MOJOK.CO – Banyak orang meremehkan Mio M3. Namun, bersama motor Yamaha ini sudah menemani saya selama 10 tahun yang indah.
Tatapan setengah kasihan akan terarah kepadamu ketika kamu cerita ke orang-orang kalau kamu naik Yamaha Mio untuk beraktivitas. Tatapan yang sama persis seperti waktu kamu bilang belum pernah nonton Marvel. Sedikit heran, sedikit simpati, dan sepertinya ada yang ingin berkata: “Yakin, Bro? Itu, kan, motor mbak-mbak.”
Iya, Mio, motor Yamaha yang kata orang “kurang gagah” dan “motor murahan”. Selain itu, masih banyak stigma negatif yang menempel pada Mio. Saya sudah dengar semuanya. Dan 10 tahun lebih berlalu, Mio M3 saya masih hidup, bisa jalan dengan lancar, dan saya masih baik-baik saja.
Bertemu Mio M3 di 2015
Ceritanya ini berawal pada 2015. Saya baru masuk kerja sebagai account officer di bank swasta dan perlu kendaraan. Bukan sekadar mau keren-kerenan, tapi benar-benar kebutuhan.
Hidup di kota kecil itu artinya tidak ada MRT, busway, atau Grab yang datang dalam dua menit. Punya motor bukan pilihan, tapi sudah menjadi kewajiban.
Saat itu saya sudah mengenal dunia otomotif. Dulu, awal 2000-an, saya langganan Motor Plus dan Oto Plus. Bapak saya pakai Honda Supra X dan motor itu ikut menemani beliau dari jalan landai sampai naik ke ladang di pegunungan. Selama itu, tanpa drama, tanpa mogok. Wajar kalau awalnya saya mau membeli Honda.
Kultur orang Minang juga begitu. Motor ya Honda, nggak peduli mereknya. Tapi, justru karena itu, saya ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Maka, di 2015 itu, saya awal mengenal Mio M3.
Kepincut Blue Core motor Yamaha Mio M3
Setelah berminggu-minggu riset dengan membaca artikel, nonton ulasan, membandingkan speksifikasi di atas kertas, saya jatuh hati ke Yamaha Mio M3. Bukan karena iklan, bukan juga karena influencer. Tapi karena teknologi Blue Core-nya, mesin 124 cc pertama di kelasnya, masuk akal di kepala saya.
Kompetitor utamanya, Honda Beat, saat itu masih 110 cc. Dari sisi tenaga, Mio M3 lebih unggul di atas kertas.
Pertengahan 2015, saya bawa pulang Mio M3 putih itu dengan DP Rp1,5 juta dan KTP. Cicilannya 24 bulan, tapi lunas enam bulan lebih cepat. Bukan pamer, tapi penting saya sebutkan karena ini motor bukan sekadar gaya. Motor Yamaha ini investasi yang harus dipertanggungjawabkan ke dompet.
3 hal yang membuat saya kaget
Jujur, saya tidak buta. Ada hal-hal yang bikin saya mengernyit waktu pertama kali pakai motor ini.
Pertama, ban dan velg-nya. Ukuran 70/90 depan dan 80/90 belakang di motor bermesin 124 cc itu seperti punya badan badak tapi kamu kasih sepatu anak kecil. Padahal, tenaga mesin Mio lebih besar dari Beat, tapi ban-nya malah lebih kecil.
Entah apa alasan Yamaha tidak upgrade ini dari generasi pertama Mio. Efisiensi bahan bakar? Mungkin. Penghematan biaya produksi? Lebih mungkin lagi. Akhirnya hampir semua pengguna Mio M3, termasuk saya, upgrade ban minimal satu tik lebih besar. Bukan pilihan, tapi keharusan.
Kedua, suspensi motor Yamaha ini keras. Ini yang lumayan menyiksa kalau lewat jalan berbatu atau jalan rusak. Suspensinya baru terasa manusiawi kalau berboncengan atau bawa barang berat. Tapi kalau naik sendiri? Berasa naik motor trail yang lupa dikalibrasi.
Ketiga, tarikan bawah Mio M3 terasa kosong. Putaran atas lumayan, tapi awal gas itu seperti motor sedang mikir dulu sebelum jawab. Ditambah getaran dari CVT yang terasa sampai ke bodi depan dan ini yang bikin banyak pengguna akhirnya otak-atik roller, ganti per CVT punya Yamaha Xeon karbu, atau pasang kampas ganda NMAX. Ada trade off-nya tentu, yaitu tarikan bawah enteng, tapi top speed berkurang. Pilih mana, itu soal selera dan medan yang kamu taklukkan tiap hari.
3 hal yang membuat saya tetap loyal kepada Mio M3
Meskipun membawa tiga hal yang bikin kaget, saya tetap loyal kepada Mio M3. Pertama, bobot motor Yamaha ini enteng. Di tangan yang tepat, ini bukan kelemahan tapi keunggulan.
Mau manuver di gang sempit, keluar-masuk parkiran padat, atau sekadar putar balik di jalan kecil, semua lebih mudah. Memang, saya jadi harus sedikit mengorbankan stabilitas. Maka, upgrade ban adalah jawaban logisnya.
Kedua, harganya masuk akal. Di 2015, harga Mio M3 sekitar Rp15,2 juta, sedangkan Honda Beat Rp15,4 juta. Selisihnya tipis, tapi yang kamu dapat dari sisi mesin lebih besar. Dalam logika belanja yang waras, ini keputusan yang tidak perlu diperdebatkan.
Ketiga, dan ini favorit saya, desainnya timeless. Sejak launching sampai sekarang, desain Mio M3 tidak berubah signifikan kecuali decal-nya. Itu bukan kemalasan desainer, tapi konfirmasi bahwa desainnya memang sudah benar sejak awal. Tidak seperti beberapa motor lain yang tiap ganti generasi makin susah dibedain dari motor lainnya.
Masa 10 tahun yang indah
Jalanan kota kecil, jalan provinsi berlubang, tanjakan ke ladang, sampai perjalanan panjang yang mestinya pakai kendaraan “lebih layak” menurut orang-orang di sekitar saya, semuanya bisa saya hadapi bersama Mio M3.
Begitulah. Banyak yang meremehkan motor Yamaha satu ini. Begitu banyak orang yang menyarankan saya ganti baru atau menyebutnya motor murahan.
Gini, lho. Saya tidak anti sama motor baru. Tapi, saya juga tidak mau pura-pura bahwa ganti motor adalah penanda naik kelas. Atau, bahwa nilai seseorang bisa kita baca dari plat nomor dan merek yang terpampang di bodi motornya. Itu bukan cara berpikir yang sehat, dan tentu bukan cara berpikir yang hemat.
Yang jelas, motor Yamaha saya masih jalan. Saya masih sampai ke tujuan. Dan setiap kali ada yang melirik dengan tatapan setengah meremehkan, saya ingat satu hal. Mereka tidak ikut membayar cicilan Mio M3 saya. Jadi, opini mereka, dengan segala hormat, tidak relevan.
Kalau kamu sedang mempertimbangkan motor tapi ragu karena takut diremehkan, ya kamu mungkin akan diremehkan. Tapi, motor yang tepat bukan yang paling bikin kagum di grup chat, melainkan yang paling setia menemanimu dari rumah sampai pulang.
Mio M3 saya sudah membuktikan itu. Lebih dari 10 bersama melewati hal-hal indah.
Penulis: Muhammad Syafrial
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Mio M3 Motor yang Paling Sempurna di Mata Yamaha, Sudah 11 Tahun Desain Tak Berubah karena Berkeyakinan Kesempurnaan Tidak Perlu Diubah dan pengalaman indah lainnya di rubrik OTOMOJOK.
