawa yang Bikin Kaget Calon Pendeta MOJOK.CO
Esai

Cerita Calon Pendeta yang Kaget Diminta Mendoakan Motor Baru: Antara Heran dan Berusaha Memahami Kebiasaan Orang Jawa

21 November 2025
Katolik Susah Jodoh Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami MOJOK.CO
Esai

Cari Pasangan Sesama Katolik itu Susah, Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami

13 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026
Mudik ke desa naik mobil pribadi Honda Brio, niat ikuti standar sukses dan pencapaian hidup tapi tetap dihina MOJOK.CO

Mudik ke Desa Naik Mobil Honda Brio Hasil Nabung karena Muak Dihina, Berharap Dicap Sukses Malah Makin Direndahkan

2 Maret 2026
lulusan s2 pilih slow living agar siap hadapi perang dunia 3. MOJOK.CO

Lulusan S2 IT, Rela Tinggalkan Gaji 2 Digit demi Jadi Peternak di Desa agar Siap Hadapi Perang Dunia 3

3 Maret 2026
Hijau miskin, warna yang tidak disukai gen Z

Warna “Hijau Miskin” Dianggap Norak, Tidak Disukai Gen Z padahal Dipakai Banyak Orang dan Harganya Murah

2 Maret 2026
Ilustrasi Supra X 125 Tua Bangka Tahan Siksaan, Honda Beat Memalukan (Wikimedia Commons)

Supra X 125: Motor Tua Bangka yang Paling Tahan Disiksa, Modelan Honda Beat Mending Pensiun karena Memalukan

2 Maret 2026
Pantai Drini, Gunungkidul kehilangan keasrian dan identitas. Korban wisata Jogja yang dimirip-miripkan dengan Bali MOJOK.CO

Pantai Drini Gunungkidul Kehilangan Identitas dan Keasrian Alami, Korban Wisata Jogja yang Dimirip-miripkan Bali

5 Maret 2026

Video Terbaru

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026
Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

3 Maret 2026
Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.