Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Penjaskes

Kalau Ngeyel dan Nggak Minum Antibiotik Sampai Habis, Terus Kenapa?

Redaksi oleh Redaksi
31 Juli 2019
A A
antibiotik
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Setiap dapat resep ini dari dokter, kita diminta untuk minum antibiotik sampai habis. Memang, bahayanya apa sih kalau ngeyel dan bandel?

Salah satu jenis obat yang paling umum didapatkan dari dokter adalah antibiotik. Konon, antibiotik ini memiliki fungsi untuk mengobati penyakit yang timbul dari adanya infeksi bakteri dan bekerja dengan cara menghentikan pertumbuhan organisme kecil yang berbahaya di dalam tubuh, termasuk jamur, bakteri, dan parasit.

Yang membedakan obat jenis ini dengan obat lainnya adalah aturan yang menyertainya. Tentu, kamu disarankan untuk minum antibiotik sampai habis, tak peduli bahkan jika badanmu terasa sudah jauh lebih sehat.

Masalahnya, kalau badan sudah terasa sehat dan sembuh, minum obat jadi menyebalkan dan nggak menyenangkan. Kalau sudah begitu, kan rasanya kesal kalau harus minum antibiotik sampai habis!

Memangnya, seberapa penting sih menghabiskan sisa obat antibiotik yang sudah diresepkan dokter untuk kita?

Pertama-tama, mari bicara soal penggunaan antibiotik.

Jenis obat yang satu ini bakal berhasil menghentikan infeksi bakteri dan menyegerakan penyembuhan hanya jika dikonsumsi secara tepat. Dokter yang memeriksamu tentu memberikan obat ini tidak tanpa perhitungan. Dosis dan waktu yang kamu perlukan telah diperhitungkan dengan baik sehingga menjadi tugasmulah untuk selanjutnya benar-benar mematuhinya. Secara umum, durasi konsumsi minum antibiotik sampai habis ini membutuhkan waktu antara 5 hingga 14 hari.

Konsumsi Antibiotik, tapi Tetap Waspada

Namun, perlu diingat: Konsumsi antibiotik ternyata nggak sesimpel itu, mylov~

Semestinya, pemberian obat antibiotik pada pasien didahului dengan pemeriksaan laboratorium. Padahal, ada kasus di mana kita mendapat antibiotik hanya berdasarkan tanda-tanda umum penyakit yang diperiksa oleh dokter, tanpa pemeriksaan laboratorium. Nah, kalau sudah begini, ingat-ingatlah satu hal: Jangan buru-buru bilang, “Iya,” untuk minum antibiotik sampai habis. Alias, coba konsultasikan kembali pada dokter, apalagi jika timbul efek-efek yang mengejutkan.

Bukan, bukan—efek-efek yang mengejutkan ini bukan efek gitar listrik, kok. Maksudnya, sebagai contoh, kalau kamu demam dan suhu tubuhmu panas, lalu diberi antibiotik, dan malah menemukan bintik-bintik merah di tubuhmu setelah beberapa hari mengonsumsi antibiotik, cobalah datang kembali ke dokter dan konsultasikan. Siapa tahu, itu adalah gejala demam berdarah yang tidak kamu sadari, sementara penyakit ini tidak diatasi dengan aturan “minum antibiotik sampai habis”.

Nggak Minum Antibiotik Sampai Habis ataupun Minum Berlebihan Sama-Sama Berisiko

Berdasarkan penjelasan di atas, pemberian antibiotik memang diharapkan dilakukan setelah pemeriksaan laboratorium yang teliti. Soalnya, kalau dokter cuma langsung kasih begitu saja setelah melihat gejala-gejala umum, para pasien—alias kamu-kamu sekalian—justru berisiko terkena resistensi yang bakal menurunkan peluang sembuh dari penyakit, sebagaimana yang juga disebutkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Plus, kalau nggak pakai pemeriksaan laboratorium dan ternyata kamu memang nggak membutuhkan antibiotik, tubuhmu bakal terkena overused konsumsi antibiotik yang berisiko sama.

Tapi, kok bisa, ya, seseorang terkena resistensi hanya karena nggak minum antibiotik sampai habis? Apa urusannya coba antara kedisiplinan minum obat dan ketahanan tubuh?

Ternyata, hal ini bisa terjadi karena bakteri yang menginfeksi tubuh belum mati sepenuhnya, meski gejala penyakit yang kita rasakan sudah jauuuuh lebih berkurang. Nah, kalau nggak minum antibiotik sampai habis, bakteri yang tersisa ini bakal mengalami mutasi.

Iklan

Kalau mutasi di dunia nyata bisa membuatmu berpindah tempat kerja, mutasi bakteri ini bakal membuat dirinya sendiri—alias bakteri-bakteri tadi—kebal terhadap reaksi antibiotik, baik antibiotik yang terakhir kali dikonsumsi, maupun antibiotik lain yang sejenis. Inilah yang dimaksud dengan resistensi antibiotik.

Secara sederhana, dengan kata lain, kalau kamu dapat resep obat antibiotik lain dari dokter, mungkin nggak akan mempan lagi. Mamam~

Bahayakah Resistensi Antibiotik?

Ketidakmampuan bakteri untuk disembuhkan dengan antibiotik akibat resistensi ternyata dapat berakibat fatal, hingga menyebabkan kematian. Tercatat, telah ada lebih dari 700 ribu kematian karena kondisi ini.

Kalau bagimu ini menyeramkan, ya memang begitu adanya. Mau gimana lagi; sekali kamu kebal terhadap antibiotik tertentu, tidak bakal ada banyak jenis antibiotik yang bisa available menjadi pengganti untuk menyembuhkan penyakitmu. Pokoknya, pilihan antibiotik bagi seseorang yang sudah terkena infeksi itu terbatas, deh!

Tapi, perlu diingat: Risiko ini tidak mutlak menyerang semua orang di dunia. Sayangnya, sulit untuk kita menentukan apakah diri kita sendiri termasuk orang yang berisiko terkena resistensi antibiotik atau bukan.

Yah, daripada susah-susah nebak-nebak dan khawatir, mending antibiotiknya dihabisin setelah konsultasi dengan dokter terkait. Di mana-mana, yang namanya nebak-nebak itu, kan, nggak enak dan cuma bisa bikin insecure. Iya, nggak? (A/K)

Terakhir diperbarui pada 31 Juli 2019 oleh

Tags: dokterminum antibiotik sampai habisobatresistensirumah sakitWHO
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Kenangan mahasiswa di Jogja dengan pensiun dokter. MOJOK.CO
Sosok

Kebaikan Seorang Pensiunan Dokter yang Dikenang Mahasiswa Jogja, Berikan Tempat Inap Gratis hingga Dianggap Seperti Keluarga

25 Oktober 2025
perawat.mojok.co
Ragam

Perawat, “Pahlawan Kemanusiaan” yang Tak Dimanusiakan: Beban Kerja Selangit, Gaji Sulit

6 Oktober 2025
Getirnya Gen Z Jogja Jadi OB Rumah Sakit Cuma Digaji Rp800 Ribu: Jangankan Punya Rumah, Buat Ngopi Aja Mikir-Mikir.MOJOK.CO
Ragam

Getirnya Gen Z Jogja Jadi OB Rumah Sakit Cuma Digaji Rp800 Ribu: Jangankan Punya Rumah, Buat Ngopi Aja Mikir-Mikir

7 Mei 2024
Anak Dokter Dituntut Cari Suami Cowok Berseragam MOJOK.CO
Ragam

Tertekannya Anak Dokter Dituntut Orang Tua Harus Cari Calon Suami “Cowok Berseragam”, Terpaksa Tolak Cowok Biasa Meski Aslinya Cinta

21 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
Dhia Hana Putri Saraswati mahasiswa Umsura dan Unair. MOJOK.CO

Kena Mental Kuliah di Umsura dan Unair Sekaligus, Puluhan Kali Ingin Menyerah tapi Kuat karena Ajaran Muhammadiyah

5 Juni 2026
Peserta nyentrik gowes ke Klaten untuk ikut KLIC Fest 2026. MOJOK.CO

“Onthelis” dari Nusantara Rela Gowes Berhari-hari dengan Sepeda Tua Guna Misi Kebudayaan yang Memukau Para Bule

3 Juni 2026
Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026
Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
Peluncuran program pendidikan koperasi (perkoperasian) untuk sekolah-sekolah yang dipelopori Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) MOJOK.CO

Jawa Tengah Bikin Pendidikan Koperasi di Sekolah: Bekal Kewirausahaan dan Alternatif Lapangan Kerja untuk Gen Z-Gen Alpha

5 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.