• 1.4K
    Shares

MOJOK.CO – Saat usia SD, anak-anak gemar mengaji, masuk SMP mulai putus-nyambung, sampai akhirnya berhenti dengan sendirinya sebelum masuk SMA. Lalu dari SMA jadi ikutan Hijrah Fest deh.

Akhir pekan lalu, beberapa remaja putri yang kebetulan belajar di komunitas belajar yang saya kelola, ijin untuk absen rapat kegiatan yang akan mereka helat. Protes datang dari remaja putra yang sudah capek-capek datang ke komunitas belajar untuk membincangkan persiapan yang dibutuhkan. Usut punya usut, para remaja putri tersebut tengah menghadiri sebuah pengajian di selatan ibukota; Hijrah Fest.

Saya terkagum-kagum mendengarnya. Bukan cuma itu, salah seorang dari mereka sengaja menabung untuk membeli tiket masuk pengajian yang menurut ukuran dompetnya lumayan mahal. Saya sampai bertanya, “Demi apa kamu sampai nabung?”

“Demi Ustadz Taqi yang ‘duren’ itu, Kak! Dia datang ke acara Hijrah Fest, loh!”

Asyeemm, memang. Saya kira dia akan menjawab “demi Allah, demi Rasulullah” gitu loh. Ini saya kok naif bener ya?

Ternyata adik perempuan saya juga nyaris datang bersama beberapa remaja masjid dekat rumah. Saya katakan nyaris karena akhirnya mereka nggak jadi masuk.

“Loh, kok sampai nggak jadi ikut Hijrah Fest?” tanya saya.

“Kehabisan tiket, Teh. Sumpah itu orang-orang di JCC mau ikutan Hijrah Fest itu juga ngelebihin orang yang pada ngantri nonton konser Gun and Roses,” kata adik saya, tentu saja melebih-lebihkan.

Saya anggap begitu, karena saya tahu adik saya baru dengar lagu November Rain saja waktu ada kabar Gun and Roses mau manggung di Jakarta. Tahu Gun n Roses saja baru-baru aja, boro-boro pergi ke konsernya. Nah, macam mana dia bisa membuat perbandingan akurat tentang antrian orang-orang di event Hijrah Fest dan konser Gun and Roses?

Tapi saya anggap saja adik saya itu benar. Dan, entah perasaan macam apa yang tiba-tiba mengalir di dada saya mendengar klaim sepihaknya itu. Saya jadi bertanya-tanya adakah ini kebangkitan syiar atau dakwah Islam yang luar biasa?

Bukan apa-apa, menurut saya dakwah di kalangan remaja dan anak muda itu susah-susah sulit. Kelompok ini punya karakteristik yang khas. Kombinasi antara masa-masa minim pengalaman, pengen banyak gaya, meniru sedemikian banyak model yang ada, serta hasrat ingin diakui di lingkungan sekitarnya (utamanya lingkungan pertemanan).

Saya yang pernah remaja dan masih muda, tentu pernah ada (mungkin masih) di fase yang sarat dengan pencarian banyak hal; pencarian nafkah sekadar untuk bisa selalu ikutan pre-order buku-buku Mojok yang menggiurkan dan keluar saban bulan, pencarian soulmate sesaleh Ustaz Abdul Somad, sampai pencarian hal-hal paling substil semacam pandangan dan falsafah hidup. Beuh!

Pada akhirnya, saya menganggap pengajian remaja dan anak muda jadi kegiatan yang cukup mewah, dalam arti sesungguhnya dan kiasan. Coba bandingkan dengan pengajian bocah-bocah cilik yang dari pelosok hingga sudut gang ibukota mudah ditemui. Atau bahkan pengajian dan taklim bagi para orangtua, yang dianggap wajar (iya dong, katanya semakin bau tanah harus sering-sering ingat Tuhan, kan?).

Baca juga:  Membela Revolusi Moral Amien Rais yang Mengritik Revolusi Mental Jokowi

Pengajian remaja dan anak muda?

Sebagai orang yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren, ada tekad untuk berbuat sesuatu dengan ilmu yang pernah didapat di pondok melalui penyebaran ilmu-ilmu yang seujung kuku juga nggak ada itu ke semua kalangan.

Hal semacam itu juga jadi titipan para Abuyah, Kiai, dan Ustaz-Ustazah saya saat saya pamit boyong dari pondok. Setidaknya, enam tahun mondok di Cirebon saya menyimpan slogan “isun titip tajug lan fakir miskin”, yang kerap saya baca di banyak tempat di sana, dalam hati. Dan jadi kepengin melaksanakan titah itu. Meski kecil dan sedikit.

Maka, tak lama setelah saya kembali ke Jakarta, saya yang ketika itu masih terpapar ghirah mengaji di pondok, membuka pengajian ala santri kalong bagi tetangga sekitar rumah bakda maghrib. Kebetulan, di kompleks perumahan tempat saya tinggal, budaya mengaji selepas senja itu mulai pudar. Guru mengaji saya sewaktu SD meninggal dunia dan kelompok pengajian untuk anak-anak yang didirikannya hilang tenggelam.

Satu-dua anak tetangga usia TK sampai SD mulai berdatangan ke rumah sekadar minta tolong diajarkan membaca Iqra’ agar lancar membaca Al-Quran kelak. Sesekali saya masukkan juga pelajaran tajwid, aqidah akhlak, dan fiqih sederhana dan dapat diamati sehari-hari selain hafalan surah dan doa-doa yang rutin.

Sampai hari ini pengajian bakda maghrib di rumah saya tetap berlangsung. Sependek pengalaman saya mengelola pengajian kampung di rumah itu, saya temukan tren begini, saat usia SD, anak-anak gemar mengaji. Masuk SMP mereka mulai putus-putus, sampai akhirnya berhenti dengan sendirinya sebelum masuk SMA.

Padahal, ketika adik-adik pengajian ini mulai lancar membaca Al-Quran, saya mulai mengenalkan bahasan-bahasan lainnya dalam pengajian tersebut. Tak melulu hafalan dan belajar Iqra serta Al-Quran, tapi juga kajian-kajian keislaman lainnya seperti bidang-bidang tauhid, akhlak, fiqih, muamalah, bahkan shirah nabi melalui pengajaran kitab-kitab yang pernah saya pelajari di pondok dulu. Hasilnya? Pengajian remaja selalu sepi jamaah bahkan ditinggalkan saat murid-muridnya bersiap-siap mau balig.

Saya pernah bertanya kepada adik-adik pengajian saya yang berguguran mundur berhenti dari pengajian selepas lulus SD. Jawaban mereka beragam. Mulai dari jam pulang sekolah (ditambah les ini-itu) yang membuat mereka nggak ada waktu untuk mengaji, pelajaran tingkat SMP yang mulai rumit dengan pekerjaan rumah dan tugas yang semakin menggila.

Tapi jawaban paling umum yang saya terima adalah, “Kan udah SMP, Kak, masa masih ngaji? Kayak anak SD aja. Udah khatam Quran juga kan?”

Nah.

Lewat pengalaman tersebut, saya jadi sepakat tentang pengajian remaja dan anak muda memang perlu dikemas agak khusus. Perlu ada gimmick supaya katanya mashooook ke kalangan mereka. Desain dan kegiatannya pun perlu didesain sedemikian rupa sehingga narasinya cair, eye catching buat mereka secara tampilan.

Waktu saya dimintai tolong pengurus masjid dekat rumah untuk menyemarakkan kembali kegiatan kelompok remaja masjid, saya butuh sedikit usaha. Minimal untuk bisa bikin materi di kitab Al Mahidh—yang menurut saya masih sangat relevan untuk dikaji bagi remaja putri hingga saat ini, saya perlu mengemasnya dengan kegiatan ala-ala talkshow reproduksi remaja putri yang menggandeng dokter muda, psikolog muda, dan anak gaul atau ikon remaja putri yang sedang ngehits. Itu salah satu contoh saja.

Baca juga:  Ketika Orang Asing Mengencingi Masjid Kampung

Di beberapa tempat, saya juga melihat upaya itu. Di masjid-masjid besar ibukota, misalnya. Kegiatan bedah film, bedah buku, festival musik, dan kajian-kajian seputar masalah remaja dan keislaman kontemporer kerap menjadi agenda rutin atau agenda musiman masjid-masjid semisal Masjid Sunda Kelapa Menteng, Masjid Cut Meutia Gondangdia, Masjid Al Azhar, dan lain-lainnya. Kesemuanya dikemas dengan tampilan yang lebih ngepop dan fancy khas remaja dan anak muda.

Salahkah?

Oh, saya tidak sedang membahas salah-benar sih. Tapi seperti yang sejak awal saya bilang, pada akhirnya pengajian bocah remaja dan anak muda itu mewah (dan mahal).

Coba ya, nggak usah jauh-jauh menghitung pengeluaran panitia Masjid Cut Meutia yang kerap menggelar festival musik jazz saban Ramadan yang bisa bikin Andien dan Afgan nyanyi selepas tarawih yang bisa membikin adik perempuan saya nguber tarawih dari rumah saya yang di timur Jakarta ke pusat ibukota selepas waktu berbuka, waktu saya menggelar beberapa acara untuk remaja di masjid dekat rumah dengan skala kecil saja, 500-1.000K rupiah mah pasti keluar. Minimal untuk nyewa alat band. Biaya tersebut bisa lebih jika harus membayar narasumber atau mendatangkan artis.

Barangkali beberapa kasus yang saya jadikan contoh ini berlaku juga di pengajian anak dan orangtua jika yang saya maksud adalah pengajian-pengajian besar. Tapi, saya melihat kecenderungan bahwa pengajian-pengajian rutin di kalangan anak dan orangtua masih bisa terus semarak—walau mungkin tidak melulu ramai—tanpa menghadirkan pemuka agama yang terkenal atau tabligh akbar yang wah.

Tapi pengajian rutin remaja dan anak muda? Di tempat saya sih nihil. Saya berharap ini hanya terjadi di tempat saya.

Akhirnya saya memandang, upaya yang besar dan kreativitas yang nggak main-main, yang dilakukan oleh berbagai pihak dalam menyemarakkan pengajian di kalangan bocah remaja dan anak muda semoga dapat berbanding lurus dengan pencapaian tujuan utamanya; penyebaran ajaran Islam yang cinta damai dan kesadaran beragama bagi golongan ini.

Karena kalau iya, kegiatan-kegiatan seperti itu jadi peluang besar pula untuk mensyiarkan nilai-nilai toleransi, keberagaman, dan Islam yang ramah untuk kemudian diinternalisasi sebagai falsafah hidup kalangan remaja dan anak muda.

Jangan sampai pengajian bocah remaja yang (cenderung) mewah itu hanya berakhir di gegap gempita seremoni dan simbol semata seperti saat saya bertanya ke murid saya yang datang ke Hijrah Fest tentang apa yang dia dapat dari sana dengan bilang, “Ustaz Taqi aslinya lebih ganteng, Kak. Dan, pas di IG story-nya sebelum dia datang ke Hijrah Fest, pas dia nyetirnya emang macho banget.”

Karena saya yakin, yang sereceh dan kecentilan begitu cuma murid saya doang sih.

  • 1.4K
    Shares


Loading...



No more articles