Beberapa titik kuliner Jogja mewarnai kehidupan saya di “masa muda”. Banyak keputusan besar saya ambil ketika menghabiskan semalam suntuk, sampai menjelang subuh, di sebuah angkringan. Lalu, ketika sudah bekerja, sebuah tempat di Pakem, Sleman, juga menjadi saksi saya mengambil keputusan besar.
Oleh sebab itu, saya merasa beberapa titik kuliner Jogja seperti punya aura tersendiri. Sebuah aura yang membuat saya bisa berpikir dengan jernih, pelan, dan pasti. Saya juga merasa tempat-tempat dan makanan khas ini seakan memberi siapa saja tempat untuk bernaung. Setidaknya untuk berpikir barang sejenak.
Saya merasa memiliki tempat ini. Saya, orang biasa, yang mendapatkan tempat untuk merancang sesuatu. Maka, tidak jarang, titik-titik khusus ini mendapatkan tempat istimewa di hati banyak orang. Tak peduli status dan ketebalan dompet. Semua orang berhak “merasa memiliki”.
Namun, saat ini, banyak orang tak lagi bisa “merasa memiliki” titik-titik ini. Beberapa titik kuliner Jogja rasanya tak lagi merakyat. Kalau mau datang berkunjung, kamu harus punya “alasan khusus”. Tak bisa sekadar mau nongkrong saja atau berlama-lama untuk berpikir.
Inilah tiga kuliner Jogja yang menurut saya, tak lagi merakyat. Mereka, pada derajat tertentu, berjarak dengan orang kecil.
Baca juga Alasan Orang Jogja Malas Kulineran di Kopi Klotok
Angkringan kopi jos, teman menepi semasa SMA
Saya tidak tahu secara pasti. Namun, angkringan kopi jos, saat masih membuka lapak di samping utara Stasiun Tugu, besar karena mitos. Katanya, kopi hitam dengan tambahan bara arang bisa mengusir masuk angin. Sebuah mitos yang mungkin tidak akurat. Namun, minimal, membuatnya menjadi jujugan anak muda pada zamannya.
Saat masih SMA, ketika alkohol sedang tak ada janji untuk mampir, saya dan beberapa teman suka berlama-lama di angkringan kopi jos. Kami suka duduk lesehan di seberang lapak kopi jos. Yang kami lakukan sebatas ngobrol. Para remaja tanggung yang saat itu belum tahu mau ngapain dalam hidup.
Saya sendiri mengambil keputusan soal mau kuliah atau tidak di salah satu kuliner Jogja favorit ini. Salah satunya, saya memutuskan kuliah Sastra Indonesia, alih-alih menuruti mau bapak untuk mengambil Pendidikan Bahasa Inggris.
Sekarang, angkringan kopi jos sudah pindah tempat. Geser beberapa meter ke seberang jalan. PT KAI melakukan relokasi demi keindahan, mungkin. Sejak saat itu, kopi jos menjadi kuliner Jogja jujugan wisatawan lebih ramai lagi. Nongkrong lama-lama di sana sudah tak senikmat dulu.
Kopi klotok, kuliner Jogja yang dulu sangat bersahaja
Saya resmi menjadi redaktur Mojok pada 2018. Sepulangnya dari Jakarta, saya berkantor di daerah Mbesi, Jalan Kaliurang kilometer 13. Salah satu kesukaan kami waktu itu adalah ngopi pagi di Kopi Klotok, daerah pakem. Saat budaya “ngopag” belum sepopuler sekarang, kami sudah melakukannya di Kopi Klotok.
Kru Mojok generasi 2017/2018 cukup sering menghabiskan waktu di salah satu titik kuliner Jogja paling hype saat ini. Cukup secangkir kopi, air putih, dan pisang goreng. Kami ngopi pagi dari pukul 7:30 sampai sekitar pukul 10. Kami anggap ini sebagai pemanasan sebelum bekerja.
Namun, seiring waktu, dan kalian para pembaca pasti tahu, Kopi Klotok menjadi begitu istimewa. Kekuatan media sosial menjadi salah satu pemicu ramainya Kopi Klotok. Seakan-akan, kalau belum ikut mengantre di Kopi Klotok, belum sah dan paripurna menikmati kuliner Jogja.
Sekarang, warga lokal saja rada enggan kalau diajak ke Kopi Klotok. Malas dengan antre adalah alasan pertama. Dan kini, soal harga, menjadi alasan kedua. Kuliner Jogja satu ini tak lagi bersahaja. Ia menjadi objek wisata dengan harga dan vibes khusus. Seakan-akan, dan sekali lagi, kalau mau berkunjung harus punya alasan tertentu.
Baca juga Kopi Joss Lik Man dan Rasa yang Dirindukan
Gudeg, kuliner Jogja yang bisa memancing perdebatan
Inilah kuliner Jogja yang, menurut saya, paling bisa memancing perdebatan. Tema besarnya adalah, apakah gudeg memang makanan mahal?
Kita semua tahu kalau gudeg awalnya kuliner rakyat jelata. Lantaran tidak mampu membeli daging, rakyat zaman dulu mengolah nangka muda sebagai gantinya. Sudah begitu, gudeg adalah makanan yang awet. Oleh sebab itu, rakyat jelata zaman dulu bisa berhemat.
Namun, seiring zaman, gudeg menjadi kuliner Jogja yang eksotis. Semua kalangan, termasuk papan atas, menjadikannya santapan. Dan, wisatawan menyematkan label “oleh-oleh khas”. Maka, secara otomatis, gudeg menjadi kuliner Jogja yang naik kelas. Baik dari sisi bahan, sampai harga. Kalau gudeg premium, pasti mahal. Begitu adanya.
Begitulah, gudeg tak lagi merakyat. Apalagi setelah muncul cluster premium. Apalagi sekarang sudah ada gudeg kalengan juga.
Begitula, tiga titik kuliner Jogja yang tak lagi merakyat. Ia menjadi konsumsi kelas tertentu dan hanya bisa dinikmati di kondisi tertentu. Seiring zaman, terkadang, rakyat jelata akan kehilangan banyak hal. Salah satunya soal kuliner yang sebelumnya menjadi eskapisme mereka terhadap terjalnya kehidupan.
Penulis: Yamadipati Seno
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Selain Terlalu Manis, Gudeg Jogja Dijauhi karena Mahal, Padahal (Seharusnya) Murah dan Masih Makanan Rakyat dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.
