Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Banyak Bualan di Jalan Kaliurang Atas

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
2 Februari 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Selalu ada iklan lucu lagi membual yang bisa kita temukan di berbagai sudut jalan Kaliurang atas. Salah satu jalan paling legendaris dan penuh kenangan bagi banyak warga Jogja.

Salah satu yang paling saya ingat tentu saja adalah iklan-iklan perumahan di sekitaran wilayah Kaliurang atas yang selalu membual tentang jarak.

“Hanya 10 menit dari bandara”, begitu tulis iklan perumahan yang plangnya berdiri tegak dengan sangat menantang. Copywriting yang tentu saja selalu membuat batin saya berteriak.

Lha gimana, sepanjang saya hidup di Jogja, perjalanan dari kaliurang atas ke bandara baik menggunakan motor maupun mobil, baik sendiri maupun disetirin sama driver gojek, tak pernah sekali pun saya menempuh waktu perjalanan dalam waktu sepuluh menit. Seminim-minimnya setengah jam. Itu pun dengan kondisi jalanan yang lengang, dan berangkat sebelum subuh. 

Mangkanya, kalau suatu saat saya punya kesempatan buat ketemu sama yang bikin iklan, ingin sekali saya pelototi wajahnya, lalu saya teriaki, “Itu lima belas menit naik apa, Bung? Buraq?”

Tapi yah, sebagai orang yang, jangankan beli rumah, untuk sekadar ngumpulin uang muka buat KPR saja belum sanggup, biarlah saya anggap iklan perumahan itu sebagai lucu-lucuan semata saja buat saya.

Nah, iklan lain yang juga cukup membuat saya agak geli adalah iklan sebuah homestay berupa plang yang terpasang di salah satu pertigaan paling ramai di Jalan Kaliurang atas.

Sebuah iklan homestay yang juga punya copywriting yang tak kalah membual: “Seperti di Rumah Sendiri!” begitu katanya. 

Mampus, sungguh sebuah tagline yang kalau dimaknai dengan eksplisit, akan sangat lucu sekali dampaknya.

Membaca plang tersebut dari jauh, saya langsung senyum-senyum sendiri. Saya membayangkan bagaimana seandainya homestay tersebut disewa oleh keluarga yang rumahnya berlantai tanah, berdinding gedek bambu, dengan tempat tidur hanya berupa dipan bertikar pandan.

Bertahun-tahun mereka hidup sengsara, mereka menabung lama agar bisa berlibur di Jogja dan berharap bisa menginap di sebuah homestay yang bagus dengan kasur yang empuk.

Eh, apa daya, begitu uang terkumpul, mereka sewa homestay, ternyata homestaynya sama persis seperti rumah mereka sendiri: berlantai tanah, berdinding gedek bambu, dengan tempat tidur hanya berupa dipan bertikar. Malang nian nasib mereka.

Plang tersebut, entah kenapa, kemudian mengingatkan saya bualan yang lain lagi, yang tak jauh beda konteksnya. Bualan berupa testimoni tentang Warung Kopi Klothok, sebuah warung di daerah Kaliurang atas yang ramainya ngaudubillah setan itu. Warung yang saking ramainya, sampai-sampai pengunjung harus antri lama demi bisa mendapatkan makanan yang mereka pesan.

Dengan kondisi warung yang begitu, suatu ketika, Hamish Daud suaminya Raisa itu pernah enteng saja menulis testimoni seperti berikut: “Seperti di rumah sendiri.”

Iklan

Tak heran jika kawan saya, Ali Ma’ruf sampai sewot dibuatnya. “Kasian Hamish Daud, kalau di rumah pengen makan harus antri panjang.”

Modiar.

Ah, soal bualan di Kaliurang ini, rasanya memang tak pernah selesai.

Terakhir diperbarui pada 2 Februari 2020 oleh

Tags: jalanJogjaKaliurang
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO
Urban

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO
Urban

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa
Kuliner

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

gojek instant.MOJOK.CO

Gojek Buka Titik Jemput Instan di Terminal Giwangan, Mudahkan Para Penumpang Bus yang Bingung Mencari Transportasi Lanjutan

12 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
Lebaran, mudik, s2.MOJOK.CO

Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

13 Maret 2026
Naik Travel dari Jogja ke Surabaya Penuh Derita, Nyawa Terancam (Unsplash)

Naik Travel dari Jogja ke Surabaya, Niatnya Ingin Tenang Berakhir Penuh Derita dan Nyawa Terancam

13 Maret 2026
Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.