Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kiai Setnov, Gus Tommy, dan Pondok Pesantren Golkar

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
27 Oktober 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] Golkar adalah pesantren yang menghasilkan Haji Muhammad Soeharto hingga Kiai Haji Setya Novanto.

Salamulekum, Pak Setnov. Yawla, gimana kabarnya? Sehat? Alhamdulillah, masih bisa senyam-senyum begitu, sehat dong pasti? Aduh, duh, rasanya pengen kecup jempol kaki sendiri deh kalau liat senyum situ yang memesona.

Begini, Pak Setnov, bersamaan dengan surat ini, saya cuma ingin menyampaikan selamat kepada jenengan, Pak. Bukan selamat karena kemarin barusan lolos dari status tersangka KPK kok, bukan itu, saya cuma mau menyampaikan selamat karena sejak hari santri kemarin kabarnya Pak Setnov sudah menyanding gelar baru nih, gelar kiai.

Sekarang namanya dipanggil Kiai Setnov. Ada hajinya segala, jadi K.H. Setnov.

Weladalah, keren euy. Udah ketua dewan, ramah senyum, suaranya kerekam jadi pemufakatan jahat, sakit komplikasi sembuh hitungan hari, ealah jadi kiai lagi. Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan coba? Subhanallah.

Bukannya gimana-gimana sih, Pak Setnov, sejujurnya saya ini gerah juga dengan para warganet yang pada nyindir Pak Setnov gara-gara gelar barunya yang keren itu. Idih, mereka mah emang gitu. Tahu apa mereka, Pak Kiai Setnov? Mereka itu ya, udah kismin, jadi santri forever, masyarakat giblik jaman now, ealah cuma aktif di majlis ghibah aja kerjaannya. Kan beda sama Pak Kiai Setnov. Udah wajahnya ganteng, kaya, pinter, kiai lagi.

Padahal ya, Pak Setnov, para warganet ini nggak tahu apa sebenarnya makna kiai. Kan kiai itu berasal dari ki dan yai. Sejak jaman dulu, gelar macam begitu kan memang diberikan kepada sesuatu yang identik dengan kesaktian atau punya mitos-mitos tertentu.

Misalnya kalau di Keraton Jogja ada gajah yang dititipin di Gembira Loka namanya Nyai Argo dan Ki Gilang. Di Keraton Solo malah lebih ekstrem lagi, ada kebo namanya Ki Slamet. Meski cuma sebagai simbol Kasunanan Solo, tapi maknanya telanjur dilebih-lebihkan sama masyarakat luar keraton. Jadi menimbulkan perilaku berlebihan gitu deh.

Itu lho, yang kalau malam satu Suro, begitu Ki Slamet keluar kandang, masyarakat pada ngalap berkah. Berebutan sisa makanan, bunga melati yang jatuh dari kalungnya (iya, kebonya dikalungin kembang), sampai teletong-nya.

Tidak hanya pada benda-benda hidup seperti hewan, benda mati seperti pusaka macam keris yang sakti juga biasa dinamakan dengan gelar ki kalau merepresentasikan sifat maskulin dan yai kalau merepresentasikan sifat feminin (Nyai Roro Kidul, misalnya).

Dengan begitu, jadi nggak ada salahnya kan kalau Pak Setnov yang juga sakti mandraguna ini digelari kiai? Kan emang sakti.

Coba kurang sakti apa Pak Setnov ini? Beberapa waktu lalu, pada pertengahan 2017 saja, Pak Setnov didiagnosis mengidap sedikitnya TUJUH penyakit kelas berat. Dari mulai vertigo, diabetes, stroke, pengapuran jantung, gangguan ginjal, flek di kepala, dan penyempitan fungsi jantung.

Walaupun semuanya masih dalam tahap gejala, tapi tetap saja, komplikasi tujuh penyakit berat ini bikin penyakit kusta dalam kisah para nabi bak remah-remah rempeyek. Ini nih yang namanya penyakit yang memacu adrenalin. Per bijinya saja bikin gampang meninggal, lha ini semua-muanya kena.

Tapi bukan Pak Setnov namanya kalau sama penyakit begituan aja kalah. Hanya dalam hitungan jam, gejala penyakit-penyakit tersebut hilang tak berbekas. Lebih ajaib lagi cara nyembuhinnya tidak dengan cara-cara biasa. Jika orang biasa bisanya sembuh dari penyakit karena menjalani operasi, terapi, minum obat, atau kerokan, buat Pak Setnov mah cukup dengan sebuah palu yang membatalkan status tersangka. Jal, apa nggak sakti itu namanya?

Di samping itu, Pak Setnov juga bukan satu-satunya kok yang mendapatkan gelar ala-ala pesantren begitu. Dulu, sekitar bulan Mei 2017, Mas Tommy Soeharto juga mendapatkan gelar gus dari Forum Ulama Berkarya.

Ya kalau Mas Tom mah juga pantas diberi gelar gus, yang dalam sejarahnya memang merupakan penyederhanaan dari raden bagus. Sebutan untuk putra bangsawan atau tuan tanah pada jaman dolo. Ya maklum, bapaknya Mas Tom kan emang tuan tanah dan bangsawan di negara ini, jadi pantas aja kalau dipanggil “Gus Tom”.

Lagi pula, kalau mau pakai cara pandang bahwa gus harus dilekatkan kepada putra seorang kiai, kurang kiai apa coba Haji Muhammad Soeharto itu? Belio ini sesakti-saktinya kiai je.

Kurang sakti gimana? Berkat Kiai Harto, pohon beringin jadi begitu perkasa di Indonesia. Bisa tumbuh mengakar begitu kuat sampai puluhan tahun. Bahkan ketika yang nanem udah direformasi, akarnya masih terus nancep di bumi endonesa.

Iklan

Pohon beringin yang dulunya dianggap keramat di jamannya Susana, di jaman bapaknya Gus Tom gambarnya saja udah lebih keramat daripada pohonnya.

Mbalelo sedikit? Hilang …. Kepikiran protes? Hilang …. Niat demo? Hilang …. Coba, kurang sakti apa itu? Menghilangkan banyak makhluk bermateri lho itu …. David Cooperfield pasti minder.

Jadi kalau ada yang mencibir gelar-gelar kehormatan untuk Kiai Setnov atau Gus Tom, saya pikir mereka itu kurang baca sih, Pak. Maklum, anak muda hare gene, beda sama kayak Pak Setnov dan Mas Tom yang pinter, jenius … dan tentu saja sakti.

Justru penyematan gelar kepada Pak Kiai Setnov dan Gus Tom ini menunjukkan bahwa gelar-gelar macam itu nggak boleh lagi dimonopoli lagi oleh kelompok Islam saja ya kan, Pak? Apalagi cuma golongan-golongan santri yang sok-sokan nolak khilafah itu. Bahwa gelar-gelar itu kan aslinya memang milik pribumi, jadi ya harus diberikan kepada orang-orang pribumi yang masih animisme-dinamisme gitu. Ehm, seperti jamaah penyembah pohon beringin misalnya.

Nah, sebagai penutup, Pak Setnov, kan kurang afdol ya kan, Pak, kalau jadi kiai tapi nggak punya pondok pesantren? Saya usul, mumpung masih jadi ketua partai, gimana kalau Golkar dijadiin pondok pesantren saja? Mumpung putra sang pionirnya sudah ada, ya siapa lagi kalau bukan Gus Tom, sang putra mahkota.

Kalau soal nyari santri mah gampang, bikin aja iklan promosi di koran lampu merah, “Kiai Setnov dan Gus Tom: Tidak hanya menawarkan kebal bacok, kebal tembak, atau kebal gergaji, tapi juga kebal sidang! Cocok buat Anda yang sering kena tilang.”

Terakhir diperbarui pada 28 Oktober 2017 oleh

Tags: GolkarOrde BarusetnovSetya NovantoSoehartoTommy Soeharto
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Jingle MBG Mas Bahlil Ganteng: ejekan ke figur politik tapi jadi alat reproduksi popularitas, buktinya Partai Golkar senang MOJOK.CO

MBG Mas Bahlil Ganteng Sudah Over-eksposur: Bahasa Kritik tapi Jadi Alat Reproduksi Popularitas, Bikin Golkar Senang

28 Mei 2026
Nasib buruh usai Marsinah jadi pahlawan nasional. MOJOK.CO

Suara Hati Buruh: Semoga Gelar Pahlawan kepada Marsinah Bukan Simbol Semata, tapi Kemenangan bagi Kami agar Bebas Bersuara Tanpa Disiksa

12 November 2025
Kami Berdoa Setiap Hari agar Soeharto Jadi Pahlawan Nasional MOJOK.CO

Kami Berdoa Setiap Hari agar Soeharto Jadi Pahlawan Nasional. Sejarawan: Pragmatis dan Keliru

11 November 2025
Suara Marsinah dari Dalam Kubur: 'Lucu! Aku Disandingkan dengan Pemimpin Rezim yang Membunuhku'.MOJOK.CO

Suara Marsinah dari Dalam Kubur: ‘Lucu! Aku Disandingkan dengan Pemimpin Rezim yang Membunuhku’

10 November 2025
Alasan Soeharto tak layak dapat gelar pahlawan, referensi dari buku Mereka Hilang Tak Kembali. MOJOK.CO

Buku “Mereka Hilang Tak Kembali”, Menyegarkan Ingatan bahwa Soeharto Tak Pantas Dapat Gelar Pahlawan tapi Justru Diadili

1 November 2025
Rahasia di Balik “Chindo Pelit” Sebagai Kecerdasan Finansial MOJOK.CO

Membongkar Stigma “Chindo Pelit” yang Sebetulnya Berbahaya dan Menimbulkan Prasangka

29 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)sebagaimana terjadi di Kalimantan tidak bisa direduksi sekadar memadamkan api, ada gambut yang rusak MOJOK.CO

Karhutla Terus Berulang karena Pihak Berwenang Cukup Puas Padamkan Api, Akar Masalah Tereduksi

24 Agustus 2026
GVD Resmi Rilis Single Perdana "VII", Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah.MOJOK.CO

GVD Resmi Rilis Single Perdana “VII”, Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah

23 Agustus 2026
Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik MOJOK.CO

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik

26 Agustus 2026
tol Jogja-Solo

Tol Jogja-Solo: Rumah Tak Kena Pembebasan Lahan, Tapi Tetap Kena Debu dan Bising

22 Agustus 2026
Proyek Hutan Tanaman Energi (HTE) untuk co-firing biomassa di PLTU langgengkan praktik perampasan tanah ala kolonial MOJOK.CO

Proyek Bioenergi Kayu di Jawa Langgengkan Praktik Perampasan Lahan ala Kolonial

21 Agustus 2026
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.