Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Betapa Susahnya Menjelaskan Pekerjaan Kepada Orang Tua

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
11 Maret 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kalau pekerjaannya ABRI, dokter, arsitek, guru, tentu mudah untuk menjelaskannya kepada orangtua, tapi kalau Buzzer, Influencer, freelancer, dan -er -er lainnya, tentu tak semudah itu.

Saya sedang duduk di sebuah warung penyetan pecel lele, menunggu pesanan makanan saya datang, sebab saat itu, baru teh anget dan air kobokannya saja yang sudah disajikan di atas meja. Di seberang saya, duduk seorang lelaki setengah baya yang juga sama-sama sedang menunggu pesanannya datang.

Mungkin karena dilandasi jiwa korsa sebagai sesama lelaki yang kelaparan tapi makanan belum datang, ia kemudian berbasa-basi membangun percakapan dengan saya.

“Kuliah di mana, Mas?” tanyanya.

Saya, dengan tampang yang sebenarnya sangat tidak akademik, agak tersinggung. Maklum, sebagai anak yang nggak pernah kuliah, ditanya kuliah di mana rasanya memang agak anyel. Rasanya pengin saya bales, “Lha kalau sampeyan jadi dosen di mana?”, tapi tentu saja itu urung terjadi.

“Nggak kuliah, Pak. Saya kerja.”

“Ooo, kerja apa, Mas? Di mana?”

Nah, jika pertanyaan pertama bikin saya anyel, maka pertanyaan kedua ini bikin saya bingung. Maklum saja, setiap kali ditanya kerja di mana, saya memang selalu butuh waktu ekstra untuk berpikir mencari jawabannya. Bukan karena pekerjaan saya nggak punya nama, tapi karena saya bingung, bagaimana menerangkan pekerjaan saya.

Begini, saya bekerja sebagai seorang redaktur di sebuah media online. Media yang sedang Anda baca sekarang ini. Masalahnya, tidak mudah menjelaskan profesi ini. Pengin bilang wartawan, tapi saya bukan wartawan. Pengin jawab jurnalis, tapi saya merasa kata “jurnalis” masih terlalu asing.

Pada akhirnya, jawaban yang saya berikan adalah jawaban “dusta” yang saya anggap paling mudah dan paling mewakili pekerjaan saya walau secara teknis agak berbeda.

“Kerja di penerbitan buku, Pak. Jadi tukang ngedit naskah.”

* * *

Menjawab pertanyaan “kerja apa?” di jaman sekarang memang pada titik tertentu bukanlah hal yang mudah. Di era digital seperti sekarang ini, banyak pekerjaan baru yang kadang memang susah untuk dipahami oleh orang-orang tua.

Sebelum bekerja sebagai redaktur, saya sempat bekerja sebagai blogger. Ehm, sebenarnya bukan pekerjaan juga, sih, tapi karena saat itu, itulah “kegiatan” yang menghasilkan uang bagi saya, jadi saya akui saja itu sebagai pekerjaan.

Iklan

Nah, menjelaskan blogger sebagai pekerjaan itu adalah sebuah kesulitan tersendiri. Bayangkan, bagaimana menjelaskan apa itu blogger kepada orang yang bahkan tidak tahu apa itu internet.

Itulah sebabnya saya mengaku sebagai penulis kalau bapak saya nanya. Dan itu kadang membawa saya pada permasalahan yang lain, sebab bapak saya tampaknya tak terlalu suka dengan pekerjaan menulis. Bapak saya menganggap bahwa menulis adalah hobi belaka, bukan pekerjaan.

Bapak saya memang ingin sekali saya bekerja yang “benar-benar kelihatan kerja”. Semacam pekerjaan yang, apa ya, pokoknya semacam kerja yang ada seragamnya, lah. Padahal kalau bapak saya mau lebih sering menonton serial Spongebob Squarepants, bapak saya pasti paham satu kata mutiara dari Squidward bahwa seragam adalah simbol penindasan.

Beruntung, dari ngeblog, saya bisa menghasilkan uang yang lumayan, uang yang bisa saya belikan televisi, mesin cuci, kulkas, dll sehingga bapak saya mulai “merestui” pekerjaan saya yang penulis itu.

Ketika kemudian saya bekerja sebagai redaktur di media online, kesulitan menerangkan pekerjaan ini kembali menjadi rutinitas saya sehari-hari.

* * *

Tak bisa kita mungkiri bahwa memang era digital banyak melahirkan profesi-profesi baru yang kerap tidak mudah dimengerti oleh orang-orang tua, apalagi yang tidak melek teknologi. Jangankan orang tua, bahkan untuk menjelaskan pekerjaan yang agak rumit, misal programmer atau layouter kepada kawan sendiri yang usianya sepantaran saja kadang kita begitu kesulitan untuk mencari kata-kata yang termudah.

Beberapa profesi baru muncul seiring dengan kebutuhan di era digital. Bisnis jual beli online, misalnya, melahirkan satu profesi baru bernama sprinter, yakni orang yang mengambil paket dari penjual untuk kemudian menyebarkannya ke counter-counter ekspedisi.

Bisnis kampanye digital melahirkan profesi buzzer dan influencer, dua profesi yang cukup sering membikin orang bingung untuk menjelaskannya.

Berbagai profesi ini muncul tanpa banyak diduga oleh banyak orang. Jasa apa pun ada. Bahkan untuk sekadar bikin caption Facebook atau Instagram pun ada yang siap mengerjakannya. Dan kelak, aneka profesi yang “aneh” itu bakal membawa konsekuensi berupa kesulitan menerangkan pekerjaannya kepada orangtua atau calon mertua.

Kalau tidak diterangan dengan detail, hal tersebut mampu melahirkan polemik tersendiri. Seorang kawan pernah ditanya oleh seorang petugas kecamatan tentang pekerjaannya. Ia menjawab “penulis”. Sesaat setelah menjawab pertanyaan tersebut, si petugas kemudian langsung pasang tampang ramah. Padahal sebelumnya, wajahnya sengak bukan kepalang.

Belakangan diketahui kalau si petugas kecamatan mengira kalau pekerjaan penulis itu ya wartawan. Sehingga ia takut kalau ia bersikap tidak ramah, niscaya bakal ditulis di media.

Modiar.

Seorang kawan saya yang lain, yang kebetulan juga penulis punya nasib yang nggak jauh berbeda. Ketika ia menjawab profesinya sebagai “penulis”, orang yang tanya itu langsung menimpali, “Oalah, sekretaris.”

Ah, betapa susahnya hal yang sebenarnya simpel begini.

Saya jadi nggak bisa bayangin bagaimana kawan-kawan saya yang bekerja sebagai admin sosial media menjelaskan pekerjaannya.

“Kamu kerjanya apa, Dek?”

“Admin sosial media, Bu.”

“Admin sosial media? Itu kerjanya ngapain?”

“Ya ngurus Facebook, Twitter, sama Instagram.”

“Oalah, anak muda sekarang ya, bukannya kerja, malah Facebookan.”

Terakhir diperbarui pada 11 Maret 2020 oleh

Tags: kerjapekerjaan
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

7 Ciri Pimpinan yang Menjengkelkan dan Tidak Profesional | Semenjana Eps. 10
Video

7 Ciri Pimpinan yang Menjengkelkan dan Tidak Profesional | Semenjana Eps. 10

3 April 2025
Kapan Saatnya Keluar dari Pekerjaan? | Semenjana Eps. 1
Video

Kapan Saatnya Keluar dari Pekerjaan? | Semenjana Eps. 1

13 Februari 2025
Mentorship Club: Jalan Keluar Bagi Kalian yang Lagi Bingung Cari Solusi Masalah Karier.MOJOK.CO
Pendidikan

Mentorship Club: Jalan Keluar Bagi Kalian yang Lagi Bingung Cari Solusi Masalah Karier

23 September 2024
Mencari Jawaban Kuliah untuk Cari Ilmu vs untuk Cari Kerja, Sebuah Perdebatan yang (Dipaksa) Lestari
Kampus

Mencari Jawaban Kuliah Cari Ilmu vs Cari Kerja, Sebuah Perdebatan yang (Dipaksa) Lestari

13 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jakarta membunuh nurani kemanusiaan MOJOK.CO

Jakarta Kota “Pembunuh” Nurani: Orang Jatuh malah Ditekan, Lebih Ringan Beri Makan Anak Kucing ketimbang Anak Manusia yang Kelaparan

16 Februari 2026
Lulusan SMK ngaku dapat gaji 20 juta saat kerja di Sidoarjo agar orang tua tidak direndahkan karena standar sukses di desa MOJOK.CO

Lulusan SMK Ngaku Kerja Gaji 20 Juta Perbulan agar Ortu Tak Direndahkan, Tapi Masih Tak Cukup buat Ikuti Standar Sukses di Desa

12 Februari 2026
Kuliner Jawa terbaik yang penemunya patut diberi ucapan terima kasih. Dari pecel hingga penyetan MOJOK.CO

3 Kuliner Jawa yang Penemunya Harus Diucapin “Terima Kasih”: Simpel tapi Solutif, Jadi Alasan Orang Tak Mati Dulu

16 Februari 2026
Jadi LO sertifikasi kerja rawan bujukan wanita simpanan

Jadi LO Sertifikasi Kerja di Jogja, Kena Modus “Eksplor Jogja” Berujung Bujukan Jadi Wanita Simpanan

12 Februari 2026
Dating apps jadi pelarian menemukan pasangan untuk memulai hubungan baru

Mencari Kasih Sayang Semu di Dating Apps, Pelarian dari Kesepian dan Rasa Minder usai Sering Dikecewakan di Dunia Nyata

13 Februari 2026
slow living, jawa tengah.MOJOK.CO

Omong Kosong Slow Living di Jawa Tengah: Gaji Kecil, Tanggungan Besar, Ditambah Tuntutan “Rukun” yang Bikin Boros

11 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.