Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Otomojok

Suzuki Satria Pro Si Buruk Rupa: Bukti Suzuki Tidak Pernah Gagal Menciptakan Produk Gagal dan Entah Kenapa Mereka Masih Bangga dengan Kegagalan

Alan Kurniawan oleh Alan Kurniawan
12 November 2025
A A
Suzuki Satria Pro: Bukti Suzuki Selalu Berhasil Bikin Produk Gagal MOJOK.CO

Ilustrasi Suzuki Satria Pro: Bukti Suzuki Selalu Berhasil Bikin Produk Gagal. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kalau ada lomba ketekunan menciptakan produk gagal, Suzuki pantas naik podium berkat lahirnya si buruk rupa Suzuki Satria Pro.

Kalau ada lomba ketekunan dalam menciptakan produk gagal, saya rasa Suzuki pantas naik podium. Bukan karena mereka tidak bisa membuat motor bagus. Mereka ini terlalu percaya diri dengan desain, yang entah siapa yang mereka mintai pendapat sebelum dilepas ke pasar.

Dan kali ini, bintang utamanya adalah Suzuki Satria Pro. Motor ini adalah facelift terbaru dari Satria FU 150 yang dulu sempat jadi motor idaman anak muda berslogan “Ora FU Ora Love You”.

Namun, slogan itu tampaknya sudah bisa direvisi jadi “Ora FU Ora Masalah”. Sebab, begitu melihat wujud Satria Pro, masalah justru datang dari sisi desain yang bikin dahi berkerut dan tawa pecah bersamaan.

Suzuki Satria Pro malah mirip Jarjit Singh naik motor

Begitu foto resminya rilis, para warganet otomotif langsung ramai. Sebagian berusaha sopan dengan komentar halus seperti: 

“Unik banget ya modelnya.” 

Sementara sebagian lain langsung to the point: “Ini Suzuki apa Bajaj Pulsar?” Saya sendiri memilih jujur: motor ini kelihatan sangat India banget.

Dan saya tidak bermaksud menyinggung. Tapi, desain Suzuki Satria Pro betul-betul seperti hasil kawin silang antara motor sport touring India dan ayam jago yang habis begadang. Yang paling mencuri perhatian tentu bagian depan.

Lampu utamanya menonjol ke depan seperti tokoh Jarjit Singh di kartun “Upin Ipin”. Lengkap dengan tonjolan spidometer di atasnya. Begitu saya melihat, refleks kepala langsung bergumam, “Duh, Jaaaarjit.”

Bayangkan, Suzuki Satria Pro punya muka yang mirip tokoh paling bawel di dunia kartun anak-anak. Bukan kesan garang yang muncul, tapi seperti mau nyeletuk pantun dulu sebelum start drag race, ”Dua Tiga…”

Lampu sein menonjol, selera desain patut dipertanyakan

Selain lampu depan, lampu sein-nya juga dibuat menonjol ke luar, seolah Suzuki ingin bilang, “Lihat, ini sein, loh!” Padahal, di 2025 ini, semua pabrikan berlomba membuat motor yang lampunya menyatu rapi dengan bodi agar tampak modern dan elegan.

Tapi Suzuki?

Mereka malah kembali ke gaya lampu tonjolan era 2000-an. Sebuah keputusan desain yang justru bikin motor ini kelihatan mundur satu dekade.

Saya tahu, Suzuki sedang mencoba sesuatu yang berbeda. Tapi, berbeda itu ada dua jenis, yaitu berbeda yang keren dan berbeda yang bikin kita mikir, “Ini seriusan? Terlalu norak!” Sayangnya, Suzuki Satria Pro jatuh ke kategori yang kedua.

Iklan

Performa Suzuki Satria Pro itu masih mantap, penampilan gagal total

Padahal kalau bicara performa, Suzuki Satria Pro dan Satria FU 150 masih sangat bisa diandalkan. Mesin DOHC 150 cc-nya bertenaga, enteng, dan irit. Transmisi 6 speed-nya juga tetap responsif. Tapi sayang, semua keunggulan itu tertutup oleh tampilan depan yang gagal paham.

Kalau melihat Suzuki Satria Pro ini dari samping sih masih oke. Tapi, begitu melihat dari depan, ya ampun, motor ini seperti belum siap difoto untuk ijazah.

Suzuki dan tradisi gagal yang konsisten

Suzuki tampaknya belum belajar dari pengalaman sebelumnya. Coba ingat Suzuki Gixxer 250. Ini motor yang sebenarnya punya mesin bagus, tapi gagal menarik perhatian karena desainnya terlalu tanggung. Gixxer nggak jelas mau tampil agresif seperti sport 250 cc lain atau kalem seperti motor touring.

Akhirnya, Gixxer cuma bertahan empat tahun saja bertahan di Indonesia. Setelah itu, menghilang pelan-pelan seperti mantan yang sudah bahagia dengan orang lain.

Belum selesai kita berduka, Suzuki sempat mencoba peruntungan lewat Avenis, motor matik yang katanya sporty. Tapi, motor ini malah tampak seperti hasil tukar-tambah bodi dengan motor India. Nasibnya juga sama. Avenis nggak sampai tiga tahun sudah lenyap dari brosur resmi.

Dan sekarang, mereka kembali dengan Suzuki Satria Pro. Sebuah motor yang di atas kertas, seharusnya jadi puncak evolusi ayam jago legendaris mereka. Halah, tapi malah kelihatan seperti desain eksperimen yang lolos uji coba gara-gara staf R&D-nya salah klik file.

Kenapa Selalu India, Suzuki?

Saya paham, Suzuki mungkin mencoba menekan biaya riset dengan memanfaatkan basis desain dari pasar India, tempat mereka memang cukup kuat. Tapi sayangnya, selera fashion orang India dan Indonesia itu beda planet.

Kalau di India, motor dengan banyak tonjolan dianggap berani dan gagah. Tapi, di Indonesia, justru terlihat norak dan nggak banget, deh. Di sana, desain semacam itu dianggap berani dan futuristik. Sedangkan di sini, justru terlihat aneh dan kurang selaras dengan selera kita.

Kenapa Suzuki masih harus belajar dengan cara sekeras ini? Padahal mereka punya modal sejarah yang kuat banget di Indonesia. Satria FU, misalnya, dulu pernah jadi simbol status anak muda yang keren, cepat, dan ganteng.

Sekarang? Mungkin justru jadi bahan lelucon di grup WhatsApp alumni.

Satria FU: Dari simbol ganteng ke bahan guyonan

Saya nggak tahu siapa yang ada di ruangan rapat saat desain Suzuki Satria Pro ini disetujui. Mungkin salah satu manajer desain sempat nyeletuk, “Kita butuh yang beda!”

Lalu seorang desainer India mengangkat tangan, “Tenang, saya punya ide!”

Lalu semua tepuk tangan, dan… lahirlah motor yang tampangnya seperti Jarjit Singh naik kuda besi.

Apakah ini pertanda akhir dari garis keturunan Satria FU yang legendaris itu? Bisa jadi. Sebab pasar ayam jago sekarang memang sedang sekarat. Anak muda zaman sekarang lebih pilih motor matik yang praktis, atau sport fairing yang gagah buat konten TikTok. Di antara keduanya, ayam jago seperti Satria sudah mulai kehilangan habitatnya.

Suzuki seharusnya sadar, bahwa nama besar saja tidak cukup untuk bertahan. Satria FU dulu dicintai karena tampilannya sporty dan macho. Sesuatu yang kini justru hilang di versi Suzuki Satria Pro ini. Meski motornya bisa ngebut, kalau tampilannya bikin orang ketawa duluan, ya percuma.

Akhir yang tidak gagah untuk sang legenda

Dan, kalau memang ini adalah nafas terakhir Satria FU sebelum disuntik mati, maka sayang sekali. Ia tidak mati dengan gagah, tapi dengan wajah yang mirip karakter kartun yang suka berpantun.

Tragis, tapi agak lucu juga kalau dipikir-pikir. Mungkin Suzuki memang punya filosofi sendiri:

“Lebih baik gagal dengan gaya, daripada sukses tapi membosankan.”

Tapi sayangnya, gaya yang mereka pilih ini salah arah. Bukan gaya Indonesia, tapi gaya Bollywood yang kesasar di Bekasi. Sekarang tinggal satu pertanyaan besar yang menggantung di kepala saya dan banyak pecinta otomotif lainnya:

“Kenapa harus India, Suzuki? Why?”

Apakah kita kekurangan desainer lokal yang bisa membuat motor keren dan sesuai selera pasar? Apakah semua tenaga desainnya sedang cuti massal? Atau Suzuki memang sedang ingin membuktikan bahwa mereka benar-benar tak pernah gagal dalam menciptakan produk gagal bernama Suzuki Satria Pro?

Kalau iya, selamat.

Dengan Satria Pro ini, Suzuki baru saja memperkuat reputasi itu dengan sempurna.

Penulis: Alan Kurniawan

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Suzuki Satria Pro Punya Fitur Keren di Balik Bodi yang Tampak Payah dan catatan mengenaskan lainnya di rubrik OTOMOJOK.

Terakhir diperbarui pada 12 November 2025 oleh

Tags: desain jelek Suzukidesain SuzukiSatria Prosuzukisuzuki fuSuzuki FU 150Suzuki Gixxer 250Suzuki Satria Pro
Alan Kurniawan

Alan Kurniawan

Banyak bekerja, sedikit overthinking-nya.

Artikel Terkait

Ilustrasi motor Suzuki MOJOK.CO
Otomojok

Betapa Sulitnya Tidak Membenci Suzuki, yang Katanya Pantas Kita Sayangi, Meski Kadang Bikin Jengkel Setengah Mati

28 November 2025
Suzuki Jimny, Karma Mobil Setengah Miliar yang Terlalu Sombong MOJOK.CO
Otomojok

Dulu Bikin Orang Rela Inden, Sekarang Bikin Dealer Pusing: Suzuki Jimny dan Karma dari Kesombongan Mobil Kotak Setengah Miliar

30 Oktober 2025
Vario 125 dan Suzuki Spin 125 Bikin Anakku Jadi Lebih Sabar MOJOK.CO
Otomojok

Dari Vario 125 ke Suzuki Spin 125: Misi Seorang Ayah Cari Motor Seken untuk Anak Bujang Magang di Lombok

21 Juli 2025
Mobil Suzuki Fronx perdana di Jogja. MOJOK.CO
Kilas

Suzuki Jogja Serahkan 20 Unit Perdana Fronx, Siap Ramaikan Jalanan DIY

14 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

foto orang meninggal di media sosial nggak sopan kurang ajar. mojok.co

Meninggal di Desa Itu Sebenarnya Mahal, Menjadi Murah karena Guyub Warganya

5 Januari 2026
Kenangan lepas perjaka di kawasan prostitusi Stasiun Rambipuji, Jember MOJOK.CO

Kenangan Lepas Perjaka di Stasiun Rambipuji Jember, Mencari Kepuasan di Rel Remang dan Semak Berbatu dengan Modal Rp30 Ribu

5 Januari 2026
daftar isi dan daftar pustaka skripsi.MOJOK.CO

Daftar Isi dan Daftar Pustaka: “Sepele” tapi Bikin Saya Nyaris Tak Lulus Kuliah, Menyesal Tak Pernah Mempelajari Cara Membuatnya

5 Januari 2026
19 Tahun Gempa Jogja dan Teror di Bangsal Rumah Sakit MOJOK.CO

19 Tahun Setelah Gempa Besar Mengguncang, Ingatan akan Teror di Sebuah Rumah Sakit Besar di Jogja Datang Kembali

8 Januari 2026
Susah jadi bidan desa, niat edukasi malah dianggap menentang tradisi MOJOK.CO

Susah Payah Bidan Desa: Warga Lebih Percaya Dukun Bayi, Kasih Edukasi Malah Dianggap Menentang Tradisi

6 Januari 2026
Kisah Bu Ngatimah, pekerja serabutan yang iuran BPJS Ketenagakerjaan miliknya ditanggung ASN Kota Semarang MOJOK.CO

Kisah Bu Ngatimah: Pekerja Serabutan di Semarang dapat Fasilitas BPJS Ketenagakerjaan, Iurannya Ditanggung ASN

7 Januari 2026

Video Terbaru

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

3 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.