Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Cinta Segitiga Cina, Israel, dan Palestina yang Harus Dipahami Penjual Jargon ‘Free Palestine!’

Novi Basuki oleh Novi Basuki
27 Juli 2020
A A
Cinta Segitiga Cina, Israel, dan Palestina yang Harus Dipahami Penjual Jargon ‘Free Palestine!’ Mengkritik Gal Gadot Dukung Israel Serang Palestina tapi Setuju Militerisme di Papua, kan Aneh mojok.co

Cinta Segitiga Cina, Israel, dan Palestina yang Harus Dipahami Penjual Jargon ‘Free Palestine!’

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dukungan Cina ke Palestina tak cuma jargon “free Palestine”, meski begitu Israel sangat dibutuhkan sebagai mitra pengembangan teknologi Cina.

Tak ada yang menarik untuk dihebohkan dari dukungan Cina kepada Palestina kalau kita sudi menanggalkan syak wasangka bahwa yang namanya komunis Cina sudah pasti selamanya memusuhi agama—Islam, khususnya.

Oh, tentu, tulisan ini dibuka dengan pernyataan begitu bukan berarti saya hendak menjelma “Pithecanthropus Pekingensis” yang selalu membebek pada apa yang dikatan dan dilakukan pemerintah Cina.

Saya tahu, dan pemerintah Cina pun tak menafikan, bahwa pada masa-masa kalut Revolusi Kebudayaan (1966–1976) mereka telah melakukan vandalisme dan persekusi massal membabi buta terhadap rumah-rumah ibadah dan pemeluk agama di negaranya.

Jangankan agama impor. Kepercayaan yang berasal dari kebijaksanaan filsuf agung negeri sendiri pun diganyang habis-habisan, waktu itu.

Buktinya?

Tak lama sebelum COVID-19 menggila, saya pernah diajak pejabat salah satu provinsi Cina untuk ziarah ke makam Konghucu di Kota Qufu, Shandong bagian barat laut. Di kompleks kelenteng di mana Konghucu dan keturunan-keturunannya itu dikebumikan, sisa-sisa benda kelenteng yang dulu diporak-porandakan Pengawal Merah (hong weibing) yang taklid buta pada Pemikiran Mao Zedong, dimuseumkan pemerintah setempat untuk dijadikan pelecut supaya sejarah kelam itu tidak terulang kembali.

Syukur hingga kini saya belum melihat ada tanda-tanda Cina mau mengulangi kesalahan serupa. Naga-naganya menunjukkan mereka konsisten dengan komitmen “menjadikan sejarah sebagai guru” (qian shi bu wang hou shi zhi shi), seperti istikamahnya mereka mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Bayangkan, dari tahun 1960-an sampai sekarang, Cina tak henti-hentinya memberikan dukungan moral dan material kepada Palestina.

Tak percaya?

Israel dan Palestina sendiri yang mengatakannya. Persis seperti FTV kisah cinta segitiga.

Mari saya ceritakan.

Begini, ketika pada awal tahun 1980-an serdadu Israel menggempur pos komando Organisasi Pemberbasan Palestina (PLO) di Lebanon selatan, mereka menemukan bundelan dokumen rahasia.

Dari beragam dokumen yang diperoleh itu, terselip 3 lembar dokumen berbahasa Cina—lengkap dengan terjemahan bahasa Arab—yang berisi tutorial menjinakkan dan merakit bahan peledak, kawat berduri, serta peralatan perang gerilya lainnya.

Iklan

Usut punya usut, dokumen itu adalah sebagian kecil dari serangkaian bantuan militer yang diberikan Cina kepada para pejuang kemerdekaan Palestina.

Pada tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an, Cina memang intens menyuplai senapan, granat tangan, bubuk mesiu, ranjau, dan persenjataan lain kepada kelompok-kelompok gerilyawan Palestina dan itu diberikan Cina secara cuma-cuma.

Pihak intelijen Israel pernah mengalkulasi, jumlah senjata yang dikirim Cina ke Palestina antara tahun 1965–1979 mencapai 5 juta dolar Amerika kalau diuangkan—atau sekitar 33 juta dolar Amerika (kali Rp15.000) jika dihitung dengan inflasi saat ini.

Awalnya, yang dihibahkan Cina ke Palestina itu adalah senapan-senapan bekas buatan Uni Soviet yang notabene dedengkotnya komunisme.

“Namun, per 1967, orang-orang Palestina sepertinya bertarung menggunakan senjata buatan Cina saja,” tulis Shaina Oppenheimer dalam artikel panjangnya yang dimuat media Israel Haaretz.

Tidak hanya itu, Pemerintah Cina juga mengundang elite-elite PLO ke Cina untuk diberi latihan militer intensif di sana. Buku merah kecil yang berisi petuah-petuah Mao Zedong pun menjadi bacaan ideologis kombatan-kombatan PLO.

Dengan lain kata, dukungan Cina—yang komunis—kepada Palestina tidak hanya sebatas pada jargon “free Palestine” yang cuma dipekikkan saat unjuk rasa atau kampanye.

Makanya harap maklum kalau Yasser Arafat pernah menyatakan dengan penuh sentimentil bahwa dari sekian ikhwan yang mendukung Palestina, “Cina berada di garda terdepan,” dan dukungan Cina itu telah memberi “pengaruh paling besar” terhadap revolusi berikut keteguhan hati PLO dalam perjuangan melawan Zionis beserta antek-anteknya.

Sila baca pernyataan negarawan Palestina itu di pagina 22 Peking Review nomor 42 yang diterbitkan pada 16 Oktober 1970 silam.

Pengakuan Yasser Arafat tersebut bukan tanpa alasan. Pakar hubungan Cina dengan Timur Tengah, Lillian Craig Harris, membenarkan dalam penelitiannya yang dipublikasikan Journal of Palestine Studies, “Tanpa bantuan [Cina] itu, PLO tidak akan menjadi organisasi politik sekuat hari ini.”

Tak heran bila Presiden Palestina Mahmoud Abbas ketika bertelepon dengan Presiden Cina Xi Jinping pada 22 Juli kemarin, lagi-lagi menegaskan bahwa, “Cina adalah kawan Palestina yang paling dapat dipercaya.”

Tapi, Cina juga menghadapi dilema. Soalnya, di satu sisi Israel selaku musuh bebuyutan Palestina penting sekali bagi Cina—terutama dari segi ekonomi dan teknologinya. Dan di sinilah kisah cinta segitiga itu terjadi.

Di sisi lain, di tengah kian sengitnya rivalitas Cina versus Amerika di mana Israel kemungkinan besar akan lebih memihak Paman Sam ketimbang Mbah Mao, Cina jelas butuh dukungan negara-negara Arab dengan mendukung kemerdekaan Palestina.

Itulah mengapa Cina tampak mencintai Israel dan Palestina dalam waktu yang sama.

Bung dan nona sekalian pasti tahu; Cina membuka lebar-lebar pintu Kota Shanghai sebagai penampungan ratusan ribu pengungsi Yahudi yang menghindari genosida Holokaus selama Perang Dunia II. Kenangan manis ini pula yang menjadi perekat hubungan Israel dan Cina di kemudian hari.

Kelak, para pengungsi Yahudi itu juga mempunyai sumbangsih yang amat besar terhadap perekonomian Shanghai yang tak lain adalah pusat finansial Cina.

Kalau bung dan nona ke Shanghai, khususnya dekat tower daerah The Bund yang jadi maskot ketajiran Shanghai itu, dongakkan kepala lalu pandangilah bangunan megah di pojok utara yang atapnya berwarna hijau berbentuk piramida itu.

Ya, itu bangunan Peace Hotel, salah satu hotel ternama di dunia, yang dibangun taipan Yahudi. Di sekitar situ juga berdiri Sinar Mas Plaza, gedung yang tak kalah megah milik keluarga konglomerat Tionghoa-Indonesia, Eka Tjipta.

Sehabis itu, karena jaraknya tak begitu jauh, bung dan nona bisa jalan-jalan ke Shanghai Exhibition Centre yang dibangun oleh Silas Aaron Hardoon untuk istrinya.

Tahu siapa itu Silas Aaron Hardoon?

Dialah taipan Yahudi yang mendanai, menerjemahkan, sekaligus menerbitkan 30 juz Al-Qur’an dalam bahasa Cina pertama kali.

Cina sekarang sudah bisa memetik buah dari hubungan baik yang dijalinnya dengan Israel dan Palestina. Saya tak tahu apakah Gus Dur mendapat inspirasi dari Cina atau bukan. Tapi yang pasti, dulu Gus Dur pernah mencanangkan Indonesia harus membuka hubungan diplomatik dengan Israel agar kemerdekaan Palestina lebih mudah Indonesia perjuangkan.

Sayangnya gagasan Gus Dur itu menuai banyak penolakan.

Kenapa?

Mungkin kita mesti setuju pada pendapat Gus Dur ketika diwawancarai Micha Odenheimer, jurnalis Haaretz, ini:

“Saya pikir ada kesalahan persepsi bahwa Islam bertentangan dengan Israel. Ini semua karena propaganda Arab. Kita harus membedakan antara Arab dan Islam.”

Barangkali bung dan nona mau mencoba mengganti kata “Israel” pada pendapat Gus Dur itu dengan kata “Cina”? Tapi siap-siap, jahannam is waiting for you, Brada!

BACA JUGA Melawan Setan Hingga Ke Yerusalem: Tentang Palestina Dan Israel atau tulisan Novi Basuki lainnya.

Terakhir diperbarui pada 29 September 2025 oleh

Tags: cinaGus DurIsraelpalestinaYahudi
Novi Basuki

Novi Basuki

Kandidat Doktor di Sun Yat-sen University, Guangdong, Cina.

Artikel Terkait

Perang Iran Israel Bikin Nggak Waras, Masih Hidup Aja Syukur MOJOK.CO
Cuan

Perang Iran Israel Berpotensi Jadi Krisis Global, Kelas Menengah Ikutin Cara Ini Biar Tetap Waras Selama Bertahan Hidup

5 Maret 2026
Iran, Gejolak Timur Tengah dan Efeknya untuk Indonesia
Aktual

Bukan Nuklir, Air Adalah “Senjata Pemusnah” Paling Mematikan di Perang AS-Iran

4 Maret 2026
Iran, Gejolak Timur Tengah dan Efeknya untuk Indonesia
Tajuk

Gejolak Timur Tengah dan Efeknya untuk Indonesia

2 Maret 2026
Tanpa Cina dan Pecel Lele, Mental Orang Jawa Pasti Ambruk (Wikimedia Commons)
Pojokan

Persahabatan Aneh dengan Anak Cina Membawa Saya ke Pecel Lele di Bawah Jembatan Janti yang Menjadi “Pelarian” bagi Orang Jawa

16 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan Mojok.co

Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan

15 Maret 2026
Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa Membuat Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja MOJOK.CO

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa, Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja

13 Maret 2026
Dosen Poltani Kupang sekaligus Ahli Peternakan dapat dana LPDP. MOJOK.CO

Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 

18 Maret 2026
penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026
Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026
Bus ekonomi jalur Jogja Jambi menyiksa pemudik. MOJOK.CO

Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

13 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.