Ibarat kata, Suzuki S-Presso adalah “Crocs KW” yang jelek tapi keren dan kini menjadi benteng pertahanan terakhir melawan kegilaan dunia yang serba mahal ini

Suzuki S-Presso memang mobil aneh karena jelek tapi keren MOJOK.CO

Ilustrasi Suzuki S-Presso memang mobil aneh karena jelek tapi keren. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.COSuzuki S-Presso yang jelek tapi keren adalah benteng pertahanan terakhir melawan kegilaan dunia yang serba mahal ini.

Sore itu hujan turun dengan khidmat di kawasan Ring Road Utara Yogyakarta. Saya sedang duduk santai di teras rumah. Secangkir kopi hitam yang mulai dingin dan sepasang sandal Crocs KW super yang setia membungkus kaki menemani saya. 

Pandangan saya tertuju pada tetangga sebelah rumah yang sedang misuh-misuh. Dengan tubuh basah kuyup, dia sibuk mengelap bagian kolong mobil sedan cepernya.

Belum lama, mobilnya itu gasruk dengan sukses. Ia menghantam polisi tidur buatan warga RT sebelah yang tingginya mirip tanggul penahan banjir.

Melihat pemandangan itu, saya mendadak tersenyum penuh kemenangan sembari melirik sandal Crocs saya yang bolong-bolong mirip moncong buaya. Pikiran saya langsung melayang pada sebuah ingatan kolektif.

Dulu, hampir kita semua sepakat menghina Crocs sebagai penemuan alas kaki terburuk dalam sejarah umat manusia. Bentuknya aneh, estetikanya minus, dan kalau dipakai jalan suaranya seperti bebek kesurupan. 

Namun, lihatlah sekarang. Orang-orang yang dulu mencibir justru memakainya ke kafe-kafe estetik, lengkap dengan pin Jibbitz warna-warni yang harganya di luar nalar kelas pekerja.

Suzuki S-Presso, mobil paling tidak menarik

Di dunia roda empat, fenomena “kebencian yang berujung cinta karena butuh” ini menemukan kembaran mutlaknya pada sosok Suzuki S-Presso. Ketika pertama kali menampakkan moncongnya di ajang GIIAS 2022, jagat maya langsung riuh oleh hujatan. 

Netizen yang terhormat kompak melabeli Suzuki S-Presso sebagai mobil paling tidak menarik di abad ini. Rodanya cungkring, proporsi badannya kotak jangkung, dan kalau mengamatinya dari belakang, wujudnya persis seperti setrikaan berjalan atau wadah Tupperware raksasa yang punya roda. Sungguh sebuah desain yang menantang batas kesabaran estetik masyarakat urban.

Filosofi ugly is cool, ketika desainer pakai akun Canva gratisan

Melihat lekukan bodi Suzuki S-Presso, kita mungkin tergoda untuk berasumsi bahwa tim desain Suzuki di India sana sedang dalam tekanan psikologis yang berat. Rasanya seolah-olah anak magang yang memegang proyek ini. Sudah magang, kejar tayang pula dan terpaksa menyelesaikan tugas menggunakan akun Canva gratisan 

Atau malah di anak magang merancang desain Suzuki S-Presso memakai program Microsoft Paint jadul peninggalan Windows 98. Garis-garis mobil ini terasa sangat kaku, sudutnya patah-patah. Seakan memanfaatkan material sisa kaleng biskuit Khong Guan yang gampang penyok kalau bersenggolan dengan motor tukang bakso.

Namun, di sinilah letak kejeniusannya. Apa yang kita sebut sebagai “bencana visual” ini sebenarnya adalah strategi branding yang sangat sadar. 

Ini adalah manifestasi dari gerakan ugly is cool, sebuah pemberontakan utilitarian terhadap diktator estetika yang mahal. Persis seperti kalimat CEO Crocs, Andrew Rees: “Yes, we’re ugly but we’re one of a kind.”

Suzuki S-Presso tidak sedang berusaha menjadi estetik. Ia tahu diri. Ia sadar bahwa ruang kabin yang lapang tidak bisa dilahirkan dari bodi mobil yang meliuk-liuk seksi bak gitar Spanyol. 

Dengan membuat bodinya sekotak mungkin, Suzuki berhasil memaksimalkan efisiensi ruang dalam. Kepala penumpang tidak akan mentok plafon, dan kaki bisa selonjoran tanpa perlu latihan yoga terlebih dahulu. Kejelekan visual S-Presso adalah bentuk kejujuran absolut yang langka di era penuh pencitraan ini.

Suzuki S-Presso menang banyak di lapangan realitas

Mari kita pinggirkan dulu urusan rupa dan mulai membuka brosur dengan akal sehat. Sebagai kaum mendang-mending yang duitnya pas-pasan, kita harus logis. 

Media sosial boleh saja menjadi ajang hujatan untuk Suzuki S-Presso. Tapi, begitu turun ke jalanan Indonesia yang aslinya mirip simulasi akhir zaman, mobil ini mendadak terlihat seperti pahlawan tanpa tanda jasa.

Pertama, mari bicara soal ground clearance yang mencapai 180 mm. Angka ini adalah jawaban cerdas untuk menghadapi jalanan tanah air yang penuh polisi tidur kasar hasil patungan warga, lubang jalanan sedalam palung laut, hingga genangan banjir harian setelah hujan 15 menit. 

Ketika mobil-mobil sedan modis berkaca film gelap harus berjalan merayap sambil menahan napas takut kolongnya hancur, Suzuki S-Presso tinggal melenggang kangkung tanpa rasa bersalah.

Kedua, urusan efisiensi. Mesin K-Series 1.0 liter tiga silinder Suzuki S-Presso memang bukan untuk ajang balapan liar. Akselerasinya mungkin biasa saja, tapi urusan konsumsi bahan bakar, mobil ini adalah definisi nyata dari kata “merakyat”. 

Di jalur tol, S-Presso dengan santainya bisa mencatatkan angka efisiensi hingga 25 km/liter. Di tengah harga BBM yang hobi naik tanpa permisi, memiliki mobil yang iritnya kelewatan seperti ini adalah sebuah kemewahan hakiki yang bikin tabungan aman dari risiko boncos.

Jangan terkecoh dengan wujud kotaknya yang mirip wadah plastik. Suzuki membekali S-Presso dengan fitur keselamatan Hill Start Assist (HSA) yang menjaga mobil nggak mundur di tanjakan, serta Electronic Stability Program (ESP). Dua fitur krusial ini justru absen di kompetitor populer yang harganya jauh lebih mahal seperti Honda Brio Satya!

Jadi, meskipun bentuknya kayak wadah plastik, Suzuki S-Presso jauh lebih aman buat pengendara pemula ketimbang mobil modis yang minim fitur keselamatan. S-Presso membuktikan bahwa ia jauh lebih memikirkan keselamatan nyawa ketimbang ego Anda.

Pemberontakan generasi MZ

Ada pergeseran menarik yang sedang terjadi di kalangan Generasi MZ (Millennial dan Gen Z). Kita mulai lelah dengan hegemoni estetika artifisial Instagram dan TikTok yang menuntut segalanya harus terlihat sempurna, simetris, dan mahal. 

Kelelahan sosial ini melahirkan pragmatisme baru. Namanya fungsionalitas di atas segalanya.

Memakai sandal Crocs asli maupun KW ke mal besar atau menyetir Suzuki S-Presso berwarna Sizzle Orange yang mencolok di tengah kemacetan kota adalah sebuah pernyataan identitas yang berani. Ini adalah jari tengah digital bagi industri gengsi. 

Kita sedang berkata pada dunia: “Ya, barang yang saya punya ini jelek menurut standar kalian, tapi hidup saya jauh lebih tenang dan fungsional.”

Lihat saja bagaimana nasib mobil-mobil yang katanya “ganteng” dan harganya sempat kena goreng gila-gilaan oleh para diler nakal. Sebut saja Jimny 5-pintu. 

Pada akhirnya, mobil-mobil pamer itu banyak yang menumpuk jadi stok di diler. Ya gimana, harganya tidak masuk akal bagi kantong realistis kelas pekerja. 

Sementara itu, Suzuki S-Presso, dengan segala wujud cungkring dan interior minimalisnya, tetap melaju manis masuk dalam jajaran tiga besar segmen city car tanah air. Pasar tidak pernah berbohong. Orang yang benar-benar butuh alat transportasi, bukan butuh alat pamer, akan menjatuhkan pilihannya pada fungsi.

Keberpihakan pada yang ikhlas diajak rekasa seperti Suzuki S-Presso

Akhirnya, hujan di teras rumah saya mulai reda. Tetangga saya masih sibuk mengeringkan karpet mobil sedannya yang sepertinya kemasukan air akibat nekat menerjang genangan. 

Sementara saya, dengan sandal Crocs yang tinggal dibilas air langsung kering, bersiap untuk pergi ke angkringan membeli nasi kucing.

Dari fenomena Crocs dan Suzuki S-Presso, kita belajar satu hal filosofis yang fundamental. 

Tidak ada gunanya tampil menawan dan memikat pandangan orang lain di jalan raya kalau punggung pegal, kaki lecet karena sepatu kesempitan, dan dompet ludes tak bersisa hanya demi membayar cicilan gengsi bulanan yang mencekik leher.

Estetika buruk rupa yang “ikhlas diajak rekasa“, yaitu siap menerjang banjir, tidak takut lecet, iritnya minta ampun, dan fungsionalitasnya maksimal, pada akhirnya akan selalu memenangkan pertempuran di hati orang-orang yang waras. 

Jadi, bagi Anda para pemilik Suzuki S-Presso warna oranye Tupperware di luar sana, angkat kap mesinmu tinggi-tinggi dengan bangga. Kalian adalah benteng pertahanan terakhir melawan kegilaan dunia yang serba mahal ini.

Penulis: Fuadi Afif

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Menjawab Misteri Suzuki S-Presso Tetap Laku: Padahal, Menurut Fitra Eri dan Om Mobi, S-Presso Adalah Mobil Paling Tidak Menarik dan analisis menarik lainnya di rubrik OTOMOJOK

Exit mobile version