Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Go-Jek Menjadi Sponsor Liga Indonesia Adalah Hal Terbaik dalam Hidup Anak Band Indie

Ikhwan Hastanto oleh Ikhwan Hastanto
7 Juni 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Nihil, itu kata yang paling pas untuk menggambarkan pengaruh munculnya persaingan ojek online dalam kehidupan saya.

Sebagai musisi yang tinggal di Jogja dan memiliki sepeda motor, ojek online tidak mengubah suatu apa pun dalam keseharian saya. Saya tetap latihan, tetap ngamen, tetap pusing ketika senar gitar saya putus satu saat soundcheck, dan tetap diceramahi orang tua lewat grup WhatsApp keluarga untuk mencari pekerjaan yang lebih layak.

Bisa dibilang posisi saya terkait baik atau buruknya dampak ojek online terhadap terbentuknya masyarakat madani adalah: persetan, mari latihan.

Di lain sisi, ketika perusahaan rokok dilarang untuk menjadikan olahraga, khususnya sepak bola, sebagai lahan promosi yang masif, saya sedikit sangsi apakah ada pebisnis lain yang bersedia menjadi sponsor liga yang komentatornya sangat mengganggu tersebut. (Jujur, saya selalu menggunakan mode mute saat menonton Liga Indonesia).

Perasaan sangsi saya sekaligus ketidakpedulian saya pada ojek online musnah ketika Go-Jek, bersama sebuah perusahaan tiket online yang iklannya selalu mengganggu streaming-an YouTube saya, bersedia menjadi sponsor utama Liga Indonesia. Bukan perusahaan minyak dan gas, bukan pula bank, tapi Go-Jek dan Travelokalah yang menanamkan 180 miliarnya untuk keberlanjutan teriakan ahay! yang menyulut emosi itu. Iya, perusahaan penyedia jasa antar jemput makan siang tetangga saya itu. Tidak salah.

Dampaknya untuk hidup saya?

Akuisisi Go-Jek terhadap sepak bola nasional negara ini kemudian membuat perusahaan rokok hampir memusatkan semua kegiatan pemasarannya melalui musik. Karena Go-Jek, perusahaan rokok akhirnya fokus jor-joran mengeluarkan dana untuk memberikan hiburan yang mampu menarik minat hampir semua segmen masyarakat.

Juga karena tren band tanpa label alias indie sedang marak-maraknya digemari, perusahaan rokok kemudian banyak menggunakan jasa band indie di kebanyakan acaranya. Di situlah pintu rezeki saya terbuka. Meskipun tidak secara langsung mempengaruhi, Go-Jek yang menggusur lahan promo perusahanaan rokok menjadi blessing in disguise bagi musisi, dan oasis bagi pencinta band-band indie yang band kesayangannya belum pernah mendapatkan rezeki besar untuk tampil lip sync di televisi nasional.

Sejak saat itu, ojek online menjadi hal terpenting dalam kehidupan saya selain season terbaru Game of Thrones. Terima kasih Go-Jek.

Beberapa dampak peralihan iklan rokok yang masif dari olahraga ke musik (indie) pada diri saya adalah sebagai berikut.

Pengumuman sampai Kampung

Dengan skala event yang besar, promosi acara yang dilakukan pun besar. Spanduk poster bertebaran di jalan-jalan strategis, di kota maupun pinggiran. Di satu sisi jalanan utama di kampung dekat rumah saya, saya melihat spanduk acara musik sebuah perusahaan rokok persis bersebelahan dengan spanduk “Awas Bahaya Laten Komunis”. Luar biasa bukan?

Bisa kita bayangkan betapa hebatnya lobi perusahaan rokok ke masyarakat dalam menanamkan urgensi acaranya yang setara dengan doktrin terpenting di kampung tersebut. Belum lagi poster yang tertempel di pinggir-pinggir jalan utama yang sudah dilapisi oleh poster acara lain, yang kemudian dilapisi lagi dengan acara lain lagi. Perusahaan rokok memastikan bahwa mereka tidak akan kalah dalam perang poster dan spanduk yang lumrah terjadi di jalanan. Dengan kemampuan semacam itu, exposure yang didapat oleh pengisi acara seperti band saya menjadi sangat aduhai.

Serba Mantap

Iklan

Kucuran dana yang mulus membuat kualitas acara menjadi terjaga. Sound system yang bersahabat, ukuran panggung yang cukup untuk loncat-loncat, dan durasi tampil yang memenuhi norma-norma anak band menjadi karakter yang biasanya terpenuhi. (Ini biasanya ya. Saya pernah menonton sebuah acara musik dengan sponsor rokok tapi tetap ambyar). Sekalian curhat terkait durasi: saya pernah diminta mengisi sebuah acara bersama band saya dengan durasi sepuluh menit. Saya kesal sekali dengan panitia karena durasinya tidak manusiawi, kemudian saya tidak jadi kesal karena dikasih LO yang cantik. Terima kasih panitia. Luvyu.

Tidak dibayar 4M

Dulu, sering kali saya bermain di acara-acara pentas seni kampus dengan bayaran 4M (Makasih Mas, Mainnya Mantap) plus jajanan pasar dan air mineral gelas yang mereknya asing namun rasanya tetap air. Perusahaan rokok, yang paling saya sukai, sudah menyadari bahwa musik adalah sebuah bisnis pula. Karya musik yang ditampilkan adalah sebuah proses panjang dan patut dihargai untuk dijaga kelangsungannya. Perlu disadari bagi seluruh khalayak, contohlah perusahaan rokok dalam hal ini karena selama senar gitar belum bisa menggunakan bulu ketek, musisi masih memerlukan apresiasi uang dalam setiap penampilannya.

Gratis tapi Menarik

Perlu disadari pula bahwa hal yang dibutuhkan oleh band-band indie adalah penonton yang mendengarkan dan melihat karya yang mereka punya. Untungnya, acara musik yang dihelat oleh perusahaan rokok biasanya gratis. Ditambah lagi ada jaminan akan munculnya wanita-wanita muda berkulit putih dan berkaki jenjang dengan rambut panjang, rok pendek, dan sepatu hak tinggi untuk menemani para pengunjung dengan pertanyaan “Rokoknya, Mas?”.

Menurut riset yang saya lakukan secara asal-asalan, sampai tahun 2017, masih belum ada paduan yang mampu mengalahkan kombinasi wanita dan kata gratis sebagai jaminan ramainya pengunjung sebuah acara. Tentu saja semakin ramai pengunjung, semakin baik pula dampaknya bagi band-band indie.

Setelah saya pikir-pikir, kok saya seharusnya lebih berterima kasih kepada perusahaan rokok, ya?

Terakhir diperbarui pada 7 Juni 2017 oleh

Tags: band indiegojekKonser Musikliga indonesiaperusahaan rokoktraveloka
Ikhwan Hastanto

Ikhwan Hastanto

Artikel Terkait

5 tips bagi yang pertama kali mudik naik pesawat dan cara dapat promo tiket murah MOJOK.CO
Kilas

Tips 5 Persiapan bagi Orang yang Pertama Kali Mudik Naik Pesawat dan Dapat Promo Tiket Murah

18 Februari 2026
GoCar Instant di RSUP Sardjito Anti Ribet: Jawaban Buat Kamu yang Ingin Cepat, Murah, dan Tetap Aman di Jalan.MOJOK.CO
Urban

GoCar Instant di RSUP Sardjito Anti Ribet: Jawaban Buat Kamu yang Ingin Cepat, Murah, dan Tetap Aman di Jalan

12 Februari 2026
Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya.MOJOK.CO
Catatan

Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya

5 Februari 2026
Sayonara, JogjaROCKarta.MOJOK.CO
Panggung

Sayonara, JogjaROCKarta

8 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

produk indomaret, private label.MOJOK.CO

Private Label Indomaret Penyelamat Hidup Saat Tanggal Tua Bulan Ramadan, Murah tapi Tak Murahan

24 Februari 2026
Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026
merantau di Jogja.MOJOK.CO

Cerita Perantau Jatim: Diremehkan karena Tinggal di Kos Kumuh Jogja, Bungkam Mulut Tetangga dengan Membangun Rumah Besar di Desa

25 Februari 2026
Pakai hp android Samsung S26 terintimidasi user iPhone. Tapi tak berpaling karena Samsung lebih berguna dari iPhone yang hanya memperdaya pengguna MOJOK.CO

Pakai Samsung Terintimidasi User iPhone, Tak Berpaling karena Lebih Berguna dari iPhone yang Memperdaya Penggunanya

26 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.