Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Film Final Destination dan Paranoia yang Tak Kunjung Hilang

Prima Sulistya oleh Prima Sulistya
22 Desember 2019
A A
final destination film horor trauma paranoid paranoia mojok.co

final destination film horor trauma paranoid paranoia mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Saya sedang coba mengingat-ingat, apa sih film horor paling menakutkan yang pernah saya tonton. Makmum (2019) bisa dibilang sangat mengerikan dan bikin orang takut salat sendirian. Tapi setelah merenung lama, saya mendaulat Final Destination sebagai film horor paling bajingan sepanjang masa.

Bukan cuma bikin takut, Final Destination menyisakan trauma yang tidak akan hilang bahkan puluhan tahun setelah menontonnya. Rasa-rasanya, tak ada film yang lebih bikin gilo dibanding film ini.

Buat yang belum pernah nonton, film yang pertama kali rilis tahun 2000 ini bercerita tentang sekelompok anak muda yang selamat pesawat yang meledak karena mereka batal naik di detik-detik terakhir. Salah seorang dalam kelompok mendapat penerawangan bahwa jika mereka naik pesawat itu, mereka semua akan mati.

Inti film ini adalah orang tak bisa menghindar dari takdir kematiannya. Akibatnya, sejak lolos dari kecelakaan pesawat tersebut, satu per satu orang di kelompok itu mati secara tragis lewat kejadian tak terduga. Di film-film lanjutannya yang total berjumlah 5 buah, premisnya selalu dimulai dengan penghindaran dari kematian yang berujung orang-orang itu mati juga.

Masalahnya cara matinya ngenes semua. Ada yang mati karena pas bermobil, tiba-tiba ditabrak truk yang bawa muatan gelondongan. Ada yang mati karena ketancap paku. Ada yang mati karena kepalanya terlempar kerikil yang mental pas kesenggol mesin potong rumput.

Cara mati yang melibatkan barang dan kejadian sehari-hari itu membuat saya sangat paranoid di sejumlah momen.

Misalnya, saya selalu ketakutan kalau bermotor di belakang pikap atau truk yang membawa barang-barang gelondongan. Entah itu kayu-kayu besar, lebih lagi kalau balok beton. Makin parno jika muatan itu posisinya sampai keluar dari bak mobil.

Di mata saya, tanda segitiga pengaman yang digantung di ujung muatan seketika menjadi sirine untuk segera menghindar. Kalau bisa nyalip, ya langsung nyalip. Kalau tidak memungkinkan, mending saya memelankan kendaraan biar mobil di depan segera menjauh.

Di lain waktu, saat sedang menunggu boarding pesawat atau tengah berada dalam kereta melaju, selalu saja datang bayangan pesawatnya akan kecelakaan atau keretanya terguling. Gara-gara film bajingan ini, saya juga tidak akan pernah berani naik roller coaster karena ada adegan wahana permainan ini keluar dari relnya.

Adegan dua orang gadis yang hendak tanning (menggelapkan kulit) dengan cara masuk ke dalam tabung terus listriknya korslet dan tabungnya meledak juga tak pernah lepas dari ingatan saya. Saya hakulyakin, kalau kelak saya harus masuk mesin MRI, pasti adegan inilah yang pertama kali terbayang.

Untunglah, sudah lama sekali saya berdekatan dengan aktivitas memotong rumpuk menggunakan mesin. Semasa SMA, jika ada petugas kebersihan sedang motong rumput di halaman sekolah, saya memilih ngibrit sejauh-jauhnya karena horor ada kerikil yang mental menembus kepala saya.

Saya rasa sudah betul genre film horor saat ini berkutat pada makhluk gaib saja. Toh kalau ditakut-takuti hantu, saya masih bisa tenang karena merasa tidak punya kemampuan melihat hantu. Lha kalau film sejenis Final Destination masih diproduksi, apa jadinya akidah saya. Harusnya takut hanya sama Allah, ini kok merembet ke takut pada mesin pemotong rumput dan mobil pikap segala.

BACA JUGA Kejadian Horor di Bioskop saat Nonton Film Horor atau artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 22 Desember 2019 oleh

Tags: film hororfinal destinationkematian
Prima Sulistya

Prima Sulistya

Penulis dan penyunting, tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

Lula Lahfah Beri Pelajaran Penting tentang Kabar Duka: Saat Kematian Tak Dibiarkan Hening MOJOK.CO
Esai

Lula Lahfah Beri Pelajaran Penting tentang Kabar Duka: Saat Kematian Tak Dibiarkan Hening

28 Januari 2026
Membongkar Alasan Film Horor Indonesia Suka Munculkan Hantu Kayang MOJOK.CO
Ragam

Di Film Horor Indonesia Kiwari, Puncak Kengerian Hantu adalah Ketika Sudah Jalan Kayang

6 November 2024
Wanita Rembang Menanti Suami yang Tenggelam di Laut MOJOK.CO
Catatan

Pilunya Wanita Rembang, Tetap Menanti Suami Pulang Meski Telah Tenggelam di Laut dan Tak Pernah Ditemukan

29 Februari 2024
Penjual Peti Mati Cerita Tanda-tanda di Luar Nalar Sebelum Dagangannya Laku MOJOK.CO
Liputan

Penjual Peti Mati Cerita Tanda-tanda di Luar Nalar Sebelum Dagangannya Laku

31 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
Motor Vespa Matic Primavera 150 warna hijau toska

Beli Vespa Mahal-mahal sampai Rp50 Juta, tapi Tak Paham Fungsinya, Dibeli karena Warnanya Lucu

19 Februari 2026
papua.MOJOK.CO

Tolak Tawaran Kerja di Amerika Demi Mengajar di Pelosok Papua, Berambisi Memajukan Tanah Kelahiran

18 Februari 2026
Buka puasa di Blok M saat bulan Ramadan

Blok M Jadi Tempat Buka Puasa yang Dianggap Keren, tapi Terancam Gagal Puasa Keesokan Hari

16 Februari 2026
Toxic sibling relationship antar saudara kandung karena rebutan sertifikat tanah. Saudara kandung bisa jadi mafia tanah soal warisan MOJOK.CO

Saudara Kandung di Desa Itu Bak Mafia, Justru Jadi Orang Paling Busuk dan Licik demi Sikat Sertifikat Tanah Saudara Sendiri

20 Februari 2026
kuliah di austria, rasisme.MOJOK.CO

Kuliah di Austria Bikin Kena Mental: Sistem Pendidikannya Maju, tapi Warganya “Ketus” dan Rasis

20 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.