Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Prabowo Ingin Me-Roasting Jokowi? Begini Caranya

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
2 November 2018
A A
prabowo rosting jokowi MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bermain-main dengan kebodohan, kekonyolan, dan isu agama sudah nggak seksi. Saatnya kubu Prabowo me-roasting Jokowi dengan cantik.

Beberapa hari yang lalu, bahkan mungkin hingga saat ini, Mojok dianggap sebagai corong Jokowi. Apakah kami memihak Jokowi? Hmm…biarlah itu menjadi rahasia hingga akhir zaman. Satu hal yang pasti, kami memihak kebodohan. Maksudnya, kami akan bersorak kegirangan ketika salah satu pasangan kubu calon presiden-wakil presiden membuat kebodohan.

Mengapa begitu? Ya karena kami butuh asupan kebodohan para politisi karena itulah sumber tulisan yang Mojok-able. Saya dan teman-teman redaktur pernah berbicara di depan berbagai forum perihal masalah ini. karena kebutuhan membuat konten yang Mojok-able dan enak untuk ditertawakan, kami jadi seperti condong kepada Jokowi.

Itulah masalahnya. Banyak berita soal kekonyolan dan kebodohan berasal dari kubu Prabowo dan Sandiaga Uno. Seperti misalnya soal masalah stunt man Jokowi ketika Asian Games 2018, Fadli Zon menggubah lagu anak-anak secara serampangan, kasus kebohongan Ratna Sarumpaet, hingga fetisme Sandiaga Uno kepada tempe. Itu kejadian-kejadian yang sungguh menyenangkan untuk digoblok-goblokkan.

Kami sih sayang Prabowo dan Sandiaga. Bahkan ketika ada artikel yang ditulis untuk membela pasangan calon nomor 2 itu, kami pun memuatnya dengan bahagia. Masalahnya, jumlahnya sangat sedikit. Serangan kepada Jokowi pun lebih banyak menyerang personal yang cenderung hoaks. Misalnya soal Jokowi dan PKI, atau ketidakmampuan Jokowi berbahasa Inggris secara lancar. Itu serangan-serangan yang kuno dan mudah diserang balik. Kurang menggigit.

Masalah kedua, ketika kubu Prabowo diminta memaparkan ide, yang ada justru menjelaskan secara menggebu-gebu bahwa saat ini “Indonesia sedang sakit”, “Ekonomi makin sulit”, “Orang miskin nggak bisa masuk hotel”. Plis deh, mbok yang spesifik. Prabowo mau ngapain kalau jadi presiden. Jelaskan secara jernih dan nggak perlu ndakik-ndakik. Audience butuh sesuatu yang sederhana dan dekat dengan mereka.

Banyak politisi yang bilang rakyat sudah cerdas. Tetapi, yang dimaksud itu rakyat yang mana? Kalau yang kelas ekonomi menengah, mereka nyaman-nyaman saja. Lha wong masih bisa rutin nge-gym setelah ngantor. Kelas ekonomi bawah? Mareka jarang terpapar internet secara intensif. Kebanyakan sudah ribet dengan bekerja dan mencicil utang. Durasi berselancar di internet yang sangat sedikit itu perlu dimaksimalkan kubu Prabowo secara efektif.

Soal agama? Sudahlah, itu jualan yang semakin hari semakin basi. Rakyat, ketika dijejali soal agama, makin lama bakal jengah. Bahkan bisa berbahaya ketika terjadi benturan horizontal. Efeknya bisa sangat buruk untuk citra Prabowo.

Pola ini memang sukses di Pilkada DKI. Namun, tidak ada jaminan bakal sukses di Pilpres 2019 karena hingga saat ini, elektabilitas Jokowi masih lebih dari 50 persen. Milenial itu dinamis. Jejalan isu agama bisa mengusik dinamisnya pola pikir mereka. Kalau sudah jengah, meski sebetulnya tak suka, mereka akan beralih ke Jokowi.

Nah, bagaimana cara me-roasting Jokowi secara lebih elegan dan efektif? Yang pertama perlu dilakukan adalah mengurangi aksi-aksi kebodohan dari para kader dan pendukung.

Fadli Zon, misalnya, kurang-kurangi menggubah lagu anak atau berkomentar yang bikin kontroversi. Saya yakin Pak Fadli itu berpendidikan tinggi. Pastinya punya “strategi dagang” yang lebih ciamik. Sandiaga Uno, jangan lagi “tempa-tempe” lagi. Itu fetisme yang aneh, Pak. Intinya kurangi aksi-aksi konyol.

Kepada para pendukung Prabowo se-Indonesia, jangan lagi menggunakan isu SARA. Itu sangat tidak elegan. Mulai masuk ke hal-hal yang praktis dan bisa dilakukan ketika terpilih. Misalnya me-roasting Jokowi soal Jembatan Suramadu. Serang di bagian money politic, jangan hanya berteriak soal pencitraan saja.

Begini, Prabowo dianggap melakukan money politic ketika membagi-bagikan buku berjudul Paradoks Indonesia. Counter kubu Jokowi dengan penggratisan Jembatan Suramadu. Pihak petahana bisa berkelit bahwa kebijakan tersebut merupakan kebijakan negara. Namun, di tengah tahun politik ini, hal tersebut menjadi samar. Ini memang keuntungan petahana. Jadi, serang kekuatan petahana ini secara efektif.

Misalnya dengan memberikan contoh konkret. Ketika harga BBM naik, Jokowi tidak berani maju ke depan mimbar untuk mengabarkan “kabar buruk” itu. Namun, ketika menyampaikan kabar yang positif untuk citranya, capres yang berpasangan dengan Ma’ruf Amin tersebut akan muncul paling depan. Ini efektif mendongkrak level kesukaan warga kepada petahana.

Iklan

Serang dengan tajuk “Jokowi melakukan money politics dengan berlindung di balik kebijakan negara”. Gaungkan seluas mungkin. Bikin warga percaya bahwa aksi petahana tidak sepenuhnya “bersih”. Kalau mendapatkan umpan balik yang positif dari calon pemilih, gunakan strategi yang sama untuk mengkritisi kebijakan yang baru dari pemerintah. Misalnya dengan pertanyaan dasar: “Mengapa baru melakukannya di tengah tahun politik?”

Lalu, cara kedua adalah sambut kegelisahan “warga kecil” dengan cantik. Kemarin, Forum Guru Honorer K2 Indonesia (FHK2I) gusar ketika unjuk rasa mereka diabaikan Jokowi. Saking geramnya, para guru honorer mengancam tidak akan memberikan suara mereka kepada petahana di Pilpres 2019.

Ini kesempatan yang baik untuk merangkul guru honorer, yang jumlahnya banyak dan nasibnya seperti dimarginalkan sejak lama. Ini saatnya bagi pendukung sang penantang untuk memaparkan dan menggaungkan kebijakan-kebijakan strategis terkait guru honorer dan dunia pendidikan.

Yang ingin dikejar bukan suara guru honorer belaka, tetapi simpati rakyat bahwa Prabowo punya rencana positif untuk mereka. Bukan lantas teriak-teriak Jokowi nggak peduli rakyat kecil saja. Paparkan ide. Jika berhasil, istilah “guru honorer” bisa diganti dengan “para petani”, “para nelayan”, “para buruh”, dan lain sebagainya. Jadi semuanya saling terkait.

Dengan begitu, rakyat tahu bahwa Prabowo punya rencana, bukan hanya bisa ngamuk-ngamuk saja menunjukkan “yang katanya kedisiplinan dan ketegasan” saja. Rakyat lelah ditekan. Rakyat butuh sesuatu yang konkret. Terlalu lama bermain dengan serangan yang tumpul, kubu penantang akan ketinggalan gerbong suara Pilpres 2019.

Saya pikir, dua contoh di atas sudah cukup. Cara-cara me-roasting ini jauh lebih efektif dan memikat di mata rakyat. Jangan lagi unjuk kebodohan dan kekonyolan. Komedi yang diulang-ulang bakal menjemukan. Kalau ke depan masih unjuk kebodohan dan kekonyolan, ya kita tahu kualitas sang penantang, bukan?

Terakhir diperbarui pada 2 November 2018 oleh

Tags: jokowiPilpres 2019prabowo
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO
Ragam

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Hentikan MBG! Tiru Keputusan Sleman Pakai Duit Rakyat (Unsplash)
Pojokan

Saatnya Meniru Sleman: Mengalihkan MBG, Mengembalikan Duit Rakyat kepada Rakyat

19 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ibu yang sudah menua sering diabaikan anak

Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya

13 Februari 2026
Anomali pengunjung toko buku sekarang bukan baca, malah foto

Anomali Pengunjung Toko Buku Hari Ini: Outfit Foto Elite, Beli Buku Sulit

11 Februari 2026
Malioboro, Jogja, aksi demo.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Luncurkan Program ‘Setu Sinau’ di Malioboro, Wisatawan Kini Bisa Belajar Budaya Sambil Jalan-Jalan

12 Februari 2026
Pembeli di Pasar Jangkang, Sleman. MOJOK.CO

Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak

9 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026
3 Kuliner Jogja yang Tidak Lagi Merakyat- Mahal dan Berjarak (Wikimedia Commons)

3 Kuliner Jogja yang Tidak Lagi Merakyat: Ketika Lidah Lokal yang Murah Direbut oleh Lidah Wisatawan yang Dipaksa Mahal

11 Februari 2026

Video Terbaru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026
Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.